
Dewa menyerahkan kue yang diinginkan oleh Sebastian. Dan segera meninggalkan ruangan sang CEO tanpa melaporkan informasi yang didapat.
"Biar nanti aja, daripada aku garing di ruangan tadi" gerutu Dewa berjalan menuju ruangan.
Belum juga duduk, ponselnya berdering.
"Dewaaaa, kenapa kau langsung balik? Nggak laporan hasil kerjamu hari ini" ucap Tian bagai suara petir yang memekakkan telinga Dewa.
"Mau makan siang dulu tuan, lapar" jawab Dewa mematikan sambungan telpon dari Sebastian.
Sementara Sebastian yang sedang berada di ruangannya mengumpati sang asisten.
"Sial, bagaimana aku bisa lupa tadi...??? Huh!!!!" gerutu Tian yang baru teringat laporan Dewa saat sang istri beranjak istirahat di ruangan sebelah.
Sambil makan kue yang dibawakan Dewa, Sebastian iseng saja melihat rekaman cctv di Mutia Bakery.
Matanya memicing saat menjumpai Frans terekam di sana. "Ada apa lagi dia kesana?" gumam Tian.
"Kok bicara sama Dena?" gumamnya lagi. Dan detik berikutnya terlihat Dewa yang berdiri mematung di belakang Frans.
"Dasar Dewa, tahu hal penting begini kenapa tidak selekasnya laporan" umpat Tian.
Sebastian mengirim pesan ke Dewa, "Buruan ke sini, kalau perlu jangan kau kunyah makanan di mulut" ketik Tian.
Sementara di parkiran perusahaan, Dewa hanya membuka pesan itu tidak ada keinginan membalas.
Ponselnya pun berdering lagi, "Halo Tuan" ucap sok ramah Dewa.
"Nggak usah banyak alasan, cepetan kau ke sini !!!" perintah Tian.
"Nanggung tuan, baksonya tinggal sebiji. Kalau nggak kuhabisin mubadzir dong" jawab Dewa.
"Aku bungkusin satu seperti biasa" celetuk Tian di seberang telpon.
"Mie dan kuah tanpa bakso?" Dewa menanyakan kembali selera aneh sang tuan.
"Yap, seperti biasa" jawab Tian dan langsung memutus panggilannya.
.
Dewa mengetuk pintu ruangan CEO. Dia tidak mau terjebak dengan situasi seperti tadi.
"Mana baksonya?" tanya Tian.
"Ini bukan bakso tuan, tapi kolam penuh dengan mie" Dewa menyerahkan sebungkus mie kuah bakso ke hadapan Sebastian.
Tanpa menunggu Dewa duduk, Sebastian menuang mie kuah bakso ke dalam mangkok dan memakannya.
"Laporan aja!" perintah Tian dengan mata tetap fokus ke arah kuah bakso yang tinggal separuh itu.
"Laporan mu harus padat, jelas dan berisi" tukas Sebastian lagi.
Dewa hanya mengusap tengkuknya yang terasa penat karena permintaan-permintaan Sebastian.
"Asal bonus cair hari ini, akan kulaporkan seperti yang anda minta" sarkas Dewa.
__ADS_1
Sebastian yang awalnya fokus ke mangkok, beralih menatap tajam Dewa.
"Semakin pintar aja kau mengancam, mencontoh siapa?" netra Sebastian menunggu jawaban Dewa.
"Anda lah, siapa lagi" sahut Dewa dan ikutan membalas tatapan Sebastian.
"Kalau begitu, bonus tak akan cair dan besok nggak usah datang lagi ke Blue Sky" pertegas Sebastian.
"Iya...iya...aku laporan" kata Dewa dengan ketus.
Sesungging senyum di bibir Sebastian, tetap saja kalau adu kelicikan dia pasti lebih jago dari Dewa.
"Laporan pertama, biaya rutin bulanan di panti sudah kutransfer selama satu tahun penuh. Kedua, nama lengkap tuan Winardi adalah tuan Baksono Winardi. Lebih suka dipanggil tuan Winardi. Tidak pernah bersedia menemui keluarganya saat berkunjung, salah satunya Tuan Supranoto. Dan hanya nyonya Mutia yang ditemui oleh tuan Winardi" Dewa mengucapkan pelan laporannya. Dan Sebastian pun menyimak dengan khidmat.
"Laporan ketiga, sekaligus yang terakhir. Aku tak sengaja ketemu Frans di lobi Mutia Bakery. Frans ingin menemui istrimu tuan" Dewa mengakhiri sesi laporan.
"Untuk?" picing netra Tian.
Dewa hanya mengangkat kedua bahu tanda tak tahu.
"Ya sudah akan kutanya istriku saja"
"Oh ya Tuan, menambahkan. Menurut keterangan dari Sarah, sepertinya keluarga yang berkunjung ke sana cuma ada niatan untuk meminta tanda tangan saja dari orang tua itu" imbuh Dewa.
"Untuk?" Sebastian kembali bertanya.
"Mana aku tahu?" Dewa pun kembali mengangkat kedua bahu.
"Baiklah Wa, terima kasih. Perjuanganmu hari ini lumayan terlihat hasilnya" puji Sebastian setengah bercanda.
"Selesaikan dulu semua, urusan bonus perkara gampang" Sebastian beranjak ke ruangan sebelah menyusul sang istri yang sedang istirahat.
"Nasib...nasib...nasib jomblo begini amat ya???" seloroh Dewa ikutan meninggalkan ruangan Sebastian.
.
Sebastian yang hendak masuk ternyata bersamaan dengan Mutia keluar dari ruangan sebelah. "Sepertinya aku mendengar suara Dewa?" celetuknya.
"Barusan keluar dia" tukas Tian.
"Sayang, ada yang mau kutanyain. Duduklah!" pinta Sebastian.
"Ini tentang liontin yang kamu punya" ucap Sebastian hati-hati.
"Ada apa?" Mutia menautkan alisnya.
"Ini hanya feelingku aja sih" lanjut Sebastian.
"Sepertinya liontin kamu itu memang ada hubungannya dengan kepunyaan nyonya Martha dech. Tapi hubungan yang seperti apa aku masih nyari kaitan benang merahnya. Apa kau mau membantu?" tatap serius Sebastian.
"Untuk apa sayang? Aku sudah bahagia hidup seperti ini" jawab Mutia.
"Memang benar apa yang kamu katakan. Tapi apa akan cukup seperti itu?" jelas Sebastian.
"Tadi Dewa bilang kalau Frans mencarimu lagi di kantormu" bilang Sebastian.
__ADS_1
Mutia menautkan alisnya lagi.
"Pasti itu ada kaitannya dengan yang Frans bilang sewaktu kita ketemu di bioskop itu" imbuh Tian.
"Bahkan Dena sempat cerita ke Dewa, kalau Frans sudah dua kali mencarimu dalam minggu ini" Tian menambahi keterangannya.
"Benarkah? Apa benar aku punya keluarga kandung yang lain?" Mutia semakin bingung.
Walau sebenarnya dalam lubuk hati terdalam nya penasaran, tapi Mutia mencoba menekan itu. Alam bawah sadarnya meyakinkan kalau orang tua nya adalah pak Aminoto dan bu Aminah.
"Masih tidak mau mencari?" Sebastian menunggu jawaban sang istri. Sementara Mutia masih terdiam termangu di tempat.
"Begini saja sayang, kita nggak usah terlalu memaksakan. Kalau memang masih ada keluarga kandungmu yang lain, selain ayah dan ibu mu. Kita telusuri pelan aja" saran Sebastian.
Mutia mengangguk setuju dengan ucapan sang suami.
"Kita mulai dari mana?" tanya Mutia pada akhirnya.
"Liontinmu. Sepertinya itu kunci penting untuk mencari sebuah jawaban" tegas Sebastian.
"Kok bisa?" selidik Mutia.
"Bisa saja. Kapan-kapan kita kunjungi lagi tuan Winardi di panti. Kita awali dari sana" ajak Sebastian.
"Kamu kok yakin sekali sayang?" Mutia penasaran juga akhirnya.
"He...he...ada dech. Sudah jangan terlalu dipikirin. Ingat akan kehamilanmu. Di sana ada calon anakku" ucap Sebastian absurd.
"Anakku juga" sungut Mutia.
"Ya udah, anak kita" tukas Sebastian mengalah.
Mutia kembali merajuk, bosan di ruangan Sebastian. Karena kerjaannya cuma nungguin sang suami kerja. Padahal beberapa judul novel online sudah habis dibabat Mutia.
"Sayang, aku bosen nih. Boleh nggak aku ke mama Cathleen. Biar dianterin Pandu" rayu Mutia.
"Mau ngapain di sana?" tanya Sebastian.
"Ngobrol sama mama. Tadi kak Catherine juga kirim pesan padaku kalau mau mampir ke mama" ucap Mutia.
"Oooo...aku ngerti sekarang. Kalian pasti mau menggibah kan?" canda Tian.
Mutia hanya mencebikkan bibir. Sebastian yang melihat semakin gemas dengan ulah sang istri. Dia lum4t bibir sang istri, sampai Mutia kehabisan nafas.
Dan kebetulan Dewa masuk lagi ke ruangan CEO. Hendak memberi tahu sang bos kalau ada yang mau menemui Sebastian.
Apes bener nasib gue hari ini, umpat Dewa masih berada di sana dan membuang muka ke arah lain.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
Pagi-pagi hawanya seger, yukkk ramein biar makin populer
🤗
__ADS_1
💝