(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 59 - Garis Takdir


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Elnaz langsung menuju dapur untuk meletakkan barang barang belanjaan nya dan Elsa pun mengikuti nya dari belakang.


Di dapur, sudah tersedia mixer dan beberapa bahan untuk membuat kue.


"Arfan bekerja ya, El?" tanya Elsa sembari melihat lihat dapur Elnaz. Mendapatkan pertanyaan itu, Elnaz melirik Elsa sekilas dan hati nya berteriak kesal pada kakak nya itu.


"Dia libur, maka nya kami mau membuat kue" jawab Elnaz dingin namun ia menyunggingkan senyum palsu nya.


Karena sudah di rumah, Elnaz melepaskan jilbab nya dan seketika Elsa terdiam. Bukan karena apa, tapi karena melihat ada banyak bercak merah di leher Elnaz bahkan, bahkan yg di dada nya juga kelihatan karena Elnaz mengenakan daster yg memiliki potongan V di leher nya. Hal itu membuat hati Elsa terasa panas, nafas nya seperti tercekat di tenggorokan nya.


"Kak Elsa duduk saja di ruang tamu, oh ya mau minum apa?" tanya Elnaz yg tak menyadari bahwa Elsa sedang memperhatikan bekas karya suami nya itu semalam.


"A Air putih saja" jawab Elsa berusaha mengontrol perasaan nya. Saat Elnaz hendak mengambil gelas untuk kakak nya itu, Elnaz baru menyadari kiss mark yg ada di leher di dada nya. Elnaz melihat nya dari pantulan cermin di pintu lemari nya itu.


Elnaz dengan cepat menutupi leher dan dada nya dengan jilbab nya, kemudian ia mengambilkan air untuk Elsa.


"Ini..." Elnaz menyuguhkan segelas air itu dan Elsa pun langsung menerima nya dan Elsa berusaha mengalihkan pandangan nya dari Elnaz.


Arfan pun turun dari kamar nya saat ia mendengar suara Elnaz dari dapur.


"Sayang, sudah dapat semua bahan nya?" tanya Arfan sembari memasuki dapur dan ia tidak menyadari adanya Elsa. Arfan hanya mengenakan boxer dan kaos tanpa lengan, dan hal itu juga mengekspos kiss mark yg di buat Elnaz.


Mendengar suara Arfan, tentu Elsa langsung menoleh dan kedua nya pun berpapasan. Sekali lagi hati Elsa harus di buat panas saat melihat tanda cinta dari istri nya yg tertinggal di tubuh Arfan. Elnaz yg menyadari itu langsung membalik tubuh Arfan, membuat Arfan terkejut.


"Apa sih, Sayang? Kata nya mau buat kue?" tanya Arfan bingung saat Elnaz malah mendorong Arfan keluar dari dapur. Sementara Elsa hanya bisa terdiam membisu dengan dada yg benar benar sesak.


"Kak Arfan ganti baju gih, pakek kaos panjang, ya..." bujuk Elnaz setengah berbisik yg tentu saja membuat Arfan semakin bingung. Saat ini Elnaz masih mendorong Arfan berjalan sampai Arfan berhenti di ujung tangga.


"Tapi kenapa? Panas begini hari nya, Sayang. Biasa nya juga aku begini saja kan kalau ada di rumah" protes Arfan yg membuat Elnaz mendengus kesal

__ADS_1


"Iya, Sayang. El. Tahu..." seru Elnaz namun ia masih mengontrol nada bicara nya, tak ingin Elsa mendengar apa yg mereka bicarakan "Tapi kan sekarang ada Kak Elsa di rumah"


"Kamu ketemu dia dimana? Sudah bilang belum kalau Tante sama nenek nyariin?" tanya Arfan.


"Sudah, kata nya mau telpon ke rumah nanti. Sekarang Kak Arfan ganti baju dulu..." pinta Elnaz tak sabar.


"Lah, kenapa? Dia kan cuma kakak ipar, Sayang" protes Arfan penuh penekanan.


"Iya, tapi lihat ini..." Elnaz menunjuk bercek merah di dada Arfan dengan jemari nya, Arfan pun menunduk dan memperhatikan bercak itu dengan senyum sumringah di bibirnya.


"Iya, ini karya seni terindah seorang istri. Bagus kan?" goda Arfan.


"El..." seru Elsa tiba tiba dan Elnaz pun langsung menoleh, tak lupa ia juga mendorong Arfan supaya berbalik badan, memunggungi Elsa.


"Kenapa, Kak?" Elnaz sembari memegang pashimina nya yg menutupi leher dan dada nya.


"Aku mau pergi saja, seperti nya kedatangan ku mengganggu" ujar Elsa dengan suara memelas.


"Iya, aku juga ada beberapa pekerjaan yg harus aku lakukan. Jadi aku rasa aku memang harus pergi" ucap Elsa lagi.


"Oh begitu, ya sudah. Ayo, biar El antar ke depan" ajak nya dan Elsa pun mengangguk. Saat Elnaz dan Elsa melangkah keluar, Arfan langsung bergegas ke dapur tanpa berganti pakaian seperti perintah Elnaz.


"Kak, jangan lupa hubungi Mama sama Papa ya. Kasian mereka, mereka selalu memikirkan dan mengkhawatirkan Kak Elsa..." Elnaz mengingatkan dengan begitu tulus dan serius, karena bagaimana pun Elnaz sangat mencintai keluarga nya dan sangat tidak ingin melihat mereka bersedih.


"Iya" jawab Elsa lesu "Oh ya, El. Emmm apa kamu bahagia?" tanya Elsa ragu ragu namun Elnaz langsung mengangguk cepat sembari menyunggingkan senyum terbaik nya kemudian dengan percaya diri ia berkata.


"Alhamdulillah, El sangat bahagia sekarang, Kak" jawab nya tegas yg membuat Elsa tersenyum masam.


"Aku yg menderita, El..." ujar nya sedih yg membuat Elnaz juga merasa sedih sebenarnya "Aku kehilangan yg paling berharga dalam hidup ku, tapi aku senang melihat kalian senang" tukas nya seolah ia benar benar sudah mampu menerima semua nya.

__ADS_1


"Kak Elsa tidak menderita karena hal itu..." jawab Elnaz "Kak Elsa hanya belum bisa menerima apa yg sudah di gariskan oleh takdir dan Kak Elsa seolah ingin menulis takdir mu sendiri. Itu lah yg membuat seseorang menderita..."


"Kamu mengenal ku, El. Aku hanya ingin yg terbaik dalam hidup ku. Aku ingin karir yg terbaik dan juga pasangan yg terbaik..."


"El tahu, Kak. Tapi terkadang apa yg terbaik di mata kita, belum tentu itu terbaik mata Allah..."


"Tapi bukan nya manusia di wajibkan berusaha, El? Berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkan yg terbaik"


"Iya, tapi harus sesuai dengan porsi dan batasan nya, Kak. Karena terkadang ada yg nama nya garis takdir yg tak kan bisa di lampaui"


"Tapi bagi ku, semua nya bisa di lampaui dengan usaha..."


"Tentu tidak semua nya, Kak. Buktinya jodoh, Kak Arfan dan Kak Elsa saling menjaga selama ini, tapi takdir tidak menggariskan kalian berjodoh..."


Ucapan Elnaz itu seperti sejauh belati beracun yg menusuk tepat di dada Elsa, namun Elnaz yg mengatakan hal itu masih tersenyum tenang dan ia menatap Elsa dengan tenang pula.


"Kak Elsa, yg perlu di lakukan oleh orang yg tak mampu melampaui apa yg sudah di usahakan, adalah menerima dengan lapang dada. Karena hidup itu tidak bisa stuck di satu moment, Kak. Hidup itu harus bergerak maju. Dan tidak semua yg kita inginkan dalam hidup itu bisa terpenuhi, karena itulah kita harus belajar yg namanya sabar dan Ikhlas..."


Elsa kembali tersenyum masam mendengar ucapan sang adik yg seolah menggurui nya itu.


Ego nya terluka karena Elnaz yg notaban nya adalah adik nya itu telah menceramahi nya dengan banyak hal


"Aku pergi dulu, El..." ujar Elsa kemudian sembari memasuki mobil nya.


Setelah Elsa pergi, Elnaz hanya bisa menghela nafas panjang. Ia mengusap dada nya yg juga berdebar.


Elnaz kembali ke dalam dan ia langsung menuju dapur. Elnaz melihat dapur yg sudah berantakan dengan beberapa peralatan kue dan juga bahan bahan nya.


"Sayang, mixer dong. Gantian, lengan ku capek..." rengek Arfan yg saat ini sedang me mixer telur dan gula. Elnaz pun menggantikan suami nya itu dengan senang hati.

__ADS_1


Ya, itu juga Elnaz. Menerima apa yg sudah di gariskan oleh takdir. Awalnya tidak mudah menerima Arfan sebagai suami ku, tapi saat Elnaz berusaha menerima kenyataan itu, takdir itu, sekarang Arfan malah menjadi takdir terindah dalam hidup nya.


__ADS_2