
Direngkuhnya tubuh sang istri yang baru beberapa hari dinikahi itu. Tangannya mulai melepas simpul yang mengikat kimono yang dipakai istrinya. Sajian indah terpampang di depan mata, sampai tak berkedip Sebastian memandang.
Malam yang indah mereka lalui berdua. Tidak ada Langit di apartemen semakin memudahkan sang daddy untuk mengeksplor setiap inci raga sang istri. Sungguh Sebastian benar-benar memanfaatkan situasi dengan sebaik-baiknya.
Pagi hari dengan wajah yang segar, mereka tengah sarapan pagi yang telah dibuat Mutia sebelumnya.
"Enak yank" puji Sebastian.
"Enak karena rasa apa enak karena kelaparan???" tukas Mutia.
"Dua-duanya... Ha...ha..." imbuh Sebastian.
"Semalam istriku sungguh luar biasa" lanjut Sebastian, membuat Mutia tersipu.
"Sudah ah, ayo makan" sergah Mutia.
"Semoga lekas hadir adiknya Langit" Sebastian mengusap perut istrinya.
"Aku nggak bisa ngebayangin waktu kamu ngelahirin Langit dulu tanpa seorang pendamping" ucap Sebastian.
"He...he....biasa saja. Ada Dena yang menemaniku" kata Mutia.
"Allah itu benar-benar maha baik. Saat melahirkan Langit begitu banyak kemudahan yang kurasakan" cerita Mutia.
"Apa kau juga mengumpati orang yang menjadi penyebab semua itu?" tanya Sebastian penasaran
"Awalnya iya, tapi semakin ke belakang aku merasa ini sudah jalan Allah yang diberikan kepadaku. Akhirnya ya seperti ini, aku bisa menerima dengan ikhlas semua yang ditakdirkan olehNya" imbuh Mutia
"Apa kau mau tahu cerita versi diriku?" ucap Sebastian.
"Maksudnya?" tanya Mutia sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Kira-kira dua bulan pasca kejadian itu, aku mengalami gejala mual muntah yang luar biasa. Makanan apapun tak bisa masuk. Tubuhku semua menolaknya. Bahkan aku hanya terbaring di ranjang dengan infus terpasang. Dokter yang merawatku sampai bingung mau mendiagnosa apa" cerita Sebastian.
"Oh ya???" Mutia seakan tak percaya dengan penderitaan laki-laki di hadapannya itu.
"Aku ngalamin sih mual muntah, tapi ya...biasa aja" tukas Mutia.
"Mungkin saat itu dokter tak mau mengatakan kalau aku mengalami gejala kehamilan simpatik. Karena statusku saat itu yang jomblo kali ya...he..he..." Sebastian terkekeh.
"Andai dokter mengatakannya saat itu..kau pasti tak akan mengalami derita begitu lama" sesal Sebastian.
"Sudah jangan dibahas lagi. Aku aja sudah biasa saja" tandas Mutia.
"Makasih sayang" kecup Sebastian di kening sang istri. Mereka pun melanjutkan sarapan di Minggu pagi ini hanya berdua.
Ponsel Mutia berbunyi, panggilan dari Dena.
"Halo Dena" sapa Mutia.
"Maaf kak, gangguin pagi-pagi. Barusan outlet menghubungiku. Katanya Tuan Frans hari ini datang ke sana dan ingin bertemu denganmu kak" kata Dena.
"Untuk????" celetuk Mutia.
"Kurang tau kak. Apa karena kejadian semalam atau bagaimana aku kurang tahu. Eh iya kak, wedding cake kita yang dihancurin sedang viral lho" lanjut Dena.
"Kan kamu bisa bilang Dena, kalau hari Minggu aku tidak ngantor. Kalau untuk masalah wedding cake yang hancur, biarlah menjadi urusan mereka. Yang penting tidak ada pelanggaran kontrak" jelas Mutia.
__ADS_1
"Tuan Frans memaksa kak" imbuh Dena.
"Kalau memang memaksa suruh datang aja pas hari kerja" celetuk Mutia memberi perintah.
Mutia menutup panggilan dari Dena.
"Apa Frans ingin bertemu denganmu?" selidik Sebastian.
Mutia mengangkat kedua bahunya tanda dia tak mengerti.
Sekarang ganti ponsel Sebastian yang berdering. "Halo Tuan, orang yang kemarin kita sekap sudah kita antar ke kantor kepolisian dan sudah ditangani oleh penyidik" ucap Dewa.
Pasti sekarang tuan Bagus sedang menjalankan tugasnya. Batin Sebastian.
Tak lama sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Sebastian. Benar perkiraan Sebastian. Tuan Bagus lah yang mengirim pesan.
"Tuan, dalang dari semua pelaku bukanlah Ardian. Tapi semua bukti seakan menyudutkannya. Masih ada seseorang di atasnya yang memberikan perintah. Tapi kita masih kesulitan mencari bukti" bunyi pesan itu.
Ternyata licin juga orang itu, pikir Sebastian.
"Sayang, lagi ngelamunin apa?" tanya Mutia yang baru selesai membereskan alat makannya.
"Nggak ada, cuma lagi mikirin sesuatu" tukas Sebastian.
"Boleh tau?" tanya Mutia.
"Boleh, lagi mikirin kira-kira kapan adiknya Langit hadir" gurau Sebastian.
"Tanya aja pada rumput yang bergoyang" sungut Mutia karena sudah serius ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh suaminya itu.
Sebastian terbahak melihat tingkah sang istri.
"Selamat pagi nyonya Mutia" sapa ramah Frans yang datang sendirian tanpa didampingi sosok Janetra.
"Selamat pagi tuan Frans. Ada yang bisa dibantu?" tukas Mutia tak kalah ramah.
"Saya hanya ingin minta maaf atas kesalahan tak sengaja saya, sehingga wedding cake buatan Mutia Bakery hancur di acara pesta pernikahan saya" kata Frans.
"Hhmmm, kenapa anda meminta maaf ke saya yang nyata-nyata tidak ada kaitannya dengan pesta anda. Bahkan ibu mertua anda sudah melunasi pembuatan wedding cake dua hari sebelumnya. Jadi tidak ada kewajiban saya lagi di situ" terang Mutia.
"Tapi aku merasa tidak enak pada anda nyonya" lanjut Frans seakan memaksa.
"Saya anggap di antara kita tidak ada masalah tuan Frans. Maaf saya sedang sibuk" perjelas Mutia.
Mutia berlalu meninggalkan Frans yang masih berdiri di situ. Mutia tak ambil pusing dengan kacaunya pesta pernikahan mereka. Mutia juga tak menghiraukan motif Frans menemuinya pagi ini.
Ternyata keributan pagi itu tak berhenti di situ. Janetra datang menyusul suami yang pagi-pagi telah datang ke Mutia Bakery.
Dihampiri sang suami yang berdiri di lobi itu. "Sayang, ngapain pagi-pagi ke sini? Mau ketemu wanita itu kah?" ucap Janetra dengan suara sengaja dinaikkan volumenya.
"Apaan sih kau ini? Aku hanya ingin minta maaf ke nyonya Mutia atas tragedi kue yang hancur olehku" Frans beralasan.
"Apa!!! Kau ingin bertemu dengan wanita penggoda itu" tandas Janetra. Janetra tentu saja mulai pasang kuda-kuda, dia tak ingin gagal kedua kalinya oleh Mutia. Meski sekarang laki-laki di depannya itu telah sah menjadi suaminya.
"Sudahlah ayo pulang!!! Buat ribut saja" Frans menggandeng Janetra hendak mengajaknya keluar Mutia Bakery.
"Nggak, sebelum aku menemuinya" tolak Janetra.
__ADS_1
"Janetra, ayo pulang saja!!!" Frans mengajak sekali lagi istrinya.
Tapi sebelum berhasil mengajak, Janetra telah berlalu menuju customer service menanyakan keberadaan ruangan Mutia.
"Maaf nyonya, ada janji dengan nyonya Mutia?" tanya bagian customer service itu.
"Bilang saja Janetra ingin bertemu" sahut Janetra.
"Bisa ditunggu sebentar, silahkan duduk. Tapi saya nggak janji nyonya Mutia berkenan atau tidak" sahutnya ramah.
Janetra duduk di tempat yang ditunjuk oleh karyawan tadi.
Sementara di ruangan Mutia, Dena juga sedang berada di sana. Apalagi kalau bukan untuk menggosip. "Kak, tuan Frans yang menemuimu tadi ternyata disusulin oleh istrinya. Tau nggak kak, mereka kayaknya berdebat di lantai bawah sana" cerita Dena.
"Ya biarin aja lah Dena. Kan bukan urusan kita" tutur Mutia.
Telpon ruangan berbunyi. Diangkatlah oleh Dena. "Selamat pagi nyonya Mutia, seseorang yang mengaku bernama nyonya Janetra sedang menunggu anda di bawah. Haruskah kutolak atau bagaimana?" tanya karyawan itu.
Dena membisikkan kata di telpon itu kepada Mutia. "Gimana ditemui apa nggak? Temui aja kak, kalau nggak ditemui dia akan semakin melindas kakak" Dena mengompori.
"Haisss kamu itu. Urusannya apa dengan dia? Malas ah kakak" Mutia duduk di kursi kebesarannya.
Tapi tiba-tiba saja pintu ruangan Mutia terbuka, dan muncul sosok Janetra di sana.
"Hei, wanita penggoda! Berani sekali kau menggoda suamiku" ucapanya dengan suara meninggi.
"Nyonya, maaf atas dasar apa kau menuduhku!" ulas Mutia.
"Suamiku rela pagi-pagi begini rela datang ke kantormu yang kecil ini. Hanya untuk menemuimu" tandasnya.
"Terus?????" Mutia mengangkat kedua bahunya.
"Dia tak akan datang, kalau kau menolak menemuinya" sarkas Janetra.
"Ha...ha... Saya juga tidak mengundang suami anda ke sini lho. Atau kau takut akan ditinggalin lagi seperti tuan Sebastian meninggalkanmu?" balas Mutia telak.
Wanita hamil itu semakin bersungut di depan Mutia tapi tidak bisa membalas ucapan Mutia.
"Atau perlu kuceritakan kepada suamimu bagaimana kau menjebak tuan Sebastian dulu" bisik Mutia tapi ada nada mengintimidasi dari suara Mutia.
"Ha...ha...asal kau tau nyonya Mutia. Tuan Sebastian juga pernah beberapa kali tidur denganku" ucap Janetra bangga.
"Oh ya???? Hanya tidur bersama kan? Tapi kau tidak pernah ditiduri olehnya" Mutia terkekeh.
Bagaimana wanita ini tau sampai sedetail itu? batin Janetra.
"Hati-hati kalau ngomong nyonya Janetra, kalau sampai tuan Frans dengar. Bisa panjang urusannya" lanjut Mutia.
"Sekiranya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, silahkan anda pergi" usir Mutia dengan halus.
Janetra berbalik sambil menghentakkan kakinya. Dena tertawa selepas Janetra keluar dari ruangan Mutia.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading
Ikan paus ikan pari, adanya di laut lepas # up telah datang lagi, jangan sampai kelepas
__ADS_1
Maaf telat up nya
π