
"Dewa selesaikan, aku sudah tau inti masalahnya" perintah Sebastian. Sementara Agus dan Iwan telah diringkus orang-orang Sebastian.
Sebastian kembali ke hotel setelah menyelesaikan problem pembebasan lahan. Endingnya akan diselesaikan Dewa. Sampai di hotel, Sebastian mengecek laporan-laporan yang masuk di emailnya.
Tak sengaja Sebastian mendengar berita televisi yang sedang menayangkan tentang tuan Supranoto mulai bangkit kembali setelah beberapa saat lalu usahanya mengalami kemunduran. "Bisa menggeliat jua tu4 bangk4 itu" seringai Sebastian. "Siapa yang berada di balik kebangkitannya???" gumam Sebastian. "Ah, ngapain ngurusin hal tak jelas. Biarin saja" batin Sebastian.
Ponsel Sebastian berdering, papa calling. "Halo Pah, tumben. Ada apa?" seloroh Sebastian setelah menggeser icon hijau di ponselnya. "Nggak ada apa-apa. Kamu ingat Frans temenmu dulu? " tanya tuan besar Baskoro. "Ya ingatlah Pah, emang ada apaan?" Sebastian menimpali. Sebastian pasti sangat ingat akan pengkhianatan Janetra dengan Frans kala itu. Pengkhianatan yang menimbulkan luka mendalam dalam diri Sebastian. BahkanJanetra yang mulai dijauhinya dibiarkan mendekat kembali bahkan sampai bertunangan dengannya. Sebastian yang tidak mempercayai Janetra akhirnya menemukan jalan untuk menjebak dan membatalkan pernikahan sepihak. Malu, itulah yang dirasakan keluarga Supranoto.
"Tian, Tian...kau masih di sana???" tanya papa. "He...he...masih lah Pah" tukas Sebastian. "Dan kamu lihat nggak berita hari ini?" ucap papa Baskoro. "Iya nggak sengaja dengar, waktu ngecek email masuk tadi. Jangan bilang kalau papa melihat berita perusahaan Supranoto dan mau ngajak nggosip denganku" urai Sebastian. "Benar, papa memang ingin bilang itu" sahut papa Baskoro. "Pah, aku banyak kerjaan ini" Sebastian berjalan mendekat jendela. "Haissss..denger dulu. Pasti kamu sekarang lagi berdiri dekat jendela kan?" papa Baskoro asal menebak saja. "Pah, aku tutup ya? Bicara sama papa nggak ada manfaatnya" celetuk Sebastian. "Tunggu dulu, dengerin cerita papa" cegah tuan Baskoro sebelum Sebastian benar-benar menutup telponnya. "Ada apaan sih Pa?" Sebastian masih berusaha sabar mendengarkan suara tuan Baskoro.
__ADS_1
"Frans lah yang membantu perusahaan Supranoto melalui perusahaan keluarganya. Dan dia juga yang mau menikahi putri tunggal calon mertuamu yang tidak jadi itu..he..he.." cerita tuan Baskoro. "Ceritanya ngejek nih" tukas Sebastian sebal. "Ha...ha....ha....jadi kau merasa nih??? Padahal papa cuma mau cerita saja" tawa tuan Baskoro membahana di ponsel Sebastian. "Pah, kututup saja" ucap Sebastian. "Bentar ah, papa belum bilang cerita intinya ke kamu" cegah papa Baskoro kembali. "Apa lagi sih Pah? Ada telepon masuk dari Dewa nih" Sebastian melihat layar ponsel. "Intinya papa mau bilang, selidiki Frans. Kenapa keluarganya begitu mudahnya menggelontorkan dana yang tak sedikit ke keluarga Supranoto. Dengan bangkitnya perusahaannya tuan Supranoto pasti akan berulah Tian. Apalagi mengingat apa yang telah kau lakukan kepada putri tunggalnya" ucap papa Baskoro mulai serius. "Apalagi dengan mudahnya Frans menerima tanggung jawab kehamilan Janetra, pasti ada yang dilakukan olehnya untuk menjebak Frans" imbuh papa Baskoro. "Iya...iya...akan kuselidiki" jawab Sebastian singkat. Tanpa papa Baskoro cerita pun, Sebastian sudah menduga kalau Janetra akan kembali ke Frans. Bahkan Sebastian juga yakin, kalau anak yang dikandung Janetra adalah anaknya Frans. Entah tujuan Janetra apa mendekati dirinya, padahal sudah jelas-jelas tau kalau isi perutnya adalah hasil dari hubungannya dengan Frans. Atau Frans juga mengalami nasib yang sama denganku hanya dijebak oleh wanita j*la*g itu, pikir Sebastian dalam benaknya.
Terdengar ketukan pintu kamar, Sebastian pun beranjak untuk membukanya. Dewa masuk saat Sebastian membukakan pintu. "Haus sekali, nggak ada minum kah?" tolehnya ke kanan dan kiri. "Hei, kau kira ni warung ampiran apa...nanya minum tuh di sono..." tunjuk Sebastian ke wastafel. "Tega sekali kau Tuan" ucap Dewa dengan gaya sok merasa dikasihani. "Ada apaan, sampai kau bela-belain menggangguku???" tandas Sebastian. "Mau laporan saja, kalau pembebasan lahan beres. Sekarang sudah dipegang oleh tim hukum" lapor Dewa. "Kan kau bisa kirim pesan saja Dewa, nggak perlu ke kamarku" sergah Sebastian lagi. "He..he..ada lagi tuan. Acara peletakan batu pertama yang harusnya dijadwalkan minggu depan, diajukan besok. Mumpung tuan sedang berada di sini. Kesempatan langka bagi mereka bisa menghadirkan tuan untuk acara besok" jelas Dewa. "Lagian tuan perusahaan rekanan juga menghadirkan kepala daerah beserta jajarannya untuk acara besok" lanjut Dewa. "Terus...hubungannya denganku???" Sebastian sengaja menggantung ucapannya. "Hubungannya, kalau kita dekat dengan pemangku wilayah setempat. Proyek kita lekas beres" timpal Dewa. "Nggak ada hubungannya. Aku ingin proyek ku berjalan sewajarnya saja tanpa campur tangan pihak lain" tegas Sebastian. Dewa sudah hafal betul akan hal itu. Prinsip Sebastian terlalu kuat dalam menjalankan bisnisnya.
Di mansion tuan Baskoro, Mutia sedang sibuk merapikan tampilan kue yang dibuat oleh mama Cathleen.
"Woooowwwww, cantiknya. Jadi nggak tega memakannya" celetuk Catherine. "Lebay ah" tukas mama Cathleen. Selanjutnya mama Cathleen mengambil pisau untuk memotong roti yang baru jadi itu. "Mah...tunggu bentar" sela Catherine. "Jangan bilang mau fotoin" sergah mama Cathleen. "Ya iyalah...mama nggak boleh ngiri" gurau Catherine. Mama Cathleen sampai jengah melihat putri kandung yang tak ada kesan anggun sama sekali itu. Tapi anehnya saat ada perjamuan penting, Catherine bagaikan bunglon yang akan menampilkan wajah cantik dan anggun. Satu yang sangat diakui mama Cathleen akan sosok Catherine, dia terlalu pandai menempatkan diri dalam segala situasi.
"Mutia, dari tadi kok anteng sekali" akhirnya Catherine mencolek Mutia yang banyak terdiam melihat interaksi dirinya dan mama Cathleen.
__ADS_1
"Ayo duduk sana saja. Sambil makan kue buatan Mutia" ajak mama Cathleen mengajak Catherine dan Mutia duduk di samping mansion dekat kolam renang.
Mama Cathleen masih mencoba mengingat siapa yang memakai kalung seperti yang dipakai oleh Mutia saat ini. Seingat mama Cathleen liontin itu termasuk langka dan produksinya sudah lama. Hanya ada beberapa orang yang memilikinya, karena limited edition. Kalau sampai Mutia punya, pasti itu sudah turunan dari orang tuanya. Tapi mendengar cerita Sebastian tentang asal usul Mutia, kecil kemungkinan orang tua Mutia memiliki liontin itu.
"Mah, kok melamun sih? Buruan gih kuenya dipotong" celetuk Catherine yang ingin segera mencicipinya. "Iya..iya...nggak sabar amat" sergah mama Cathleen. "Abis mama sih" ucap Catherine seperti anak kecil. Kue dipotong oleh Mutia.
"Liontinmu bagus Mutia. Serasi dengan anting dan baju yang kau pakai" puji mama Cathleen tiba-tiba. Mutia tersenyum menanggapi, "Makasih Mah" balas Mutia. "Ini juga pemberian orang tua Mutia Mah" lanjut Mutia. "Orang tuamu pasti pengoleksi perhiasan. Tau nggak Mutia, kalung yang kau pakai itu termasuk langka loh" imbuh mama Cathleen. "Iya kah? Malah Mutia tidak paham tentang perhiasan. Orang tua ku juga bukan pengoleksi. Waktu orang tua memberiku hanya berpesan jangan sampai kau jual perhiasan ini. Kalau kau tak punya uang cukup kau gadaikan saja. Begitu pesan orang tuaku waktu itu. Aku hanya menjaga amanat almarhum kedua orang tua ku Mah" jelas Mutia. Tapi bagi mama Cathleen penjelasan Mutia terlalu aneh, karena liontin yang dipakai Mutia saat ini berharga miliaran rupiah. Tanpa memandang remeh keluarga Mutia, tidak semua orang bisa membelinya. "Aku bahkan sempat menggadaikannya Mah, waktu hamil Langit. Karena saat itu aku butuh modal untuk buka usaha dan persiapan biaya persalinan. Bahkan waktu di pegadaian aku kaget juga waktu ditawari pinjaman yang banyak. Katanya kalung ini harganya miliaran. Sampai aku sendiri merasa aneh, darimana orang tua ku mendapatkan kalung semahal itu" Mutia malah banyak bermonolog, mama Cathleen dan Catherine serius menyimaknya.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
__ADS_1
To be continued, happy reading π€π€π€