
Sebastian telah kembali ke apartemen. Didapatinya sang istri yang sedang duduk melamun.
"Sayang, aku tadi ketemu sama Dena di bawah. Kubilangin kalau kamu akan sering nggak ngantor" Sebastian duduk di samping Mutia.
"Loh, terus aku disuruh ngapain? Kan bosan yank di rumah terus" rajuk Mutia.
"Nanti kau akan terbiasa" tukas Sebastian merangkul sang istri.
"Dengan kehamilanmu ini, aku harap kau bisa mengurangi kesibukanmu sayang. Bahkan kalau kau berhenti aku akan sangat senang sekali. Tapi kalau kau kusuruh berhenti, nggak mungkin kan? Mutia Bakery adalah passion seorang Mutia Arini" Sebastian terkekeh.
Mutia berpikir sejenak, memang benar apa yang dikatakan oleh sang suami. "Aku nggak janji sayang, tapi akan kuusahakan untuk menguranginya" imbuh Mutia.
"Kamu nggak ngantor hari ini?" tatap Mutia.
"Enggak, hari ini aku akan nemenin kamu seharian" imbuh Sebastian.
"Kok gitu sih? Sayang, hamil itu hal yang fisiologis. Jadi jangan lebay dech" jelas Mutia.
"Biarin, pokoknya hari ini aku mau nemenin kamu. Kalau ada apa-apa aku yang pertama siaga" celetuk Sebastian.
Mutia yang terbiasa apa-apa melakukan sendiri, karena tempaan keras hidupnya malah merasa aneh dengan perhatian sang suami.
"Sayang, kalau kamu nggak kerja. Kasihan tuh karyawan Blue Sky. Ntar gajiannya bagaimana?" bisik Mutia.
"He...he...jangan kuatir soal mereka. Semua sudah ditangani Dewa" tukas Sebastian.
Mutia bingung mau ngapain di rumah sepagi ini. "Kamu nggak makan lagi, tadi kan keluar semua?" tanya Sebastian.
Mutia hanya menggeleng, karena masih malas melihat makanan yang dibuatnya untuk sarapan tadi.
"Kalau nggak makan, yuniorku dapat gizi dari mana?" penasaran Sebastian.
"Cadangan lemak tubuhku" canda Mutia
"Emang begitu kah?" selidik Sebastian. Melihat sang istri yang tertawa, Sebastian yakin kalau jawaban Mutia tadi hanyalah gurauan.
__ADS_1
"Aku mau nonton aja" imbuh Mutia. Mutia menyalakan televisi di ruangan itu.
Sebuah berita yang menayangkan acara mereka berdua semalam.
"Wah, suamiku ini ternyata memang benar-benar tenar ya? Lihat tuh, semua chanel tv beritanya tuan Sebastian Putra" Mutia terkekeh.
"Baru tau?" tandas Sebastian sambil membawakan camilan buah untuk sang istri.
"Makasih" Mutia menerima sepiring buah dari sang suami.
"Sayang, mulai saat ini kau juga harus terbiasa dengan para pewarta itu. Suatu saat kau pasti akan diburu oleh mereka karena status kamu itu" perjelas Sebastian.
"Status sebagai istri seorang Blue Sky. Begitukah???" imbuh Mutia. Mereka pun tertawa bersama.
"Padahal aku hanya ingin jadi istri Sebastian Putra, bukan istri CEO Blue Sky" kata Mutia.
"Lho nggak bisa gitu sayang, itu sudah paket komplit. Sebastian Putra yang juga CEO Blue Sky...ha...ha..."
Mutia mengganti chanel berita yang dilihatnya. Di layar televisi menayangkan sebuah acara dari seorang food vlogger. Melihatnya membuat Mutia menelan ludah.
"Sayang aku ingin makan itu" tunjuknya ke arah televisi.
"Tuh ada alamatnya" jelas Mutia.
Sebastian memicingkan netranya untuk melihat tulisan kecil-kecil di televisi itu. "Nggak kelihatan yank, mereka niat nggah sih promoin makanan nya itu. Buat tulisan aja kecil-kecil seperti semut gitu" gerutu Sebastian.
"Usaha dong sayang" Mutia mulai bersungut.
Sebastian mendekat ke layar televisi untuk menajamkan netranya melihat alamat penjual dari makanan yang sedang dinikmati oleh food vlogger itu.
"Sayang ini di luar pulau loh" kata Sebastian setelah berhasil membacanya.
"Tapi aku ingin itu yank" celetuk Mutia.
"Gimana kalau belinya di tempat lain?" Sebastian teringat di resto langganannya menjual makanan yang diinginkan istrinya itu. Lokasinya juga nggak begitu jauh dari apartemen.
__ADS_1
"Nggak mau, aku ingin yang disitu" mata Mutia mulai berkaca-kaca. Kalau sudah begitu mana tega Sebastian.
Segeralah drama merepotkan Dewa sang asisten dimulai.
Sebastian menelpon Dewa untuk segera menyiapkan pesawat.
"Anda mau ke mana? Seminggu ini kita tidak ada agenda luar kota bahkan luar negeri tuan" ada nada heran di suara Dewa.
"Sudahlah siapkan saja. Aku mau ke Ambon" ucap Sebastian.
"Ambon? Kita belum ada rekan bisnis dari sana tuan?" Dewa masih saja heran dengan permintaan mendadak tuannya itu.
"Dewa, siapkan saja. Bisa nggak kau tanyanya nanti" imbuh Sebastian tak mau dibantah.
"Siap tuan" Dewa akhirnya mengiyakan perintah sang tuan.
"Sayang, aku pergi dulu. Perlu sedikit waktu untuk sampai sana" ujar Sebastian. Mutia pun mengangguk untuk menunggu suami yang akan beranjak pergi itu.
Sore hari Sebastian baru kembali karena jarak tempuh yang lumayan panjang untuk pulang pergi. Mutia tertidur di tempat yang sama saat Sebastian datang, "Sayang ini makanan yang kau mau" Sebastian membangunkan sang istri.
"Loh, kok sudah datang? Mana yang kuminta tadi?" meski bangun tidur ternyata Mutia masih ingat dengan apa diminta sebelumnya.
Sebastian menyerahkan apa yang diminta oleh istrinya. Beberapa porsi papeda diterima oleh Mutia. Langit yang belum pulang, karena tadi pagi ijin mau ke rumah opa dan omanya. Membuat sepasang suami istri itu sekarang hanya berdua di apartemen.
Mutia makan dengan lahap makanan itu. "Emang enak yank?" tanya heran Sebastian.
"Hhhmmm" Mutia mengangguk dengan mulut penuh papeda.
"Pelan-pelan, daddy nggak minta" ucap Sebastian mengelus perut rata Mutia.
"Abis ini kita bersiap untuk periksa kandungan? Selepas itu kita mampir mansion papa, sekalian jemput Langit" ujar Sebastian.
Sementara Mutia masih fokus dengan makanan di depannya.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
__ADS_1
To be continued, happy reading
π