(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 132 - Epilog


__ADS_3

Rumah tangga itu bagaikan kapal yg sedang berlayar di lautan yg terbentang luas, terkadang air nya tenang, terkadang ada sedikit terjangan ombak dan terkadang ada badai yg siap menghantam. Apakah kapal masih bisa bertahan dan terus berlayar?


Begitu juga dengan rumah tangga, akan ada badai yg siap menghantam nya kapan pun, dimana pun dan dari arah mana pun. Namun ketika rumah tangga di kendalikan oleh suami dan istri yg selalu bekerja sama untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga nya, agar terus berlayar dengan aman hingga saat nya mereka menepi, yaitu, saat masa tua mereka, dengan kulit keriput dan rambut memutih. Mereka menepi sambil berpegangan tangan, takkan terpisahkan sampai maut datang.


Itu yg sedang Elnaz dan Arfan lakukan dan harapkan.


Rumah tangga mereka tak pernah lepas dari ujian. Jika materi mereka sempurna, ada keharmonisan yg di pertanyakan.


Meskipun materi mereka sempurna, ada perhatian dan waktu yg di tuntut, dimana itu terkadang menimbulkan sedikit percikan masalah, yg jika tak bisa di tangani dengan cepat. Maka masalah akan berkobar dan membakar kebahagiaan yg pernah ada hingga tak tersisa.


Namun Arfan mengerti, ia adalah imam dalam rumah tangga nya, ia adalah pemimpin bagi anak anak nya dan juga istri nya. Arfan berperan sebagai pemimpin yg patut di contoh, patut di banggakan.


Begitu juga dengan Elnaz yg menjadi Co pemimpin nya, ia berusaha keras membantu Arfan menjaga rumah tangga nya, menjaga nya tetap ceria dan hangat. Meskipun terkadang badai datang dan menghantam nya, Elnaz bertahan dan mencari solusi keluar dari badai itu, tentu bersama dengan Arfan.


Selalu jujur, selalu terbuka pada pasangan, Saling mendukung, saling menguatkan dan saling mengerti posisi masing masing, adalah kunci utama dari keutuhan rumah tangga.


Waktu terus berjalan, hari yg indah, hari yg mendung, hari yg penuh tangis, hari yg di isi dengan tawa, semua nya datang silih berganti. Tak ada yg abadi di dunia ini, tidak kebahagiaan apalagi penderitaan.


Tak terasa, 4 tahun sudah berlalu...


Putri mereka telah tumbuh menjadi anak yg cerdas dan juga cantik. Aurora mereka bak mentari pagi, seperti nama nya. Selalu berhasil menghibur kala orang tua nya sedang bersitegang dan merasa gundah gulana. Selalu menjadi pengobat letih kala orang tua nya merasa lelah dengan kewajiban kewajiban yg menuntut. Menjadi penyemangat kala orang tua nya merasa down karena masalah yg datang silih berganti.


Elnaz telah menyelesaikan kuliah nya, ia ingin menjadi wanita karir yg sukses namun ia juga ingin menjadi ibu rumah tangga yg sempurna. Elnaz ingin bekerja di salah satu perusahaan penerbit terbesar, memulai karir yg di impikan nya di sana. Namun itu tak berjalan mudah, apa lagi dengan profesi suami nya yg menguras sebagian besar waktu dan tenaga nya. Dimana jika kedua nya sama sama sangat sibuk, maka putri semata wayang meraka yg akan merasakan dampak nya.


Dan hal itu menjadi pertengkaran yg hebat antara kedua nya, dimana Elnaz yg memang bercita cita menjadi wanita karir yg mandiri, yg tidak tergantung pada siapapun. Sementara Arfan menuntut Elnaz menjadi istri dan ibu yg sempurna karena ia takut nanti Elnaz terlalu sibuk bekerja sehingga menomor duakan putri mereka.


Namun, setelah ketegangan dan pertengkaran mereka lewati, mereka kembali berfikir dengan kepala dingin. Mengenyampingkan ego masing masing, merendahkan hati mereka untuk meminta maaf pada pasangan mereka.


"Jika Mama ingin bekerja, tidak apa apa. Lagi pula ada Suster yg menjaga Aurora" kata Arfan lirih yg sudah mengalah dengan keinginan istri nya itu. Ia bukan nya melarang Elnaz bekerja, ia hanya takut Auroa terkena dampak dari kesibukan kedua orang tua nya.


"Tidak perduli apakah Mama bekerja atau tidak, bagi Papa dan Aurora, Mama tetap ibu rumah tangga yg terbaik. Maaf karena Papa sudah egois ya" kata nya tulus.


Sementara sang istri yg juga sudah berfikir dengan kepala dingin kini sudah menyadari keegoisan nya, ia tahu, bukan suami nya yg egois, melainkan diri nya. Arfan memenuhi segala kebutuhan nya dan Auroa, tidak pernah membiarkan mereka kekurangan sedikit pun tapi Elnaz masih bersikukuh ingin menjalani kehidupan nya sendiri seperti yg ia mau.


Elnaz tersenyum hangat, menyenderkan kepala nya di pundak sang suami sambil memperhatikan Aurora yg sedang bermain di temani suster nya di taman.


"Wanita tidak harus memilih salah satu nya, menjadi ibu rumah tangga atau wanita karir, karena wanita bisa melakukan kedua nya jika mau" kata Elnaz lirih "Aku ingin menjadi penulis..." ucap nya lagi


"Aku mendukung mu, Sayang. Asal kau tidak lupa tugas menjadi istri dan ibu"


"Inysa Allah tidak akan, aku janji akan tetap menjadi Mama Elnaz yg sama."


Arfan tersenyum dan mengecup pucuk kepala istri nya itu.


"Maafin Mama juga ya, Pa. Mama yg egois, terlalu memikirkan diri sendiri. Padahal punya tanggung jawab sama Papa dan Aurora..."


"Terus sekarang bagaimana? Apa sudah menyiapkan surat lamaran pekerjaan nya?"


"Sepertinya Mama tidak jadi bekerja di perusahaan, Pa. Tapi karena Mama sudah kuliah, sebaiknya Mama melamar menjadi guru saja, Sayang kan ilmu nya, terus Mama mau menulis buku sendiri. Bagaimana?"


Arfan tersenyum, lagi lagi pengorbanan seorang wanita demi pria nya dan anak anak nya. Arfan mengecup pelipis istri nya itu dengan sayang, entah dengan cara apa lagi dia mensyukuri memiliki malaikat tak bersayap nya ini. Yg telah menjadi istri setia nya dan menjadi ibu terbaik untuk anak anak nya. Arfan tidak tahu apa jadi nya jika yg dia nikahi saat itu bukan Elnaz, mungkin dia Takkan memiliki cerita cinta dan kehidupan yg penuh kebahagiaan dan kehangatan seperti ini.


"Apapun keputusan mu, Sayang. Papa dukung, Papa cuma minta satu, keluarga..."


"Mama juga akan mendukung Papa dalam hal apapun, asal kan Papa tetap mengutamakan keluarga juga"


"Tentu saja, kalian yg paling penting"


.........


Seminggu kemudian...


Elnaz mual mual saat bangun tidur di pagi hari, hal itu mengundang perhatian Arfan, ia segera menyusul istri nya itu ke kamar mandi.


"Mama, ada apa?" tanya cemas sambil memijit tengkuk sang istri.


"Masuk angin mungkin..." kata Elnaz setelah mencuci mulut nya.


"Mama...."


Terdengar suara cempreng Aurora bersamaan dengan langkah kaki mungil nya yg berlari ke kamar mandi menyusul Papa Mama nya.


"Iya, Sayang..." jawab Elnaz sembari mengulurkan tangan nya pada Aurora.


"Mama mual? Apakah Mama sakit? Papa kan Dokter, apakah tidak di perksa?" tanya nya sambil menatap Elnaz dan Arfan dengan mata bulat nya, membuat Elnaz dan Arfan merasa gemas.


"Sepertinya masuk angin saja, Nak..."


"Ohhhhh..." Auroa ber oh ria, membuat bibir nya membulat membentuk huruf O.

__ADS_1


"Sebaiknya kita sholat subuh ya, Nak..." ajak Arfan dan Aurora mengangguk.


.........


Arfan yg sudah sarapan bersama kecil nya hendak berangkat bekerja seperti biasa nya, Elnaz dan Auroa pun mengantar pria paling penting dalam hidup mereka itu.


Arfan masuk ke dalam mobil nya setelah Elnaz memberikan bekal makan siang.


Kebiasaan selama bertahun tahun yg masih rutin Elnaz lakukan, jika tidak mengantar maka membawakan makan siang nya.


"Hati hati, Papa...." seru Aurora melambaikan tangan nya pada Papa nya itu.


Sementara Elnaz, ia menatap kepergian Arfan sambil tersenyum lebar.


"Surprise..." gumam nya.


..........


Di rumah sakit, Arfan bekerja seperti biasa, dan wanita bernama Nadine?


Tentu saja ia juga masih bekerja di tempat yg sama, namun kabar baik nya, satu tahun yg lalu Dokter cantik itu sudah menikah sehingga membuat Elnaz sangat senang.


Di abaikan oleh Arfan meskipun cara terhalus sekalipun ia lakukan untuk menjerat hati Arfan dan ternyata hasil nya sama saja membuat dia mundur dan menyerah.


Arfan dan Elnaz di undang ke pernikahan nya dan Elnaz mengucapkan selamat dengan begitu tulus, ia mendoakan nya dengan serius.


Dan memang seharus nya begitu seorang wanita sebagai terindah di dunia ini, bermoral, bermartabat dan tidak mengusik milik wanita lain.


Karena setinggi apapun pendidikan seorang wanita, secantik apapun fisik nya. Sesempurna apapun kehidupan nya, dia akan sangat menjijikan saat ia mengusik milik wanita lain.


Oh, kembali pada Arfan...


Saat jam makan siang, Arfan kembali ke ruangan nya tentu setelah ia menyelesaikan semua pekerjaan nya.


Arfan membuka plastik yg membungkus rantang makanan nya itu dan ia menemukan sebuah amplop di sana.


Arfan yg sangat penasaran langsung membuka amplop itu dan seketika ia menahan nafas tanpa sadar, jantung nya berdebar saat melihat foto hasil USG di sana.


"El sayang..." lirih Arfan penuh haru, ia langsung mengambil ponsel nya, menghubungi istri nya dan hanya beberapa detik kemudian terdengar suara cempreng putri semata wayang nya.


"Auroa, Mama dimana, Princess?" tanya nya.


"Sayang, kamu.... Kamu hamil?" tanya nya dengan mata yg berkaca kaca. Sudah lama sekali Arfan membagi ingin memiliki bayi lagi, begitu juga dengan Elnaz.


"Iya, Pa..." jawab Elnaz dengan mata yg berkaca kaca.


"Mama, apa itu hamil?" tanya Aurora yg menatap Mama nya sambil berkedip kedip lucu.


"Hamil itu arti nya ada adik bayi di perut Mama, Sayang..." jawab Arfan.


"Adik bayi?" pekik Aurora dan mata bulat nya itu semakin membulat sempurna.


"Iya, Sayang" sambung Elnaz.


Sementara itu, Arfan tampak nya tak bisa berkata kata saking bahagia nya.


"Sayang, tunggu Papa ya... Nanti jam 5 Papa pulang" ujar Arfan.


"Iya, Pa.." jawab Elnaz.


..........


Arfan sungguh tak sabar menunggu jam berputar ke angka 5, ia tak sabar ingin memeluk istri nya.


Kabar kehamilan ini berbeda dengan kehamilan Elnaz yg pertama, dimana saat itu hidup Elnaz dalam bahaya bahkan juga janin nya, Arfan juga sangat bahagia saat itu, namun kebahagiaan itu berbarengan dengan kecemasan, ketakutan dan kemarahan nya atas apa yg terjadi pada Elnaz.


Tapi sekarang?


Hanya ada kebahagiaan.


Saat tiba waktunya pulang, Arfan segera bergegas pulang. Namun ia menyetir dengan kecepatan sedang, tentu saja Karena Elnaz memperingatkan demikian..


Sesampainya di rumah, Auroa dan Elnaz ternyata sudah menunggu di ambang pintu.


Arfan langsung me lompat turun dari mobil, ia berlari menghampiri Elnaz dan langsung memeluk Elnaz bahkan memutar tubuh Elnaz di udara. Membuat Elnaz tertawa senang.


"Aulola juga mau... Mau..." Aurora mengulurkan tangan nya pada Arfan, ingin di gendong dan di putar juga seperti Mama nya, membuat Arfan dan Elnaz tertawa.


"Auroa juga mau... Ayo, sini... Hap..." Arfan mengangkat Aurora dalam gendongan dan memutar nya juga di udara. Aurora cekikikan girang.

__ADS_1


Setelah di rasa puas, Arfan menurunkan Auroa dan ia menarik Elnaz ke dalam gendongan nya. Arfan memeluk dua wanita paling berarti dalam hidup nya itu. Ia mencium kening dan pipi Elnaz berkali kali.


"Terima kasih, Sayang... Terima kasih banyak" ucap nya penuh haru.


"Kembali kasih, Kak.." kata Elnaz.


"Tapi sejak kapan kamu tahu kamu hamil, Sayang?"


"Seminggu yg lalu, tapi aku sengaja mau kasih kejutan Buat Papa..." jawab Elnaz.


"Jadi karena itu lah kamu tidak jadi bekerja di perusahaan itu? Hm?"


"Iya, akan ada dua anak yg harus Mama urus"


"Oh, terima kasih banyak, Sayang. Terima kasih istri ku..."


..........


Di kehamilan yg kedua ini, Arfan menjadi lebih protective pada Elnaz, namun Elnaz tidak se sensitif di kehamilan pertama nya. Tentu sekarang Elnaz menjadi wanita yg jauh lebih dewasa dan bijak dalam menanggapi segala hal. Namun ada satu hal yg tidak berubah dari Elnaz, ia masih sama manja nya pada Arfan, mengidam yg aneh aneh juga dan di waktu yg tak pernah di perkirakan.


Kabar bahagia itu ternyata juga menjadi kabar bahagia untuk kedua keluarga mereka, sekarang tambah lagi anggota keluarga meraka yg akan menambahk kebahagiaan dan kehangatan di keluarga mereka.


Selama kehamilan Elnaz ini, Arfan sebisa mungkin mengatur waktu nya agar tidak terlalu padat, kecuali jika ada yg sangat mendesak. Arfan ingin memberikan waktu dan perhatian yg jauh lebih banyak untuk Elnaz dan Auroa.


Tak terasa, 9 bulan telah berlalu.


Hari kelahiran pun sudah tiba, semua keluarga menunggu dengan harap harap cemas. Begitu juga dengan Aurora, ia sungguh tidak sabar ingin melihat adik bayi nya.


"Sudah kelual belum?" tanya nya yg masih belum juga bisa mengucapkan huruf R.


"Belum, Nak. Aurora doakan Mama dan adik bayi nya ya..." ujar Bu Yuni yg menjaga Auroa.


Sementara di ruang persalinan, Elnaz dengan si temani Arfan berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan anak kedua nya itu.


Arfan terus berdoa meminta pertolongan pada Tuhan nya dan juga menyemangati Elnaz agar anak mereka lahir dengan selamat.


Hingga Elnaz mengejan dengan sekuat tenaga dan terdengar suara tangis bayi yg membuat Elnaz dan Arfan mengucap syukur.


"Selamat ya, Pak, Bu. Putra kalian terlahir dengan sempurna dan tampan...." kata Dokter nya itu yg membuat Elnaz dan Arfan menangis haru.


"Pasti setampan Papa nya" ucap Elnaz lirih sambil mengatur nafas nya. Keringat sudah membanjiri tubuh nya itu.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih banyak..." ujar Arfan mengecup kening Elnaz penuh haru.


..........


Naven Syarif. Itu lah nama indah yg di pilih oleh Arfan dan Elnaz untuk putra mereka.


Kelahiran Bayi yg di panggil Baby Nav itu sungguh membawa kebahagiaan yg tiada tara, apa lagi bagi Aurora yg sangat menyukai adik bayi nya itu. Aurora selalu memperhatikan ibu nya saat menyusui Baby Nav, saat memandikan nya dan sebagainya.


Awal nya, Arfan dan Elnaz merasa khawatir, takut Aurora cemburu jika namun mereka salah, Aurora ternyata sangat menyayangi Baby Nav. Sebulan setelah melahirkan, Elnaz dan Arfan pulang kampung.


Dan di sana, tanpa sengaja Elnaz mendengar salah satu tetangga nya yg masih mengungkit masa lalu.


"Beruntung ya Arfan, karena mendapatkan Elnaz sebagai pengganti Elsa"


Dan kata kata itu terus terngiang dalam benak Elnaz, memang tidak mudah melupakan apa yg terjadi di awal pernikahan mereka yg terbilang tidak wajar. Namun Arfan menegaskan, Elnaz bukan pengganti.


"Kamu bukan pengganti, Sayang. Kamu memang di takdir kan untuk menjadi milik ku, dan pernikahan itu terjadi untuk mengembalikan takdir sejati kita" ucap nya yg membuat Elnaz tersenyum haru. Arfan selalu berhasil membuat diri nya kembali percaya diri dan merasa bahagia.


Saat ini, kedua nya sedang berada di kamar. Arfan menidurkan Auroa sementara Elnaz menyusui Baby Nav.


Setelah kedua nya tertidur, Arfan dan Elnaz duduk di sofa, Elnaz setengah merebahkan diri nya di dada Arfan dan Arfan membelai rambut sang istri dengan sayang.


"Kamu tahu..." kata lirih dan Elnaz menggeleng pelan, sementara tatapan nya tertuju ke tengah ranjang dimana ada dua buah hati nya yg sedang terlelap di sana.


"Seorang istri itu bukan pengganti dan tidak akan pernah tergantikan, apa lagi bagi aku, kamu cinta sejati ku. Dan yg sejati, akan selalu tahu jalan pulang..." ucap nya yg membuat Elnaz tersenyum, ia mendongak dan langsung meraup bibir Arfan dengan bibir nya, tentu hal itu langsung di sambut oleh Arfan dengan senang hati.


"I love you, Kak Arfan..."


"I love you more, My Queen Elnaz..."


.........


......Hai, kalian suka cerita ini?......


...Jangan lupa tap ❤️, kemudian tekan like, tinggalkan comments, dan aku sangat mengharapkan gift serta vote dari kalian ☺️....


...Jangan lupa juga follow SkySal supaya tidak ketinggalan Novel menarik lain nya. ...

__ADS_1


...Aku tunggu jejak nya di setiap episode ya, thank you and I love you, all. 😘...


__ADS_2