
"Sa... Elsa..." seru sang nenek mengetuk pintu kamar Elsa. Elsa membuka pintu sembari mengucek mata nya yg bengkak.
"Apa, Nek?" tanya Elsa.
"Kamu belum makan dari tadi, nanti kamu sakit" ujar sang nenek.
"Aku tidak lapar" jawab Elsa dan ia berjalan masuk yg langsung di ekori sang nenek dari belakang.
"Jangan begitu, Sa. Makan dulu ya, Nak" bujuk sang nenek, Elsa mengangguk pelan karena sebenarnya ia juga merasa lapar.
Nenek nya pun langsung bergegas ke dapur mengambilkan makanan untuk Elsa.
Setelah itu, ia juga mengantarkan makanan nya ke kamar Elsa dan kali ini sang nenek datang bersama Isna.
"Sa, makan yg banyak ya. Kamu harus sehat dan bugar kalau mau menjadi model" bujuk sang ibu dan Elsa mengangguk.
Dengan susah payah ia berusaha menelan makanan yg baru saja di suapkan oleh nenek nya itu.
"Kamu harus kuat, Sa. Dan harus bisa menerima semua ini, bagaimana pun juga ini terjadi karena kamu sendiri"
"Berhenti menyalahkan Elsa, Bu" seru Isna tak suka "Arfan juga salah di sini, mereka sudah menjalin hubungan sangat lama dan semua orang tahu itu. Lalu tiba tiba Arfan malah mengucapkan akad dengan nama Elnaz"
"Karena Elnaz yg ada di samping nya, Is. Coba kamu bayangkan perasaan Arfan, di tinggal mempelai wanita nya di malam pernikahan nya, bukan cuma itu, dia malah menyuruh adik kandung nya berpura pura menjadi diri nya di pelaminan" tukas sang nenek yg memancing amarah Isna.
"Sudah sudah, ini memang salah ku" seru Elsa "Mau bagaimana lagi, nasi sudah jadi bubur"
.........
Setelah memeriksa pasien terkahir nya, Arfan bergegas pulang. Hari ini ia pulang lebih cepat, berusaha menghilangkan sikap pengecut nya seperti kata Liam.
Sesampainya dirumah, ia melihat orang tua nya yg sedang makan malam.
__ADS_1
"Dimana Elnaz?" tanya Arfan.
"Sudah makan tadi sore" jawab sang ibu ketus. Arfan pun tak menanggapi itu dan ia bergegas masuk ke dalam kamar nya.
Sementara Elnaz yg mendengar kedatangan Arfan langsung berpura pura tidur, ia meringkuk di tepi ranjang seperti malam sebelumnya.
Arfan pun kembali memindahkan nya ke tengah ranjang dan menyelimuti nya dengan benar.
Arfan membersihkan diri, melaksanakan sholat setelah itu ia juga merangkak naik ke atas ranjang membuat Elnaz panik.
"Apa dia akan tidur di ranjang?" batin nya memberontak tak terima. Arfan merebahkan diri nya di sisi Elnaz dengan setengah bersandar ke kepala ranjang.
Arfan memperhatikan wajah polos Elnaz lekat lekat sembari terus mengingat saran Liam. Konseling pernikahan, menjadi suami istri dengan Elnaz, mengarungi rumah tangga dengan Elnaz. Rasanya nya itu sangat sulit, status mereka, masa lalu mereka, keadaan dan kondisi mereka. Semua nya terasa begitu sulit.
Arfan kembali merangkak turun dari ranjang, mengambil bantal dan ia kembali bermalam di sofa. Elnaz yg menyadari itu bernafas lega, besok ia akan berbicara dengan Arfan. Berbicara dari hati ke hati dan meminta cerai dari nya. Elnaz tidak peduli apakah Arfan akan kembali pada Elsa atau tidak setelah itu. Tapi Elnaz takkan pernah bisa menjadi istri Arfan, istri pria yg sudah ia anggap kakak kandung nya sendiri.
.........
Elnaz sendiri juga ingin bicara, namun rupa nya ia masih belum punya cukup keberanian untuk itu. Elnaz masih tak sanggup berhadapan dengan Arfan yg berstatus sebagai suaminya sekarang. Rasa marah, kecewa, benci, masih menyelimuti hati nya.
Ponsel Arfan berdering, dan ia mengernyit bingung karena nenek nya yg menghubungi nya.
"Assalamualaikum" sapa Arfan.
"Fan, temui nenek di rumah sekarang" terdengar perintah tegas dari sang nenek.
Arfan melirik Elnaz yg juga melirik nya sekilas dan dengan cepat Elnaz memalingkan wajahnya.
"Iya" jawab Arfan dan ia pun bergegas pergi menemui sang nenek.
Setelah kepergian Arfan, Elnaz kembali bersedih. Sendirian lagi, kesepian lagi, dan sungguh tak ada yg peduli. Sampai kapan? Sampai kapan ia akan hidup seperti patung hidup di kamar Arfan?
__ADS_1
.........
Arfan masuk ke rumah sang nenek, dan disana nenek nya sudah menunggu.
"Ada apa, Nek?" tanya Arfan lembut.
"Nenek ingin berbicara berdua dengan mu" ujar sang nenek dengan raut yg tampak sedih.
"Bicara apa?" tanya Arfan dan ia duduk di depan nenek nya.
"Nenek sudah sangat tua, Fan. Ajal bisa menjemput nenek kapan pun dan dimana pun, nenek tidak punya apapun untuk di wariskan atau pun di wasiatkan. Terutama untuk mu, cucu pertama nenek dari anak pertama nenek" tutur sang nenek dengan suara lemah nya. Sementara Arfan masih setia mendengarkan.
"Tapi nenek punya satu satu warisan dan satu wasiat untuk mu, dan warisan nenek adalah Elnaz. Kamu telah mengambil nya secara paksa, Fan. Kamu menikahi nya tanpa berbicara dengan siapapun pun. Dia istri mu sekarang dan kamu bertanggung jawab penuh atas hidupnya.
Dan wasiat nenek, ceraikan Elnaz jika kamu tidak bisa menjadi suami yg baik untuk nya, jika kamu hanya bisa membuat nya menangis, bersedih, tidak pernah menganggap nya ada bahkan kamu... Kamu membiarkan nya kelaparan... " nenek tidak bisa menahan air mata nya mengucapkan setiap kata itu. Selama ini ia merawat Elnaz dengan sangat baik, di setiap sujud nya ia selalu memohonkan jodoh yg terbaik untuk Elnaz karena setelah menikah maka suami nya lah yg akan menjadi tempat bersandar Elnaz, panutan Elnaz. Tapi sekarang, Elnaz malah di nikahi dengan begitu tidak adil dan di perlakukan dengan lebih tidak adil lagi. Hal itu membuat nya begitu sedih.
Sementara Arfan, ia sangat terkejut mendengar ucapan nenek nya yg mengatakan ia membiarkan Elnaz kelaparan. Arfan memang telah membuat Elnaz bersedih dan menangis dan ia berusaha mengatasi itu sekarang. Tapi kelaparan? Arfan tak pernah berada di rumah sehingga tidak tahu apakah Elnaz sudah makan atau belum.
"Apa maksud, Nenek?" tanya Arfan dengan suara lirih.
"Di rumah kalian, Elnaz tidak pernah di anggap, bukan? Tidak ada satu pun yg mau berbicara dengan nya, memang apa salah cucu nenek, Fan? Dia tidak pernah meminta mu menikahi nya, tidak pernah menginginkan menjadi menantu orang tua mu. Tapi... Dia masih adik mu, Fan. Adik sepupu mu, setidak nya ingatlah hubungan darah itu jika kamu memang tidak menginginkan hubungan pernikahan. bagaimana bisa kamu membuat nya begitu menderita di rumah mu?" nenek berkata dengan suara bergetar. Tak sanggup ia membayangkan betapa menderita nya Elnaz di rumah Arfan.
"Orang tua nya tak pernah mengharapkan kelahiran nya, dan suami nya tak pernah mengharapkan ia menjadi istri nya, mertua yg juga om dan tante nya sendiri pun tak pernah mengharapkan kehadiran nya menjadi menantu di rumah mereka. Tapi apakah Elnaz mengharapkan dan menginginkan semua itu? Tidak, Fan. Tidak sama sekali" ucap nya sedih.
Sementara Arfan, ia terdiam membisu. Ini memang salah nya yg tidak pernah berbicara dengan Elnaz, berangkat pagi pulang malam. Seolah Elnaz tidak ada di sana. Dan Arfan juga tahu bagaimana perlakuan keluarga besar nya terhadap Elnaz sejak dulu, seharusnya Arfan sadar status nya sebagai istri Arfan sekarang akan membuat Elnaz semakin tidak di sukai semua orang.
"Ingatlah warisan dan wasiat nenek ini, Fan. Elnaz juga berhak bahagia, kasian gadis malang itu. Para tetangga membicarakan nya, menganggap nya perebut tunangan kakak nya, menganggapnya selingkuhan mu, menganggap nya aib keluarga"
Hati Arfan sesak mendengar itu semua, ia semakin merasa bersalah. Mata nya bahkan sudah terasa panas. Ia tahu betapa murni nya Elnaz, ia tahu betapa polos dan baik nya Elnaz.
"Aku..." baru saja Arfan berbicara, ia melihat Elsa yg datang, berjalan cepat menghampiri nya dan langsung bersimpuh di hadapan Arfan dengan berderai air mata.
__ADS_1