
"Tian" panggil manja Janetra. Wanita dengan perut yang sudah membesar, tapi masih memakai baju seksi itu mendekat ke arah Sebastian.
Tatap sinis Sebastian didapatnya.
"Apa kabar?" sapanya.
"Baik" singkat Sebastian.
Hem, dia sekarang hanyalah wanita kesepian yang haus akan belaian. Batin Sebastian.
"Tuan Dewa bisa tinggalin kami!!!" Janetra masih seperti dulu, tukang perintah.
"Wa, tetap di sini! Dan untukmu Janetra, sampaikan aja ke Dewa apa keperluanmu" Sebastian hendak berlalu tapi tangan Janetra merengkuh lengan Sebastian.
Dengan cepat Sebastian menepis pegangan wanita yang pernah dekat dengannya itu.
Sebastian tetap meninggalkan tempat itu, dan berlalu ke ruangannya.
Pagi-pagi yang membuat moodnya menjadi tak baik-baik saja.
.
Sementara Dewa masih dihadapkan Janetra di depannya.
Dewa yang kasihan melihat wanita hamil berdiri saja, mempersilahkan duduk Janetra.
"Dewa, bisa kah aku minta tolong? Tolong bilang ke Sebastian kalau aku butuh waktu untuk bicara dengannya" kata Janetra.
"Aku rasa itu permintaan sulit nyonya" tukas Sebastian.
"Maaf, aku juga sibuk pagi ini. Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi. Silahkan pintu keluar di sebelah sana" Dewa mengarahkan tangannya ke arah 'exit'
"Awas saja! Jika suamiku bebas, akan aku minta balas dendam kepada kalian" kata-kata penuh ancaman keluar dari mulut Janetra.
Padahal dia datang tadi untuk meminta Sebastian membebaskan Frans.
Karena selama Frans berada di penjara tidak pernah sekalipun bisa dihubungi. Dan saat dia berkunjung ke penjara, suaminya itu tak pernah mau menemuinya.
Janetra bingung, sementara waktu melahirkan semakin dekat.
Boro-boro berkeluh kesah ke orang tuanya. Orang tuanya sibuk hanya untuk memenuhi gaya hidup hedon mereka sendiri.
Dewa tak menanggapi semua ucapan Janetra. Dan langsung masuk ruangannya sendiri.
Baru saja mau duduk, Dewa dipanggil oleh Sebastian melalui panggilan ponsel.
Dewa mengetuk pintu, dan suara Sebastian menyuruhnya masuk.
"Wa, perkembangan proyek di kota A bagaimana?" tanya Tian tanpa menanyakan keberadaan Janetra, karena dia sungguh tak peduli.
Dewa berpikir, tuan Sebastian telah benar-benar berubah semenjak kenal nyonya Mutia. Bahkan dia tak bergeming dengan kedatangan seorang Janetra.
__ADS_1
"Dewa, kok melamun sih?" tanya Sebastian lagi.
"Iya Tuan" Dewa tergagap menjawab.
"Proyek di kota A dengan tuan Dika apa kabar?" ulang Tian.
"Untuk mall dan hotel sudah hampir delapan puluh persen. Kalau pembangunan rumah sakit kan baru dimulai" jelas Dewa.
"Oke lah kalau begitu" Sebastian mulai meneliti berkas-berkas yang disiapkan sekretarisnya sebelum dia dan Dewa datang.
Ponsel Dewa berdering kembali, Tania video calling.
"Pagi lawyer cantik" sapa Dewa sambil menggoda sahabatnya itu.
"Jangan lebai ah" sergah Tania.
"Aku lagi sama tuan Sebastian nih" jelas Dewa.
"Eh, kau bahkan manggil dia dengan Tuan???" kerut di dahi Tania terlihat di layar ponsel.
"Mau gimana lagi, tuan Tian its my bosss" imbuh Dewa.
Sebastian ikutan gabung dalam panggilan video itu, "Kalian lagi ngobrolin tentang aku?" tanyanya.
"Idih, kepedean" ulas Tania.
"Hei, cewek bar-bar. Gimana sidangnya?" tanyanya.
"Tian, kau punya hutang padaku" lanjut Tania.
"Hah. Mana ada Sebastian berhutang?" jawab Sebastian kepedean.
"Hhmmmm, Dewa kapan-kapan kau culik istri Sebastian. Bawa padaku!!!! imbuh Tania untuk menggoda Sebastian.
"Fokus saja ke sidangmu. Itu gampang urusan belakangan" tukas Sebastian.
"Sudah dulu ya, mau dimulai nih" Tania memutus panggilan telpon.
"Aku yakin Tania bisa mengatasinya Tuan. Apalagi semenjak kuliah, dia juga musuh bebuyutan Frans...ha..ha..." sela Dewa.
"Apa karena itu kau menunjuk Tania?" tanya Tian.
"Salah satunya itu. Tapi aku yakin karena Tania pengacara yang kompeten" Dewa beranjak dari duduk, hendak kembali ke ruangan.
"Wa, bilang tuan Dika untuk memberikan pekerjaan yang tidak berat untuk orang tuan Bowo dan Putri. Biar mereka juga tidak bergantung hidup ke kedua anak yang di penjara itu" saran Sebastian.
"Oke tuan, akan kutelpon Tuan Dika".
.
Telah berjalan hampir sebulan persidangan atas kasus Frans, Bowo dan Putri.
__ADS_1
Sebastian ingin Tania mengangkat kasus mulai dia kejadian alergi, mengacau kantor cabang istrinya dan kejadian terakhir yang menyebabkan istrinya hampir kehilangan janin.
Kasus ternyata lebih berkembang. Polisi menemukan bukti kejahatan baru seorang Frans.
Sebastian berharap ke Tania, untuk fokus saja dengan kasus yang berkaitan dengan diri dan keluarga. Sementara kasus yang tidak berkaitan dengan dirinya biar menjadi urusan pihak berwajib.
Bahkan Dewa menyempatkan hadir di sidang putusan Frans kali ini karena disuruh oleh Sebastian.
Sementara Sebastian mengantarkan Mutia untuk berkunjung ke panti jompo.
"Sayang, seperti biasa. Mampir bubur ayam" pinta Mutia.
Padahal sebelum berangkat tadi, Mutia telah mengosongkan beberapa etalase untuk diantarkan ke panti oleh orang suruhannya.
.
"Pagi kak Sarah" sapa Mutia yang langsung masuk ke ruangan Sarah.
"Pagi sayangku, cintaku..."sambut Sarah bahagia dan langsung memeluk Mutia.
"Tuan Sebastian, terima kasih atas perhatian terhadap panti ini. Baru kali ini saya bisa mengucapkan langsung" kata Sarah.
"Hhhmmm sama-sama" Sebastian menimpali.
"Kak, aku mau ke Opa ya?" rajuk Mutia.
"Kebetulan kamu ke sini. Beberapa hari ini nafsu makan Tuan Winardi menurun" ulas Sarah.
"Kebetulan juga aku bawa bubur ayam" Mutia menimpali.
.
Mutia bersama Sebastian menuju kamar tuan Winardi.
Mutia beberapa kali mengetuk pintu, belum ada sahutan.
"Opa, ini Mutia" panggilnya.
"Boleh Mutia masuk Opa?" tanyanya setelah mengetuk pintu.
Terdengar suara batuk dari dalam ruangan. Mutia menerobos masuk untuk melihat kondisi sang Opa.
Tuan Winardi terbaring di ranjang, orang tua itu nampak lemas. Bisa jadi karena kurang asupan makan selama beberapa hari.
"Apa kita bawa ke rumah sakit aja ya sayang?" ajak Sebastian yang berdiri di belakang istrinya.
Mutia mendekat ke tuan Winardi.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
__ADS_1
💝