WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 125


__ADS_3

Tuan Winardi terbaring di ranjang, orang tua itu nampak lemas. Bisa jadi karena kurang asupan makan selama beberapa hari.


"Apa kita bawa ke rumah sakit aja ya sayang?" ajak Sebastian yang berdiri di belakang istrinya.


Mutia mendekat ke tuan Winardi.


"Opa apa kabar?" tanya Mutia dengan sedih.


Padangan tuan Winardi beralih ke Mutia, meski telah pikun. Orang tua itu sangat mengenal suara Mutia.


Pandangan yang semula kosong, mulai ada binar di sudutnya begitu melihat Mutia.


"Opa, makan ya. Mutia bawa bubur ayam kesukaan opa loh" rayu Mutia supaya kakek itu mau makan.


Opa Winardi mengangguk lemah.


Sebastian menyerahkan sebungkus bubur ayam yang dibawanya kepada sang istri.


Sebastian membantu mendudukkan tuan Winardi, "Duduk ya Opa, biar makannya enak" seloroh Sebastian.


Dia pun mengangguk lemah.


Mutia mulai menyuapi Opa dengan perlahan. Tanpa disuruh Opa makan dengan lahap.


'Sebegitu besarnya pengaruh kedatangan Mutia bagi tuan Winardi. Sang istri memang belum tahu hubungan di antara keduanya. Seandainya sudah tahu alangkah bahagianya istrinya saat ini' batin Sebastian.


Mutia menyerahkan segelas air putih untuk minum.


"Opa, opa harus makan dong, biar selalu sehat. Biar Opa bisa ketemu cicit adiknya Langit. Kalau nggak mau makan nanti Mutia sedih loh" ulas Mutia.


Meski tanpa kata, melihat binar di sinar matanya sudah menunjukkan kebahagiaan.


Tuan Winardi mengangguk menanggapi ucapan Mutia.


"Maaf, sebelumnya Mutia lama tidak ke sini. Mutia abis masuk rumah sakit Opa?" cerita Mutia.


"Kenapa?" akhirnya ada suara dari bibir lelaki yang sudah termakan usia itu.


"Perdarahan Opa. Tapi nggak apa-apa, Mutia sudah dirawat oleh dokter Abraham" lanjut Mutia.


"Doakan Mutia dan janin di perut Mutia supaya sehat selalu ya Opa" pinta Mutia. Dan tuan Winardi mangangguk menanggapi.

__ADS_1


Mata sayu lelaki tua itu nampak menangkap sesuatu di tubuh Mutia.


Dia menangis tergugu melihatnya.


"Kau cucuku?" dengan lemah direngkuhnya tubuh Mutia.


"Opa ada apa? Kenapa menangis?" ucap Mutia membalas pelukan sang kakek.


Sebastian hanya menyaksikan kejadian mengharukan itu.


Sebelum berangkat tadi, dengan sedikit memaksa Sebastian menginginkan sang istri memakai liontin bermata biru itu.


Meski Mutia menanyakan apa alasannya, Sebastian hanya menjawab kalau dia mengidam agar sang istri memakai liontin itu. Dan Mutia akhirnya menuruti apa kemauan suami.


"Opa, kenapa malah menangis?" tanya ulang Mutia dengan heran.


"Kau cucuku yang kutunggu-tunggu" Opa Winardi semakin menangis.


"Apa maksud Opa?" Mutia memandang wajah sendu sang kakek.


"Apa kau putri Aminoto?" tanyanya penuh selidik. Kesan pikun tidak nampak sekali kali ini.


Mutia mengangguk.


"Opa, aku tak mengerti" tukas Mutia, yang saat ini belum paham keadaan yang sebenarnya.


.


"Boleh aku menjelaskan Opa?" sela Sebastian. Dan Opa Winardi mengangguk.


Tanpa diketahui Mutia, setelah kedatangan Dewa ke panti waktu itu. Sebastian datang untuk menemui tuan Winardi setelah merasa yakin kalau memang dia adalah kakek kandung Mutia.


Dengan berbekal liontin dan juga kisah tentang Mutia, Sebastian mencoba menemui tuan Winardi.


Tapi ternyata tak semudah itu untuk menemui tuan Winardi, dua kali penolakan diterima oleh Sebastian. Akhirnya usaha yang ketiga barulah Sebastian bisa menemui Opa Winardi.


Itupun Opa Winardi hanya memandang sebelah mata lelaki muda yang berada di depannya.


Barulah saat Sebastian menunjukkan sebuah liontin itu, Opa Winardi respek dan melihat Sebastian.


"Siapa kau?" selidiknya waktu itu.

__ADS_1


"Aku yang menikahi cucumu Opa" tegas Sebastian.


Melihat keseriusan Sebastian, hati Opa Winardi pun lilih.


Dia menceritakan sebuah kisah masa lalu yang sangat disesali olehnya.


"Sayang, kau sudah siap mendengar ceritanya?" Sebastian memandang sang istri. Mutia dengan penuh harap, siap mendengarkan penjelasan dari sang suami.


"Lekaslah sayang, apa benar Opa Winardi adalah kakek ku?" tanya Mutia dengan tak sabar.


"Begini sayang......" Sebastian mulai bercerita tentang masa muda kakek Winardi.


.


Tuan Baksono Winardi saat itu adalah seorang pengusaha sukses dengan istri bernama Sukma dan telah mempunyai seorang putra tampan bernama Aminoto Winardi.


Keluarga kecil itu hidup bahagia, sampai putra semata wayangnya berusia lima tahun.


Sukma sang istri meninggal saat melahirkan seorang putri. Tapi naasnya putrinya itu ikut meninggal bersamaan dengan sang istri.


Tuan Baksono Winardi beberapa tahun menyendiri, sibuk dengan pekerjaannya tanpa memperdulikan putra tunggal yang mulai beranjak remaja.


Aminoto kecil sangat dekat dengan seorang pengasuh yang bernama Rima. Dia tidak mau dengan siapapun selain dengannya.


Melihat kedekatan sang putra dengan sang pengasuh tanpa mau melihat kehadirannya membuat hati Tuan Baksono bersedih. Aminoto menjadi anak yang tantrum semenjak ditinggal oleh mama Sukma.


Tapi nasi telah menjadi bubur, penyesalan pun tiada guna.


Tuan Baksono pun akhirnya menikahi pengasuh yang bernama Rima itu atas permintaan sang putra. Rima yang ternyata seorang perempuan dengan satu putri, dan tidak ada sebuah ikatan perkawinan sebelumnya.


Meski tak ada cinta dalam hati tuan Baksono.


Semakin dewasa, ulah sang putra semakin menjadi dan tak terkendali sehingga diusirlah Aminoto dari keluarga Winardi.


Lambat laun, tuan Baksono baru menyadari ada yang salah dengan dirinya.


Dia mencoba mencari keberadaan sang putra, tapi selalu dihalangi oleh Rima.


Hingga suatu saat tuan Baksono mendengar sesuatu yang dikatakan oleh Rima kepada seseorang, yang membuat dunia tuan Baksono seakan runtuh.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


To be continued, happy reading


💝


__ADS_2