
Elnaz melirik Robin dari kaca spion mobil nya, Robin menggunakan sepeda motor dan ia tampak sangat kesal.
Kemudian Elnaz melirik Arfan yg diam saja semenjak keluar dari rumah itu dan Arfan tampak kesal, ia menutup bibir nya rapat rapat dan memasang wajah dingin. Arfan seperti sedang memendam sesuatu yg sangat menjengkelkan sekarang.
"Kak Arfan..." Elnaz menyentuh lengan suami nya itu dan seketika Arfan menghembuskan nafas kasar nya.
"Berani sekali pria tua itu memperhatikan badan mu, El..." geram Arfan tiba tiba yg membuat Elnaz meringis.
Sekarang ia tahu apa penyebab suami tampan nya itu memasang wajah dingin.
"Dan apa dia bilang? Wajah mu sangat menjual? Kamu terlihat seksi saat tersenyum?" Arfan berkata dengan sangat kesal dan penuh penekanan.
"Seperti nya aku yg akan menjual lidah nya itu dengan harga murah"
"Kak Arfan ngeri deh..." ujar Elnaz sambil terkekeh, walaupun harus ia akui ia juga benar benar risih dengan apa yg di katakan Pak Andrew itu.
"Bagaiamana aku tidak marah, Sayang? Dia berani memperhatikan tubuh mu dan memuji mu terang terangan di depan suami mu? Suami mana yg terima? Tidak ada..." seru Arfan lagi.
"Ya El juga kesal, Sayang. Tapi sudah lah, toh kita sudah pulang juga kan?"
"Lain kali, jangan pernah penuhi lagi undangan Elsa, apa pun itu" tegas Arfan tanpa bisa di bantah. Arfan benar benar kesal berada di sana tadi, apa lagi dengan kelakuan Pak Andrew itu.
"Iya, El akan menolak nya kalau Kak Elsa mengundang kita lagi" jawab Elnaz.
"Oh ya, teman mu yg sok dekat sama kamu itu orang kaya?" tanya Arfan dan kini tampak nya emosi nya sudah sedikit menurun. Mendengar kata sok dekat itu membuat Elnaz terkekeh geli, entah kenapa suami nya itu sensitif sekali pada Robin.
"Robin?" tanya Elnaz dan Arfan menganggukan kepala nya sambil bergumam.
"El juga tidak tahu, Kak. Tapi kalau memang Robin anak nya pria itu, masak iya Robin bekerja di supermarket dan kuliah nya juga di tempat biasa. Kalau di lihat dari rumah nya sih, kaya sekali Robin itu" tukas Elnaz.
"Hem, mungkin mereka punya masalah pribadi kalau di lihat dari cara memandang mereka tadi" ujar Arfan lagi.
__ADS_1
Elnaz kembali mengingat kejadian tadi, Elnaz benar benar merasa sedih, kesal tapi juga kasihan pada Elsa. Ingin rasa nya Elnaz mengadukan hal itu pada Papa nya supaya Elsa pulang dan tidak melakukan hal yg tidak tidak, tapi Elnaz juga takut nanti Elsa malah marah dan menganggap Elnaz ikut campur dalam hidup nya.
"Kenapa melamun, Sayang?" tanya Arfan yg masih fokus menyetir namun sesekali ia melirik istri nya itu.
"Lagi mikirin Kak Elsa, Kak..." jawab Elnaz lirih.
"Memang nya dia kenapa? Dia baik baik saja, terlihat bahagia, apa lagi yg kamu fikirkan, Sayang?"
"El takut nanti Kak Elsa terjerumus ke pergaulan yang tidak baik"
"Kakak mu itu sudah dewasa, El. Keras kepala juga, semua orang sudah menasehati dia kan? Tapi dia tetap keras kepala dan tidak perduli dengan pendapat orang lain" tukas Arfan.
"Iya juga sih, Kak" gumam Elnaz. Sekali lagi ia melirik Robin dan Elnaz tidak melihat Robin di belakang nya.
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah, Elnaz langsung membuka pintu dengan kunci yg ia bawa dan Arfan pun mengikuti nya.
"Sayang, aku lapar. Kamu lapar tidak?" tanya Arfan.
"Pesan pizza saja yuk, sudah lama kita tidak makan pizza" ajak Arfan.
"Boleh, yg jumbo ya, sekalian sama minuman nya" pinta Elnaz antusias yg membuat Arfan terkekeh.
"Iya iya, seperti nya mulai sekarang aku harus memberimu makan yg banyak, biar gendut dan tidak di lirik laki laki" ucap Arfan yg mengikuti Elnaz tertawa.
"Iya, terus nanti Kak Arfan malah liatin cewek lain yg seksi. Huh..." gerutu Elnaz.
"Tidak akan" balas Arfan.
...
Andy dan Bu Kinar sedang makan malam di rumah, begitu juga Om Andy yg bernama Om Hardi itu. Andy dan Om Hardy membicarakan kuliah Andy Sementara Bu Kinar malah sibuk dengan ponsel nya.
__ADS_1
"Kin, coba kalau makan itu taruh dulu hp nya" seru Om Hardy pada adik perempuan nya itu.
"Iya, Mas. Lagi asyik nih, baca gosip terbaru" jawab Bu Kinar yg membuat Andy mendengus dengan kelakuan Mama nya itu.
"Ih, Elsa ini lama lama makin terkenal ya" ujar Bu Kinar lagi.
"Elsa siapa?" tanya Om Hardi.
"Elsa kakak nya Elnaz teman Andy itu, Mas. Sekarang dia jadi model, wah, cantik ya" puji nya sambil memandangi foto foto Elsa yg sudah tersebar dimana mana itu.
"Mama seperti nya akan jadi penggemar berat nya Elsa" ujar Andy.
"Pasti dong, Ndy. Mama kan juga ikut bangga kalau ada orang yg sukses dari kampung kita" jawab Bu Kinar.
"Iya, betul itu" Sambung Om Hardi.
.........
Sementara itu, Elsa kembali mabuk di pesta nya Pak Andrew. Apalagi setiap kali mengingat Arfan dan Elnaz, membuat darah Elsa seperti mendidih.
Lagi lagi Jimmy harus membawa Elsa pulang dalam keadaan mabuk.
"Fan..." rengek Elsa pada Jimmy, ia bahkan bergelanyut manja di lengan Jimmy yg sibuk menyetir.
"Fan, aku merindukanmu..." racau Elsa lagi dan ia semakin bergelanyut di lengan Jimmy, bahkan membawa tangan Jimmy ke dada nya yg tentu membuat Jimmy langsung belingsatan saat merasakan benda Kenyal itu.
"Aku juga merindukan mu..." bisik Jimmy di telinga Elsa, membuat tubuh Elsa meremang dan darah nya berdesir karena merasakan hembusan nafas hangat Jimmy. Elsa tersenyum dan menyenderkan kepalanya di pundak Jimmy, mengelus dada Jimmy dengan jari jari lentuk nya.
Jimmy memutar arah, ia tak membawa Elsa pulang ke apartemen Olga seperti biasa.
Jimmy mempercepat laju mobil nya hingga ia sampai di gedung apartemen tempat ia tinggal.
__ADS_1
Jimmy menggendong Elsa dan membawa nya ke kamarnya, tubuh molek Elsa yg hanya di balut gaun di atas lutut nya itu membuat Jimmy harus menelan air liur nya. Apa lagi saat Elsa bergerak tidak karuan di ranjang nya, membuat nafas Jimmy memburu dan ia sangat tidak sabar untuk merasakan panas nya tubuh Elsa. Sementara Elsa yg tidak sadar dimana diri nya sekarang hanya bisa meracau tidak jelas, bahkan saat Jimmy mulai melicuti pakaian mereka berdua, Elsa hanya diam saja dan ia malah mengira pria yg hendak menggagahi nya ini adalah Arfan. Sehingga Elsa tidak melakukan penolakan sedikit pun saat Jimmy menggerayangi tubuh nya dan merenggut mahkota nya.