WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 103


__ADS_3

"Bentar ya, saya pastikan dulu" jawab dokter Abraham semakin membuat Sebastian dan Mutia panik.


"Om, jangan buat takut dong" kata Sebastian tak sabar.


"Duduklah dekat Mutia situ!" perintah dokter Abraham sementara dirinya masih menatap serius monitor USG dan fokus menggerakkan probe untuk menemukan angle yang tepat.


"Dua minggu kemarin nampak dua kantong kan?" tengok Abraham ke arah Mutia. Dan Mutia mengangguk membenarkan.


"Begini Tian, Mutia...hasil pemeriksaan ku ini memang masih terlihat ada dua kantong kehamilan, tapi yang satu sudah berisi janin dan satu kantong masih kosong" ucap dokter Abraham menunjukkan dengan jari ke arah monitor di mana janin berada.


"Bulatan kecil itu?" tanya Sebastian.


"Iya, kan memang baru delapan minggu. Coba saya cari denyut jantung nya dulu" dokter Abraham menghentikan probe dan merekamnya. Terdengar denyutan yang lumayan teratur meski belum begitu keras suaranya.


"Sudah dengar kan?" perjelas dokter Abraham. Mutia meneteskan air mata karena terharu.


Dokter Abraham memindahkan probe USG, "Nah, ini kantong yang satunya. Sekarang kalian sudah tau bedanya?" tatap dokter Abraham.


"Kosong" tukas Mutia dan Sebastian bersamaan.


"Benar, kantong yang satu nya kosong. Itu artinya janinnya tak berkembang" imbuh dokter Abraham.


"Terus?" cecar Sebastian karena rasa cemas.


"Mutia silahkan duduk dulu, nanti kujelaskan kelanjutannya" dokter Abraham memutar kursinya untuk berhadapan dengan tempat duduk pasangan itu.


"Bagaimana Om, apa maksud Om tadi? Apa anakku jadi kembar?" seloroh Sebastian dengan tak sabar menunggu penjelasan dari dokter Abraham.


"Perlu saya ulangi Tian, Mutia. Menurut analisaku kehamilan Mutia ini dinamakan kehamilan VTS" jelas dokter Abraham.


"Apa maksudnya?" sela Sebastian.


"Sabar dong Tian" celetuk dokter Abraham.


Sementara Mutia masih terdiam menunggu penjelasan sang dokter senior itu.


"VTS adalah singkatan dari Vanishing Twin Syndrome. Adalah suatu kondisi ketika salah satu janin kembar menghilang dalam kandungan" perjelas dokter Abraham.


"Maksudnya janinnya meninggal gitu?" Sebastian masih mencerca dengan pertanyaan-pertanyaannya.


"Memang sedari awal hanya terbentuk kantongnya saja. Janinnya nggak ada" imbuh dokter Abraham.


"Apa berbahaya untuk janin yang masih ada prof?" Mutia akhirnya bersuara.


"Kalau dari segi medis sih nggak membahayakan. Karena kantong yang kosong itu nantinya akan lisis dan kembali diserap tubuh. Jadi tidak perlu penanganan khusus" kata dokter Abraham mengakhiri sesi periksa.


"Oke Om, makasih" Sebastian menyalami Abraham.


"Ini resepnya, jangan lupa asam folat sama zat besinya diminum. Kalau mual zat besi ditunda dulu juga nggak apa-apa" dokter Abraham menyerahkan selembar kertas resep kepada Sebastian.


Mutia ikutan menyalami sekaligus mengucapkan terima kasih kepada profesor idolanya itu.


Sebastian menarik tangan Mutia yang menurutnya terlalu lama menyalami prof. Abraham.

__ADS_1


"Dasar, CEO posesif" prof. Abraham terkekeh mengantar kepergian pasangan itu.


.


Mutia lebih banyak terdiam saat mobil telah dilajukan oleh Sebastian. Terlihat guratan kesedihan di sana.


"Sayang, jangan terlalu bersedih. Berdoa saja, semoga janin yang bertahan tetap sehat. Bisa buat hadiah untuk Langit, dan menjadi sumber kebahagiaan buat keluarga kita" ucap Sebastian menguatkan sang istri.


Bahkan Sebastian meraih tangan sang istri untuk digenggamnya erat.


"Mau jalan kemana setelah ini? Nonton?" Sebastian berusaha mengalihkan perhatian sang istri biar tak berlarut dalam kesedihan.


"Jemput Langit aja ke mansion papa" jawab Mutia.


"Nonton dulu aja yank, biar nggak boring di rumah" ajak Sebastian lagi.


"Lha terus tadi tujuannya nanya mau jalan kemana itu apa? Kalau akhirnya maksa nonton" tukas Mutia terkekeh.


"Nah gitu dong senyum" Sebastian menarik nafas lega.


Sebastian membelokkan mobil di sebuah mall yang memang terkenal ada bioskop terkenal di sana.


Sampai di depan bioskop, "Ingin nonton genre apa?" tanya Tian.


"Komedi romantis" tukas Mutia.


"Kayak novel aja" Sebastian meninggalkan Mutia sebentar untuk beli tiket. Niatnya sekalian beli camilan dan minum.


Sambil menunggu waktu tayang film, Sebastian hendak menghampiri sang istri yang lumayan jauh posisinya sekarang.


Dilihatnya Mutia seperti sedang ngobrol dengan seorang laki-laki.


"Sepertinya itu Frans. Kebetulan atau memang dia sengaja?" gumam Sebastian.


Sebastian sengaja berjalan memutar, dan mencari tempat agar leluasa mendengar pembicaraan Frans kepada sang istri.


"Sudah seperti hantu bayang-bayang aja dia. Datang tak diundang. Pergi kalau sudah diusir" Sebastian jengah.


"Nyonya Mutia, bagaimana penawaran yang pernah saya sampaikan dulu? Aku yakin anda akan terkejut mendengarnya" seloroh Frans.


"Maaf tuan Frans, sekali lagi saya tak berminat" jawab sinis Mutia.


"Anda akan menyesal nyonya" tukas Frans.


"Hhhmmm tidak akan" tegas Mutia.


"Padahal kalau anda bersedia, aku dengan senang hati akan membantu menemukan keluarga kandungmu" pancing Frans.


Sementara Sebastian menajamkan pendengarannya. Akhir-akhir minggu ini perhatian Sebastian terfokus dengan mega proyek yang sedang dikembangkan Blue Sky di kota A, sehingga Dewa agak lambat menyelidiki silsilah keluarga Mutia.


Kayaknya gue kalah beberapa langkah dengan bajing4n itu, pikir Sebastian.


Sementara Mutia yang mendengar penuturan Frans, menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Aku lebih tau siapa keluargaku" sarkas Mutia.


"Ha...ha...really?" tawa Frans membahana di sela suara musik yang terdengar di seluruh ruangan mall.


"Aku yakin anda tidak tau apa-apa nyonya. Jadi kalau kau berminat, ini nomer kontakku" Frans menyerahkan kartu nama untuk Mutia.


Sebelum sampai di tangan Mutia, kartu nama itu terjatuh karena ditepis oleh Sebastian terlebih dahulu.


"Wow, maaf aku pergi dulu nyonya. Tuan Sebastian permisi" ucap Frans sinis.


Sebastian mengepalkan tangannya. Dirinya yakin sang istri pasti sedikit terpengaruh dengan ucapan Frans tadi.


"Sayang, kita pulang aja!" mood bumil itu tiba-tiba turun drastis.


Sebastian pun akhirnya menuruti permintaan sang istri. Padahal seluruh bioskop telah dibookingnya tadi.


Dia akhirnya mengirim pesan ke Dewa. "Wa, datanglah ke bioskop XX, terserah kau ajak siapa. Sudah kubookingkan satu gedung bioskop untukmu" bunyi pesan itu.


Mutia masih memikirkan ucapan Frans tadi.


"Apa maksud tuan Frans tadi ya sayang? Bagaimana dia bilang akan membantu mencari keluarga kandungku. Dasar orang aneh" gerutu Mutia. Dalam hati Mutia tak percaya sama sekali akan ucapan Frans tadi. Baginya hanya pak Aminoto dan bu Aminah lah orang tua nya. Dia yang hanya sebatang kara sebelum bertemu dengan sang suami.


Sementara Sebastian yakin Mutia sampai sekarang juga benar-benar belum tahu tentang silsilah liontin yang dia punya. Sebastian sendiri masih ketemu jalan buntu dalam proses penelusurannya bersama Dewa dan orang-orang suruhannya.


Sepertinya banyak rahasia yang disimpan oleh Pak Aminoto dan bu Aminah orang tua Mutia itu sampai mereka meninggal. Pikiran Sebastian berkecamuk, berpikir keras.


Gerbang mansion langsung terbuka saat mobil Sebastian terlihat.


Mama Cathleen menyambut kedatangan mereka berdua. "Apa kabar calon cucu-cucu mama?"


"Bukan cucu-cucu Mah. Tapi cucu saja" Sebastian meluruskan ucapan mama nya.


"Apa maksudnya?" tuan Baskoro baru keluar dari ruang kerja ikutan nimbrung.


"Calon bayinya ada satu, yang satu batal" kata Tian.


"Jangan bercanda" cubit mama Cathleen di lengan Sebastian.


"Memang benar Mah, janin yang satu memang tidak berkembang" Mutia melengkapi penjelasan Sebastian.


"Apa nggak bahaya buat ibu dan janin yang masih ada?" tanya tuan Baskoro lagi.


"Tau gitu, tadi papa kuajak aja biar bisa nanya langsung ke om Abraham" jawab Sebastian asal.


Alhasil cubitan sang mama dia dapatkan.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading


Ramein dong...buat nambah imun othor 😊


πŸ’

__ADS_1


__ADS_2