
Mutia langsung menarik tangannya dari genggaman Sebastian. Semua yang di sana malah menertawakan Mutia. Semburat merah nampak di pipi Mutia. Malu nggak ketulungan.
"Silahkan duduk Mutia" mama Cathleen mempersilahkan Mutia yang masih berdiri. Mutia mengangguk pelan. Sebastian ikut duduk di samping Mutia. "Katanya mau ambil sesuatu di sini???" bisik pelan Mutia karena masih segan berada satu ruangan dengan keluarga Baskoro. "Nggak jadi, itu tadi hanya alasanku biar kamu sudi mampir ke sini" tukas Sebastian dan meledaklah tawanya. "Jangan menggerutu, tak baik untuk wanita sepertimu" imbuh Sebastian. Dia sungguh bagai ahli nujum, tau saja apa yang ada di pikiranku. Batin Mutia.
Mutia tidak tahu saja, kalau selama perjalanan tadi Sebastian sudah menghubungi keluarganya untuk berkumpul di mansion karena dia ingin membawa Mutia ke rumah.
Semenjak Dewa menyampaikan hasil penyelidikannya dulu, Sebastian yakin kalau wanita yang bersedia mengandung anaknya pastilah orang yang baik hatinya. Walaupun saat itu Sebastian belumlah begitu mengenal sosok Mutia. Hanya sebuah kebetulan-kebetulan saja yang mempertemukan Sebastian dengan Mutia. Wanita yang tetap mempertahankan bayi yang tak berdosa, meski banyak rintangan yang dilalui pastilah wanita yang tegar dan kuat. Mulai saat itu juga Sebastian mulai kagum akan sosok Mutia.
Mutia masih merasa rikuh dengan berada di sana. Secara sosial, Mutia sadar sedang berhadapan dengan siapa. Keluarga konglomerat, keluarga sultan di negara ini. "Mutia, yukkk kita susul Bintang dan juga Langit" ajak Catherine yang melihat Mutia masih canggung berada di sana. Catherine yang sudah tidak memanggil Mutia dengan sebutan nyonya lagi seperti saat pertama kalinya mereka bertemu di rumah sakit saat Bintang dirawat.
"Tian, apa yang terjadi?? Bagaimana kau bisa lengah seperti itu?" tanya tuan besar Baskoro dengan wajah dinginnya. Tuan Baskoro tak abis pikir, sudah tau alergi tapi masih saja mengembat makanan yang berbahan udang dan seafood.
"Biasalah Pah ada yang mencoba bermain denganku" ungkap enteng Sebastian. "Jangan remehin siapapun" ulas tuan Baskoro. "Sudah tau siapa?" Reno ikut bicara. Reno kakak ipar Sebastian yang juga seorang dokter spesialis bedah jantung. "Sudah. Tapi aku kurang bukti untuk menangkap bos nya. Aku hanya bisa membereskan tikus got di sana" terang Sebastian. "Harusnya kau libas sekalian" tandas tuan Baskoro. "Biar aja Pah, lagian dia juga sudah kubuat bangkrut" Sebastian menimpali.
__ADS_1
Mama Cathleen beranjak menyusul Catherine dan juga Mutia meninggalkan para lelaki yang sedang ngobrol itu.
"Terus sejauh mana pedekate mu dengan Mutia????" Reno nimbrung kembali. "Haisssss....kepo aja loe. Urus aja operasimu tuh" tanggap Sebastian. "Dasar kamu aja yang lelet" ejek Reno sang kakak ipar. Dokter tampan idola pasien itu sengaja membulli adik iparnya. "Masak harus kuturunkan ilmuku kepadamu...ha..ha..." lanjut Reno sengaja memanasi Sebastian. "Haissssssss......" sungut Sebastian. "Apa papa harus turun tangan???" sela tuan Baskoro. "Haduhhhhh" Sebastian tambah pusing mendengar ucapan papa nya itu. "Kulamarkan sekarang aja ya???" lanjut tuan Baskoro. "Papa bisa diam nggak sih?" sungut Sebastian. Tuan Baskoro dan sang menantu terbahak kompak sekali.
Mama Cathleen mencari keberadaan Catherine dan Mutia yang ternyata sedang ngobrol bersama sambil menunggu Bintang dan Langit yang sedang main bola. "Ternyata kalian di sini???" mama Cathleen menghampiri para wanita cantik itu. "Iyaaaa nyonya" tukas Mutia.
Mama Cathleen mencoba mengkrabkan diri dengan wanita yang telah merawat baik cucunya itu. "Mutia gimana ceritanya kamu bisa buat kue-kue seenak itu?" tanya mama Cathleen. "Biasa saja nyonya. Semua hanya otodidak" jelas Mutia. "Sudah passion Mah..jadi apapun yang dibuat oleh Mutia pasti enak" tukas Catherine. "Janji ya kapan-kapan ajarin mama buat kue" ujar mama Cathleen. "Wah ya nggak bisa gitu dong Mah. Ntar mama malah nyaingin usahanya Mutia dong" ulas Catherine. "Rejeki sudah ada yang ngatur kak" sahut Mutia. "Jadi....mau kan ngajarin Mamah???" sambut mama Cathleen antusias. Mutia mengangguk, alhasil pelukan mama Cathleen didapatnya.
"Kalian ngobrol apaan? Mutia ayo balik?" Sebastian menghampiri ketiga wanita yang sedang ngobrol asyik itu. "Dilarang pulang sebelum makan malam. Mama sudah terlanjur nyiapin semua" imbuh mama Cathleen. Mama Cathleen menggandeng Mutia untuk mengajak makan malam mereka semua. Tak lupa Langit dan Bintang juga dipanggil oleh mama Cathleen.
Saat tengah makan malam, "Mutia kalau bulan depan pesan kue ulang tahun bisa kan?" tanya mama Cathleen. "Ah, mama nggak asyik. Sudah tau sedang makan malah banyak nanya" sahut Sebastian. "Bisa grandma. Bunda pinter buat kue ultah...bulan depan Langit juga ulang tahun loh" Langit ikutan Bintang memanggil mama Cathleen dengan grandma. "Iya kah...? Emang Langit ulang tahun tanggal berapa??" tanya mama Cathleen penasaran. "Sepuluh September Grandma" jawab Langit. "Lho kok bisa sama ya dengan daddy mu????" mama Cathleen menimpali dengan pertanyaan. "Really Grandma????" Langit tak percaya. Mama Cathleen mengangguk. Binar bahagia terlihat di wajah Langit.
Sebastian, Mutia dan Langit pamit duluan kembali ke apartemen. "Mutia, jangan lupa janjinya ya..Ngajarin mama buat kue" ucap mama Cathleen saat Mutia pamitan. Mutia tersenyum menanggapinya.
__ADS_1
"Ngobrolin apa saja sama mama tadi???" tanya Sebastian saat mobil sudah mulai jalan. "Oh...mama ingin diajarin buat kue" tukas Mutia. Sebastian merasa aneh saja, dulu dengan Janetra mamanya tidak bisa seakrab seperti dengan Mutia. Tapi Sebastian segera menepis ingatan itu. Dia tidak mau membandingkan keberadaan Mutia dengan Janetra (Jadi teringat dengan lagu 'ojo dibanding-bandingke' π).Tentu saja mereka berdua menurut Sebastian sangat berbeda kelas.
Sebastian mengantar Langit dan Mutia sampai apartemennya. Apalagi Langit dengan gampangnya telah tertidur sewaktu di perjalanan tadi. "Boleh langsung ke kamar???" ijin Sebastian ke sang empunya apartemen. Mutia mengangguk dan membukakan pintu kamarnya. Sementara Dena hanya bisa menutup mulutnya untuk tidak berteriak karena melihat big bos Blue Sky itu sedang menggendong Langit. "Wowwwww, sungguh hot daddy" ucapnya lirih. Mutia bahkan sampai menyentil kening Dena.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
***to be continued, happy reading
beli jajan di supermarket, jangan lupa permen nya
othor sempatin apdet, jangan lupa like komen nya
ππππππ***
__ADS_1