
Wah, Mah banyak sekali bahan kuenya??? Beneran mama mau buka toko kue. Emang jatah dari papa masih kurang Mah?" cerocos Catherine.
"Duduk dulu Mutia" ucap mama Cathleen tanpa menghiraukan kicauan Catherine di pagi hari ini. Mama Cathleen menyenggol Catherine untuk menghentikan celotehnya yang tak bermanfaat itu.
"Sudah sarapan kalian berdua?" tanya Mama Cathleen. Mutia hanya mengangguk saja. Sementara Catherine telah mendapatkan cemilan yang dia dapat dari meja makan.
"Mba Ana ada nggak sih Mah, minuman hangat boleh dech" ujar Catherine. "Bukannya dia di dapur lagi berberes ya?" tukas mama Cathleen.
"Mba...mba Ana...." panggil Catherine setengah berteriak. "Ke dapur sana, kamu itu sudah menjadi mama masih aja bar-bar" suruh mama Cathleen ke Catherine. "Untung Reno masih punya stok sabar" lanjut mama Cathleen. "Karena bar-bar ku juga yang buat Reno jatuh cinta Mah" Catherine terkekeh dan menuju dapur mencari keberadaan mba Ana, asisten rumah tangga yang ikut di keluarga Baskoro dari Sebastian bayi. Bahkan akhirnya mba Ana menikah dengan pak Amin sopir tuan besar Baskoro.
Mba Ana yang dimaksud membawakan tiga cangkir teh hangat untuk para nyonya itu. "Silahkan nyonya...." ucap mba Ana ramah. "Ayo Mutia selagi hangat kita minum dulu" mama Cathleen mempersilahkan.
"Mama mau bikin kue apa sich? Sampai-sampai mengganggu jadwal Mutia" tanya Catherine to the point. "Haisssss....terserah mama dong" sahutnya. Mutia yang lebih banyak terdiam melihat interaksi keduanya. Andainya ibu masih ada, aku pasti akan membahagiakannya. Mutia menghela nafas panjang, terlihat gular kesedihan yang tak luput dari pandangan mama Cathleen.
"Mutia kok malah melamun?" tanya Mama Cathleen. "He..he...maaf nyonya. Melihat kalian aku jadi teringat mendiang ibu" ucap Mutia jujur. "Kalau begitu anggaplah aku sebagai mama mu mulai dari sekarang" tulus mama Cathleen. "Hah..????" Mutia mendongak menatap mama Cathleen. Terlihat senyum tulus dari mama Cathleen. "Mulai sekarang jangan panggil nyonya lagi, panggil mama saja" suruhnya.
__ADS_1
"Ini kok malah melow pagi-pagi. Kapan nih buat kue nya" sela Catherine. Mereka bertiga pun bergegas ke dapur. Masing-masing telah memakai apron, sudah seperti layaknya chef profesional. "Bentar Mah, Mutia...kita foto dulu. Mau kuunggah di sosmed...he..he..." Catherine mengambil ponsel mahalnya.."Hadech...kamu itu pencitraan saja Catherine" omel mama Cathleen. "Cheeessssss" ucap Catherine menekan kamera ponselnya. "Biasa Mah...unggah sosmed itu yang utama...ha..ha...." ujar Catherine tanpa menoleh dari layar ponsel. Bahkan Mutia ikut tertawa mendengarnya.
"Kak, emang pengikut kakak berapa?" tukas Mutia. "Nggak banyak kok, yang penting sudah centang biru..he...he..." ujar Catherine. "Sebenarnya gue cuma ngikutin Reno aja. Masak gue kalah sama dia. Reno tuh followernya banyak loh" lanjutnya.
"Wah, terima endorsement nggak kak kalian berdua???" tanya Mutia antusias. "Belum pernah, kita hanya iseng aja ngejalaninnya. Banyak sih yang nawarin, tapi Reno selalu menolaknya. Aku juga ngggak dibolehin sama dia" tutur Catherine.
Mutia menyiapkan semua bahan di meja, sambil menerangkan ke mama Cathleen. Di sela-sela proses pembelajaran itu terlintas ide kreatif di benak Mutia, "Kak, seumpama aku buat kue sehat buat diet kira-kira bagaimana ya? Seumpama diet untuk yang terkena diabetes atau yang lainnya" tanya serius Mutia. "Wah, bagus juga idemu Mutia. Sangat bermanfaat untuk yang berumur seperti mama dan papa" tukas Mama Cathleen. "Kebetulan aku dulu kuliah di kebidanan, sedikit banyak pernah belajar ilmu gizi...he...he...." Mutia tak sengaja menguraikan masa lalu nya.
"Kau itu seorang bidan???" tandas Catherine. "He...he...benar kak. Tapi mungkin ilmu kebidanan nya sudah menguap sekarang. Yang tertancap di sini hanya ilmu per kue an" Mutia tertawa lepas sambil menunjuk kepalanya.
Mutia beranjak dari duduknya karena mendengar oven yang telah berbunyi menandakan kue matang. Selanjutnya Mutia meminta mama Cathleen yang menghias kue. "Kalau jelek jangan diketawaian ya" ucapnya. Tapi belum pegang saja, Catherine sudah menertawakannya. "Pegangnya yang bener dong Mah...kayak Bintang aja" celetuk Catherine yang melihat mama Cathleen memegang peralatannya kebalik.
Mutia membenarkan pegangan mama Cathleen sambil membungkuk. Mata mama Cathleen tertumbuk ke arah liontin yang dipakai Mutia. Seperti pernah melihatnya, tapi di mana. Batin mama Cathleen. Mutia memanggil mama Cathleen yang sepertinya tertegun. "Eh iya Mutia. Maaf" ucapnya dan sekarang mulai mengikuti arahan Mutia.
Di kala ketiga nyonya sibuk dengan cara memperindah tampilan kue, Sebastian dan Dewa tengah sibuk dengan urusan pembebasan lahan di kota A.
__ADS_1
Sebastian sidak langsung ke area pembangunan. Ternyata di sana telah berkumpul warga yang menolak lahannya dipakai untuk pembangunan. Padahal perusahaan rekanan yang telah dipercaya Blue Sky telah menawar harga jauh di atas harga sewajarnya.
Sebastian ingin duduk bersama dengan mereka. Bukan jalan kekerasan yang ditempuhnya. Sebastian ingin mendengar aspirasi mereka. Tampak dua orang yang selalu menyela pembicaraan Sebastian. Sebastian pikir pasti dua orang ini provokatornya. "Maaf anda..dan anda....siapa namanya?" tanya Sebastian yang masih berusaha sabar menunjuk kedua orang yang sudah banyak bicara itu. Dengan ketus kedua orang itu menyebut namanya dengan bangga. "Ohhhhh...baik pak Agus dan pak Iwan. Bisa tunjukkan lahan kalian. Khusus untuk anda berdua akan aku pikirkan penawaran selanjutnya" ujar Sebastian basa basi karena sudah mengetahui bahwa mereka hanyalah makelar yang mengambil keuntungan dari pembebasan lahan warga. Mereka berdua nampak kebingungan. "Lekaslah, jangan membuang waktuku" tegas Sebastian mulai menunjukkan taringnya.
Agus dan Iwan telah dijaga oleh orang-orang Sebastian tanpa mereka berdua tau. "Maaf bapak-bapak sekalian, di sini saya ingin masalah ini segera selesai. Apa yang saya sampaikan tolong dengarkan baik-baik. Perusahaan rekanan saya yang ada di kota ini sudah menawarkan harga yang jauh lebih mahal daripada harga normal" Sebastian mulai berorasi. "Mana ada tuan, yang ada harganya di bawah rata-rata harga tanah di daerah ini" sela salah satu dari mereka. Bahkan mereka menyebutkan harga yang dimaksud. "Dewa selesaikan, aku sudah tau inti masalahnya" perintah Sebastian. Sementara Agus dan Iwan telah diringkus orang-orang Sebastian.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
***To be continued, happy reading
Bunga sepatu bunga matahari, kuacinya enak dimakan.
update telah hadir lagi, makasih atas atensi kalian
🥰🥰🥰🥰🥰***
__ADS_1