WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 132


__ADS_3

Sebastian menepati janjinya untuk mengajak sang istri, Langit dan Opa Winardi untuk ziarah ke makam ayah dan ibu Mutia.


"Naik heli aja gimana? Kalau lewat bawah kan perlu empat jam untuk sampai sana" kata Sebastian.


"Kita ke Opa dulu aja. Di sana baru kita bicarain" ulas Mutia.


"Biar Opa juga nggak capek sayang" Sebastian memperjelas ucapannya.


"Heemmm, oke sayang. Sepertinya usul kamu bagus juga" tukas Mutia.


Bahkan Langit hari ini tak masuk sekolah, agar bisa ikut juga ke makam kakek dan neneknya di kampung.


"Sudah siap belum?" tanya Sebastian.


"Kita pake mobil dulu aja, ntar perjalanan udaranya kita mulai dari panti" usul Mutia.


Sebastian hendak menggendong sang putra. Dengan sigap, Langit menepis tangan Sebastian.


"No Dad, Langit sudah gedhe sekarang. Bentar lagi punya adik" ucap Langit membuat Sebastian tertawa mendengarnya.


"Kalau gitu, nanti saat adik lahir. Abang Langit harus ikut njagain ya" seloroh Sebastian.


"Siap Dad" jawab Langit membuat gemas Sebastian.


.


"Opaaaaa..." Langit memanggil Opa Winardi saat mereka masuk ke panti itu.


Bahkan Langit juga teringat letak kamar sang Opa buyut kesayangan. Padahal kali terakhir Langit ke panti sudah setahun lebih jedanya.


"Opaaa" panggil Langit kembali dan memeluk sang Opa saat pintu kamar telah terbuka.


Opa Winardi nampak begitu bahagia menyambut cucu dan cicitnya.


Begitupun Mutia, juga langsung memeluk sang Opa. Padahal baru beberapa hari kemarin mereka bertemu.


"Opa, sesuai janjiku kemarin. Hari ini akan aku ajak Opa untuk bertemu dengan putra kesayangan Opa" kata Sebastian.


"Makasih Tian" ucap Opa Winardi tulus.


"Kita naik apa?" tanya Opa kembali.


"Perjalanan udara Opa" imbuh Tian.


"Aku nggak mau naik pesawat. Boros Tian" celetuk Opa Winardi.


Apa Opa lupa siapa cucu menantunya ini. Batin Sebastian bermonolog.


"Kalau lewat darat, butuh empat jam untuk sampai sana. Aku takut Opa kelelahan" jelas Tian.


"Oke lah, aku menurut saja apa kata kamu" celetuk Opa Winardi.

__ADS_1


Mereka berangkat dengan heli yang disiapkan oleh Dewa.


Hampir sejam mereka berada di udara.


Sebuah mobil mewah telah menunggu kedatangan mereka, saat heli mendarat.


Sebastian langsung mengajak Opa Winardi ke tempat di mana putra kesayangannya berada.


Opa yang melihat nama di sebuah batu nisan, langsung bersimpuh di samping makam itu.


"Papa datang nak" ucap Opa Winardi dengan berurai air mata.


"Maafkan papa. Papa yang jahat kepadamu" Opa Winardi semakin tergugu.


Sebastian dan keluarga kecilnya, memberi kesempatan Opa Winardi untuk mengungkapkan semua isi hati dan perasaannya.


Opa peluk nisan dan diciuminya nisan yang tertulis nama Aminoto.


"Ayah pasti sudah bahagia di surga Opa" Mutia menepuk bahu Opa nya.


"Mana makam menantu yang tak sempat kukenal itu?" tanya Opa Winardi.


"Itu di sebelah makam ayah" beritahu Mutia, sambil menunjuk arah nisan yang berada di samping makam ayahnya.


Mereka semua mengakhiri ziarah makam itu dengan doa bersama.


"Opa, mau mampir ke gubuk kita" seloroh Mutia, saat mereka telah keluar area makam.


Mobil berbelok ke sebuah jalan setapak, yang kanan kirinya adalah pematang sawah.


"Masih asri ya di sini?" kata Opa Winardi.


"Iya Opa, belum banyak kena polusi" tukas Mutia.


Sampailah mereka di sebuah rumah sederhana.


"Silahkan turun Opa, itu rumah kediaman kami" Mutia turun terlebih dahulu. Sementara Sebastian menggendong sang putra yang tengah tertidur nyenyak.


Opa Winardi melihat sekeliling. Dia kembali meneteskan air mata melihat keadaan rumah tinggal putra tunggalnya.


Mutia mendekat dan mengelus pundak sang opa.


"Opa jangan bersedih, meski kami tinggal di rumah yang sederhana tapi kami sangat bahagia Opa" Mutia berusaha menenangkan Opa Winardi.


"Kesalahan Opa sangat besar Mutia. Opa tidak layak untuk dimaafkan" ujar Opa Winardi dengan tergugu.


"Opa, semua sudah terlewati. Ayah di sana pasti sudah bahagia dan memaafkan Opa" tukas Mutia.


Sebastian mendekat dan memberikan air putih kemasan untuk sang Opa.


"Minum dulu Opa" kata Tian.

__ADS_1


.


Saat ini Opa Winardi diajak sekalian untuk periksa kehamilan Mutia ke Prof. Abraham.


"Selamat sore prof" sapa Mutia saat tiba gilirannya masuk setelah mengantri beberapa lama.


"Sore semua. Silahkan duduk" prof Abraham mempersilahkan mereka duduk.


"Rombongan nih?" celetuk Om Abraham.


"He...he...iya Om. Kenalin, ini Opa nya Mutia. Baru ketemu Om" canda Sebastian. Opa Winardi menyalami Abraham dan saling mengenalkan diri.


"Kau sih, lambat sekali responmu" tukas Om Abraham berkelakar.


"Mutia, silahkan naik ke sana" tunjuk Om Abraham ke bed pemeriksaan.


Mutia mengikuti arahan dari dokter senior itu.


"Apa ada keluhan?" tanya Abraham.


"Aman Om" celetuk Sebastian di samping Mutia.


"Baiklah, aku mulai ya" prof. Abraham mulai meletakkan tranduser ke perut Mutia.


"Berapa week Om?" sela Tian.


"Kau ini sabar kenapa?" sergah Om Abraham.


"Tuh lihat, sudah mulai berbentuk kan" Om Abraham menyebutkan bagian-bagian janin yang nampak di monitor USG. Sebastian ikut terhanyut melihat monitor yang ditunjukkan oleh sang dokter.


"Denyut jantungnya" bìlang Om Abraham ketika menunjukkan gambar yang bergerak berirama di monitor USG.


"Geraknya juga aktif sekali seperti papa nya" gurau Abraham.


"Kesimpulannya?" tukas Sebastian.


"Sehat" jawab singkat prof. Abraham sengaja menggoda putra dari Cathleen dan Baskoro itu.


"Idih Om, pelit amat informasinya" sungut Sebastian.


"He...he...umur kehamilan istrimu itu enam belas jalan tujuh belas week. Pertumbuhan dan perkembangan sudah sesuai semua ya. Kontrol lagi bulan depan" saran dokter Abraham sambil menuliskan resep untuk Mutia.


Opa Winardi tertegun di tempat, begitu bahagia karena masih diberi kesempatan melihat calon cicit di perut cucu nya.


Ponsel Sebastian berdering, kala mereka mau keluar dari ruang pemeriksaan.


"Tuan, hanya mau memberitahu kalau nona Sarah barusan ngabari kalau tuan Supranoto mengacak-acak panti untuk mencari keberadaan Opa Winardi" kata Dewa tanpa titik koma.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading

__ADS_1


πŸ’


__ADS_2