
Mutia hari benar-benar disibukkan dengan acara persiapan menikah yang serba mendadak ini. Bahkan Mutia juga tak menghiraukan ucapan nyonya Martha dan juga Janetra. "Mutia, abis ini kuantar kau pulang. Istirahatlah. Besok perlu stamina prima. Apalagi setelah acara ijab kabul" utas Catherine apa adanya.
Bahkan Mutia hanya merespon dengan mengangguk saja. Badannya serasa lebih rileks sekarang setelah dilakukan perawatan. "Sering-sering aja nanti abis kau menikah kita ke klinik tadi. Mayan loh badan jadi rileks. Selain itu suami tambah sayang sama kita...he..he..." ajak Catherine. "Memang harus begitu ya kak? Biasanya aku perawatan kalau sempat aja" tukas Mutia. "Mulai sekarang harus kau agendakan wajib Mutia...ntar barengan aja. Aku, kamu sama mama. Kayaknya asyik dech" celetuk Catherine.
Mutia menghantarkan kepergian Catherine di basement apartemen, tak lupa juga Mutia mengucapkan terima kasih. Ponselnya berdering, ternyata Dena yang menelpon. "Halo Den, ada apa?" sapa Mutia. "Kak, nggak ada angin nggak ada hujan. Tuh Asisten tuan Sebastian tau-tau masang kamera pengawas di Mutia Bakery" beritahu Dena dan mengalihkan panggilan ke panggilan video. "Oh..si Dewa. Iya tadi dapat perintah langsung dari daddy nya Langit. Cuma tadi bilangnya masih besok atau gimana gitu. Makanya aku nggak ngabari dirimu dech" ujar Mutia. "Wah, orang suruhan Dewa sudah bikin kacau nih kak. Tuh lihat kabel jadi kemana-mana" Dena menunjuk kabel-kabel yang memang berserakan itu lewat layar ponselnya. "Kau urus saja sama Dewa ya Den. Kakak juga barusan masuk apartemen nih" imbuh Mutia. "Sori...sori...bos kakak cantik. Sampai lupa kalau besok kakakku yang cantik besok mau menikah...he...he... Tapi kak, kalau sudah berurusan sama Dewa urusan mudah jadi belibet aja" tukas Dena. "Kudoakan kalian berjodoh dech" gurau Mutia. Di layar ponsel nampak Dena cemberut mendapat olokan dari Mutia. "Ogah gue" sambar Dena. "Ha....ha...ingat pepatah orang Jawa Den. 'Gething Nyanding'" Mutia belum jadi memutus sambungan telpon. Menggoda Dena menjadi keasyikan tersendiri buat Mutia. "Apa itu? Tambah nggak ngerti gue?" ujar canda Dena. "Benci itu malah bakalan bersanding. Jadi jangan terlalu kau benci Dewa takutnya malah akan menjadi jodohmu...ha...ha...." Mutia langsung menutup panggilan telpon yang tersambung dengan Dena itu. Mutia berjalan sambil tertawa, sampai security apartemen ikut memandangnya aneh. "Nyonya Mutia, selamat malam" sapanya tanpa berani menegur Mutia yang tertawa sendirian tadi. "Malam pak" tukas Mutia.
"Langit kok nggak ada kabar ya? Sudah tidur belum?" gumam Mutia saat di lift sendirian. "Halo, katanya mau dipingit. Baru berapa jam sudah kangen aja" celetuk Sebastian saat panggilan video Mutia tersambung. Mutia memutuskan menghubungi Sebastian karena takut Langit rewel. "Hhmmmm pe-de nya" sungut Mutia. "Hello calon pengantin nggak boleh terlalu sering ngambek ya" Sebastian tetap dengan mode gurauannya. "Langit mana??" sela Mutia. "Langit mana sayang? Harusnya begitu dong. Galak amat sama calon suami" Sebastiah berseloroh menanggapi. "Langit mana sayang ku tercinta???" Mutia sengaja menambahi panggilan yang diminta Sebastian. "Ha...ha....begitu dong. Tuh Langit. Sekarang dia penguasa tempat tidurku" arah kamera Sebastian diarahkan tepat pada Langit dengan posisi sudah tak karuan itu. "Ha...ha...gantian dong. Hampir tiap malam Langit begitu. Belum lagi kalau dia ngigau tak karuan" celetuk Maya. "Asal besok Langit sudah tak begitu lagi" tutur Sebastian, tapi Mutia belum ngeh apa yang dimaksud Sebastian barusan. "Sudahlah sayang, buruan kau istirahat. Langit aman bersamaku. Lancar kan tadi perawatan sama kak Catherine?" tanya Sebastian. "Hhmmm, lancar lah. Tadi juga nggak sengaja ketemu nyonya Martha dan Janetra anaknya" cerita Mutia. "Mereka nggak bikin ulah kan???" Sebastian seakan penasaran. "Nggak kok. Aman" jawab Mutia. "Dena juga sudah laporan kalau Dewa juga sukses bikin Mutia Bakery berantakan hari ini" lanjut Mutia. "Ha...ha...demi keamananmu sayang" Sebastian menegaskan kembali.
__ADS_1
Jam empat pagi, apartemen Mutia sudah diributkan dengan kedatangan make up artis beserta tim. Dena bahkan masih mengucek-ucek matanya karena baru terbangun. "Ah, kalian ini. Mengganggu orang lagi tidur aja sich" gerutu Dena. "Eh kau bisa tidur lagi. Makasih sudah bukain pintu. Boleh minta tolong panggilin nyonya Mutia dong" ujarnya setelah menjelaskan maksud dan tujuannya kepada Dena. Dena memanggil Mutia dengan hati sedikit gondok, karena tidurnya keganggu. "Eh Non, anak gadis harusnya jam segini sudah bangun. Masak kalah sama ayam sih" ujar si tukang make up yang nampak kemayu itu. "Jangan samain sama ayam dong" Dena semakin menggerutu. Mutia yang barusan bangun karena diketok Dena tadi segera menemui tamu yang datang. "Loh, bukankah jam sepuluh acaranya. Kok sudah datang aja kalian?" tanya Mutia heran. "Ya biar bisa paripurna dong nyonya" jawabnya memberi alasan.
Bik Sumi menyiapkan menu sarapan kepagian buat tim make up yang berjumlah tiga orang itu. Sementara Mutia menyiapkan diri dengan berbersih badan dulu. Acara make up berjalan lancar. Entah apa yang dilakukan Sebastian dan Langit di apartemen teratas sekarang, Mutia bahkan belum sempat menghubungi kembali. "Dena, bisa minta tolong ambilkan ponsel di kamar" pinta Mutia. "Oke kak" Dena segera beranjak. Mutia membuka ponsel. Ternyata sudah banyak notitifikasi pesan. Salah satunya pesan dari Sebastian yang memberitahukan bahwa dirinya dan Langit telah dijemput Dewa dan sekarang telah berada di mansion papa Baskoro. Bahkan Sebastian juga mengirimkan sebuah foto Langit dan Bintang yang sedang berenang pagi itu. "Jangan lama-lama berenangnya. Fisik Langit tak sebagus Bintang" balas Mutia mengingatkan Sebastian. Sebastian membalas dengan emoji jempol tangan.
"Dena kau nanti barengan sama bik Sumi ya. Hanya kalian keluargaku. Jadi mau harus mau kalian berdua lah yang musti mendampingiku nanti. Selain Langit sih" kata Mutia ingin menutupi kesedihannya. Bik Sumi mendekat, "Nyonya Mutia orang kuat. Suasana bahagia ini jangan lagi dirusak kesedihan" Bik Sumi memeluk Mutia dan mengelus perlahan punggung Mutia. "Makasih bik. Semoga ayah dan ibu juga bahagia di sana" Mutia membalas pelukan bik Sumi. "Pasti...pasti...nyonya. Mereka pasti bahagia bila putrinya ini telah menemukan kebahagiaan" kata bik Sumi bagai seorang ibu yang sedang menguatkan hati putrinya yang rapuh.
Ternyata di mansion tuan Baskoro telah disulap dengan indahnya. Siapa yang bekerja keras untuk pernikahan itu. Ya pasti Dewa lah yang kalang kabut dengan acara mendadak tuannya itu. Dewa yang juga merupakan sahabat Sebastian dari jaman kuliah, tentu saja membantu dengan sepenuh jiwa raga. Dewa bahkan sempat mengutarakan kalau dia ikhlas untuk membantu sahabatnya yang telah menemukan tambatan hati dalam arti sebenarnya. Sahabatnya itu telah membuktikan kata-katanya dulu, bahwa dia tak akan menikah apabila tidak dengan wanita satu malamnya itu. Semua hanya Dewa yang menjadi saksinya.
__ADS_1
Acara ijab kabul dimulai. "Saya terima nikahnya Mutia Arini bin...bla...bla....."Sebastian mengucapkan kalimat ijab kabul dengan lancar dan satu kali tarikan nafas. Jawaban SAH dari para saksi membuat Sebastian lega. Dia tengok Mutia yang telah sah menjadi istri. Binar bahagia nampak sekali di wajah Sebastian. Dia cium kening istrinya itu. Mutia kembali menangis haru. Sebastian segera merengkuh tubuh Mutia dalam pelukan. "Sudah jangan nangis lagi, ntar Langit mengira aku menganiaya dirimu" bahkan Sebastian sempat bergurau di situasi seperti ini. Mutia pun mencubit gemas lengan Sebastian yang barusan telah berganti status menjadi suami sahnya. Acara yang hanya disaksikan keluarga inti itu berlangsung lancar. Ucapan selamat kepada pasangan baru itu dari para undangan yang hadir saat ini. Bahkan mama Cathleen memeluk menantunya itu, "Selamat datang di keluarga Baskoro Nak" ucapnya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
#Hari Kamis hari Jum'at #Buat kalian semoga selalu sehat
__ADS_1
🤗🤗🤗🤗🤗