WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 88


__ADS_3

Sebastian mengirim pesan ke Dewa, yang pasti sekarang sedang bersama Dewa.


"Pesenan istriku cepetan anter ke kantornya. Kerjaan lain tunda dulu" bunyi pesan Sebastian.


Dewa yang sedang ikut mengantri makanan bersama Dena langsung membuka notifikasi pesan itu.


"Dena, buruan" Dewa menepuk bahu Dena yang sedang berada di depan outlet makanan Jepang itu.


"Ngapain sih? Ini juga lagi dibungkusin" tukas Dena.


"Tuan Sebastian pasti sekarang sedang di kantormu. Nih lihat" Dewa menunjukkan pesan dari sang bos.


"Kamu sih, nyari gedungnya kelamaan tadi" sahur Dena.


"Nggak usah debat, habis ini kita langsung balik aja" usul Dewa. Dan Dena pun mengangguk.


Ponsel Dewa berdering menandakan ada panggilan masuk.


"Matih gue...nggak sabaran sekali sih tuan???" gerutu Dewa.


"Iya tuan, ini barusan dapat. Lagi otewe balik" jelas Dewa. Panggilan langsung ditutup begitu saja oleh Sebastian.


"Sabar...sabar...." Dewa mengelus dada.


"Ayo balik" ajak Dena menenteng pesanan Mutia.


Mutia berbinar begitu melihat ramen dan sushi yang terhidang. Rasa pusingnya seakan telah lewat. Dengan lahapnya Mutia makan ramen yang dipesannya.


"Aneh benar kak Mutia hari ini. Biasanya nggak pernah suka makanan yang berbau Japanese. Kak Mutia itu penikmat makanan lokal" bisik Dena ke Dewa.


"Ngidam bener nggak sih mereka?" ucap Dewa ragu.


Sebastian juga ikut memandang aneh kelakuan sang istri. "Yank, kamu hamil kah?" celetuk Sebastian.


Dijawab gelengan kepala Mutia, karena Mutia menganggap mundur dua hari kan masih normal. "Siklusku baru mundur dua hari yank. Kan masih normal" jelasnya.


"Tapi kata Bara temenku bisa saja kamu sudah isi lho yank" imbuh Sebastian.


"Tapi siklusku emang maju mundur begitu biasanya" Mutia masih menikmati sisa sushi di depannya.


"Tapi kan memang sebelumnya nggak ada yang nyiram. Tapi minggu-minggu terakhir ini aku kan rajin bercocok tanam" bisik Sebastian tersenyum.


Blusshhhh merah lah pipi Mutia.


Bisa juga sih, sepuluh hari sebelum menikah kan aku haid. Apa mungkin pas hari H itu tepat masa suburku? Mutia berpikir.


"Kok diam? Bener kan apa kataku? Telat berapa?" lanjut Sebastian.


"Baru dua hari" Mutia menikmati suapan terakhir.


Sebastian mengelus perut rata Mutia, "Semoga telah hadir apa yang menjadi harapan kita di sini". Dan menciumi pipi Mutia dengan gemas.

__ADS_1


Mutia menengok kanan kiri, "Langit mana?"


"Main sepakbola tuh di bawah sama pak satpam" jelas Sebastian.


"Yank, apa baiknya kamu periksa aja. Biar lekas tau kamu hamil belum" Sebastian penasaran.


"Mana bisa begitu. Aku tuh baru telat dua hari. Kalaupun tes kencing, belum tentu hasilnya akurat. Apalagi pakai periksa USG ke dokter, belum kelihatan sama sekali Yank" jelas Mutia yang nampak bugar lagi.


"Benarkah?" kernyit alis Sebastian.


"Gini-gini aku juga tau teori kehamilan yank" kekeh Mutia.


"Iya...iya...gara-gara aku juga kamu berbelok arah dari jurusan kuliahmu kan???" imbuh Sebastian.


Sementara duo 'D' yang juga duduk di ruangan yang sama hanya bisa menjadi saksi ulah dua bos mereka masing-masing.


"Lho, kalian ngapain masih di sini?" tengok Sebastian ke arah duo 'D'.


Lha kita kan sedari tadi di sini. Apa dikira kita makhluk astral gitu, gerutu Dewa dalam hati.


"He...he...kita juga mau jadi saksi kebahagiaan kalian tuan" sela Dena.


"Kita nggak perlu ada saksi. Lanjutkan tugas kalian" tandas Sebastian.


"Tugas apa?" Mutia menyela.


"Ya tugas mereka masing-masing. Dewa di Blue Sky, Dena di sini" Sebastian gelagapan.


"Awas kau Dewa" ancam Sebastian.


"Bonusnya nggak usah ditransfer tuan, ntar aku ganti minta nyonya aja" celetuk Dewa semakin terbahak membuat Sebastian tertegun.


"Asisten lackn4t" umpat Sebastian.


"Boleh cerita mereka kamu kasih tugas apa? Aneh aja beberapa hari terakhir ini Dena keluar terus abis makan siang" selidik Mutia.


"Kok bisa mereka juga datang berdua. Padahal aku cuma nyuruh Dena tadi" imbuhnya.


Sebastian menggaruk kepala yang tak gatal, belum menemukan alasan yang pas untuk menjawab pertanyaan sang istri.


"Mereka pacaran kali" jawab asal Sebastian.


Mutia memandang jengah sang suami.


"Ayolah sayang, jangan marah dong" rajuk Sebastian.


"Aku nggak marah. Tapi jangan coba-coba bohong ya" ada nada ancaman dalam perkataan Mutia.


Sebastian hanya diam tak membalas demi kelancaran acaranya.


******

__ADS_1


Dua minggu terakhir duo 'D' benar-benar disibukkan oleh persiapan acara sang tuan muda Blue Sky itu. Meski sudah ada EO yang mengurus itupun tak mengurangi kesibukan mereka berdua.


Sebastian yang hari itu berada di Mutia Bakery saat jam makan siang, mencoba merayu sang istri untuk ikut dengannya.


"Mau ke mana sih yank? Hari ini aku sibuk banget. Apalagi Dena sering menghilang tiap abis jam makan siang" ucap Mutia.


"Nggak akan lama. Percaya deh sama suamimu ini" Sebastian masih berusaha.


"Janji ya" tatap Mutia. Sebastian mengangguk patuh.


Digandengnya tangan sang istri. Berbeda dengan karyawan Blue Sky yang belum mengetahui status baru sang bos, semua karyawan Mutia Bakery bahkan telah mengetahui semua siapa tuan Sebastian yang sering wira wiri di Mutia Bakery itu.


"Mau ke mana?" tanya Mutia saat mobil sudah melaju.


"Ada dech" Sebastian mencium punggung tangan sang istri.


Sebastian melajukan mobil sportnya ke arah yang sepertinya Mutia pernah ke sana.


Ya, Sebastian mengajak sang istri ke butik madam Chandra. "Ngapain ke madam?" tanya Mutia.


"Nanti kamu juga akan tahu. Yukkk" ajak Sebastian membukakan pintu mobil untuk sang istri tercinta.


"Halo Tian...apa kabar?" sapa madam Chandra yang melihat Sebastian masuk ke ruangannya.


"Baik. Apa pesenan yang kuminta sudah jadi?" tanya Sebastian.


"Sudah, tinggal fitting aja. Nyonya Sebastian apa kau sudah siap?" tanya Madam Chandra.


"Siap?" Mutia menelaah situasi.


"Siap fitting nyonya...he...he..." Madam Chandra sebelumnya sudah diberitahu tentang misi Sebastian.


"Suamimu yang tampan ini beberapa waktu yang lalu ke sini. Meminta padaku untuk membuatkan gaun buatmu" jelas madam.


"Untuk?" Mutia masih belum mengerti tujuan Sebastian.


"Sudahlah. Nggak usah terlalu dipikirkan. Yuk kita coba!" ajak madam Chandra. Dan digandengnya Mutia ke ruang ganti, sementara Sebastian duduk di ruangan itu.


"Sudahlah Mutia jangan terlalu kau pikirkan" bisik madam Chandra.


"Aku cuma heran madam, ngapain juga pesan gaun seperti ini. Kayak mau ada pesta mewah aja..he..he..." kata Mutia.


"Biarin aja, kasihan Tian kalau hartanya nggak pernah kau pakai" ujar madam Chandra.


"Madam bisa keluar sebentar, aku mau ganti dulu" Mutia mengambil gaun yang hendak dicobanya.


Madam Chandra kembali keluar untuk menunggu Mutia berganti gaun dengan dibantu asisten wanitanya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading

__ADS_1


💝


__ADS_2