
Dewa hanya menepuk jidatnya, kenapa sang tuan pagi ini bego amat.
Mutia tersenyum senang mendapat ucapan selamat dari Dena dan juga bik Sumi.
"Sayang, apa maksudnya?" Sebastian masih membego.
Belum sampai Mutia menjawab, ponsel Sebastian berbunyi. Ternyata ada panggilan video dari tuan Baskoro. Setelah tersambung Catherine pun ikutan gabung. Mereka serempak mengucapkan ulang tahun untuk putra, cucu, adik dan keponakan nya.
Senyum bahagia nampak sekali di wajah Sebastian. Mutia senantiasa dirangkul, sementara Langit duduk di pangkuan.
"Pah, Kak mana kadonya. Cuma ngucapin doang" celetuk Sebastian.
Mutia mencolek bahu sang suami, "Didoakan sudah segala-galanya sayang" imbuhnya.
"Sudah dapat kado apa saja?" Reno sang kakak ipar mulai usil dalam gabung panggilan video itu.
Sebastian mulai teringat kado yang diberikan sang istri.
"Hei, yang ulang tahun mukanya kok ditekuk aja sih?" heran Catherine.
"Tuh makanya kak. Nih lihat, Mutia cuma ngasih ginian. Buat apa coba?" Sebastian mengarahkan kamera ponsel ke arah kado yang diberikan oleh sang istri.
Dewa, Dena dan juga bik Sumi sampai heran dibuatnya. Apa benar yang sedang bicara itu tuan Sebastian, yang terkenal handal dalam berbisnis. Soal tes kehamilan saja tidak dimengerti olehnya. Ya harap dimaklumin, saat hamil Langit kan dia belum jadi suami siaga. Tanya ketiga orang itu dalam benak masing-masing.
"Tian, bego amat sih kamu ini. Kalau aku jadi kamu pasti akan sangat bahagia banget dapat kado seperti itu" papar Reno.
"Ha...ha...ha..." Catherine dengan mama Cathleen juga ikut menertawakannya.
Sebastian semakin sebal akibat ulah keluarganya. Mutia juga tak mau menjelaskan sampai detik ini.
"Tian, Mutia selamat ya buat kalian. Semoga diberi kemudahan dan kelancaran ke depannya" ucap mama Cathleen diamini tuan Baskoro di sampingnya.
"Makasih Mah, Pah, dan kak Catherine dan kak Reno" tukas Mutia.
"Jangan kau buat capek istrimu, apalagi kau ajak kejar tayang terus. Sebaiknya lekas periksa ke dokter kandungan" saran Reno.
"Ada apa ini, kenapa harus ke dokter?" tanya Sebastian.
"Haduh Tian, kenapa sedari tadi loading terus sih. Apa karena umurmu bertambah jadi telmi alias telat mikir" celetuk Catherine.
__ADS_1
"Tian, selamat ya telah jadi calon daddy baru lagi" tukas mama Cathleen
"Jaga istrimu dan juga calon bayinya" nasehat tuan Baskoro.
"Hah???? Jadi...jadi....istriku hamil?" tanya Sebastian yang baru mengerti.
Semua yang ada di sana menepuk jidatnya masing-masing.
"Makasih...makasih...sayang. Ini kado terindah yang kuterima di ulang tahunku" Sebastian menciumi sang istri. Tak terasa air mata nya ikut menetes karena rasa bahagia yang teramat sangat. Dipeluknya Mutia dan juga Langit bersamaan.
Duo D dan bik Sumi sekali lagi menyalami sang tuan, memberikan selamat atas kehamilan sang nyonya.
*****
Malam hari, Sebastian menyiapkan sebuah pesta mewah untuk merayakan ulang tahun dirinya dan juga putra nya Langit Putra Ramadhan Baskoro.
Sebelum acara puncak dimulai, Sebastian memanggil Dewa.
"Wa, acaranya dipersingkat saja. Aku nggak mau istriku kelelahan" pesan Sebastian. Dewa mengangguk tanda setuju.
Banyak rekan bisnis yang diundang oleh Sebastian. Bahkan banyak wartawan yang juga hadir di sana. Tentunya berita tentang CEO Blue Sky cukup menarik untuk dikulik oleh mereka.
"Mewah sekali pestanya. Padahal kan cuma pesta ulang tahun" obrol Nyonya Martha bersama Janetra.
"Iya juga ya Mah. Padahal bukan type-nya Sebastian menghamburkan uang hanya untuk sebuah pesta beginian" tukas Janetra sambil melihat sekeliling.
Sewaktu bersama dengan Janetra, tak sekalipun Sebastian mau mengadakan pesta perayaan ulang tahun.
Saat melihat keluarga Baskoro yang berkumpul di depan, Janetra berusaha mendekat. Tapi digagalkan oleh para pengawal keluarga Baskoro yang menjaga keberadaan mereka dengan ketat.
Janetra nampak geram, karena wanita yang bahkan sangat dibencinya saat ini terlihat tertawa renyah di tengah-tengah keluarga terpandang itu. Bahkan gaun yang dipakainya sungguh sangat berkelas.
Sebastian yang tertawa lepas dan seakan tak mau lepas dan jauh dari wanita itu membuat sosok Janetra semakin merah padam menahan amarah. "Dia kan hanya wanita jal4ng. Kenapa keluarga Baskoro sangat mudah ditipu olehnya" gumam Janetra.
Saat akan balik ke tempat mama nya berada, tak sengaja Janetra menabrak dada Frans sang suami yang menyusulnya. "Sudah puas mengamati mereka?" bisik Frans.
"Apa maksudmu?" selidik Janetra.
"Ha..ha...jangan pura-pura tak tahu" ucap tajam Frans.
__ADS_1
Alis Janetra bertaut.
"Aku sudah tau semuanya Janet. Kau memanfaatkanku kan, untuk menutupi kehamilanmu itu? Aku akan menceraikanmu jika anak yang kau kandung itu bukan darah dagingku" ancaman Frans dalam bisikannya.
"Bagaimana bisa kau menceraikanku, bayi ini adalah darah dagingmu" tandas Janetra.
"Tapi bagaimana bisa, kau minta dinikahi Sebastian awalnya?" Frans dan Janetra malah berdebat di acaranya Sebastian.
Janetra membelalak dengan ucapan sang suami. Bagaimana bisa, Frans yang awalnya baik-baik saja. Sekarang terlihat berbeda.
Sementara itu di atas panggung, Sebastian berdiri di sana sambil menggandeng Langit.
Fokus utama pasang mata yang ada di sana sekarang tertumpu ke Sebastian dan juga Langit.
Dengan penuh wibawa, Sebastian mengenalkan sang putra kepada khalayak secara resmi.
Mutia berkaca-kaca mendengar penuturan sang suami yang berada di atas panggung.
"Oh ya, satu hal lagi yang ingin kusampaikan di sini" imbuh Sebastian.
"Mutia Arini, naiklah" kata Sebastian. Pandangannya mengarah fokus ke arah Mutia duduk. Bahkan sorotan lampu ruangan mengarah tepat ke sosok Mutia yang sedang duduk di sana.
Tuan Baskoro bahkan mengantarkan Mutia untuk naik ke atas panggung.
"Baiklah. Satu hal penting yang akan kusampaikan saat ini adalah...."Sebastian memberikan jeda kata-katanya.
"Mutia Arini, bunda Langit Putra Ramadhan Baskoro adalah istri sah dari Sebastian Putra Baskoro" ucapnya penuh diplomasi.
Janetra dan Frans nampak syok mendengarnya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
makasih othor sampaikan atas dukungan terhadap karya ini
semoga ke depan bisa memberikan suguhan yang lebih baik lagi
Banyak cinta untuk readers 💝💝💝
__ADS_1