WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 95


__ADS_3

Sebastian benar-benar melangkah ke abang-abang yang jualan rujak itu. Bahkan banyak pasang mata yang memandang takjub padanya.


"Bukannya wajahnya persis yang di berita hari ini ya?" celetuk salah satu orang yang sedang antri itu. Akhirnya semua yang di situ menoleh ke arah Sebastian, termasuk abang rujaknya.


"Wah, iya betul. Ini mah tuan ganteng di berita tipi tadi pagi" logat kental abang rujak.


"Boleh minta potonya ya den??" tanyanya tapi tetap mengambil ponsel yang berada di saku.


"Satu...dua...tiga...cheessssss" kata abang itu. Mau tak mau Sebastian ikut poto juga, seperti yang diminta abang rujak. Bahkan semakin banyak aja yang minta foto bersama Sebastian. Jadi artis dadakan ceritanya.


"Tuan ganteng mau beli apa?" tanya abang rujak itu pada akhirnya. Karena telah puas berfoto.


"Hhmmm, rujak buah nya 1 porsi bang. Tapi banyakin apa ya tadi?" Sebastian berusaha mengingat nama buah yang disebutkan istrinya tadi.


"Bentar bang, aku lupa istriku tadi bilang ingin dibanyakin buah dong...dong.....Apa ya?" Sebastian mencoba menelpon istrinya.


"Kedondong tuan?" celetuk wanita yang ternyata juga sedang hamil di belakangnya.


"Nah itu bang...banyakin buah itu tadi" tukasnya.


"Makasih nyonya" ucap Sebastian ke arah nyonya yang mengingatkan nama buah itu tadi.


"Tuan, boleh aku mengajukan satu permintaan? Sebagai ganti aku telah mengingatkanmu nama buah kedondong" ucap wanita itu.


"Hah? Asal jangan yang sulit saja nyonya" Sebastian terkekeh.


"Tolong elus perutku. Kalau anakku cowok, biar tampan seperti tuan. Kalau cewek jodohnya nanti juga biar tampan seperti tuan" ujar wanita itu.


"Itu sih pemaksaan nyonya. Memaksa untuk punya anak tampan. Doa itu yang penting anaknya sehat gitu lho...he...he..." tukas abang rujak.


"Ayolah tuan...Plissss" harap wanita itu.


Sebastian hendak menyentuh perut wanita itu, tapi tangannya telah ditepis oleh seorang laki-laki yang berwajah garang. "Apa yang kau lakukan?" hardiknya.


Sebastian hanya garuk kepala tak tau harus menjawab apa.


"Tanya pada istrimu tuh, jangan tanya ke tuan ganteng" bela abang rujak.


"Nih tuan, rujaknya sudah jadi" abang rujak menyerahkan sebungkus rujak buah yang dipesan oleh Sebastian.


"Makasih bang" Sebastian membayar dengan beberapa lembar uang seratus ribuan.


"Tuan, ini banyak sekali" sergahnya.


"Nggak papa bang, anggap aja ini rejeki anak abang. Makasih ya" Sebastian meninggalkan tempat itu dengan menyisakan pertengkaran suami istri tadi.


"Alhamdulillah rizki anak sholeh" ucap abang rujak yang masih terdengar di telinga Sebastian.


"Sayang, lama amat" sambut Mutia saat Sebastian masuk mobil.


"He...he...maaf sayang, antriannya banyak. Nih rujaknya" seloroh Sebastian menyerahkan sebungkus rujak buah sesuai reques sang istri.


"Kedondongnya ada?" tanya Mutia.


"Lihat aja" tukas Sebastian.

__ADS_1


Mutia membuka bungkusan rujak. Beberapa kali dia telan ludahnya karena melihat buah yang diinginkannya saat ini.


"Makasih sayang" celetuk Mutia dan langsung mencium pipi sang suami.


Sebastian menoleh. "Sini dong" tunjuk jari Sebastian ke arah bibir.


"Ntar aja" tukas Mutia. Mutia mulai memasukkan kedondong ke dalam mulutnya.


"Hhmmmm...enaknya" gumam Mutia.


Sebastian yang melihat ikut menelan ludahnya.


"Mau???" Mutia menawari. Diambilnya sepotong buah kedondong, disuapkannya ke sang suami.


"Buah apa ini, masam banget?" komen Sebastian dan mengeluarkan kedondong dari mulutnya.


"Ini karena masih muda aja kedondongnya. Kalau yang sudah matang, enak lho yank. Beneran" tegas Mutia.


"Mau lagi???" dan Sebastian menggeleng dengan cepat. Mutia tertawa melihatnya.


Sebastian kembali menjalankan mobil ke arah mansion sang papa, sementara Mutia masih asyik dengan sebungkus rujak buah.


"Sudah, jangan dihabiskan. Kasihan tuh perut" saran Sebastian.


"Tapi ini enak" jawab Mutia dengan tetap mengunyah rujak buah yang dibeli oleh sang suami.


Drama papeda, drama rujak buah. Semoga besok nggak ada drama-drama lagi. Batin Sebastian.


Reno dan Catherine ternyata juga berada di sana saat Sebastian dan Mutia tiba.


"Makasih kak...he...he..." tukas Mutia.


"Jadi periksa?" sela mama Cathleen.


"Jadi Mah, aku ke Om Abraham tadi" jawab Sebastian mendekati sang mama duduk.


"Abraham yang menolong lahirnya kamu dulu?" tanya mama Cathleen.


"Siapa lagi Mah? Emang ada nama lain selain Om Abraham dokter idola mama itu" perjelas Sebastian.


Terdengar deheman tuan Baskoro. "Ha...ha...papa cemburu tuh Mah" Sebastian terbahak melihat ekspresi tuan Baskoro yang barusan gabung di ruang keluarga itu.


"Hasil pemeriksaan nya gimana Mutia?" Catherine mengembalikan topik pembicaaan.


"Nunggu dua minggu lagi kak. Tadi sih baru terlihat kantongnya saja" jawab Mutia.


"Sayang, tadi kan om Abraham juga bilang kalau kemungkinan kantongnya ada dua" Sebastian menambahi.


"Apa maksudnya kantong dua?" tuan Baskoro ikut penasaran.


"Kemungkinan hamil kembar Pah" sela Reno.


"Hah? Begitukah? Selamat Mutia" Catherine memeluk adik ipar yang sedang duduk di sampingnya.


"Kalau begitu kurangi kesibukanmu nak" nasehat mama Cathleen.

__ADS_1


"Biar sementara usahamu itu dibantu pengurusannya oleh suamimu" lanjut mama Cathleen.


"Beres Mah, tadi pagi juga sudah kubilangin seperti itu. Dan untuk Mutia Bakery, sudah ada beberapa asisten yang membantu pekerjaan istriku" jelas Sebastian.


"Tapi suatu saat kau harus ikut membantu istrimu mengawasinya" tandas mama Cathleen.


"Jangan sering-sering kau tengok. Masih rawan" sela Reno.


"Haissss....kenapa semua dokter bilangnya begitu?" sungut Sebastian.


Semua menertawakannya.


Langit dan Bintang yang baru masuk ruangan, nampak terengah-engah nafasnya.


"Kalian abis main apa?" tanya Reno.


"Sepakbola sama penjaga di depan" jawab Bintang.


Mutia beranjak hendak mengambilkan minum kedua anak itu.


"Bunda mau ke mana?" tanya Langit.


"Ambil minum untuk kalian berdua"


"Nggak usah Bun, aku sama Bintang ambil sendiri minumnya. Bunda duduk saja" celetuk Langit.


Kedua anak kecil itu berlarian di mansion.


"Rumah ini kalau ada mereka berdua, jadi ramai" celetuk mama Cathleen.


"Kalau gitu papa dan mama buat adik baru dong, biar ramai lagi" canda Sebastian. Sebuah bantal melayang tepat mengenai wajahnya.


"Ngomong kok nggak pakai filter" mama Cathleen mencubit lengan sang putra.


"Sayang, aku dianiaya mama dan papa. Tolongin dong" ucap Sebastian dengan wajah teraniaya.


Itulah Sebastian, yang ada saja tingkahnya bila sedang bersama keluarga.


Penjaga depan tergopoh menemui sang tuan besar.


"Ada apa pak Amin?" tanya Tuan Baskoro.


Pak Amin semakin menundukkan pandangannya, karena takut.


"Pak Amin" panggil Tuan Baskoro lagi.


"Maaf tuan, ada tuan Supranoto di depan yang memaksa ingin bertemu dengan anda. Maaf saya tak bisa menghalanginya, karena beliau bilang ada hal penting yang ingin dikatakan kepada anda" kata pak Amin dengan terbata.


Tuan Baskoro mengernyitkan alisnya, sementara yang lain terdiam.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading


πŸ’

__ADS_1


__ADS_2