WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 46


__ADS_3

Selepas pamit dengan Langit, Sebastian menghampiri Mutia. "Aku pergi dulu ke kota A, mungkin beberapa hari. Kalau bisa cepat kupastikan langsung balik" ujar Sebastian. "Terus apa hubungannya denganku" sarkas Mutia. "Ya mesthi adalah, Langit putraku dan kamu bundanya. Kaitannya sangat erat sekali" tegas Sebastian. "Pulang dari sana aku kan menyampaikan sesuatu padamu" tegas Sebastian membuat Mutia penasaran. Saat Mutia hendak mengatakan sesuatu ternyata Sebastian telah melesat menjauhi Mutia. Mutia hanya menggerutu dalam hati. Datang dan pergi sesuka hati, sudah persis kayak jelangkung...he..he...


"Kak, ayo pulang" ajak Dena saat sore menjelang. "Baiklah, aku bersiap dulu. Kamu lihat Langit nggak?" tanya Mutia. "Dia di bawah, sedang mainan sama pak Sarno satpam" jelas Dena. "Oke, tungguin di bawah aja Dena. Aku mau mbereskan semua dulu" tukas Mutia. "Oke kak" Dena melangkah menuju lift bergegas turun.


Mutia memanggil Langit, "Langit ayo pulang, sudah sore nih" panggil Mutia yang melihat Langit sedang asyik main bola dengan pak Sarno di halaman samping lobi. Langit menghampiri bunda yang telah berada di samping mobil itu. "Pak Sarno, besok dilanjut ya. Ingat skor masih menang Langit" ucap Langit sebelum masuk mobil. "Siap Den Langit" sahut pak Sarno. "Pak, kita duluan ya" sapa Mutia. Sementara Dena sudah berada di belakang kemudi dan Langit duduk di belakang seperti biasanya.


"Bun, ntar malem Langit pinjam ponselnya ya" rajuk Langit tiba-tiba. "Big NO" tukas Mutia..."Bunda nggak asyik" kata Langit. "Besok masih hari sekolah, bunda kan bilang kalau ngegame nya pas weekend saja" urai Mutia panjang lebar. "Sapa juga yang mau ngegame, aku pinjam ponsel buat nelpon daddy" celetuk Langit. "Ya udah kalau nggak dibolehin aku pinjam punya aunty saja" lanjutnya. Mutia terkicep sementara Dena berucap ,"Mana bisa pinjam punya aunty. Aunty nggak simpan nomer daddy Tian". Langit terlihat kesal, dan itu tak lepas dari tatapan Mutia. "Iya, kalau cuma nelpon boleh pake ponsel bunda. Tapi janji nggak dipake ngegame ya" ucap Mutia bijaksana. Barulah muka yang tertekuk kembali ceria.


Langit tertidur pulas saat menelpon daddy nya yang sedang berada di kota A. Sebastian bercerita sambil video call dengan Langit. Mutia mengambil ponsel yang berada di samping putranya tanpa tau kalau panggilan masih tersambung dengan Sebastian dan meletakkan ponsel di nakas sampingnya. Mutia merebahkan dirinya. Semua itu tak lepas dari pandangan Sebastian. Bahkan saat mau tidur pun kamu juga cantik Mutia, batin Sebastian di sana. Sebelum menyusul Mutia tidur, Sebastian mengirimi sebuah pesan untuk Mutia.

__ADS_1


Keesokan hari, Mutia bersiap setelah menyiapkan sarapan untuk putranya itu. Saat masuk kamar, ternyata Langit telah selesai memakai seragam sekolahnya. "Wah, anak bunda semakin pintar saja sudah pandai berseragam sendiri" puji Mutia. Langit tersenyum mendengarnya. Selain itu Langit sudah tidak pernah mengigau lagi dan selalu tidur nyenyak semenjak bertemu dengan daddynya.


Mutia gantian bersiap setelah Langit selesai. Mutia memakai dress motif bunga-bunga yang semakin menambah keanggunan seorang Mutia. Tak lupa Mutia menyapukan make up tipis ke wajahnya. Saat memagut diri di depan cermin, Mutia teringat akan sesuatu. Dia buka loker di samping meja riasnya. Mutia buka kotak perhiasan dan memilih perhiasan yang akan dipakainya. Pilihan jatuh pada sebuah kalung dengan liontin yang nampak sederhana dan juga anting sepasang yang nampak serasi dengan kalung itu. Mutia tersenyum puas melihat dirinya di depan cermin.


Mutia sedang membuka ponsel saat Langit memanggilnya dari luar kamar. Mutia tertegun ada pesan dari Sebastian, Mutia pun membukanya. Mutia membelalakkan matanya melihat sebuah gambar dia tertidur. Mutia membalas pesan itu dengan emoji orang marah. Langsung ada balasan dari Sebastian sebuah emoji tertawa. Sementara Langit memanggil kembali bunda nya yang masih betah berada di kamar. "Bun buruan. Langit telat nanti" panggil Langit.


"Kalau gitu selepas Langit turun di sekolah, aku naik taksi online saja" tukas Dena. "Nggak usah Den, mobilnya ntar kamu bawa aja. Aku bareng sama nyonya Catherine. Dia sudah nungguin di sekolah abis ngantar Bintang" urai Mutia. "Baiklah kak, selamat bersenang-senang" ucap Dena.


Bener adanya apa yang diucapkan Mutia, saat sampai di sekolah Langit. Nyonya Catherine sudah menunggunya. Bintang masih berada di gandengannya menandakan kalau mereka juga barusan sampai. "Bun, sampai sini aja. Aku sama Bintang aja" ucap Langit. Mereka berdua berlari kecil setelah masing-masing pamitan ke bunda dan mama nya masing-masing. Dena malah sudah meluncur duluan ke Mutia Bakery.

__ADS_1


"Ayo Mutia. Mama di rumah sudah prepare bahan-bahan kue loh" ajak Catherine. Mutia mengangguk. Dalam perjalanan Catherine mendominasi pembicaraan, dia bercerita kalau mamanya aslinya pintar memasak. Tapi kalau urusan per-kue an, mama Cathleen angkat tangan deh. Catherine juga minta maaf kembali karena pertemuan pertama mereka yang memberi kesan tak begitu baik. "Sudahlah nyonya, eh kak. Jangan membalas sesuatu yang tak penting" tukas Mutia.


Kembali lagu beautiful in white mengalun dari ponsel Mutia. "Jangan lupa datang ke mansion, mama sudah nungguin" ucap Sebastian tanpa menunggu sapaan dari Mutia. "Iya, ini juga sama kakak Catherine menuju mansion" jawab Mutia. "Oke" Sebastian menutup panggilan sepihak. "Aduh, nggak ada mesra-mesranya. Dasar es kutub" gerutu Catherine mencela Sebastian. "Kakak kesal sama siapa?" tanya Mutia polos. "Tuh, yang nelpon kamu barusan" ucap Catherine. "Hah???? Emang kenapa Tian?" tanya Mutia. Catherine semakin esmosi mendengarnya,...he..he... Mereka berdua ternyata setipe, kata Catherine dalam benak.


Sampailah mereka di mansion keluarga Baskoro. Di dalam mama Cathleen telah prepare semua bahan-bahan kue. Sebenarnya ini hanya akal-akalan mama Cathleen dan juga Catherine untuk lebih mendekat ke sosok Mutia. Meski Mutia masih belum sepenuhnya membuka hati untuk Sebastian. Mama Cathleen tersenyum menyambut kedatangan Mutia dan Catherine. "Wah, Mah banyak sekali bahan kuenya??? Beneran mama mau buka toko kue. Emang jatah dari papa masih kurang Mah?" cerocos Catherine.


"Duduk dulu Mutia" ucap mama Cathleen tanpa menghiraukan kicauan Catherine di pagi hari ini. Mama Cathleen menyenggol Catherine untuk menghentikan celotehnya yang tak bermanfaat itu.


To be continued, happy reading 😊💝

__ADS_1


__ADS_2