WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 71


__ADS_3

"Dena, besok aku nggak jadi terbang ke kota S. Aku rasa lebih baik kamu saja yang berangkat.Tolong tuntaskan permasalahan di sana. Kalau kamu kesulitan ada tuan Dewa yang akan mendampingi. Ini perintah dan tak ada alasan untuk menolak" tegas Mutia. "Tapi kak..." Dena hendak meneruskan kata-katanya tapi keburu dipotong Mutia. "No!!! Kali ini tidak ada penolakan".


Mutia pamitan terlebih dahulu ke para karyawannya yang masih menikmati makan malam bersama. "Dad, kapan ke oma dan opa? Aku kangen sama mereka" ucap Langit saat mereka dalam perjalanan pulang ke apartemen. Sebastian masih berpikir, karena untuk beberapa hari ke depan dia akan sibuk sekali karena mau cuti buat honeymoon. Terus kapan waktunya mengantar Langit. "Sayang, kayaknya Daddy masih sibuk, bunda juga seperti itu. Bagaimana kalau kita sampai rumah terus video call oma dan opa?" Mutia menjelaskan. "Beda bun" tolak Langit. "Oh ya, Dad katanya besok mau mencarikan sopir untuk kita. Bagaimana kalau disuruh mengantar Langit ke mansion papa" usul Mutia. "Wah benar juga ya. Lagian sopir yang mau kupakai juga dulunya bekerja untuk papa. Gimana Langit, mau nggak dianterin sopir? Ini berlaku untuk besok dan seterusnya" jelas Sebastian. "Jadi beneran ini nggak dibolehin nyetir sendiri?" perjelas Mutia. "Hhmmm" yang terdengar hanya deheman Sebastian saja.


"Langit sampai di apartemen langsung bersih badan aja ya. Biar seger" kata Mutia.


"Baik bunda cantik" ulas senyum di bibir Langit.


"Daddy maunya dimandiin bunda aja" celetuk Sebastian dintara obrolan ibu dan anak itu.


"Daddy kayak anak kecil. Kalah sama Langit" ucap polos Langit. Sementara Mutia hanya melotot ke Sebastian. Bagaimana bisa dia mengucapkan kata absurd seperti itu di depan putranya.


"Sayang, aku tuh merasa aneh saja. Semenjak kita menikah dan tinggal bersama, aku kok merasa Langit semakin mandiri. Kalau memang pake baju aja Langit memang sudah mandiri sedari usia tiga tahun. Tapi begitu kau ajak pindah ke sini, dia langsung mau tidur sendiri" ujar Mutia saat mereka masuk ke kamar.


"Aneh apanya? Langit tuh saking inginnya punya adik. Jadi dia harus mandiri, karena jika adiknya lahir Langit ingin bisa melindunginya. Kemarin dia cerita seperti itu" Sebastian merangkul sang istri.


"Hhmm pasti ada maunya ini" bilang Mutia sambil membersihkan make up nya.


"Eh, kapan Langit cerita seperti itu?" Mutia mengalihkan perhatian sang suami.


"Kemarin, waktu aku menemani Langit bobok dan akhirnya aku ketiduran di kamar Langit tapi tidak kau bangunkan" ulas Sebastian.


"Ooooooo...."Mutia ber 'o' ria.


"Jadi waktunya kau dihukum sekarang" tandas Sebastian.


"Loh...loh...apa hubungannya??? Kok bisa aku dihukum?" protes Mutia.


"Karena kau membiarkan aku tidur di kamar Langit" Sebastian beralasan.


"Nggak ah, mau mandi dulu" Mutia beralasan. "Kan, bisa mandi bareng"


Tanpa menunggu persetujuan Mutia, Sebastian menggendong istrinya masuk kamar mandi. Setelah menurunkan sang istri, Sebastian menyiapkan air hangat. "Semua sudah siap my Queen" imbuh Sebastian. Mutia tersenyum mendapat perlakuan yang menurutnya istimewa dari Sebastian. "Makasih suamiku" ucap Mutia sembari mencium pipi suaminya.


"Sudah berani menggoda ya sekarang??" imbuh Sebastian.


Dan seperti yang sudah-sudah terjadilah adegan enak-enak di kamar mandi itu.


"Yank aku ke kamar Langit ya?" pamit Sebastian keluar dari kamar. Mutia mengiyakan saja. Pasti suaminya itu akan membersamai putranya main. Soalnya kalau sudah berdua bermain kesukaan mereka, kehadiran Mutia seperti tak dianggap.


"Aku nebeng ruang kerjanya boleh?" pinta Mutia.


"Ya boleh dong, apa sih yang nggak buat istriku tercinta" Sebastian terkekeh.


"He...he...permasalahan di cabang tadi nggak usah terlalu dipikirkan" ucap Sebastian dan masuk ke kamar Langit.

__ADS_1


Sudah sejam lebih Mutia berada di ruang kerja. Mutia masih menganalisa kembali laporan yang dikirimkan oleh Dena kemarin malam. "Ini dia" gumamnya sendirian.


"Hhmm, ada selisih antara bahan yang datang dengan pemakaian bahan untuk pembuatan kue. Jelas saja omset menurun, produksi nya saja jelas-jelas sudah tidak sesuai target" Mutia akhirnya menemukan titik masalahnya.


"Tinggal cari siapa pelakunya" Mutia menjetikkan pelan ujung bolpoin ke keningnya seperti yang biasa dia lakukan saat berpikir keras.


Sebastian menyusul sang istri ke ruang kerja. "Nggak sakit memang, bolpoin diketuk ke kening?"


"Bikin kaget aja" tukas Mutia.


"Kamu itu ngecek laporan apa melamun?" Sebastian duduk di depan sang istri.


"Dua-duanya...he...he... Langit sudah tidur kah?" tanya Mutia.


"Sudah, barusan. Mulai saat ini aku berjanji akan menebus waktuku yang telah hilang untuk selalu membersamai kalian berdua" Sebastian menggenggam tangan Mutia.


"Sudahlah, semua yang sudah lewat tak usah dibahas lagi. Seperti bagaimanapun rupa penyesalan waktu tak bisa terulang. Mulai sekarang kita fokus saja ke masa depan. Sudah puitis belum sih kata-kataku ini???" kelakar Mutia di akhir kalimatnya.


"He...he...nggak jadi melow dech" tanggap Sebastian.


"Mau kubuatin kopi?" Mutia beranjak karena memang ingin membuat kopi juga.


"Boleh deh. No sugar!!" Sebastian mulai melihat laptop yang ada di meja.


"Yank, kira-kira siapa yang menyabotase perusahaan ku ya? Mba Ana nggak mungkin melakukan hal sepicik itu. Dia kupercaya sebagai manager di cabang karena aku yakin akan attitude dan kinerjanya selama ikut denganku" Mutia bercerita dan kembali duduk di sebelah suaminya yang juga sibuk melihat email yang dikirimkan Dewa.


"Manusia kan bisa berubah, apalagi keadaan yang mendukung" tukas Sebastian.


"Memang sudah tau permasalahannya karena apa?"


Mutia mengangguk.


"Kenapa?" tanya Sebastian yang sudah yakin istrinya sudah bisa menganalisa penyebab masalah di anak cabang itu.


"Jumlah produksi tidak balance dengan bahan-bahan yang telah dipasok pusat. Produksi turun berbanding lurus dengan omset yang turun" tandas Mutia.


"Istriku memang pintar" puji Sebastian.


"Untuk siapa pelakunya biar diteruskan Dena sama Dewa besok. Mendingan kita minum kopi dulu, sambil nonton" usul Sebastian.


"Boleh dech" Mutia menyandarkan tubuhnya ke paha Sebastian dan mulai menyalakan sebuah layar besar di ruangan itu. Sementara Sebastian masih tetap sibuk dengan laporan-laporan Dewa.


Sebuah berita tentang Ana kembali muncul. Nama perusahaan Mutia bahkan seringkali disebut di berita itu. Sebastian menajamkan pandangan dan pendengarannya untuk menyimak berita tentang manager sebuah perusahaan bakery telah tertangkap tangan sedang pesta narkoba di salah satu apartemen temannya. Bagaimana bisa perusahaan Mutia Bakery disebut bolak balik, tanpa inisial lagi. Yang melakukan kejahatan kan bukan atas nama perusahaan tapi personalnya, pikiran Sebastian mulai menganalisa. Ada apa ini sebenarnya? Batin Sebastian.


Pandangan Sebastian beralih ke pahanya. Melihat perusahaannya sering disebut kok Mutia tak ada respon, batin Sebastian. Eh taunya dia malah sudah tertidur.

__ADS_1


Pagi-pagi Mutia telah turun bersama sang suami dan Langit putranya. Dia tak mampir lagi ke lantai di mana unit apartemennya berada. Sampai di basement, sebuah mobil mewah keluaran terbaru sudah menghadang di depan Mutia. "Eh, apaan ini? Kok main berhenti seenaknya" celetuk Mutia.


Sang sopir keluar, dan menyapa sopan Mutia. "Selamat pagi nyonya Sebastian. Saya Pandu, siap mengantarkan nyonya ke mana saja" ucapnya dengan sopan.


Mutia menoleh ke belakang, di mana Sebastian dan Langit berada.


"Hadiah kamu sayang. Bahkan sudah lengkap sama sopirnya" bisik Sebastian.


"Kenapa sih, orang kaya itu selalu boros??" sindir Mutia.


"Emang memberi kenyamanan buat istri itu salah kah?" jawab Sebastian.


Mutia terdiam.


"Silahkan masuk nyonya" kata Pandu kembali.


"Ya sudah aku berangkat dulu. Hati-hati ya kalian. Langit nanti pulangnya dijemput Om Pandu ya?" Mutia mencium kening Langit dan bersalaman dengan suami yang selalu memberi kejutan di tiga hari pertama pernikahan ini.


"Makasih ya" bisik Mutia. Senyum menghiasi wajah Sebastian.


"Bunda, aku nanti pulang sekolah boleh ya ke rumah oma opa dianterin Om Pandu?" sela Langit yang akan berangkat sekolah dengan daddy.


"Kalau daddy ngijinin, bunda juga ngijinin" tukas Mutia masuk ke mobil mewah yang dibelikan suaminya itu. "Bye bunda" teriak Langit sambil melambaikan tangannya.


Sementara Dena dan Dewa telah sampai di bandara. "Bagaimana sih Kak Mutia. Bisa-bisanya memberi perintah untuk pergi dengan manusia ini" gerutu Dena dalam hati.


Entah kebetulan atau bagaimana, di dalam pesawatpun mereka duduk berdampingan. "Alamak nasib gue gini amat ya" ucap Dena melabuhkan pantatnya di kursi yang bersebelahan dengan kursi Dewa. Dewa seakan tak memperdulikan keberadaan Dena.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


Hari Senin besoknya Selasa #silahkan komen, othor nggak maksa


Hari Selasa main bola# Kalau tak suka jangan dicela


Minum obat biar nggak pusing #othor sibuk buat plot, jangan kasih komen miring


Makasih, makasih buat semua


Jangan lupa follow IG-ku juga dong


@moenaelsa_


💝

__ADS_1


__ADS_2