(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 40 - Cemburu Nya Sang Istri


__ADS_3

Memadu kekasih semalaman membuat tenaga Arfan benar benar terkuras habis, sehingga kedua nya belum juga terbangun meskipun adzan subuh sudah berkumandang.


Elnaz masih meringkuk dengan begitu nyaman nya dalam pelukan Arfan, sementara Arfan pun masih mendekap istrinya dengan erat.


Namun ponsel Arfan yg berdering terus menerus membuat Arfan maupun Elnaz terganggu. Arfan langsung meraba ponsel nya dan menjawab panggilan itu dengan berbisik, ia juga mengusap kepala istri nya itu saat sang istri bergerak gelisah, perlahan Elnaz kembali terlelap dan itu membuat Arfan tersenyum.


"Halo...." bisik Arfan setelahh menjawab nya panggilan telpon nya.


"Dr. Arfan, ini urgent, Dok. Pasien yg bernama Pak Hutomo yg anda operasi kemarin mengalami pendarahan..." terdengar suara panik seorang suster dari telpon nya. Mendengar itu Arfan sangat terkejut dan ia langsung beranjak bangkit dari ranjang nya.


"Minta Dokter yg lain nya menangani nya lebih dulu, aku akan sampai dalam waktu lima belas menit" seru Arfan kemudian sembari mengambil pakaian bersih nya di lemari.


"Baik, Dokter..." jawab suster itu. Arfan pun segera berpakaian dengan lengkap dan saat itu terdapat pesan yg masuk, Arfan membuka nya namun ia tak senpat membaca nya. Karena Arfan melihat Elnaz yg kembali bergerak gelisah saat selimut nya melorot dari tubuh polos nya itu. Arfan meletakkan ponsel nya di meja dan ia menarik selimut Elnaz, merapikan rambut Elnaz yg berantakan dan menutupi sebagian kening nya.


Arfan ingin sekali membangunkan istri nya dan berpamitan, namun ia melihat istri nya itu tampak kembali nyenyak. Selain itu Arfan tahu Elnaz pasti sangat lelah karena apa yg sudah mereka lakukan dalam malam panjang mereka, mengingat kejadian semalam membuat pipi Arfan bersemu dan bibir nya tersenyum.


Arfan mencium kening Elnaz mesra "Aku pergi dulu, Sayang. I love you, my wife" bisik Arfan di telinga istri nya itu dan ia pun sekali lagi mencium bibir Elnaz dan menghirup aroma manis istrinya.


Setelah itu Arfan pun keluar kamar dan membuka pintu dengan pelan, menutup nya kembali juga dengan pelan agar tak mengganggu sang istri.


Arfan langsung meluncur ke rumah sakit dengan kecepatan penuh. Kemarin pagi ia melakukan operasi pada seorang pria yg mengalami kecelakaan, pria itu mengalami luka yg sangat parah di bagian kepala nya.


Sesampai nya di rumah sakit, Arfan langsung bergegas ke ruang operasi karena pasien nya itu harus di operasi lagi.


....


Di rumah, Elnaz menggeliat malas saat merasakan sinar mentari menerpa wajah dari sela sela horden kamar nya. Ia berusaha duduk dan ia mengerang lirih saat merasakan seluruh tubuh nya yg pegal pegal, Elnaz menoleh dan tak mendapati Arfan di samping nya. Elnaz melihat lemari pakaian Arfan yg terbuka, Elnaz hanya bisa menghela nafas panjang. Ini bukan pertama kalinya Arfan pergi di pagi pagi buta begini, karena itulah Elnaz mengatakan menjadi istri seorang Dokter harus ekstra sabar dan mengerti suaminya.

__ADS_1


Elnaz menarik kaos Arfan yg tergeletak di lantai kemudian mengenakan nya untuk menutupi tubuh polos nya, setelah itu Elnaz pun turun dari ranjang nya dan seketika ia mengerang saat merasakan perih dan sakit di bagian bawah nya.


Mengingat kejadian semalam membuat wajah Elnaz tersipu, ia benar benar tak menyangka akhir nya diri nya dan Arfan melakukan sesuatu yg tak pernah terbayangkan sedikitpun. Dan Elnaz berharap setelah ini ikatan nya dengan Arfan semakin kuat, karena Elnaz telah menyerahkan yg paling berharga untuk suaminya itu.


Elnaz berusaha berjalan menuju kamar mandi untuk mandi wajib, melihat kamar mandi yg masih kering dan rapi Elnaz merasa Arfan pergi tanpa mandi wajib terlebih dahulu.


"Berarti memang urgent..." gumam Elnaz. Ia pun menyalakan shower dan mengatur nya pada suhu hangat.


Setelah selesai mandi, Elnaz melaksanakan sholat subuh dan menyempatkan diri membaca Al Qur'an seperti biasa.


Setelah itu ia pun bergegas memungut pakaian nya dan pakaian Arfan yg berserakan di lantai sembari ia memikirkan akan membuat sarapan apa pagi ini?


"Apa aku anterin makanan saja ya ke rumah sakit pagi ini? Buat Kak Arfan sarapan..." gumam Elnaz sembari membuka horden dan jendela kamar nya, seketika udara sejuk terasa di kulit Elnaz yg hanya mengenakan kaos dan celana rumahan


Kemudian Elnaz melepaskan seprei yg kotor karena ada noda darah nya di sana, Elnaz mengganti nya dengan seprei dan bad cover yg baru.


"Kenapa bisa ketinggalan?" Elnaz kembali menggumam. Iseng, Elnaz mencoba menyalakan ponsel suaminya itu yg ternyata itu tidak di kunci.


Elnaz seketika tercengang saat layar ponsel suaminya itu menampilkan sebuah pesan dari mantan tunangan suaminya, pesan itu juga di lampirkan sebuah foto Arfan dan Elsa yg sepertinya di kamar hotel.


Hati Elnaz terasa begitu sesak dan air mata seketika mengalir bebas tanpa bisa ia bendung apa lagi saat membaca pesan itu.


Elsa


"Aku sangat merindukanmu, Arfan. Merindukan saat saat bersama mu di kota ini, apa kau ingat hotel ini? Dulu kita bermimpi akan membawa seluruh keluarga kita liburan dan menginap di hotel ini.


Saat ini aku sedang berada di hotel yg sama, aku kembali menginap di sini, untuk mengenang mu. Dan aku akan melakukan pemotretan nanti siang, pemotretan nya di kolam renang. Di kolam dulu tempat kita berenang dan aku hampir tenggelam, kemudian kamu menolong ku dengan mempertaruhkan nyawa mu. Apa kau bisa datang ke sini? Karena aku benar benar sangat merindukan mu"

__ADS_1


Elnaz menggenggam ponsel itu dengan begitu erat, air mata semakin berderai hebat. Kemudian Elnaz berjalan keluar dari kamar nya dengan lunglai, dengan perasaan yg hancur. Di rumah, Elnaz memikirkan akan membuatkan sarapan apa untuk suami nya, tapi di luar sana apa yg suaminya lakukan? Memikirkan hal itu membuat hati Elnaz semakin sesak dan sakit. Baru semalam ia merasakan sebuah kebahagiaan yg tak bisa ia ungkapkan dengan kata kata, dan sekarang ia merasakan sakit yg juga tak bisa ia ungkapan dengan kata kata.


Elnaz berjalan menuruni tangga masih dengan menggenggam ponsel Arfan, dan akhirnya tangis nya pun pecah. Ia tak mampu lagi membendung rasa sakit nya.


"Kak Arfan jahat..."


"AHHH aku benci Kak Arfan..."


"Dasar pembohong!!!... "


Elnaz terus berteriak mengeluarkan kemarahan dan sesak dalam hatinya, kemudian ia pun langsung melempar ponsel Arfan tak perduli apakah ponsel itu akan rusak atau tidak.


Elnaz menjatuhkan diri nya di lantai dan ia menangis tersedu sedu di sana, bahkan seluruh tubuh Elnaz sampai bergetar dan ia hanya bisa memeluk lutut nya.


Elnaz terus menangis hingga ia merasa lelah dan air mata nya berhenti mengalir dengan sendirinya.


Perlahan tangisan Elnaz mereda, ia berusaha menghentikan sesegukan nya dan berusaha berdiri. Namun tiba tiba saja kaki nya terasa lemas. Elnaz mengusap pipi nya yg basah karena air mata.


Elnaz melangkah gontai di rumah itu, dan ia melihat sebuah vas bunga di sana. Dengan marah Elnaz menjatuhkan vas bunga itu hingga vas itu pecah dan berserakan.


"Ini rumah kalian kan... " desis Elnaz dan ia kembali mengambil vas bunga yg ada meja ruang tengah, Elnaz melempar nya dengan marah hingga vas itu hancur berkeping keping. Seperti perasaan nya saat ini, yg sudah di hancurkan dengan begitu kejam nya oleh Arfan setelah Arfan berhasil mengambil mahkota nya.


"Lihat saja bagaimana aku menghancurkan rumah kalian..." ucap Elnaz dan ia benar benar mengacak ngacak rumah itu hingga sangat berantakan. Semua vas bunga nya pecah berserakan, Elnaz mengambil pencahan vas itu dan merobek sofa dengan marah. Elnaz sudah seperti wanita kesurupan yg sangat marah.


"Agh..." erang nya saat tanpa sengaja ia menggenggam pecahan vas itu dengan begitu kuat dan itu membuat tangan nya terluka, darah segar langsung menetes dari tangan nya.


Seketika Elnaz merasa pusing melihat darah itu, namun Elnaz menahan nya dan berusaha berdiri. Ia melemparkan asal pecahan vas itu yg terkena darah nya.

__ADS_1


Elnaz kembali melangkah dan ia kembali mengerang saat kaki telanjang nya menginjak pecahan vas itu dan sudah pasti membuat kaki nya terluka dan berdarah. Elnaz tak perduli, yg ia inginkan sekarang adalah pergi dari rumah itu. Elnaz melangkah keluar dan meninggalkan jejak kaki nya yg berdarah.


__ADS_2