WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 66


__ADS_3

Sementara Sebastian yang masih terlelap, Mutia bangunkan. "Sayang, boleh minta tolong nggak? Buat ambilin seragam Langit. Mau nyuruh Dena, tapi kan dia nggak punya akses untuk bisa ke lantai ini. Sayang, ayolah" Mutia menggoyang tubuh Sebastian yang seolah ogah berpisah dengan selimut itu. "Sayang, ayo main lagi" goda Mutia supaya Sebastian terbangun. Alhasil mata Sebastian terbuka dengan sempurna.


"Apa yank, beneran?" Sebastian masih terduduk. Selimut masih menutupi tubuhnya yang polos. "Idih...aku tuh mau minta tolong ambilin seragam di apartemenku. Dena mau nganter ke sini nggak bisa. Belum kau beri akses" jelas Mutia. "Iya...iya...aku ambilin. Tapi nggak gratis ya" imbuh Sebastian menggoda istrinya. "Harus bayar gitu???? Capek dech" tukas Mutia. Sebastian menepuk jidatnya. "Haduh kenapa nggak connect sih. Bayarin pake itu tuh..." tatap matanya menunjuk ke dada Mutia. "Ih mesum" sungut Mutia. "Jadi nggak nih?" Sebastian tidak jadi beranjak. "Iya..iya...lekaslah..Ntar Langit telat" kata Mutia meninggalkan suaminya yang sedang menuju kamar mandi itu.


"Sayang, hari ini nggak usah kerja dulu. Biar aja diurus Dena. Pagi ini Dewa juga tak suruh ke sini buat anterin berkas-berkas yang perlu kutandatangani" ucap Sebastian saat keluar kamar. "Loh, kan aku mau ngurusin orderan nyonya Martha" celetuk Mutia. "Aku rasa Dena dan tim produksi mu udah mumpuni lah. Kasih mereka kesempatan buat menunjukkan kemampuannya. Kamu itu sebagai pemilik, sudah saatnya berada di belakang layar. Apalagi nanti kalau calon adiknya Langit sudah ada di perutmu, nggak akan kubiarkan kau sesibuk seperti kemarin-kemarin" pidato Sebastian pagi ini.


"Dad, emang adik Langit sudah di perut bunda?" tanya Langit yang tiba-tiba nongol di antara mereka berdua. "Daddy sedang berusaha ini Langit. Makanya kalau Daddy sedang sama bunda jangan suka diketokin pintunya ya!!" harap Sebastian. "Emang kalau mau buat adik musti di kamar Dad? Langit kan juga ingin dikasih tau caranya" ucap polosnya. Mutia menutup mulutnya, tak tahu jawaban apa untuk bocil polos itu. Sementara Daddy Sebastian ngacir, beralasan mengambil seragam Langit. "Biar bunda yang jawab ya, Daddy mau ambil seragam kamu dulu" Sebastian beralasan.

__ADS_1


Melarikan diri, batin Mutia geregetan dengan tingkah suaminya. "Bun, gimana dong cara bikinnya?" Langit masih menunggu jawaban bunda. "Langit, sekarang bunda nanya dulu. Makhluk hidup siapa penciptanya?" tanya Mutia sambil mengajak Langit untuk beralih ke meja makan. Di sana hanya ada roti tawar dan beberapa selai. Mutia membuatkan susu untuk putranya itu. "Aku tahu Bun, makhluk hidup itu ciptaan Tuhan" jawab Langit. "Anak pintar. Allah lah yang menciptakan semua. Bahkan alam semesta ini semuanya diciptakan oleh Allah. Jadi nanti kehadiran adik Langit itu juga karena Allah yang menciptakan. Maka dari itu Langit juga musti sering-sering berdoa, semoga apa yang diminta oleh Langit segera dikabulkan" ucap Mutia. Semoga Langit tidak bertanya lagi, batin Mutia. "Begitu bunda. Oke, kalau gitu Langit akan berdoa agar segera mempunyai adik lucu" ucap polosnya. "Aamiin" Mutia dan Langit tertawa bersamaan. Saat itu Sebastian telah sampai kembali membawa seragam putranya.


Sebastian tidak membahas tentang adik lagi di hadapan putranya. "Langit sarapan dulu, abis itu ganti baju. Ntar Daddy aja yang nganterin ya?" ucap Sebastian makan roti yang dibuatkan Mutia barusan. "Maafin bunda, pagi ini nggak buatkan sarapan untuk Langit. Abis di apartemen Daddy nggak ada apa-apa" imbuh Mutia. "Begini saja, abis nganterin Langit kita pergi belanja" usul Sebastian. "Jadi beneran hari ini kita nggak ngantor?" Mutia masih tak percaya. Sebastian menggeleng. Bahkan pagi ini sebelum keluar kamar tadi, Sebastian sudah mengirim pesan ke kak Catherine untuk sekalian menjemput Langit. Baru ntar sore mau di jemput ke mansion kakaknya itu. Rencana yang sempurna bagi Sebastian.


"Tadi kan aku udah bilang kalau pagi ini Dewa kusuruh ke sini" perjelas Sebastian. "Oke Langit, yuk ganti seragam" ajak Sebastian menggandeng putranya.


"Bun, Langit berangkat dulu" pamit Langit yang telah berseragam mencium tangan bundanya. Mutia pun tak lupa mengecup kening Langit. "Bye bunda" Langit melambailan tangan. Sepeninggal Sebastian dan Langit, Mutia membereskan meja makan sambil mencoba menghubungi Dena untuk memberitahu kalau dirinya tidak ke 'Mutia Bakery'.

__ADS_1


"Sayang aku pulang" Sebastian telah kembali pulang abis mengantar Langit. "Cepet amat" Mutia melihat jam di ponselnya. "Kebetulan nggak begitu macet pas arah balik apartemen" jelas Sebastian. "Kamu siap-siap dulu aja sayang. Abis Dewa dari sini kita belanja. Oh ya ini buat keperluan kamu. Dan yang ini buat belanja keperluan rumah tangga" Sebastian menyerahkan dua buah kartu black card untuk Mutia. "Apa ini?" tanyanya meski Mutia juga tahu kalau kartu yang diberikan oleh Sebastian itu kartu yang no limit. "Kewajibanku sebagai seorang suami dan ayah dari anak-anak" imbuh Sebastian serius. "Ayo simpanlah. Dan jangan lupa digunakan" celetuk Sebastian saat Mutia mau masuk kamar. "Ntar kalau nolnya berkurang banyak jangan kaget ya" kelakar Mutia. Sebastian hanya tersenyum menanggapi, dan beranjak mencari keberadaan tab yang seolah menjadi istri keduanya. Karena semua kerjaan ada di situ.


Terdengar bel pintu berbunyi. Sebastian langsung menekan tombol, untuk memberikan akses Dewa masuk. "Langsung ke ruang kerja Wa" celetuk Sebastian. "Buru-buru amat tuan" tandas Dewa. "Berkas-berkasnya?" Sebastian menodongkan tangannya untuk menerima berkas Dewa. Dewa tak mengira ternyata tuannya serius untuk segera menandatangani semua berkas itu.


Mutia masuk membawa dua cangkir kopi hangat untuk tuan dan asisstennya itu. "Makasih nyonya. Muka nyonya tambah segar aja" puji tulus Dewa. Mutia tersenyum menanggapi. Tapi saat arah mata Dewa beralih ke sang tuan, malah membuatnya seolah berada di ujung tanduk. Dewa menyadari ada yang salah dengan ucapannya tadi. Matih gue, batin Dewa. "Sudah selesai, kembali sana ke perusahaan" perintah Sebastian dengan tatapan tajam. "Tapi mubadzir kalau kopi yang dibuat nyonya nggak saya minum" Dewa masih belum beranjak tapi ditinggalkan oleh Sebastian sendiri di ruang kerja itu. Dasar tuan posesif, umpat Dewa dengan suara berbisik. "Kalau sudah habis, lekas kau keluar" kepala Sebastian muncul kembali di ruang kerja membuat Dewa tersedak kopi panas.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


To be continued, happy reading 😊


Do the best, be happy πŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘Œ


__ADS_2