WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 57


__ADS_3

"Ijab kabul dulu saja Pah. Yang penting sah. Untuk pesta aku pikirkan lagi ntar" ucap Sebastian. Mutia semakin melongo dibuatnya.


Sebastian menyenggol Mutia yang diam tak bereaksi. "Gimana, dua hari lagi?" tengok Sebastian. "Beneran dua hari lagi??" hanya itu respon Mutia. "Biar kita bisa hidup bersama seperti impian Langit" tukas Sebastian.


"Sekali lagi Mutia, niat baik musti disegerakan. Sudah kamu nggak usah mikirin apapun. Tinggal duduk diam saja, biar Sebastian semua yang mengurus" jelas mama Cathleen penuh kesabaran. "Benar apa yang disampaikan Sebastian, jangan diramaikan dulu. Saat ini situasi belum kondusif untuk mengadakan pesta. Faktor keamanan kamu dan Langit yang jadi prioritas" tegas Tuan Baskoro.


Memang aku dan Langit kenapa??? Tanya Mutia dalam benak. Selama ini Mutia dengan Langit fine-fine saja. Bahkan Mutia juga tidak tahu kalau Sebastian selalu menyiapkan pengawal buatnya dan juga Langit putranya, untuk selalu siaga menjaga.


"Sudah jangan banyak berpikir, yang penting kamu siapkan saja tenagamu setelah dua hari ke depan" bisik Sebastian yang mempunyai maksud dalam kata-katanya.


"Bentar-bentar, beneran kita mau nikah. Aku menerima lamaranmu bukan berarti harus nikah secepat ini kan?" Mutia masih bimbang.


"Terus apa yang menjadi pertimbanganmu untuk menunda Mutia. Aku yakin putraku akan menjagamu dan Langit sepenuh jiwa. Baru kali ini mama melihat Sebastian seserius ini dengan wanita" Mama Cathleen meyakinkan Mutia.


"Tapi aku juga takut tidak bisa menjadi istri yang baik Mah" ragu Mutia. "Kalau tidak dicoba mana tahu kau bisa" tandas mama Cathleen memeluk Mutia seperti putri kandungnya.


"Sebastian pasti akan membimbingmu. Berikan kesempatan padanya untuk menjadi pendampingmu" elus mama Cathleen ke pundak Mutia untuk menguatkan.


Bagai tiga lawan satu, Mutia berhadapan dengan Sebastian, tuan Baskoro dan mama Cathleen. Akhirnya Mutia menerima niat baik Sebastian untuk menikah. "Deal, kita menikah" ucap Sebastian sambil mengangkat jari kelingkingnya untuk ditautkan dengan jari Mutia. Mutia yang lama, akhirnya Sebastian sendiri yang menautkannya. "Lelet" imbuhnya.


"Besok nggak usah ke perusahaanmu dulu. Abis ngantar sekolah. Kita cari gaun serta cincin" ajak Sebastian. "Eh, mana bisa begitu! Aku harus nyelesaikan urusan dengan nyonya yang tadi pagi" tolak Mutia.


"Nyonya Martha????" timpal Sebastian.

__ADS_1


"Mama sama papa ke kamar dulu. Teruskan ngobrolnya, tapi ingat belum boleh satu kamar!!!" tandas mama Cathleen sambil menekan kata-kata di akhir kalimat.


"Eh, beneran aku disuruh di ruang kerja. Tega amat kalian" rajuk Sebastian. Alhasil pelototan Mama didapat oleh Sebastian. "Iya..iya..tidur di ruang kerja" celetuk Sebastian dengan sedikit dongkol. Dia hanya berniat menggoda mama nya, padahal masih banyak kamar kosong di mansion. Tengil memang.


Sepeninggal mama dan papa. "Kamu kenal dengannya???" Mutia heran Sebastian mengenal wanita itu.


"Iya kenal" jawab Sebastian singkat. Ya jelas kenal, bahkan aku sempat ditipu mentah-mentah olehnya. Batin Sebastian. Sebastian yang belum dewasa pola pikirnya dulu terlalu penurut untuk menuruti Janetra, semua juga atas rayuan dan hasutan nyonya Martha. Ada andil besar nyonya Martha, sehingga Sebastian rela merayu papa nya untuk menanamkan investasi ke perusahaan Supranoto waktu itu. Sungguh bodohnya aku waktu itu, rutuk Sebastian dalam hatinya. Tapi nasi telah menjadi bubur, tidak ada yang perlu disesali. Sebastian juga merasa bersyukur, atas jebakan Janetra juga dia menemukan wanita satu malam yang sekarang akan menjadi istrinya. Wanita yang telah banyak melalui rintangan hidup hanya untuk mempertahankan benih yang ditanam oleh Sebastian.


"Kok melamun sih?" Mutia menyenggol lengan Sebastian. "Apa tadi???" tukas Sebastian yang memang tak mendengar pertanyaan Mutia. "Hhmmm, kok bisa kenal dengan Nyonya Martha?" tandas Mutia. "Iya, nyonya Martha itu istri rekan bisnis papa" imbuh Sebastian. Sebastian pikir belum waktunya dia cerita ke Mutia tentang siapa nyonya Martha itu sebenarnya. Toh tak ada gunanya juga dia bercerita ke Mutia. "Hati-hati saja kalau mau bekerjasama dengannya" imbuh Sebastian sekaligus mengingatkan Mutia. Mutia mengangguk.


"Besok, aku jemput selepas makan siang aja. Kalau kamu memang masih perlu ke perusahaan dulu" kata Sebastian.


"Istirahatlah" suruh Sebastian. Mutia beranjak hendak meninggalkan ruang keluarga itu.


Tiba-tiba Sebastian memeluknya dari belakang, "Biarkan seperti ini sebentar saja" pinta Sebastian. Meski tubuh Mutia bergetar lagi, tapi Mutia tetap terdiam. "Maafkan aku, yang telah membuatmu trauma seperti ini" ucap Sebastian lirih. Ada rasa nyaman yang dirasakan Mutia. Tubuhnya seolah mulai menerima pelukan itu. Mutia terdiam dan belum merespon pelukan laki-laki itu.


Sebastian benar-benar pergi ke ruang kerja setelah Mutia menutup pintu kamar yang merupakan kamar Sebastian.


Sebastian kembali membuka tab nya. Email-email dari Dewa dia teliti kembali. Barangkali ada yang terlewatkan. Hari ini Sebastian benar-benar disibukkan dengan urusannya sama Mutia.


Sebastian juga menyempatkan perkembangan harga saham perusahaan sendiri maupun perusahaan lain.


Tak disangka, perusahaan milik tuan Supranoto melonjak tajam harga sahamnya di bursa. Ada seringai tipis di bibir Sebastian. "Alot juga dia" gumamnya. "Setelah Blue Sky memutuskan kerjasama, targetmu sekarang benar-benar perusahaan keluarga Frans. Tapi ya sudahlah, biar saja menjadi urusan mereka. Toh selama dia tidak menyenggol Blue Sky, biarkan saja" ucap Sebastian.

__ADS_1


"Eh, kau benar tidur di ruang kerja???" tatap heran mama Cathleen saat melihat Sebastian keluar dari ruang kerja pagi itu. Mama Cathleen tertawa melihat ekspresi Sebastian. "Bukan sengaja tidur di sana, tapi ketiduran. Badanku jadi pegel semua" gerutu Sebastian. Mama Cathleen semakin tertawa mendengarnya. "Mama kok bahagia sih di atas penderitaanku" sengau Sebastian. "Syukurin..." ledek mama Cathleen. "Boleh ya aku susul Mutia dan Langit" rayu Sebastian. "TIDAK BOLEH" tegas mama Cathleen. "Tunggu dua hari lagi" tandasnya lagi.


Tidak Sebastian kalau tidak punya akal bulus, dia yang selalu sukses menggoda mamanya. Bahkan terlalu sering mama Cathleen gemas dengan ulah Sebastian yang secara usia sudah dewasa. Tapi kalau di rumah, jangan ditanya tengilnya. "Mah, aku bangunin aja Mutia dan Langit. Takutnya mereka telat" ujar Sebastian. "Mama saja yang ke sana" tukas mama Cathleen.


"Yaelah Mah, aku ini daddy nya Langit loh. Kalau aku ada kenapa musti mama. Aku aja yang ke sana. Pagi-pagi mama mau naik turun tangga, yang ada malah mama encoknya kumat ntar" celetuk Sebastian. Cubitan mama Cathleen mendarat di lengan Sebastian.


Sebastian benar-benar membuktikan ucapannya tanpa memperdulikan lagi ocehan mama Cathleen. Lagian niatnya kan hanya ingin membangunkan Mutia dan Langit. Itu saja. Dan itu perlu digaris bawahi.


Saat Sebastian masuk, dilihatnya posisi Langit yang sungguh tak beraturan. Sebastian tak membayangkan polah anaknya itu sewaktu tidur. Di ujung kaki Langit, Mutia masih tertidur lelap.


Sebastian hanya menelan ludah melihat pemandangan indah terpampang di sana. Wajah polos Mutia yang terpejam. Dan ada sesuatu lagi yang membuat fokus Sebastian terganggu. 36 B Mutia terlihat sebagian. "Siaalllll, hercules ku malah terbangun. Nggak sabar amat sih, tunggu dua hari lagi" umpat Sebastian dalam hati. Bahkan semenjak tragedi malam itu, Sebastian anggurin tuh herculesnya. Malas saja. Tapi dari kemarin bersama Mutia, beberapa kali hercules terbangun. Akhirnya Sebastian ke kamar mandi dulu untuk menuntaskan semuanya, sebelum membangunkan Mutia dan Langit.


"Langit sudah pagi, ayo bangun. Bunda bangunkan juga gih. Bunda nyenyak sekali tuh tidur di kamar Daddy" Sebastian menggoyangkan tubuh putranya itu dan menciuminya sampai Langit terbangun. Tentu sebelum membangunkan Langit, dia selimuti tubuh Mutia.


"Dad, masih gelap" tukas Langit malas-malasan bangun. "Come on Son, we don't have all day " Sebastian tetap menggoyangkan tubuh putranya itu. "Kita musti ambil seragam sekolah dan ngantar bunda ambil baju kantornya juga" bibir Sebastian bahkan telah menjelajahi wajah putranya itu. Dan akhirnya Langit terbangun karena kegelian merasakan bulu halus di dagu daddynya. Mutia terbangun mendengar suara berisik dari Sebastian dan Langit. "Come On mom's, wake up" ucap Langit, menirukan ucapan daddy.


"Mandi di apartemen aja nanti, biar bisa langsung ganti baju" ucap Mutia yang masih terduduk di tepian tempat tidur. Tidur nya terasa nyaman semalam, sampai tidak menyadari kalau sudah pagi. "Cuci muka dululah. Masak kamu pergi dengan muka bantal begitu" ledek Sebastian. Mutia tertawa menampakkan sederet gigi putih bersihnya. Eh malah Langit tertidur lagi setelah membangunkan Mutia.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


to be continued, happy reading


#kebanyakan kopi pasti pahit rasanya, jangan lupa ditambah gula #indah dunia jika kita menikmatinya, apalagi dunia novel banyak halunya πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€— (muaksa banget) πŸ˜†

__ADS_1


salam sehat buat semua πŸ’


__ADS_2