
Keesokan hari mereka berdua, Sebastian dan Mutia kembali disibukkan dengan aktivitas perusahaan yang bejibun.
Pernikahan yang serba mendadak tentu saja dengan persiapan yang mendadak juga.
Sebastian telah keluar dari kamar mandi, dia melihat baju yang telah disiapkan oleh Mutia. Sesungging senyum di bibir Sebastian. Sementara Mutia sendiri telah keluar dari kamar untuk menyiapkan sarapan dan juga bekal makan siang untuk mereka bertiga. Sebuah kebiasaan baru bagi seorang Sebastian.
"Sayang, ke sini sebentar" panggil Sebastian. Mutia yang sedang menata menu di meja makan datang tergopoh menghampiri suaminya itu. "Pakaiin dasi dong" celetuk Sebastian. "Hhmmm, biasanya juga pakai sendiri" tukas Mutia. "Mulai saat ini beda dong, kan sudah ada istri tercinta" manja Sebastian. "Langit sudah bersiap?" tanya Sebastian. "Sudah, dia nungguin kita di meja makan" imbuh Mutia. Mutia serius memasangkan dasi Sebastian, sedang tangan Sebastian sudah tak terkondisikan. Dia telusuri lekuk tubuh istri yang sudah menjadi candu baru baginya. "Sayang, aku jadi nggak fokus nih pasang dasinya" sergah Mutia. "Ha...ha...istriku kalau lagi begini imut juga" kelakar Sebastian.
"Dad..." panggil Langit. "Tuh, putramu sudah manggil" celetuk Mutia. "Baiklah my Queen, mari kita sarapan" sahut Sebastian.
"Sayang, berangkatnya bareng aja sekalian gimana? Abis ngantar Langit aku antar kamu ke Mutia Bakery" kata Sebastian sambil menikmati menu yang dibuat oleh istrinya. "Nanti malah nggak repot kamunya? Kan beda arah" tukas Mutia menimpali. "Aku barengan Dena aja nggak apa-apa" imbuh Mutia. Mutia menyiapkan bekal untuk suami dan putra tercintanya. "Apaan ini?" tanya Sebastian. "Bekal makan siang Dad" tukas Langit.
"Bekalku kamu aja yang bawa sayang, ntar siang abis jemput Langit aku ke Mutia Bakery. Makan di sana aja bareng-bareng" kata Sebastian. "Baiklah" sahut Mutia.
Sebastian dan Langit berangkat duluan. "Bye Bun, berangkat duluan" pamit Langit. "Bye sayang. Hati-hati di jalan" pesan Mutia. Mutia berhenti di lantai di mana apartemennya berada. Saat di depan pintu, Mutia menekan kode akses yang sangat dihafalnya itu. Di dalam terlihat Dena sedang sarapan dengan bibi. "Wah, nyonya besar sudah datang aja. Aura pengantin baru memang beda ya bik?" Dena mulai dengan candaannya. "Makanya nikah tuh sama Dewa, biar auramu juga beda" balas Mutia. "Idih, ogah gue" tukas Dena sambil menyuapkan makan ke mulutnya. "Jangan bilang gitu Non Dena...Ogah-ogah ntar tau-taunya nikah nggak bilang-bilang" bik Sumi ikuta nimbrung. "Nggak bakalan bik" sahut Dena. "Ha...ha...ha..." Bik Sumi dan Mutia tertawa bersama.
__ADS_1
"Oh ya bik, skalian mau nanya aku. Tadi daddy Langit pesen kalau bik Sumi nggak keberatan, diminta berberes di lantai atas. Nanti juga ada yang bantuin. Aku tadi sudah pesen tukang bersih-bersih online juga sih. Bantuin ngawasin maksudnya" ujar Mutia. "Baiklah nyonya Sebastian" canda bik Sumi ikutan gaya Dena.
"Dena, sudah belum? Lemot amat. Makanmu sudah kayak pengantin baru aja...lamaaaaaa" ujar Mutia. "Iya...iya..ini juga tinggal suapan terakhir kak" Dena beranjak menuju wastafel untuk cuci tangan. "Ayo berangkat!!!" kata Dena sambil menyambar air mineral dalam botol yang tersedia di atas meja makan. "Bik, kami berangkat ya" pamit Mutia. "Baik nyonya. Hati-hati semua" ucap bibi menanggapi.
"Kak, sudah di bacakan laporan-laporanku kemarin?" tanya Dena dengan fokus menyetir. "Aman, nggak ada yang terlewat. Tapi cabang yang di kota S, omset kenapa bisa menurun tajam ya Den?" tanya Mutia. "Itu lah kak, analisaku belum sampai ke sana. Laporan mereka juga baru datang kemarin terus kukirim ke kakak itu" jelas Dena. "Oke, nanti biar kuteliti dan kuhubungi manager yang di sana" imbuh Mutia.
"Wedding cake nya juga sudah tinggal eksekusi aja kan, bahan-bahan ada kendala?" lanjut Mutia. "Sebenarnya bahan-bahan toping yang mahal itu yang buat kendalanya. Untung saja Mutia Bakery sudah dipercaya oleh pihak rekanan. Jadi no problem sih menurutku" Dena menanggapi.
Mutia langsung masuk ke ruangan yang sempat dikosongkannya sehari kemarin. Mutia kembali meneliti laporan-laporan yang semalam telah dilihatnya dari email Dena. Mutia mengerutkan keningnya, saat membuka laporan dari cabang kota S seperti yang diutarakannya kepada Dena waktu perjalanan tadi. "Bagaimana bisa merosot tajam? Apa ada yang salah? Setauku semua bahan yang disuplai dari pusat semua sama. Proses nya juga sama?" Mutia mengetuk-ngetuk kepalanya pelan dengan ujung bolpoin yang dipegangnya.
Mutia memulai pengecekan pengiriman bahan-bahan dari pusat. "Oke, dari sini belum muncul masalah. Kalau ada masalah pasti lah Dena sudah berkoar duluan" gumam Mutia sendirian. "Aku telpon aja manager yang ada di sana" pikir Mutia. "Selamat pagi, bisa disambungkan dengan bu Ana Mariana" ucap Mutia saat panggilan tersambung. "Baik, nyonya. Ada yang perlu disampaikan. Bu Ana nya belum datang" jelas karyawan yang ada di sana. Mutia menautkan alisnya, jam segini belum datang? Gumamnya dalam hati. "Baik kak, nanti saya hubungi kembali. Terima kasih" imbuh Mutia belum menyebutkan identitasnya dan menutup telponnya.
"Kak, sudah ketemu pokok masalah yang di cabang kota S?" tanya Dena yang barusan masuk ke ruangan Mutia. Dena tidak tau kalau si tuan Besar juga ikut mendengarkan. "Sudah kuhubungi sih cabang yang disana. Tapi mba Ana nya belum datang" kata Mutia. "Jam segini belum datang? Wah nggak beres dia kak" cerocos Dena. "Jangan berpikiran buruk dulu, bisa saja mba Ana ada keperluan mendesak yang tak bisa ditinggalin" sergah Mutia. "Itulah kak, kakak itu begitu baik. Tapi belum tentu semua orang baik juga kepada kakak" tandas Dena berbalik keluar ruangan.
Sebastian yang ikut mendengar nya semakin kagum akan kepribadian sang istri. "Hatimu itu terbuat dari apa sih Mutia? Aku yang jahat kepadamu saja begitu mudah kau maafkan. Bahkan kau juga ikhlas menerimaku sebagai seorang suami" batin Sebastian sambil menatap wajah serius Mutia yang sedang meneliti laporan itu melalui ponselnya.
__ADS_1
Mutia bahkan terlupa kalau seseorang masih memandanginya dengan serius. Mutia baru teringat panggilannya masih tersambung ketika akan menghubungi kembali cabang di kota S dengan ponselnya. "Eh, kirain sudah ditutup ni tadi" ucap Mutia. Sebastian terkekeh, "Gini amat ya kalau istriku sedang bekerja. Serius sekali" celoteh Sebastian. "Kalau nggak serius bukan kerja namanya, tapi ngelawak" imbuh Mutia ikutan ketawa. "Sudah dulu ya yank, ponselnya mau kupakai nih nelpon nih?" rayu Mutia. "Nelpon siapa?" kata Sebastian pura-pura tak tahu. "Mau nelpon manager ku" jawab jujur Mutia. "Oke baiklah, ntar ketemu makan siang" kata Sebastian mengakhiri panggilan video.
Seperti yang dibilang ke Sebastian, Mutia mencoba kembali menghubungi kantor cabang itu. Seperti jawaban sebelumnya, mereka bilang kalau bu Ana belum datang. Mutia akhirnya mengutarakan maksud tujuannya mencari sang manager. "Baiklah nyonya Mutia, kalau bu Ana datang biar menghubungi kembali. Maaf sekali nyonya" ucap karyawan yang ada di sana ramah. "Maaf mba, boleh minta nomer lain yang bu Ana punya. Beberapa kali nomer Bu Ana yang saya simpan tak bisa saya hubungi" tukas Mutia. Karyawan itu menyebutkan angka-angka dan tak lupa Mutia tulis di selembar kertas. "Oke, makasih" Mutia menutup telpon.
Mutia kembali menghubungi nomer yang baru diberikan oleh karyawan tadi. Tapi malah jawaban operator cantik yang menyapanya, memberi tahu kalau nomer yang anda hubungi sedang tidak aktif. Mutia menghela nafas panjang. Tapi sampai di titik ini, Mutia belum berprasangka buruk kepada sang manager. Mutia masih beranggapan sang manager memang benar-benar ada keperluan mendesak yang tak bisa ditinggalkan.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading.
Makasih untuk semua, yang masih mengikuti cerita ini
Bagi like, komen dan vote nya biar karya ini makin populer
Follow juga IG author
__ADS_1
@ moenaelsa_
💝