
"Oke lah kita makan duluan aja. Abis ini kita ke ruang kerja Wa" kata Sebastian bagai perintah bagi Dewa dan juga Dena.
"Pedes banget sayang" ucap Sebastian. Mutia mengelap keringat di kening suami.
"Nih, minum dulu" Mutia menyodorkan air putih ke Sebastian. Dia pun langsung meneguk sampai habis.
"Sudah jangan dihabisin. Aku ambilin yang lain aja" cegah Mutia saat Sebastian hendak melanjutkan makan seblak.
"Tapi ini enak sayang" tetap saja Sebastian melanjutkan makan.
"Makanya tuan, sering-sering aja makan beginian. Jangan di resto mulu" sindir Dewa.
"Enak kan?" imbuh Dewa.
"Hhhmmm" hanya gumaman Sebastian yang didapat Dewa.
Sebastian benar-benar menghabiskan menu di depannya.
"Dewa, kutunggu kau di ruang kerja. Dua menit lagi sampai" Sebastian beranjak ke ruang kerja. Dewa mendengar ucapan sang bos yang semena-mena membuatnya tersedak sebuah cabe.
"Sial banget hari ini" gerutu Dewa. Dena menyodorkan air putih ke Dewa, seperti yang dilakukan Mutia ke Sebastian tadi.
"Kalian sudah seperti pasangan suami istri saja" gurau Mutia.
"Ish...ish...kakak ini bisa diam nggak sih" Dena ikutan menggerutu.
"Tuh kan kalian sudah kompak saling membela" Mutia tersenyum menggoda para asisten kantornya itu.
.
"Dewaaaaa...." terdengar panggilan Sebastian dari ruang kerja.
"Iya tuan" Dewa langsung menandaskan minum yang dibawa Dena dan berlari ke ruang kerja.
.
Di ruang kerja Sebastian telah menyilangkan kedua kakinya, menunggu Dewa.
"Mana berkasnya?" Sebastian menodongkan tangannya.
"Bentar tuan, kupilah dulu" Dewa duduk di hadapan Sebastian.
Sebastian menandatangani berkas yang sekiranya besok pagi mau diserahkan Dewa ke tuan Dika.
Sebastian menyandarkan bahu ke sandaran kursi di belakangnya.
"Ada yang kau pikirkan?" tatap Dewa.
"Hhmmmm"
"Boleh berbagi?" ucap Dewa.
"Tadi aku ke panti jompo yang kau bilang kemarin" ucap Sebastian.
"Hah? Kok bisa? Cepat sekali pergerakan anda?" sahut Dewa.
"Bukan seperti itu. Aku kesana tak sengaja" Sebastian menimpali.
"Bagaimana bisa?" Dewa masih heran saja.
"Kamu tahu nggak Dewa, ternyata istriku juga menjadi penyandang dana di sana"
"Hah? Kok kita bisa tidak tahu" Dewa masih membego.
"Bahkan aku juga bertemu dengan salah satu penghuni di sana. Dan istriku lumayan dekat dengannya. Namanya Tuan B. Winardi" lanjut Sebastian.
__ADS_1
"Bos, seumpama saya besok ke sana gimana?" usul Dewa.
"Jangan dulu. Pelan-pelan saja" cegah Sebastian.
"Aku mau bilang istriku dulu. Mau daftar jadi donatur di sana. Setelah itu kau yang bergerak" tandas Tian
"Baik tuan. Aku pulang dulu" Dewa beranjak dari duduk.
.
Beberapa hari kemudian Dewa mendatangi panti jompo yang diceritakan Sebastian sebelumnya.
"Selamat pagi. Bisa bertemu dengan nona Sarah?" tanya Dewa ke seorang penjaga.
"Sudah membuat janji temu?" tanyanya.
"Sudah, kemarin. Bilang saja saya utusan tuan Sebastian dan nyonya Mutia. Nama saya Dewa pak" Dewa mengenalkan diri.
"Baik tuan, bisa ditunggu sebentar" jawab bapak penjaga dan selekasnya masuk untuk memanggil pengelola panti itu.
Dewa tetap berdiri di depan gerbang masuk panti jompo. Sepintas yang Dewa lihat, memang bangunan itu telah usang dan warna cat banyak yang memudar. Memberi kesan kalau bangunan itu sudah lama tak dilakukan pembaruan.
"Tuan Dewa" panggil seseorang dari dalam gerbang.
"Iya pak"
"Mari saya antar ke dalam. Ibu Sarah sedang menunggu anda" ucapnya sopan.
"Baik pak" Dewa mengikuti langkah kaki penjaga itu masuk ke panti.
Dewa mengamati ruang demi ruang yang dilewati. Kesan bersih dan rapi Dewa rasakan saat melaluinya.
"Silahkan, ibu Sarah menunggu anda di dalam. Saya permisi dulu" pamit penjaga itu.
Dewa mengetuk pintu, meski pintu di depannya sudah posisi setengah terbuka.
"Pagi nona Sarah" sapa Dewa.
"Pagi. Silahkan duduk" sambutnya
"Baik nona" jawab Dewa.
"Nggak usah terlalu formal. Panggil Sarah saja" pinta nya.
"Baik Sarah" imbuh Dewa.
"Mutia sudah menceritakan maksud kedatangan anda ke sini. Saya ucapkan terima kasih kepada tuan Sebastian yang bersedia menjadi donatur tetap panti" tandas Sarah.
"Baik akan saya sampaikan ke tuan Sebastian" jawab Dewa.
"Sebenarnya berapa orang yang di sini Sarah? Tadi tuan Sebastian menanyakan itu. Untuk kalkulasi biaya bulanan saja. Kemungkinan tuan Sebastian akan membiayai semua kebutuhan panti" kata Dewa. Dewa menyampaikan amanat dari sang bos sambil mengorek perihal panti sampai dalam-dalamnya.
"Oooo..begitu. Kapasitas panti ini sudah penuh tuan Dewa. Totalnya ada tiga puluh orang lansia. Kami hanya menerima penghuni baru jika penghuni lama sudah meninggal atau diambil oleh keluarganya. Rata-rata penghuni panti di sini adalah orang tua yang terbuang tuan Dewa" Sarah sedikit demi sedikit mengungkapkan tentang panti jompo itu.
"Maksudnya terbuang?" selidik Dewa.
"Anak-anak mereka tidak mau lagi merawat. Maksudnya begitu. Bahkan ada juga yang hanya meninggalkan mereka di gerbang depan tanpa menemui kami" terdengar nada geram di perkataan Sarah.
"Ekstrim juga ya anak-anak mereka?" imbuh Dewa.
"Tega ninggalin orang tua yang sudah renta" Dewa menambahi.
"Itulah kehidupan tuan" Sarah terlihat menarik nafas panjang.
"Bahkan ada juga orang tua kaya malah memilih tinggal di sini daripada bersama keluarganya" imbuh Sarah.
__ADS_1
"Memang ada juga yang begitu?" Dewa semakin tak percaya.
"Kalau miskin yang dijadikan alasan bisa diterima akal. Tapi aneh aja kalau orang kaya memilih panti jompo untuk tinggal" tukas Dewa.
"Dan itu ada lho Tuan" perjelas Sarah.
"Dengan alasan, anak-anaknya sibuk bekerja. Di rumah kesepian. Di sini mereka bisa bertemu dengan teman senasib" itu rata-rata yang dijadikan alasan mereka untuk tinggal di sini.
"Hhhmmm..... Terus keluarga yang kaya itu apa juga tetap memberikan semua kebutuhan selama di panti?"
"Ada yang tetap memberi, tapi ada juga yang tak pernah menengok sama sekali" Sarah beranjak.
"Secara tidak langsung kamu juga mengetahui latar belakang para kakek dan nenek yang tinggal di sini dong?" selidik Dewa.
"He...he...begitulah" Sarah terkekeh.
"Sebentar tuan Dewa, saya ambilkan minum dulu" Sarah pamit ke dapur panti.
"Boleh saya berkeliling Sarah?" ijin Dewa.
"Oh...silahkan" tandas Sarah.
Dewa memberi kesempatan kepada Sarah untuk mengambillkan minum untuknya, Dewa pun sampai di belakang panti.
Ternyata di sana ada halaman luas yang dipakai untuk para orang tua itu berjemur, menikmati udara pagi. Pepohonan rindang ada di tepian halaman.
Dewa menghampiri orang tua yang sedang menyendiri di antara yang lain.
"Pagi kek" sapa Dewa.
Pandangan laki-laki yang sudah renta itu beralih ke Dewa.
"Saya Dewa kek" Dewa mengulurkan tangan untuk berkenalan. Tapi tak ada sambutan dari sang kakek.
Dewa pun menarik kembali uluran tangannya karena tak bersambut.
Orang tua itu terdiam tanpa sepatah katapun.
"Tuan Dewa" panggil Sarah dari dalam ruangan.
Dewa beranjak. Meski belum bicara sama sekali dengan orang tua di sampingnya, Dewa tetap berpamitan dengannya. "Saya permisi dulu kek"
Dewa menyusul keberadaan Sarah yang telah berada di ruangan tadi.
Belum sempat Dewa duduk, terdengar celetukan Sarah.
"Kakek tadi itu tuan Winardi namanya, beliaulah yang menghibahkan bangunan ini untuk dijadikan panti jompo" tanpa bertanya Dewa mendapat informasi penting dari bibir Sarah.
"Beliau itu sangat sulit sosialisasi dengan yang lain dan lebih banyak menyendiri. Hanya Mutia yang bisa mengajaknya ngobrol" Sarah menambahkan penjelasannya.
"Nyonya Mutia istri tuan Sebastian?" tanya Dewa berpura-pura tidak tahu.
"Betul" imbuh Sarah.
"Bahkan keluarganya sendiri saja tidak pernah ditemuinya" Sarah menambahi lagi.
"Wah, tambah aneh lagi ceritanya. Bagaimana bisa tidak mau menemui keluarganya???" canda Dewa.
"Kalau itu aku nggak paham betul" tandas Sarah.
Dewa menarik nafas panjang. Akan lebih panjang lagi nih prosesnya? Batin Dewa.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
__ADS_1
💝💝💝💝💝