
"Aku butuh pengertian mu akan posisi ku, aku butuh kepekaan mu akan perasaan ku, aku butuh dukungan mu dalam setiap langkah ku, aku butuh menjadi prioritas utama dalam hidup mu. Kata kan lah aku egois, tapi aku tidak perduli, sekali saja, biarkan aku egois, Arfan. Karena aku sangat mencintaimu, aku takut kehilangan mu, aku takut ada yg mengambil mu, aku takut kamu berpaling, aku takut ada yg lebih penting dari ku dalam hidup mu, aku takut aku bukan prioritas utama mu, aku takut kamu tidak perduli dengan perasaan ku, aku takut, sangat takut.... "
Arfan terenyuh mendengar ungkapan hati Elnaz apa lagi saat melihat mata Elnaz kembali berkaca kaca dan suara Elnaz bergetar, entah berapa banyak ketakutan yg ada dalam hati istrinya itu namun Arfan bisa mengerti itu. Bayang bayang kisah cinta Arfan dan Elnaz pasti masih melekat dengan begitu sempurna dalam hati Elnaz, belum lagi Elnaz yg memang kekurangan kasih sayang sejak kecil. Membuat Elnaz pasti selalu merasa insecure.
"Mama sama Papa lebih mencintai Kak Elsa..." lanjut Elnaz dengan suara yg semakin bergetar dan pelupuk mata nya tak mampu lagi membendung air mata yg sejak tadi ia tahan "Dia sempurna, karena itulah semua orang mencintai nya, mungkin juga kamu...." Elnaz menghapus air matanya yg mengalir di sudut mata nya hingga membasahi seprei nya, Elnaz seolah tak sanggup bersuara lagi. Sementara Arfan masih setia mendengarkan dan menatap sang istri
"Kamu pasti masih sangat mencintai nya kan?" lirih Elnaz dengan suara tercekat dan Arfan langsung menggeleng, menolak tegas tuduhan itu.
"Elnaz...." lirih Arfan dan ia masih berada di atas tubuh Elnaz, tak bergeser sedikitpun "aku tidak tahu bagaimana cara nya membuat mu percaya tentang perasaan ku, tapi aku lah pemilik perasaan ini, Sayang. Dan aku tahu, perasaan ini sekarang untuk mu, milik mu. Entah sejak kapan, bagaimana dan kenapa, aku tidak tahu. Yg aku tahu..." Arfan membawa tangan Elnaz menyentuh dada nya, dimana disana detak jantung Arfan berdebar hebat.
"Jantung ku selalu berdebar hebat setiap kali aku bersamamu ataupun memikirkan mu, saat aku jauh dari mu, aku merasa sangat merindukan mu. Dan aku merasakan sesak di dada ku setiap kali melihat mu meneteskan air mata, aku sangat takut saat kamu terluka. Aku tidak bisa menerima jika ada seseorang yg menyakiti mu, dan bagi ku, kebahagiaan mu memang hal yg paling penting dalam hidup ku"
Satu bulir air mata kembali menyelinap begitu saja dari sudut mata Elnaz saat mendengarkan ucapan manis sang suami, namun bayang bayang Elsa sungguh menjadi ketakutan tersendiri bagi Elnaz.
"Dan aku memohon kepada mu, Sayang. Berikan aku kesempatan untuk memenuhi semua kebutuhan mu itu, hm..." bujuk Arfan lagi yg berhasil menerbitkan senyum samar di bibir sang istri.
"Aku tahu, aku belum menjadi suami yg terbaik untuk mu, tapi aku janji, aku akan berusaha menjadi pasangan yg baik buat kamu"
"Dan setia..." sambung Elnaz.
"Tentu saja, aku hanya milik mu sampai kapan pun" jawab Arfan.
"Aku pegang janji mu, Arfan. Jika kau mengkhianati janji itu, maka...maka aku lebih baik mati...." ucap Elnaz dengan suara yg tercekat di tenggorokan nya, Arfan yg mendengar ucapan itu langsung menggeleng tegas dan meletakkan jari nya di bibir sang istri dan ia menatap sayu sang istri.
"Jangan bicara begitu, Elnaz..." lirih nya.
"Mau bagaimana lagi..." ucap Elnaz kemudian seolah ia putus asa "Tidak ada yg menyayangi ku, mementingkan ku apa lagi perduli pada ku. Cuma kamu satu satu nya harapan ku, tempat bersandar ku. Sebelum aku menikah dengan mu, kedua orang tua seolah tidak menganggap ku ada, dan setelah menikah dengan mu, mereka benar benar tidak menganggap ku ada..."
__ADS_1
"Sayang..." Arfan menyelipkan tangan nya di punggung Elnaz kemudian ia berguling hingga kini Elnaz yg menindih tubuh Arfan, Arfan mendekap sang istri dan meletakkan kepala Elnaz di dada nya, kemudian ia mencium pucuk kepala sang istri.
"Aku janji, apapun yg terjadi, aku akan selalu ada buat kamu..."
Elnaz tersenyum senang mendengar nya, ia melingkarkan tangan nya di perut Arfan dan mencari posisi paling nyaman di pelukan suaminya itu.
"Aku mencintaimu, Arfan. Tolong jaga cinta ku ya..." pinta Elnaz.
"Aku juga mencintai mu, Elnaz. Aku janji akan menjaga cinta kita" jawab Arfan.
"Ngomong ngomong, berapa banyak bawang merah yg kamu kupas sampai membuat air mata mu deras tadi?" tanya Elnaz kemudian yg membuat gelak tawa Arfan pecah.
"Pakai obat tetes mati, hehe. Biar meyakinkan"
"Dasar lebay..." gerutu Elnaz sembari mencubit perut Arfan, membuat Arfan meringis sakit.
"Biarin"
"Sayang, jadi sekarang kita baikan?"
"Hmmm"
"Kalau tidak, aku akan menangis beneran.."
"Silahkan..."
..........
__ADS_1
Keesokan harinya, Elnaz kembali seperti biasa, memberikan kecupan selamat pagi pada suami nya, menyapa nya dan tersenyum pada nya. Bahkan mereka melakukan ritual mandi bersama, membuat acara mandi mereka lebih lama dari biasanya dan tentu lebih menyenangkan dan mendebarkan.
Kemudian keduanya membuat sarapan bersama sama, makan bersama bahkan saling menyuapi. Membuat perasaan Arfan dan Elnaz berbunga bunga dengan senyum sumringah di bibir nya.
"Terima kasih, Sayang...." ucap Arfan tulus "Oh ya, nanti siang anterin makan siang ya..."
"Iya..." jawab Elnaz sembari membawa piring kotor ke wastafel kemudian mencuci nya. Sementara Arfan bertugas membereskan meja makan yg berantakan.
"Sayang deh kalau sudah baik begini..." ucap Arfan lagi sembari mencubit pipi Elnaz gemas.
"Asal jangan cari masalah saja...." ujar Elnaz tegas yg membuat Arfan langsung terkekeh geli.
"Tidak akan..."
.........
Isna mengetuk pintu kamar Elsa berkali kali, karena semenjak pertengkaran nya kemarin Elsa selalu berada di kamarnya dan ia tidak pernah keluar sekali pun. Elsa bahkan tidak makan dan tidak minum, membuat Bu Isna merasa sangat khawatir dengan putri nya itu.
"Sa, ayo keluar, Sayang. Kamu belum makan sejak kemarin..." Teriak Bu Isna namun masih tak ada jawaban dari putri nya.
"Sa..."Bu Isna mencoba memutar handle pintu dan ternyata pintu nya tidak di kunci. Bu Isna pun mendorong pintu itu dan ia tidak mendapati Elsa di kamar nya.
Bu Isna mencari Elsa di kamar mandi namun juga tak ada, membuat Bu Isna panik dan ia berteriak memanggil Elsa.
"Elsa..." seru nya, hingga tanpa sengaja perhatian nya teralihkan pada sebuah kertas yg ada di ranjang. Bu Isna mengambil nya dan membaca isi kertas itu yg tak lain ada surat dari Elsa.
Mama, maaf karena aku pergi tanpa pamit. Aku hanya ingin menjalani hidup ku seperti yg aku mau. Aku janji, aku akan membuat Papa dan Mama bangga sama aku, aku akan menjalani apa yg ingin aku jalani sejak dulu. Dan aku yakin, suatu hari nanti aku akan berhasil, terkenal, menjadi bintang, dan Papa sama Mama pasti akan bangga dengan pencapaian karir ku.
__ADS_1