
Keesokan harinya, Elnaz turun dari kamarnya dan memasak seperti biasa, sementara Arfan masih tertidur di kamarnya.
Saat Elnaz sedang memasak, Elsa keluar dari kamar nya dan ia menghampiri Elnaz yg ada di dapur.
Elsa sudah terlihat tampak rapi dan seperti nya siap pergi, Elnaz hanya melirik kakak nya sekilas dan dia enggan menyapa nya, Elnaz menunujukan sikap dingin nya pada sang kakak.
"Ehem ehem..." Elsa berdeham untuk menarik perhatian Elnaz namun nyata nya sang adik malah sibuk mencuci ayam.
"El..." panggil Elsa kemudian.
"Hm" respon Elnaz masih sibuk dengan aktifitas nya, Elsa bisa mengerti sikap dingin Elnaz, itu pasti karena ia tidak menyukai keberadaan Elsa di rumah itu. Elsa pun juga memasang wajah datar nya dan meletakkan jaket Arfan di kursi
"Aku sudah mau pergi, aku cuma mau mengembalikan jaket Arfan...." ucap Elsa tak kalah dingin nya.
Elnaz langsung menoleh dan ia melihat Elsa menggantungkan jaket Arfan di kursi, tanpa fikir panjang Elnaz mengambil jaket itu dan melempar nya ke tempat sampah. Membuat Elsa langsung terbelalak.
Arfan yg hendak menyusul istri nya ke dapur juga melihat saat Elnaz melempar jaket nya ke tempat sampah, Arfan hanya bisa melongo dengan mata yg terbuka lebar.
"El, kenapa di buang? Itu punya Arfan..." seru Elsa tersinggung dan kesal.
"Sudah usang..." jawab Elnaz dingin yg tentu membuat Elsa semakin terbelalak.
Arfan yg mendengar itu hanya bisa meringis, seperti nya kecemburuan sang istri sudah kambuh lagi. Mengingat terkahir kali bagaimana Elnaz cemburu, seharusnya Arfan tidak terkejut hanya dengan jaket yg melayang ke tempat sampah.
"Selamat pagi, Sayang..." sapa Arfan kemudian bergegas menghampiri Elnaz dan mengecup pipi nya, Elnaz tak merespon dan malah kembali sibuk dengan pekerjaan nya.
Arfan pun membantu seperti biasa, sekali lagi membuat hati Elsa terbakar cemburu.
"Fan, jaket nya sudah aku kembalikan ke Elnaz, terima kasih sudah meminjamkan nya..." ucap Elsa setengah menyindir Elnaz namun nyata nya Elnaz kembali mengacuhkan nya.
__ADS_1
"Oh ya..." respon Arfan sembari melirik sang istri "Dimana jaket nya, Sayang?" tanya nya sembari menyenggol Elnaz dengan pundak nya.
"Di tempat yg seharusnya..." jawab Elnaz dengan tanpa rasa bersalah nya sedikitpun. Arfan hanya bisa menahan senyum geli melihat ekspresi dingin Elnaz.
Sekarang ia tahu dengan pasti, istrinya itu sangat cemburuan rupanya bahkan hanya karena masalah kecil begini. Tidak heran saat itu Elnaz sampai menghancurkan rumah saat mengira Arfan menemui Elsa.
"Hm, terima kasih kalau begitu..." ucap Arfan dan sekali lagi ia mengecup Elnaz, membuat Elnaz langsung melirik sang suami "Sebagai ucapan terima kasih" ujar Arfan kemudian sambil tersendiri jahil.
Elsa yg merasa jengah dengan kelakuan adik dan mantan tunangan nya itu hanya bisa mendengus dan ia bergegas ke kamar nya, mengambil koper nya setelah itu ia kembali ke dapur.
"Aku mau ke Bandara..." ujar Elsa pada kedua nya.
"Mau aku antar?" tawar Elnaz, Elsa hanya menatap adik nya itu kemudian ia mengalihkan tatapan nya pada Arfan.
"Aku tidak mau mati kecelakaan karena sopir yg belum pandai menyetir..." Elsa berkata pada Arfan.
Arfan pun tak bisa berkata apa apa dan ia membiarkan nya saja, karena Arfan takut Elnaz kembali mengamuk seperti dulu. Selain itu, Arfan juga tak mau jika Elsa terus berharap pada nya, mengingat apa yg di katakan Elsa tadi malam membuat Arfan menyadari bahwa tunangan nya itu tidak akan melupakan nya begitu saja dan mungkin akan terus berharap pada nya.
Elnaz dan Arfan kembali memasak sembari menunggu taksi Elsa datang, sementara Elsa hanya hanya diam dan memperhatikan gerak gerik suami istri itu.
Arfan menggoda istrinya yg masih menampilkan ekspresi dingin nya itu, bahkan saat memotong ayam, Arfan tiba tiba pura pura terluka dan mengerang sakit. Membuat Elnaz terkejut
"Kenapa?" tanya Elnaz.
"Kepotong..." rengek Arfan memasang wajah memelas nya, Elnaz pun langsung menarik tangan Arfan dan ia mendengus saat melihat tangan Arfan yg baik biak saja.
Tak lama kemudian telpon Elnaz berdering dan ternyata taksi nya yg sudah datang.
"Taksi nya di depan..." ujar Elnaz kemudian ia mencuci tangan nya "Ayo..." Elnaz menarik tangan Elsa dan Elsa pun langsung menarik koper nya.
__ADS_1
Elnaz bahkan membukakan pintu untuk Elsa dan mempersilahkan Elsa masuk.
"Pak, tolong antarkan kakak saya ke bandara ya, tolong hati hati..." pinta Elnaz pada sopir taksi itu yg membuat Elsa mendelik kesal namun ia hanya diam dan membuang muka.
"Hati hati, Kak Elsa. Titip salam buat orang rumah..." ucap Elnaz datar yg semakin membuat Elsa kesal.
Setelah taksi bergegas pergi, Elnaz kembali ke dalam dan ia melihat Arfan yg sudah hampir menyelesaikan masakan nya.
Elnaz pun membantu Arfan dan ia juga membersihkan dapur, setelah itu kedua nya menata makanan di meja dan memulai sarapan dalam diam.
Sesekali Arfan mencuri curi pandang pada Elnaz yg menunduk khusyuk pada makanan nya dan tak sedikitpun melihat Arfan apa lagi berbicara pada Arfan.
"Sayang, sudah dong bersikap dingin nya..." bujuk Arfan namun Elnaz hanya melirik nya sekilas, kemudian kembali menunduk pada makanan nya.
"Kamu marah?" tanya Arfan lagi dan Elnaz menggeleng.
"Terus kenapa?" tanya Arfan merengek.
"Tidak apa apa..." jawab Elnaz kemudian meneguk air dari gelas nya.
"Wanita memang begitu, selalu bilang tidak apa apa tapi ekspresi nya mengatakan hal yg lain, saat pria nya tidak mengerti, dia akan bilang pria nya itu tidak peka" gerutu Arfan dan ia menarik gelas Elnaz, meminum dari sudut Elnaz meminum nya.
"Kan sudah pergi, El..." rengek Arfan lagi karena Elnaz masih tak menanggapi, Elnaz membawa piring kotor nya ke wastafel dan mencuci nya, Arfan menyusul dan bergelenyut manja di pundak sang istri.
"Dek, sudah dong marah nya, pagi ini aku belum dapat ciuman selamat pagi lho..." protes Arfan manja.
"Sayang..." Arfan menoel noel pipi Elnaz, bahkan saat Elnaz membereskan meja makan, Arfan masih menempeli Elnaz seperti anak tuyul saja dan terus bergelenyut manja.
........
__ADS_1