WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 58


__ADS_3

"Cuci muka dululah. Masak kamu pergi dengan muka bantal begitu" ledek Sebastian. Mutia tertawa menampakkan sederet gigi putih bersihnya. Eh malah Langit tertidur lagi setelah membangunkan Mutia.


"Langit kok malah nyenyak lagi" seloroh Mutia. "Sudah biarin aja, ntar kugendong aja ke mobil" jawab Sebastian. Mutia beranjak ke kamar mandi untuk cuci muka seperti yang diucapkan Sebastian tadi.


"Mah, kita pulang dulu. Buru-buru nih" pamit Sebastian sambil menggendong Langit. "Kalian nggak sarapan dulu" tanya mama Cathleen. "Ntar aja Mah, Mutia juga keburu berangkat kerja" Sebastian beralasan. "Lagakmu Tian, Mutia kan kerja di perusahannya sendiri. Telat juga bakalan nggak ada yang negur" ucap Mama Cathleen. "Maka dari itu Mah, Mutia harus kasih contoh yang baik dong ke karyawannya. Kalau perlu Mutia yang bukain pintu buat mereka" gurau Sebastian. "Haduh kau ini, kalau becanda kira-kira dong ah" Mama Cathleen menimpali.


"Mah, kita pamit dulu. Makasih atas semuanya" ucap Mutia untuk pamitan.


"Jangan lupa, ntar siang sempetin cari gaun sama cincin. Urusan lain biar menjadi tanggungan calon suamimu tuh. Kamu nggak boleh capek-capek" seloroh mama Cathleen. "Pamit juga ke papa ya Mah" imbuh Sebastian sambil menaruh Langit di belakang.


"Silahkan tuan putri" gurau Sebastian membukakan pintu mobil untuk Mutia. Mutia hanya tersenyum menanggapi.


Sebastian masih pake baju kasual dan celana pendek, sandal jepit menempel di kaki. Sandal jepitnya saja bahkan berharga belasan juta. Mutia juga masih dengan baju yang dipakainya semalam. Jadi mereka pulang ke apartemen dengan muka bantalnya masing-masing.


Mutia tak sengaja melihat gerobak penjual bubur ayam di kiri depan arah laju mobil. "Stop Tian. Kayaknya sarapan bubur ayam enak dech" tunjuk Mutia ke arah penjual bubur itu. Tanpa banyak kata Sebastian menepikan mobilnya. "Nggak usah turun, aku saja" larang Sebastian. "Padahal aku ingin makan di sini loh. Pake mangkok dari penjualnya biar hangat" tukas Mutia. "Nggak boleh, lihat bajumu tuh" Sebastian masih tetap dengan pendiriannya, melarang Mutia turun. Mutia melihat ke tubuhnya dan merasa tidak ada yang aneh dengan penampilannya. Tak sengaja Mutia melihat ke arah bagian dadanya, terlihat kancing yang terbuka di bagian atas. Secepat kilat Mutia menutupinya. Bahkan dua gundukannya sebagian terlihat tadi. Sebastian tersenyum, "Baru sadar????" ucapnya menutup pintu mobil. Malu nya, batin Mutia. Rasanya ingin sembunyi di kolong mobil. Emang mobil ada kolongnya ya..he..he...


Pandangan kagum pembeli lain ke arah Sebastian tak luput dari Mutia yang sedang menunggu di dalam mobil. "Dia tetap tampan meski hanya pake sandal jepit" gumam Mutia sendirian.

__ADS_1


Sebastian kembali dengan lima bungkus bubur ayam. "Kok banyak?" tanya Mutia. "Loh bukannya pas ya buat berlima. Ada aku, kamu, Langit, Dena sama bibi yang ada di apertemenmu itu" Sebastian mengabsen orang per orang. "He...he...bener juga" jawab Mutia.


"Sudah dikancing yang benar???" toleh Sebastian menatap Mutia. Blussshhhhh merahlah pipi Mutia. "Jangan dibahas lagi, malu ah" sergah Mutia mengalihkan pandangan. "Untung aja aku yang tau. Besok-besok nggak boleh begitu lagi" celetuk Sebastian mulai posesif.


"Kan aku selalu pake baju yang tertutup. Baru kali ini aja, karena pake baju kak Catherine" Mutia membela diri. "Iya...iya..aku paham. Makanya besok-besok nggak boleh lagi. Itu mu hanya boleh aku yang melihatnya" ucap Sebastian mengambang. "Itu apa??? Ih mesum" tukas Mutia tersadar apa yang dimaksud Sebastian. "Ha...ha....hanya berani mesum denganmu saja" jelas Sebastian. "Gombal pagi-pagi" sungut Mutia. "Suerrrrrrrrr" Sebastian mengelus rambut Mutia yang sedang manyun itu.


Tepat jam enam mereka sampai apartemen. Bahkan Sebastian juga ikutan nebeng sarapan bubur yang telah dibelinya bersama Mutia tadi. "Langit, pagi ini Daddy nggak bisa nganterin Langit ke sekolah ya. Ntar berangkat sama bunda dulu" ucap Sebastian di tengah acara sarapan bersama mereka. Dena dan bik Sumi masih di kamar karena tak mau mengganggu calon keluarga baru itu. "Daddy ada rapat pagi" imbuh Sebastian. "Oke Dad, tapi ntar malam Daddy tidur sini. Seperti semalam kita tidur bersama" tukas Langit. Mutia menutup mulutnya, pasti Langit mengira mereka telah tidur bersama. Karena pagi-pagi Sebastian lah yang membangunkan dan melihat bunda masih tertidur pulas di dekatnya. "Daddy usahakan ya" tandas Sebastian membuat Mutia semakin menganga mulutnya. Sungguh Mutia ingin menabok dengan sendok mulut Sebastian yang bicara suka asal itu. "Bun, ayo makan. Kok malah melongo" ujar Langit. Sementara Sebastian mengedipkan sebelah mata dan tertawa ke arah Mutia. Mutia memasukkan bubur ke mulutnya dengan rasa gemas.


Sebastian balik ke unit apartemennya setelah acara sarapan bersama selesai. Dena dengan jiwa kekepoannya segera menghampiri Langit.


Dena menutup mulutnya, baru sehari Mutia bersama dengan Sebastian sudah terjadi perkembangan yang luar biasa menurut Dena. "Lekas makan bubur ayammu, kita berangkat" Mutia membuyarkan lamunan Dena. "Iya...iya..." sungut Dena dan menyuapkan bubur ayam ke dalam mulut tanpa jeda. Mutia dibuat tertawa oleh ulah konyol Dena.


Setelah mengantar Langit ke sekolahnya, "Den, sesampai di kantor nanti langsung ke ruanganku" ulas Mutia sambil mengemudikan mobil. "Kak, emang beneran apa yang dibilang Langit tadi pagi" tanya Dena penasaran. "Kepo" tukas Mutia. "Kak, tuan Sebastian kok tambah tampan aja ya. Meski tadi hanya pakai sandal jepit" goda Dena. "Emang dia tampan sedari dulu" jawab Mutia tak sadar kalau Dena hanya menggodanya. "Ciiieeeeee...sudah berani muji nih. Kak belum jawab pertanyaanku yang tadi sih?" ulang tanya Dena dengan respon Mutia dari tadi. "Bener nggak sih yang dibilang Langit. Tapi biasanya anak kecil itu cenderung jujur sih" simpul Dena tanpa menunggu lagi jawaban dari Mutia.


Dena terdiam sejenak sambil menimang-nimang. "Kapan kak?" Dena mengguncang bahu kiri Mutia. "Besok" jawaban singkat Mutia. "Hah?????? Beneran????? Secepat itu??????" Dena dibuat heran. "Biasa saja reaksinya. Aku saja heran apalagi kamu" ujar Mutia.


"Alhamdulillah...kakak ku yang cantik akhirnya sold out. Bahkan suaminya bukan kaleng-kaleng" seloroh Dena berbinar. Ikut bahagia kalau kakak nya itu berbahagia. "Selamat ya kak" Dena menciumi Mutia, kebetulan sedang berhenti di lampu merah. "Ih apaan sih Dena" celetuk Mutia. "Aku bahagia kak...sampai tak bisa menguraikan dengan kata-kata" tukas Dena. "Idih...lebay...." sahut Mutia. Mereka pun tertawa bersama.

__ADS_1


"Jangan lupa langsung ke ruanganku. Bawa juga kartu nama nyonya Martha kemarin!" perintah Mutia saat mereka berjalan beriringan menuju lift. "Iya...iya...ingat saja sih sama nenek lampir itu" gerutu Dena. Mutia hanya tersenyum menanggapi ucapan Dena.


"Kak, ini kartu nama yang diminta. Oh ya kemarin sore nek lampir itu nelpon kalau sekiranya acara yang diacarakan dua minggu lagi diajukan minggu depan" beritahu Dena. "Oke" tukas Mutia. "Kak, kalau sekiranya kita tak sanggup mendingan kita batalib saja. Daripada kerepotan. Acara nikah kok maju mundur cantik. Belum ada DP kan?" tanya Dena. "Belum DP sih" tukas Mutia.


"Apalagi belum DP, lagian nyonya itu juga bukan langganan kita kak mendingan dibatalin aja" saran Dena. "Coba kuhubungi nyonya Martha dulu" jawab Mutia dan Dena meninggalkan ruangan Mutia.


Harusnya semua itu tidak Mutia langsung yang menghandle, ada bagian tersendiri. Tapi berhubung kemarin Mutia yang menemui nyonya Martha langsung. Mau tak mau harus Mutia selesaikan. Mutia sekarang mempunyai alasan menolak karena waktu yang tak sesuai kontrak awal kemarin.


Mutia menekan nomor yang tercantum di kartu nama itu. Sekali tekan langsung tersambung. "Selamat siang. Bisa dengan nyonya Martha, saya Mutia dari Mutia Bakery" ucap sopan Mutia. "Oh ya, dengan saya sendiri" jawabnya. "Baik nyonya Martha, sesuai dengan kesepakatan kita kemarin tentang harga dan waktu. Mutia Bakery sudah setuju dengan memberi anda diskon sebesar sepuluh persen. Tapi permasalahannya, kita tidak sanggup kalau waktunya diajukan minggu depan. Bahan-bahan kue harus adakan mendadak. Karena Mutia Bakery sangat mengutamakan kualitas" jelas Mutia panjang lebar. "Halah, jangan banyak alasan. Bilang saja kalau kau tak mau kasih diskon" sergahnya. "Bukan begitu nyonya, memang waktunya saja yang terlalu mepet" Mutia masih berusaha bersuara santun. "Saya tak mau tau" tukas Nyonya Martha. "Maaf nyonya, sudah saya tegaskan di depan kalau Mutia Bakery tak sanggup memenuhi permintaan anda. Kalau anda tak berkenan, silahkan mencari perusahaan lain yang sekiranya sanggup memenuhi keinginan anda. Selamat pagi" Mutia menutup telponnya. Tak apa-apa kehilangan salah satu pembeli, hibur Mutia dalam hati


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


Sempat-sempatin up pas sedang persiapan di kamar operasi 🤗


SALAM SEHAT

__ADS_1


__ADS_2