
Frans yang mengadakan jumpa pers selesai acara bersama Janetra, kembali minta maaf. Tapi di ujung ucapannya, dia mengatakan kalau harga wedding cake itu sangat murah baginya, jadi kalaupun hancur dia tidak merasa rugi. Sombong sekali.
Itu hanyalah kamuflase seorang Frans untuk menutupi amarah yang hampir meledak itu.
Frans yang sebelumnya merasa bangga bisa merebut Janetra dari seorang Sebastian. Menjadi sangat marah saat Sebastian menggandeng seorang wanita anggun nan jelita di pesta pernikahannya. Bahkan dari sinar matanya, Frans tahu kalau Sebastian sangat mencintai wanita itu.
Frans juga tak mengira Sebastian akan seserius itu dengan wanita yang menurut Janetra adalah wanita nakal yang sudah mempunyai anak di luar pernikahan itu. Meski mereka pernah bersua sebelumnya di sebuah mall, saat dirinya dan Janetra sedang mencari cincin pernikahan.
Demi itu semua bahkan Frans dan keluarganya rela menggelontorkan dana yang tak sedikit buat keluarga Suparanoto, yang hampir gulung tikar itu. Hanya demi membalaskan rasa sakit hatinya kepada Sebastian.
Bahkan karena kemarahannya, wedding cake yang dibuat oleh Mutia Bakery itu ditendangnya hingga tak berbentuk.
Frans sangat membenci apapun yang berbau Sebastian. Bahkan sejak sekolah menengah atas, dia selalu kalah saing dan juga kalah tenar dengan Sebastian.
Sampai sekarang pun, semua bisnis yang dijalankan olehnya juga tak sesukses Sebastian.
Jadi ada dendam pribadi Frans kepada Sebastian.
Apa Sebastian tahu, tentu saja tidak. Karena Sebastian tidak pernah menganggap seorang Frans adalah rival yang sebanding dengannya. Ikutan sombong boleh dong.
Sebastian hanya menganggap Frans adalah laki-laki yang selalu berlindung di bawah bendera keluarganya. Bahkan menikahi Janetra, Sebastian menganggap itu adalah keputusan terbodoh yang Frans ambil. Tapi biarlah, itu kan juga bukan urusannya lagi. Batin Sebastian.
Pulang dari pesta pernikahan, terdengar nada dering ponsel Sebastian. Sebastian meloudspeaker karena sedang fokus mengemudikan mobilnya.
"Halo Wa" sapanya.
"Tuan masih di jalan kah? Bersama nyonya?" tanya Dewa.
"Ya masih di jalan ini. Jelas lah aku sama istriku" suaranya sedikit di tekan.
"Oke tuan. Nanti kalau sampai kabari aja, aku mau nelpon lagi" Dewa menutup panggilannya.
"Kadang-kadang aku tuh kasihan sama Dewa lho, akhir pekan juga masih kau suruh kerja juga" celetuk Mutia.
"Loh, Dewa itu ikhlas lho kusuruh-suruh. Apalagi kalau transferan masuk, pasti dia lebih giat lagi...he...he..."
"Nggak kok sayang, Dewa tuh sudah laiknya adik bagiku. Papa nya Dewa tuh dulu juga asisten papa" cerita Sebastian.
"Oooo... Ternyata keluarga Baskoro juga hobi mempekerjakan karyawan turun temurun juga" tukas Mutia.
"Maksudnya?" imbuh Sebastian.
"Kemarin Pandu, sopir yang biasa mengantar jemput aku juga cerita kalau ayahnya dulu juga sopirnya papa Baskoro" lanjut Mutia.
__ADS_1
"Ha...ha...benar juga ya. Aku sampai nggak kepikiran lho. Tapi kalau sudah menjadi orang kepercayaan papa, aku yakin pasti orang itu punya attitude yang baik"
"Apalagi punya menantu yang baik" goda Sebastian.
"Aku ganti baju dulu" pamit Mutia saat mereka telah sampai di apartemennya.
"Yank, baju yang kubeliin kapan hari pake dong!" seru Sebastian.
"Baju yang mana, semua baju yang di sini kan semua kamu yang belikan" imbuh Mutia.
Baju yang warna hitam atau merah maroon" ucap Sebastian sambil melepas sepatu.
Dan...blushhhh kemerahanlah pipi Mutia setelah mengerti yang dimaksud suaminya itu.
"Sudah tahu kan?" kedip mata genit sang suami pun didapat oleh Mutia.
"Aku ke ruang kerja dulu, mau nelpon Dewa" kata Sebastian.
Sementara Mutia masih menimang antara ya dan tidak, menuruti permintaan suaminya tadi.
Kalau dipakai, duh malunya. Kalau nggak berarti menolak suami, dosa dong.
Mutia masuk kamar dan segera ke ruang wardrobe mencari baju yang dimaksud Sebastian tadi.
Sementara Sebastian masih berbicara dengan Dewa di ruang kerja.
"Dewa, ada perkembangan terbaru?" Sebastian menunggu laporan dari Dewa.
"Benar tuan. Dari orang yang kita tangkap kemarin dipastikan kalau uang yang dia dapat untuk diberikan ke manager nyonya itu berasal dari Ardian" beritahu Dewa.
"Oh ya Tuan, kebetulan orang ini juga masih menyimpan bukti transfer yang berasal dari Ardian" .
"Cari jejak chat ataupun riwayat panggilannya Wa. Aku butuh itu untuk menambah bukti keterlibatan mereka semua" perintah Sebastian.
"Siap Tuan" Dewa menutup panggilan dari Sebastian.
Sebastian kembali menekan tombol hijau di ponselnya untuk menghubungi tuan Bagus.
"Selamat malam tuan Sebastian, ada yang bisa saya bantu" ucap ramah tuan Bagus.
"Terima kasih sebelumnya. Maaf masih merepotkan anda lagi. Saya hanya ingin tau motif sang manager melakukan penggelapan di kantor cabang itu tuan?" tanya Sebastian.
"Ha...ha...anda kayak nggak tau sifat manusia saja tuan. Yang pasti dia ingin kaya dengan cepat. Tapi juga sepertinya ada yang memberi imbalan yang lumayan buat manager itu dengan tujuan untuk merusak perusahaan tempat dirinya bekerja" beritahu tuan Bagus.
__ADS_1
"Tapi orang yang memberinya uang malah menghilang sekarang. Anggota ku belum bisa melacaknya" imbuh tuan Bagus.
Jelas saja belum ditemukan, orang yang dimaksud telah disekap oleh Sebastian sendiri. Tapi mereka sepertinya masih amatir, kenapa memberi uang dengan cara transfer yang bisa dengan mudah terlacak. Kebodohan komplotan itu sedikit banyak membantu Sebastian.
"Besok akan saya serahkan orang itu tuan Bagus, lengkap dengan buktinya. Bahkan satu orang lagi yang perlu anda selidiki. Karena dari orang itu lah sumber uangnya" beritahu Sebastian.
"Siap tuan Sebastian" tuan Bagus memutus sambungan telepon itu.
Tepat saat itu Mutia masuk membawa secangkir kopi yang masih keluar uap panasnya. Aroma yang sangat menggugah selera.
Sebastian mengirimi pesan ke Dewa untuk menyerahkan orang yang disekap kepada pihak kepolisian beserta barang bukti.
"Sayang, tuh kopinya" ucap Mutia. Mendengar ucapan sang istri barulah Sebastian mendongak.
Melihat sang istri memakai kimono mandi maka Sebastian merasa aneh.
"Habis mandi kah, jam segini kok pakai begituan?" tanya Sebastian.
Mutia hanya menggeleng saja. Apa aku harus bilang kalau sekarang sedang memakai baju yang dimintanya tadi, pikir Mutia. Enggak ah bisa malu aku, tolak batin Mutai.
"Sayang, ditanya kok malah diam" celetuk Sebastian. Dan barulah sedetik kemudian Sebastian ingat kalau dia menyuruh istrinya memakai baju keramat. Makanya dia sedari tadi tidak menjawab. Oh istriku. Senyum lebar muncul di bibir Sebastian.
Didekatinya tubuh sang istri yang masih termangu. Mutia sampai terkaget ternyata Sebastian telah berada di dekatnya. "Kok melamun sih" bisik Sebastian.
"Aku malu" tukas Mutia.
"Malu kenapa? Apa sudah kau pakai?" Sebastian seakan tak sabar menunggu jawaban sang istri.
Direngkuhnya tubuh sang istri yang baru beberapa hari dinikahi itu. Tangannya mulai melepas simpul yang mengikat kimono yang dipakai istrinya. Sajian indah terpampang di depan mata, sampai tak berkedip Sebastian memandang.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
Bunga mawar bunga melati, up keluar silahkan menikmati
Bunga bakung bunga cempaka, beri like bila kalian suka
💝
follow IG ku juga ya
@moenaelsa_
__ADS_1