
Semua berjalan ke arah parkir, meninggalkan Janetra bersama bayinya sendirian.
.
Sampai di mansion, ternyata Opa Winardi bersama Langit menunggu kedatangan daddy dan bundanya.
"Kok belum tidur sayang?" Mutia menghampiri Langit yang masih asyik mainan.
"Kan besok libur Bun" celetuk Langit. Senyuman hangat merekah di bibir Mutia.
"Darimana kalian?" tanya Opa.
"Ada acara sama teman-teman Opa" beritahu Mutia.
"Oh ya Opa, aku ada kabar. Tapi Opa jangan kaget ya?" tatap Mutia ke arah sang Opa.
"Supranoto? Martha? Janetra?" semua nama disebut oleh Opa.
"He...he...Opa tuh kayak absensi di kelas saja" Mutia tertawa renyah. Sudah seperti kerupuk aja.
"Janetra melahirkan. Anaknya cewek" lanjut Mutia.
"Kok kamu tahu nak?" imbuh Opa.
"Tahu lah Opa, cucumu ini yang mengantar ke rumah sakit" sela Sebastian.
"Hah?" Opa menengok ke arah Sebastian yang barusan ikut duduk di samping sang istri sambil menguyel perut Mutia yang mulai nampak membuncit.
"Sayang nya Dad, sehat-sehat di perut bunda" Sebastian terus saja menciumi perut Mutia tanpa melihat Opa yang menunggu jawaban darinya.
"Tian" panggil Opa.
"Iya" Sebastian beralih memandang Opa.
"Opa lagi nungguin kamu cerita tuh" seloroh Mutia sambil mencubit gemas lengan sang suami karena terus saja memegangi perutnya.
"Sayang, geli ah. Malu tuh sama Opa" kata Mutia.
"He...he...Opa kan juga pernah muda sayang" Sebastian terkekeh.
"Iya Opa, tadi kita tuh kebetulan ketemu sama Janetra di sebuah resto" Sebastian mulai menceritakan kejadian yang dialaminya bersama istri dan teman-temannya.
"Terus?" Opa juga ikut penasaran.
"Janetra meminta maaf ke istriku Opa. Aneh nggak sih?" lanjut Tian.
"Menurut Opa sih aneh" tukas Opa.
"Janetra juga mengaku kalau tuan Supranoto dan nyonya Martha bukan orang tua kandungnya. Beneran nggak?" telisik Sebastian.
"Kepo" sela Mutia.
__ADS_1
"Lagian sayang, entah itu orang tua kandung atau bukan. Apa urusannya dengan kita?" tandas Mutia.
"Dengerin tuh kata istri kamu" nasehat Opa Winardi.
"Kita kan menolongnya karena rasa belas kasih kita saja sebagai sesama" imbuh Mutia.
"Hanya sebatas ingin tau. Tak lebih" ucap Sebastian.
Opa Winardi menghela nafas panjang, "Ternyata semua telah direncanakan dengan matang antara Supranoto dan Martha. Bahkan mantan istri sambungku juga sangat licik" kata Opa Winardi memulai cerita.
"Mengenai Janetra yang mengaku bukan putri kandung mereka sepertinya ada yang salah. Tak mungkin Martha waktu itu hanya mengaku-ngaku hamil. Bahkan setahu Opa, Martha juga mengalami mual muntah yang hebat dan sampai dirawat" jelas Opa.
"Apa Janetra tadi berbohong Opa?" tanya Mutia.
"Bisa saja" tukas Sebastian.
Mutia tak habis pikir, kalauJanetra berniat berbohong.
"Bisa saja mereka memanfaatkan kebaikanmu sayang" jelas Tian.
.
Di rumah sakit, Janetra masih menimang bayinya dan mengulum senyum.
Dengan rasa sakitnya, dia masih bisa mengelabui seorang Sebastian, Mutia dan teman-temannya.
Bahkan mereka begitu mudah terperdaya. Batin Janetra.
Janetra meraih ponsel untuk menghubungi nyonya Martha dan Tuan Supranoto orang tuanya.
"Janet, kok bisa kamu di rumah sakit mewah itu?" tanya mama Martha.
"Kita ke sana Mah" ajak tuan Supranoto.
"Tapi kita tak punya uang untuk menutup biaya persalinan Janetra Pah" nyonya Martha seakan enggan menengok putri dan cucunya itu.
"Tenang Mah, semua sudah dilunasi oleh Mutia bodoh itu" jelas Janetra.
"Bagaimana bisa?" sela nyonya Martha penasaran.
"Di mana ada dia pasti ada Sebastian" seloroh tuan Supranoto.
"Dan bayiku ini memang bayi pintar Mah, aku kerasa melahirkan tepat di hadapan mereka. Jadinya mereka kasihan padaku" Janetra tertawa.
"Kau sungguh pintar Janet" puji nyonya Martha.
"Ha...ha...ha...." mereka bertiga tertawa bersama, menertawakan kebodohan Mutia dan Sebastian.
"Bagaimana kalau kita ke sana Pah?" celetuk nyonya Martha.
"Bukannya aku sudah mengajakmu sedari tadi" tandas tuan Supranoto.
__ADS_1
"Tunggu kita Janet" nyonya Martha memutus panggilan dari Janetra.
Tak sampai setengah jam kedua orang itu telah sampai di kamar rawat inap Janetra.
Mereka berdua celingak celinguk melihat keadaan sekitar sebelum masuk ke kamar Janetra.
"Cucuku cantik sekali" ucap nyonya Martha setelah mendekat di samping Janetra.
"Bayi ini sepertinya bisa kita manfaatkan nih untuk mendapat belas kasih dari Mutia. Dan kita manfaatkan kebaikannya itu untuk merongrong Sebastian" ujar tuan Supranoto.
"Bener juga tuh usulan mu Pah" Janetra tersenyum culas.
"Janet, kau punya uangkah? Kita belum makan loh sedari siang" dijawab gelengan kepala oleh Janetra.
"Adanya makanan dari rumah sakit, mama mau?" tanya Janetra.
"Nggak apa-apa lah daripada nggak makan" celetuk nyonya Janetra.
Tuan Supranoto tak sengaja melihat liontin yang dipakai istrinya.
"Mah, liontinmu itu ternyata masih ada? Wah, kita bisa kaya lagi nih" kata Tuan Supranoto.
"Ini???" nyonya Martha memegang sesuatu yang melingkar di lehernya. Dia sendiri lupa kalau kalung yang dipakainya berharga miliaran rupiah.
"Pasti itu akan sangat mahal kalau dijual. Itukan barang limited" seloroh tuan Supranoto.
"Besok kita jual aja di toko perhiasan. Ini kan kalung yang dicuri mama ku dulu" nyonya Martha tertawa saat teringat mamanya mengambil paksa kalung itu di brankas milik suaminya yang tak lain tuan Baksono Winardi.
"Memang berapa harganya Pah?" tanya Janetra.
"Bisalah buat beli rumah, mobil dan memulai usaha" imbuh tuan Supranoto.
Mereka mengobrol sampai tengah malam. Tuan Supranoto dan nyonya Martha ikutan menginap di rumah sakit daripada balik di kontrakan mereka yang sempit.
Mereka bertiga tak menyadari ada sebuah alat penyadap menyala kelap kelip yang terpasang di bawah meja makanan dan juga sebuah kamera yang ditempel di pojok ruangan.
.
Sebastian mengecup kening Mutia yang tertidur.
"Kamu orang yang terlalu baik dan jujur sayang. Bahkan mereka yang berniat jahat, akan memanfaatkan kebaikanmu itu" gumam Tian.
Sebastian meninggalkan kamar, setelah memasang selimut untuk sang istri yang telah lelap.
Saat sampai di ruang kerja, Sebastian membuka laptop. Dan memandang layar laptop dengan serius.
"Heemmm...benar dugaanku" gumam Sebastian.
"Sialan kalian" umpatnya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
To be continued, happy reading
💝