
Sebastian menyunggingkan senyum. Ternyata tak sesulit yang dia kira, untuk membuat Mutia resign dari perusahaannya sendiri...he...he...
"Smoga selalu sehat-sehat cicit Opa" Opa Winardi mengenggam erat Mutia. Binar mata bahagia nampak jelas di sana.
"Opa, kami pamit dulu. Jaga diri baik-baik" pesan Mutia. Wanita tegar itu beringsut dari duduk nya. Sebastian pun melakukan hal yang sama.
"Tian" panggil Opa.
"Iya Opa"
"Jaga cucu dan cicitku dengan baik. Aku titip mereka" nasehat Opa Winardi.
Mereka pun tak jadi pergi.
"Opa, tanpa kau minta pun aku akan menjaga istri dan anak-anakku. Mereka adalah jiwaku" ucap Sebastian.
"Aku percaya padamu" tukas Opa Winardi.
"Tian, akuisisi semua perusahaan yang kupunya. Meski sudah tak menguntungkan bagimu. Tapi hanya itu yang bisa kuberikan untuk cucu dan cicitku. Semoga aku bisa menengadahkan mukaku jika kelak aku bertemu dengan putraku di sana" ucap lirih Opa Winardi.
"Opa, kami semua sayang padamu. Semua telah berlalu. Kami memaafkanmu Opa" tangis Mutia pecah kembali mendengar apa yang diucapkan Opa nya.
"Setelah semua kau ambil alih, urusan Supranoto dan keluarganya selesaikan sekalian. Aku sudah muak melihat mereka wira-wiri ke sini" Opa Winardi memberi mandat.
"Baik Opa. Selepas ini mungkin asistenku Dewa yang akan sering ke sini. Untuk menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan. Boleh menemui pengacara Opa?" tanya Tian.
Opa Winardi memberikan sebuah kartu nama, "Hubungilah dia" pesan Opa.
"Baik Opa" tukas Sebastian.
.
"Sayang, langsung pulang atau ke rumah papa?" Sebastian menawari.
"Pasti kamu juga ingin ke sana kan, curhat dengan papa?" ledek Mutia.
"He...he...itu kau tau" Sebastian terkekeh.
Mutia menghela nafas panjang.
"Ada apa?" tanya Tian.
"Nggak nyangka aja, ternyata aku masih punya keluarga. Ayah pintar sekali menyimpan rahasia besarnya" helaan nafas Mutia.
"Itu namanya takdir sayang" Sebastian mengelus kepala sang istri.
Mutia terdiam.
Sampai di mansion papa, ternyata Langit sudah berada di sana bermain dengan Bintang.
"Apa kak Catherine sama Reno di sini?" tanya Sebastian yang melihat mobil sang kakak sudah terparkir di sana.
"Daddy...." panggil Langit dan menghambur ke pelukan Sebastian.
Sebastian pun begitu, menyambut hangat pelukan sang putra.
"Nggak kangen bunda nih?" celetuk Mutia.
"Kangen bun, tapi aku kasihan sama adik. Ntar kalau kegencet bagaimana?" tanya Langit dengan polos nya.
__ADS_1
"He...he...kan yang dipeluk bunda sayang. Sini peluk!" rajuk Mutia.
"Daddy aja yang pelukin bunda" utas Sebastian.
"Nggak ah, Langit aja. Daddy kan setiap malam sudah pelukin bunda" tolak Langit, membuat Sebastian dan Mutia saling pandang.
"Ayo masuk dulu" ajak Mutia mengurai pelukan sang putra.
"Nggak ah, aku mau main sama Bintang lagi" jawab Langit dan berlari meninggalkan kedua orang tuanya.
"Mutia, sini bentar!" panggil Catherine.
"Apaan sih kak? Belum juga duduk" seloroh Sebastian.
"Makanya istrimu biar duduk dekat aku" tukas kak Catherine.
"Mutia, aku barusan ada kabar dari Dena loh" kata Catherine penuh antusias.
"Loh?" Mutia bengong.
"Iya sayang, aku lupa kasih tau kamu. Soal planing yang kau buat dulu itu loh. Yang mau ngajakin kakak sama Reno kerjasama. Semua sudah direalisasikan sama Dena" Sebastian menjelaskan.
"Benarkah?" tukas Mutia tak percaya.
"Iya, beneran. Smoga tambah sukses ya" Catherine memeluk Mutia.
"Eh kak, bukan aku yang nerusin. Tapi itu asli Dena sendiri yang mau melanjutkan, dibantu suamiku ini mesthinya" Mutia terkekeh.
"Setelah mual muntah mereda, nggak tau kenapa bawaannya males aja dibuat kerja" imbuh Mutia.
"Biar adikku aja yang nyari cuan, tugasmu adalah menghabiskannya" canda Catherine.
Semua menengok ke arah Sebastian.
"Iya...beneran. Mutia Arini, istri Sebastian Putra sebenarnya adalah pewaris tunggal perusahaan tuan Baksono Winardi" ucap Sebastian seperti sedang membacakan pungumuman.
"Jangan omong kosong Tian" Reno masih tak percaya.
"Tanya aja istriku" jawabnya.
Sebastian menceritakan semua yang diketahuinya, tidak menambahi dan tidak mengurangi.
"Dan tadi, Opa Winardi juga menyuruhku untuk mengakuisisi semua perusahaannya Pah" ujar Sebastian.
"Beneran itu Mutia?" tanya tuan Baskoro.
Mutia mengangguk.
"Untuk menyelamatkan aset-aset tuan Winardi, sebaiknya kau selekasnya menemui pengacaranya Tian" saran tuan Baskoro.
"Harus secepat itu Pah?" Sebastian menggaruk kepala yang tak gatal.
Tuan Baskoro memukul lengan Sebastian yang kadang gurauanya tak tau tempat itu.
"Ih, sakit Pah" celetuknya.
"Makanya jadi orang jangan tulalit dong" ledek Reno.
Sebastian sewot.
__ADS_1
.
Ponsel Sebastian berdering, yang ternyata berasal dari Dewa.
"Halo Tuan, ijin melaporkan" sapa Dewa yang ternyata disampingnya juga ada Tania.
"Sudah seperti penyidik aja kau Wa...ha...ha...." kata Tian.
"Sayang, sini bentar kukenalkan pada temanku" panggil Sebastian ke arah Mutia yang masih ngobrol dengan mama Cathleen dan kak Catherine.
Mutia pun mendekat ke arah sang suami.
"Tania, kenalin. Ini istriku yang paling cantik sedunia. Mutia Arini" kata Tian.
"Hai" sapa Mutia.
Sementara Tania belum menyahut, tapi seperti mengingat-ingat sesuatu.
"Apa kau Mutia, dari SMA...." Tania menyebut sebuah nama sekolah yang memang Mutia pernah mengenyam pendidikan di sana.
"Iya" jawab Mutia belum tau arah pembicaraan Tania.
"Apa kau ingat gadis yang suka manjat pohon jambu di belakang sekolah?" tanya Tania lagi.
"Iya, kakak kelas dua tingkat diatasku. Yang selalu beralasan malas ngikutin pelajaran math" imbuh Mutia.
"Itu aku" ulas Tania.
"Jadi kakak itu kak Tania Fahira?" tanya Mutia tak percaya.
"Iyaaaaa..." kedua wanita bersorak tanpa memperdulikan kedua laki-laki di sampingnya.
Sebastian dan Dewa saling melotot dan nampak di layar masing-masing.
"Bentar...bentar...reuninya disambung kapan-kapan. Wa tadi kau nelpon aku tujuannya apa?" sela Sebastian. Gantian Tania dan Mutia yang manyun.
"Iya Tuan, coba tebak apa yang akan ku sampaikan?" kata Dewa.
"Nggak usah bertele-tele. Apa hasil sidangnya?" tandas Sebastian.
"Ternyata kau ingat saja bos" celetuk Dewa.
"Kita menang. Frans kena lima belas tahun, Bowo ada keringanan karena kooperatif selama persidangan. Begitupun adik Bowo" Tania melaporkan.
"Tian, kapan kau rayakan? Kau musti ngajak istrimu. Awas saja!" tegas Tania.
"Kapan kalian saling kenal?" sela Mutia.
"Waktu kuliah, nggak ada yang mau kenal sama cewek bar-bar seperti Tania kecuali aku dan Dewa...ha...ha...." tukas Sebastian.
"Eh, siapa bilang?" Tania bersungut.
"Sudah dulu ya...Bye" Sebastian mematikan sepihak panggilan telpon dari Dewa.
Tuan Baskoro dan semua yang di sana menatap Sebastian. Menunggu penjelasan selanjutnya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
__ADS_1
💝