
"Bagaiamana keadaan kamu, El?" tanya Mama nya saat ia datang menjenguk Elnaz bergantian dengan besan nya.
"Alhamdulillah El lebih baik, Ma. Kata Arfan sebentar lagi El boleh pulang" jawab Elnaz senang.
"Alhamdulillah kalau begitu, bagaimana kondisi janin mu? Kamu tidak mual, El? Biasa nya hamil muda itu mual mual, El" tukas sang ibu.
"Mual sih, Ma. Tapi sedikit, paling cuma pas pagi saja. Alhamdulillah sih, kalau El yg sampai mual dan muntah, tidak kebayang El bagaimana sulit nya apa lagi dengan kondisi El yg begini" kata Elnaz sedih.
"Kamu seperti Mama El, saat hamil, Mama memang tidak mual seperti wanita hamil muda pada umum nya, mengidam pun sangat jarang dan tidak aneh aneh. Paling cuma pengen makan mangga muda"
Elnaz tersenyum mendengar cerita ibu nya itu, Elnaz memang berharap ia tidak mengidam yg aneh aneh dan sangat berharap kandungan nya tidak begitu menyiksa karena Elnaz tidak ingin merepotkan orang orang di sekitar nya. Bahkan untuk ke toilet saja, Elnaz masih butuh bantuan orang lain.
"Oh ya, Ma. Mama sudah jenguk Kak Elsa di penjara?" tanya Elnaz dan kini raut wajah nya terlihat sedih.
"Kamu tahu Elsa di penjara?" Bu Isna balik bertanya dan Elnaz hanya bisa mengangguk lemah.
"El, kamu.. Kamu bisa bujuk Arfan untuk membebaskan Elsa? Kasihan sekali kakak mu, El" tutur Bu Isna memelas, membuat Elnaz tambah sedih saja.
"Sudah, Ma. Tapi Kak Arfan tidak mau mendengarkan El, Kak Arfan melarang El membahas masalah Kak Elsa" jawab Elnaz lesu, karena ia juga merasa kasihan dengan Elsa.
"Tapi kan bagaimana pun Elsa itu kakak mu, Ek. Kakak ipar nya Arfan, masak iya tega memenjarakan saudara sendiri" kata Bu Isna lagi.
Elnaz hanya bisa menunduk sedih, Elnaz sungguh sudah meminta Arfan membebaskan Elsa dan Elnaz sudah memberi tahu berkali kali kalau Elnaz jatuh sendiri, tapi Arfan tetap tak mau mendengarkan nya.
__ADS_1
"Elnaz..." terdengar suara Arfan yg membuat Bu Isna langsung menutup mulut nya rapat rapat, karena jujur saja, Bu Isna juga takut pada Arfan jika sampai Arfan kembali marah pada nya.
Arfan masuk ke ruang rawat Elnaz dengan senyum yg mengembang di bibir nya. Tentu saja karena kondisi Elnaz yg semakin dan semakin membaik.
"Sayang, kamu tidak mengantuk?" tanya Arfan dan Elnaz menggeleng, ia menatap suami nya dengan sendu.
"Kak Arfan, El boleh bicara?" tanya Elnaz lirih. Arfan seketika langsung melirik ibu mertua nya karena Arfan tadi sempat mendengar apa yg di katakan ibu mertua nya itu, Arfan tahu apa yg ingin di bicarakan Elnaz sekarang pasti lah tentang Elsa.
"Princess, sekarang kamu harus istirahat ya, waktu nya tidur siang" kata Arfan mengalihkan pembicaraan. Arfan menarik selimut Elnaz hingga dada nya "Ingat, yg harus kamu jaga sekarang bukan hanya kesehatan mu tapi juga kesehatan bayi kita" tegas Arfan lagi yg membuat Elnaz tidak berani berbicara tentang Elsa, karena Elnaz tahu saat ini Arfan tak ingin di bantah atau dia akan marah.
Elnaz menganggukan kepala sedikit sambil tersenyum samar, Elnaz memejamkan mata saat ia mulai merasa mengantuk. Tadi suster memang memberi nya obat dan biasa nya Elnaz memang mengantuk setelah minum obat.
Setelah memastikan Elnaz tertidur, Arfan mengajak ibu mertua nya berbicara di luar.
"Mama faham, Fan. Tapi sudah 10 hari Elsa di penjara dan dia tidak salah. Kasihan dia, Fan. Elnaz juga sudah memberi tahu mu juga kan kalau kecelakaan Elnaz memang bukan salah Elsa? Kenapa sih kamu tidak mau mendengar kan kami?" tanya Bu Isna.
"Karena selama ini Mama dan Elsa tidak mau pernah mau mendengar kan siapa pun, ingat, Ma. Roda kehidupan itu berputar, dulu Elsa dan Mama selalu dalam kompak dalam segala hal tanpa mau mendengarkan siapa pun. Bukan maksud ku mau kurang ajar sama Mama, tapi Mama juga seharusnya tahu, kalau apa yg Elsa alami sekarang karena salah nya sendiri. Jika saja saat itu Elsa mau mendengarkan Papa dan Mama untuk pulang kampung, tidak perlu memaksa Elnaz berbicara pada kalian, maka semua ini tidak akan terjadi. Tapi seperti biasa, Elsa tidak akan mendengarkan siapapyn"
.........
Robin pulang kerumah nya saat ia merasa merindukan Mama nya, Robin langsung bergegas ke kamar Mama nya dan ia melihat Mama nya yg sedang duduk mematung dengan tatapan yg kosong.
"Mama..." panggil Robin sambil berjalan masuk.
__ADS_1
Robin melihat sebuah amplop yg seperti nya berisi lembar foto tergeletak di lantai.
"Foto apa ini, Ma?" tanya Robin sambil memungut amplop itu.
"Selingkuhan Papa mu" jawab Mama nya yg bernama Susan itu.
Robin tidak terkejut mendengar apa yg di katakan Mama nya, Mama nya memang selalu tahu ketika suami nya berselingkuh dan karena itulah Mama nya selalu sakit sakitan. Karena mental nya yg terus tertekan.
"Ma..." Robin duduk di tepi ranjang, ia menggenggam tangan ibu nya yg tinggal tulang itu. "Mama tidak perduli sedih, tahun ini aku sudah selesai kuliah, Ma. Aku akan bekerja dan membawa Mama keluar dari sini, Mama dan Papa harus bercerai" kata Robin dan tiba tiba tangis Mama nya pecah.
Berkali kali Robin meminta Mamanya bercerai dengan Papa nya namun Mama nya menolak, karena kata nya dia sangat mencintai suami nya dan dia yakin suatu hari nanti suami nya itu akan berubah.
Robin memeluk Mama nya dengan lembut dan menenangkan nya.
"Mama sudah minum obat?" tanya Robin kemudian dan Mama nya menggeleng. Robin pun mengambilkan obat Mama nya dan membantu Mama nya meminum nya.
"Sekarang Mama istirahat, tidak perlu memikirkan bajingan seperti Papa dan para simpanan nya itu" tukas Robin kesal.
"Mama tahu, Rob. Tapi... Tapi wanita itu...." Mama nya menunujuk amplop yg ada di pegang Robin "Papa mu seperti nya mencintai nya" kata nya sedih.
"Tidak mungkin, Ma. Papa bahkan tidak bisa mencintai diri nya sendiri. Wanita wanita itu juga palingan cuma mau uang Papa " ujar Robin sambil membuka amplop itu dan mata nya terbelalak saat ia melihat foto papa nya yg berada di atas ranjang bersama seorang wanita yg hanya memakai bikini, mereka berpose sangat mesra.
" Elsa? "
__ADS_1