WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 105


__ADS_3

Mutia benar-benar merasa lemas karena morning sickness yang dialaminya.


"Sayang, ke rumah sakit aja ya?" Sebastian merasa kasihan karena apapun yang masuk selalu dimuntahkan oleh Mutia.


Sebastian sangat tau rasanya seperti apa, karena dulu pernah merasakan. Sewaktu Mutia hamil Langit. Di mana saat itu dokter pun juga bingung, dia menderita sakit apa. Jangankan dokter Sebastian saja juga tak memahami kondisi saat itu.


Mutia masih berada di kamar mandi. Saat Ssbastian menyusul, Mutia masih terduduk di atas toilet.


"Sayang ke rumah sakit aja ya?" Sebastian mengulangi lagi penawarannya dan kembali dijawab gelengan lemah sang istri.


Melihat penolakan sang istri rasanya, ingin membuatkan rumah saki saja. Pikir Sebastian. Apa sih yang nggak mungkin bagi CEO Blue Sky itu. Paling juga Dewa yang akan direpotkan olehnya.


Sebastian menggendong sang istri yang terkulai lemas itu. "Mulutku pahit sekali sayang" keluh Mutia dengan mata terpejam.


"Ya pasti, yang keluar aja tinggal cairan lambung begitu. Makanan sudah nggak tersisa sama sekali" imbuh Sebastian.


"Apa masih mual?" tanya Sebastian.


"Coba aku tahan biar nggak muntah lagi" ucap lirih Mutia.


"Apa bisa begitu?" tatap Sebastian. Mutia menggeleng.


"Rawat aja ya? Kamu sudah nggak bertenaga sama sekali itu lho" seloroh Sebastian.


Mutia terdiam. Sudah nggak bisa berpikir jernih lagi, merasakan badannya yang semakin lemas tak ada asupan kalori.


Kali ini Sebastian tak menunggu persetujuan sang istri.


"Tian...tian...." kebetulan mama Cathleen mengetuk pintu kamar. Bersamaan Sebastian hendak membawa sang istri ke rumah sakit.


"Iya Mah" Sebastian melangkah ke pintu.


"Mutia mana, tumben belum keluar kamar. Jangan kau kurung terus istrimu. Udara pagi bagus untuk ibu hamil" mama Cathleen sudah memberi wejangan ke sang putra pagi-pagi.


"Kamu juga, kenapa belum bersiap?" imbuh mama.


Sebastian hanya bereaksi dengan mengusap tengkuknya.


"Tian, ditanya kok diam saja sih" mama Cathleen mulai tak sabar.


"Tuh lihat sendiri bagaimana keadaan istriku" seloroh Sebastian.


Mama Cathleen pun masuk untuk melihat keadaan sang menantu.


"Loh, kok masih di sini sayang?" mama Cathleen menghampiri Mutia yang masih terbaring.


"Mual sekali Mah" jawab Mutia lirih tak bertenaga.


Sorot mata tajam mama Cathleen beralih lagi ke Sebastian.


"Apa, mau nyalahin kenapa nggak kubawa ke rumah sakit?" tandas Tian.


"Iya, sudah tau kondisi istrimu seperti itu" tatap tajam nya mama masih belum beralih.


Sebastian terdiam tak menyahut, apapun alasannya pasti tak akan diterima oleh mama nya.


"Aku yang nggak mau Mah" bela Mutia.


"Biasanya kalau dipakai baring nanti juga akan berkurang kok" Mutia menjawab dengan mata terpejam.

__ADS_1


"Sayang, kalau nggak kuat jangan dipaksakan. Sebaiknya dirawat aja" nasehat mama.


"Tian, kau panggil dokter Hana aja, dokter keluarga kita" usul mama Cathleen.


"Kalau nggak mau dirawat di rumah sakit, nanti Mutia biar dirawat dokter Hana" lanjut mama.


"Ke rumah sakit aja lah. Biar dapat perawatan komprehensif" tukas Sebastian.


"Kalau mau di rumah sakit, selekasnya aja berangkat" suruh Mama.


"Maunya begitu Mah, tapi mama malah pidato di sini" celetuk anak mama Cathleen itu.


"Huh, dasar!!" sarkas mama.


Sebastian memapah Mutia yang lemas diajaknya ke rumah sakit.


Kali ini Mutia diajak Sebastian di rumah sakit di mana Reno sang kakak ipar berada di sana. Apalagi prof. Abraham juga praktek di situ.


"Apa keluhan anda nyonya?" tanya ramah seorang perawat IGD.


"Istri saya hamil dan sekarang mual muntah" Sebastian yang menjawab.


"Baiklah tuan, saya konsulkan dokter jaga dulu" jawab perawat itu.


"Huh, lama amat penanganannya" gerutu Sebastian.


Reno yang baru datang menghampiri karena melihat Sebastian yang masih di IGD.


"Ngapain pagi-pagi ngapel di sini?"


"Hhmmm..." Sebastian hanya berdehem.


"Iya kak" lirih Mutia.


Dokter jaga baru datang menghampiri mereka.


"Loh ada dokter Reno" sapanya tak langsung memeriksa Mutia.


"Dok, konsulkan aja langsung ke prof. Abraham. Adik saya ini pasien beliau. Bilang aja hiperemesis" suruh dokter Reno.


"Baik dokter" dokter jaga undur diri.


.


Mutia telah dipindah ke ruang rawat inap VVIP di rumah sakit itu.


Mualnya sudah banyak berkurang daripada pas di mansion tadi.


"Sayang, nggak ke Blue Sky?" tanya Mutia dengan wajah segar daripada tadi pagi.


"Enggak. Dewa yang kusuruh ke sini" bilang Sebastian.


"Dena tolong suruh ke sini juga" pinta Mutia.


"Untuk?" tanya Tian.


"Ingin tau aja perkembangan perusahaan" tukas singkat Mutia.


"Istirahat aja sayang. Nanti biar kubantu Dena" seloroh Tian. Dia ingin istrinya tak terlalu memikirkan kerjaan.

__ADS_1


Mutia kembali tertidur saat perutnya mulai terasa nyaman. Karena obat-obatan yang telah dimasukkan di selang infus.


Dewa datang ke kamar di mana Mutia sedang dirawat di sana.


"Dewa, rescedule semua jadwalku dulu. Kalau memang tak bisa, kau wakili aku saja dulu" perintah Sebastian.


Tak lama kemudian Dena ikutan datang.


"Kak Mutia di mana tuan?" tanya Dena karena ruang perawatan Mutia berada di balik ruang tamu di mana mereka berada sekarang.


"Duduk sini aja dulu. Nyonya masih istirahat" jelas Dewa.


"Dena, apa ada yang tak ku tahu tentang istriku?" tanya Sebastian mengagetkan Dena.


"Maksud anda?" Dena menautkan alisnya.


"Tolong cerita awal kamu ketemu istriku" pinta Sebastian.


"Apa anda tidak mempercayai kak Mutia tuan?" selidik Dena.


"Bukan begitu. Ada alasan tersendiri kenapa aku menanyakan itu" tegas Sebastian.


"Cerita saja. Tidak mungkin juga tuan Sebastian akan melakukan hal jahat kepada nyonya" tandas Dewa, karena masih melihat keraguan di mata Dena.


Dena menghela nafas panjang mengingat masa-masa sulit Mutia melewati masa kehamilannya.


"Mungkin hanya saya dan bik Sumi lah saksi hidup perjuangan kak Mutia Tuan. Dari kehamilan sampai dengan kak Mutia sukses sekarang. Sungguh perjuangan yang tak mudah. Tapi saya ketemu kak Mutia saat hamil, jadi kisah sebelumnya saya tak tahu. Kak Mutia selalu menutup rapat masa kelam hidupnya" cerita Dena.


"Apa istriku pernah membahas tentang orang tua nya?" picing mata Sebastian ke arah Dena.


Dijawab gelengan oleh Dena.


"Sebaiknya tanyakan saja ke bik Sumi. Dulu bik Sumi tetangga satu desa dengan kak Mutia" seloroh Dena.


"Benar juga sih, kenapa aku nggak kepikiran dengan bik Sumi" ujar Sebastian menepuk jidat.


Dena minta ijin melihat sang kakak, dan disetujui oleh Sebastian. "Kalau masih tidur, jangan ganggu kakakmu Dena" Sebastian mengingatkan.


Kebetulan bik Sumi juga datang, karena telah diberitahu Dena sebelumnya.


"Selamat pagi Tuan" sapa sopan bik Sumi.


"Pagi bik" Sebastian mendongak karena sedang serius mengamati berkas-berkas yang di bawa Dewa.


"Kebetulan bik, duduk sini sebentar" tunjuk Sebastian ke kursi kosong di depannya.


Bik Sumi gemetar duluan, karena tak biasanya sang tuan menyuruhnya seperti itu. Apalagi tuan muda menatap tajam segala gerak-geriknya.


"Duduk bik" suruh ulang Sebastian.


"Ba...baik...Tuan" Bik Sumi bertambah gugup.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading


Kerang di lautan, rumput laut dibuat agar #Telah datang update-an, komen vote buat makin popular


πŸ’πŸ’πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2