
"Maaf nyonya, sudah saya tegaskan di depan kalau Mutia Bakery tak sanggup memenuhi permintaan anda. Kalau anda tak berkenan, silahkan mencari perusahaan lain yang sekiranya sanggup memenuhi keinginan anda. Selamat pagi" Mutia menutup telponnya. Tak apa-apa kehilangan salah satu kolega, hibur Mutia dalam hati.
Ponselnya kembali berdering, Mutia melihatnya. Dilihatnya nomer yang tadi dihubungi mencoba menghubunginya kembali. "Selamat pagi nyonya Martha" sapa Mutia sambil menghela nafas. "Nyonya Mutia harap pertimbangkan kembali. Oke, saya tidak diberi diskon nggak masalah. Tapi tolong usahakan. Untuk yang lain saya coba pesan saja di tempat lain. Tapi untuk wedding cake, saya minta tolong Mutia Bakery yang membuatnya" rayu nyonya Martha di seberang. "Kalau hanya wedding cake akan saya usahakan. Mohon maaf karena tidak bisa memenuhi semuanya" tukas Mutia. "Baik nyonya Mutia, terima kasih atas kerjasamanya. Untuk harga saya mengikuti patokan Mutia Bakery" jawab nyonya Martha kedengeran ramah tak seperti biasanya. "Sama-sama nyonya Martha" ujar Mutia menutup panggilan itu.
"Dena, bisa ke ruanganku sebentar" Mutia mengirim pesan ke Dena. Dena yang memang ingin pergi ke ruangan Mutia segera mengetuk pintu. "Masuk" suara Mutia dari dalam ruangan.
"Duduk Dena" suruh Mutia. "Lama nggak kak, aku mau turun ke gudang nih?" Dena duduk di sofa yang memang disediakan di ruangan Mutia. Mutia menghampiri Dena, "Tadi nyonya Martha sudah kuhubungi. Aku bilang nggak sanggup untuk memenuhi permintaannya karena kendala waktu yang berubah. Tapi nyonya Martha berubah pikiran, hanya order wedding cake saja" jelas Mutia. "Kalau itu sih oke lah Kak, kita bisa ngusahakan. Asal nggak pake potongan harga juga. Kasian yang ikut bagian produksi" tukas Dena. "Kalau harga dia mau ngikut kita. Bilangnya sih begitu" lanjut Mutia.
Dena menunjukkan list pemesanan Mutia Bakery untuk bulan ini dan bulan depan berdasarkan laporan dari bawahannya. "Harusnya prosedurnya memang seperti ini. Satu atau dua bulan sebelumnya sudah ngelist dulu. Jadi kita tidak dibuat kelabakan pengadaan bahan" ujar Mutia menatap Dena. "Iya sih, tapi nyonya Martha kan kakak sendiri yang nerima orderannya" ledek Dena. "He...he...itu karena awalnya dia komplain karena ulahmu" Mutia menjawab ledekan Dena. "Untuk kali ini aja kak, lain kali aku ogah melayani orderan dadakan seperti ini. Kataku ini mewakili bagian produksi lho kak" Dena beranjak. "Lagian kak, jaman sekarang kok ya ada membuat pesta pernikahan dadakan seperti itu. Buat repot semua" imbuh Dena sambil membalikkan badan. "Kayak mempelainya hamil duluan aja, terkesan buru-buru" tambah Dena lagi.
Mutia tak menanggapi ucapan Dena. "Upssss...kakak kan juga mau menikah dadakan. Sori kak, bukan maksud menyindir. Love You kak Mutia" Dena ngacir keluar ruangan. Mutia tersenyum melihat polah Dena. Wanita dewasa yang kadang tingkahnya masih seperti Langit, kekanak-kanakan.
__ADS_1
"Lekaslah turun, kutunggu di lobi" pesan masuk ke ponsel Mutia. "Katanya rapat, jam segini sudah nongol aja" gumam Mutia sendirian. Mutia sambar tas yang ada di meja dan bergegas turun ke lantai terbawah. Mutia coba menghubungi Dena, "Dena aku keluar dulu. Ntar sore kalau mau pulang. Bawa aja tuh mobil" ucap Mutia setelah panggilannya tersambung ke Dena. "Oke kak" jawab Dena singkat. Tak banyak tanya seperti biasanya karena sudah tau dengan siapa Mutia akan keluar.
Sebastian sudah menunggu di bawah. "Sudah siap?" tanyanya. "Hhmm..." angguk Mutia. Mobil melaju dikemudikan Sebastian. "Kita ke mana dulu?" tanya Sebastian. "Loh, emang kita mau ke mana? Aku ngikut aja" tukas Mutia. "Ke hotel" gurau Sebastian dan tertawa. "Jangan mulai dech" sungut Mutia. "Katanya ngikut, aku maunya ke hotel. Gimana dong???" Sebastian terkekeh. "Tian..." teriak gemas Mutia. "Iya sayang" Sebastian semakin terbahak melihat Mutia. "Nggak lucu" tukas Mutia. Bibir Mutia yang mengerucut semakin membuat gemas CEO Blue Sky itu. "Mau kucium??? Lihat bibirmu seperti itu jadi ingin menggigit" kata Sebastian dengan vulgarnya. Mutia semakin bersungut.
"Oke...oke...jangan ngambek dong. Kita ke 'Intan Jewelry' aja dulu" ajak Sebastian. Sebastian membelok ke arah mall Dirgantara, tempat 'Intan Jewelry' berada. Mutia tak menjawab.
Sebastian membukakan pintu untuk calon permaisuri nya itu. "Ayo" ajaknya. Tidak ada adegan membukakan self belt ya, Mutia sudah terbiasa membuka sendiri...he...he...
Sebastian menggandeng posesif calon istrinya itu. Mutia hanya mengikuti langkah Sebastian ke arah mana.
"Tau gitu, nggak usah ajak aku. Kan sudah tau pilihanmu seperti apa" ucap sewot Mutia. "Pasti yang kau lihat harganya kan? Harga cincin itu tak sebanding dengan pengorbananmu selama ini" Sebastian tau apa yang dipikirkan Mutia. Dia sadar nggak sih siapa calon suaminya, batin Sebastian.
__ADS_1
Saat hendak keluar, tak sengaja mereka berpapasan dengan Janetra yang sedang bergelayut manja dengan calon suaminya. Siapa lagi kalau bukan Frans. Janetra yang belum tau kalau Mutia dan Sebastian akan menikah, menyapa duluan. "Halo Tian, apa kabar??" sapa Janetra. Mutia yang pernah bertemu dengan Janetra pun masih terdiam. "Oh ya, undanganku sudah disampaikan Dewa kan? Jangan lupa datang ya" ujarnya yang seakan pamer kalau dia tak merasa apa-apa ditinggalkan Sebastian. Cih, tak tau malu. Umpat Sebastian.
Janetra menelisik Mutia yang sedang digandeng Sebastian. "Wah, ada perkembangan apa nih? Kok sudah gandengan aja dengan wanita yang punya anak tapi tak bersuami ini" sindir Janetra. "Jaga ucapanmu" nada Sebastian mulai naik beberapa oktaf. Mutia menggenggam erat lengan Sebastian, Mutia menggeleng saat Sebastian menoleh ke arahnya. "Benar kan Tian?? Apa yang ku bilang? Hati-hati, jangan-jangan wanita ini mengaku kalau putranya adalah putramu Tian" ucapan Janetra semakin memancing emosi Sebastian. Mutia mencoba meredam emosi Sebastian dengan tatapan teduhnya. Jangan sampai Sebastian bertambah emosi. "Jangan menyesal, kalau endingnya kamu kena jebakan batman." imbuh Frans seakan mengingatkan Sebastian. Sebastian menggenggam erat tangannya. Kalau tidak ada Mutia, bogeman mentah pasti sudah mendarat di salah satu bagian tubuh Frans. "Maaf, sudah selesai kalian? Kami undur diri dulu. Tapi khusus buat tuan Frans, hati-hati juga. Takutnya yang kena jebakan Batman adalah anda sendiri" tukas Mutia menggandeng Sebastian dan mengajaknya pergi. Frans dibuat geram oleh ucapan Mutia barusan. "Ayo sayang, katanya mau beli cincin buat pernikahan kita" ajak Janetra dengan suara lantang, seolah mau pamer ke Sebastian dan Mutia yang mulai berjalan menjauh dari mereka berdua.
Sebastian lebih banyak terdiam setelah kejadian tadi. "Kau masih kepikiran sama mereka?" tanya Mutia membuka pembicaraan di mobil. "Nggak, ngapain memikirkan mereka. Buang-buang energi" sarkas Sebastian. "Tapi wajahmu tuh nggak bisa bohong" celetuk Mutia. "Aku nggak rela kalau kamu dijelek-jelekkan Mutia. Padahal yang bangs4t di sini adalah aku" tukas Sebastian. "Kalau kamu ladenin, sama aja dong kamu dengan mereka" ujar Mutia. "Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan emosi. Lagian apa yang dibilang Janetra tidak sepenuhnya salah. Memang benar kan aku wanita tak bersuami tapi mempunyai anak" kata Mutia menoleh ke Sebastian. "Maaf" hanya itu yang bisa keluar dari mulut Sebastian. "Sudahlah Tian. Aku nggak mau mengulang-ulang lagi ucapanku bahwa aku sudah memaafkanmu jauh sebelum aku tau kalau kau adalah papa kandung putraku. Jadi setelah ini jangan bahas hal seperti ini lagi. Mari kita kubur dalam-dalam hal yang sudah terlewat" tandas Mutia.
Sebastian menggenggam erat tangan Mutia seakan tak ingin dia lepaskan. "Itulah salah satu alasan aku memilihmu untuk menemaniku sampai tua nanti" mulai terlihat senyum di wajah Sebastian. Emosinya mulai mereda mendengar ucapan-ucapan Mutia. "Idih, mulai gombal lagi" celetuk Mutia tertawa. "Love You Mutia" kata Sebastian. Mutia dibuat terdiam mendengarnya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
__ADS_1
#ikan patin dimasak kare #kepoin part selanjutnye yeee...
SALAM SEHAT 💝