(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 64 - Drama Pesta


__ADS_3

Arfan dan Elnaz sudah sampai di sebuah rumah mewah dimana pesta sedang di adakan di sana, Arfan tampak tampan dan juga kharismatik dengan penampilan casual nya, Arfan memilih berpenampilan casual karena kata nya cuma acara makan makan.


Sementara Elnaz pun terlihat manis dengan dress polos berwarna rose gold dan berbahan satin itu, di padukan dengan dengan pashimina putih yg membuat Elnaz tampak fresh dan juga sepasang flat shoes yg membuat Elnaz pasti nyaman.


"Ini rumah nya, Sayang?" tanya Arfan dan Elnaz memeriksa kembali alamat yg di kirimkan kakak nya itu.


"Iya, benar, Kak" jawab Elnaz. Di depan rumah itu memang sudah ada beberapa mobil yg terparkir dan di lihat dari rumah megah nya, sepertinya sang penyelenggara pesta adalah orang yg sangat kaya.


"El telpon Kak Elsa dulu ya...." ujar Elnaz lagi dan Arfan mengangguk.


Elnaz menelpon kakak nya itu dan memberi tahu bahwa ia sudah berada di depan. Tak lama kemudian Elsa keluar dari rumah itu.


Elnaz dan Arfan menganga melihat penampilan Elsa, sebuah dress selutut berwarna merah maroon dengan potongan V di leher nya membalut tubuh molek Elsa. Rambut nya di gerai indah dan bibir nya tampak menggoda dengan lipstik berwarna merah terang, namun Arfan yg melihat nya justru tak tergoda dan ia malah bergidik ngeri, merasa kesal sekaligus kasihan dengan Elsa yg semakin tak bisa menjaga diri itu.


"Kak Elsa, kenapa kakak memakai pakaian seperti ini? Kalau Papa tahu bisa marah lho..." ujar Elnaz dengan polos nya yg membuat Elsa mendelik kesal.


"Sudah, jangan fikirkan itu. Ayo masuk..." ajak Elsa sembari melirik Arfan, Elsa menggandeng Elnaz masuk dan Arfan pun mengikuti dua wanita itu dari belakang.


"Aku mengundang mu kesini karena aku itu kangen sama kamu, El. Sudah lama kan kita tidak ketemu" ujar Elsa yg membuat Elnaz langsung menaikan sebelah alis nya dan menatap kakak nya itu dengan tatapan tak percaya. Kak Elsa merindukan adik Elnaz? Rasa nya itu sesuatu bagi Elnaz.


"Kalau kak Elsa kangen sama El, apa Kak Elsa kangen juga sama Papa Mama? Nenek juga sakit lho" ujar Elnaz lho.


"Bicarain itu nanti saja..." bisik Elsa saat ia sudah sampai di ruang pesta "Aku mau mengenalkan teman teman ku sama kamu" ujar Elsa.


Elnaz dan Arfan sama sama terdiam, karena isi pesta nya itu tidak seperti yg mereka bayangkan. Ada banyak orang, laki laki dan perempuan, tua muda, dan tidak satu pun dari mereka yg memakai pakaian layak pakai, ya setidak nya itu yg ada dalam benak Elnaz.


Kedatangan Arfan dan Elnaz sangat menarik perhatian mereka, apa lagi penampilan Elnaz yg berbanding terbalik dengan Elsa.


Terutama para pria, melihat Elnaz seperti kucing yg sedang mengendus aroma ikan yg sedang terbungkus rapat.


Melihat para pria memandang istri nya dengan tatapan lapar, Arfan langsung menarik tangan Elnaz dan merangkul nya dengan posesif.


"Ini pesta mu, Elsa?" tanya Arfan dingin.


"Bukan pesta ku, pesta teman ku" jawab Elsa berusaha bersikap santai, padahal perasaan nya bergemuruh karena merindukan sang pujaan hati yg kini malah merangkul posesif istri nya.


"Aku merindukan Elnaz, karena itulah aku mengundang nya kesini. Aku tidak punya waktu untuk bermain kerumah kalian" ujar Elsa lagi.


Elnaz yg merasa tidak nyaman dengan perkumpulan orang orang dewasa itu hanya bisa melingkarkan tangan nya di pinggang suami nya yg masih merangkul nya dengan erat.

__ADS_1


Jimmy datang dan ia menyambut tamu Elsa itu.


"Hai, kamu pasti Elnaz..." sapa Jimmy dengan senyum lebar nya dan ia mengulurkan tangan nya pada Elnaz namun dengan cepat Arfan lah yg menyambut uluran tangan Jimmy.


"Dan aku Arfan, suami nya Elnaz..." ujar Arfan dingin. Jimmy pun hanya bisa mengangguk anggukan kepala nya sambil tersenyum simpul.


"Elsa banyak bercerita tentang kalian..." ucap Jimmy lagi "Anyways, nikmati pesta nya. Jangan sungkan, kami semua di sini teman. Pesta ini juga bukan dalam rangka apa pun, hanya untuk bersenang senang" ujar Jimmy lagi.


"Anda tuan rumah nya?" tanya Arfan.


"Oh bukan, Dokter Arfan. Tunggu, aku akan memperkenalkan kalian dengan tuan rumah nya" ujar Jimmy kemudian ia meninggalkan ketiga manusia itu.


"Kak Elsa..." bisik Elnaz sambil menarik narik lengan kakak nya itu "Pakaian Kak Elsa terlalu terbuka, nanti Papa marah" ujar Elnaz lagi yg membuat Elsa mendengus.


"Ya jangan kasih tahu Papa, gampang kan?" tanya Elsa yg membuat Elnaz menghela nafas berat "Aku ambil minum dulu buat kalian..." ujar Elsa kemudian.


"Sudah, Sayang. Itu bukan urusan kita..." bisik Arfan di telinga sang istri. Elnaz pun mendongak, menatap suami nya.


"Tapi kan, Kak..."


"El, kakak mu itu keras kepala. Jadi biarkan saja" bisik Arfan lagi.


"Kenalin, ini Pak Andrew Wijaya. Dia pemilik agensi model tempat Elsa bekerja" ujar Jimmy dan Arfan pun berjabat tangan dengan pria itu dan tentu saja tidak dengan Elnaz.


"Jadi ini adik nya Elsa ya? Cantik ya, kalem" puji Pak Andrew, Elnaz hanya tersenyum kaku dan Arfan tentu tidak menyukai pujian itu.


Elsa datang dan membawakan minuman untuk mereka, ia juga memberikan nya untuk Arfan namun Arfan menolak.


"Ini, El. Kamu pasti haus, ini cuma lemon kok" ujar Elsa dan Elnaz pun kembali hanya tersenyum dan mengambil satu gelas untuk nya.


"Kak Arfan mau minum?" tanya Elnaz karena Arfan tidak mengambil minuman nya.


"Iya, Sayang..." jawab Arfan dan ia langsung meminum dari tangan Elnaz. Sekali lagi hal itu membuat Elsa merasa sakit hati namun ia tetap berusaha tersenyum.


"Pekerjaan mu apa, Elnaz? Aku bisa menjadikan mu model terkenal lho, kamu cantik sekali" puji Pak Andrew lagi yg lama kelamaan membuat Elnaz merasa risih.


"Istri ku masih kuliah, Pak Andrew. Dia juga tertarik dengan sastra bukan modeling" jawab Arfan yg sangat mewakili Elnaz.


"Oh begitu, Sayang sekali. Padahal kamu memiliki tubuh yg proporsional, ideal, wajah mu yg juga pasti sangat menjual karena benar ayu dan juga terlihat seksi saat tersenyum" ujar Pak Andrew lagi dan terang terangan memperhatikan postur tubuh Elnaz dari atas hingga bawah.

__ADS_1


Dan hal itu membuat Arfan meradang, tatapan nya langsung berkilat akan amarah.


"Sepertinya aku dan istri ku harus pulang" ujar Arfan lagi.


"Tapi kalian baru saja sampai, kalian bahkan baru minum satu teguk saja" ujar Jimmy yg membuat Arfan semakin kesal saja.


"Tunggu sebentar lagi, Fan" ujar Elsa lagi.


"Iya, padahal aku kan masih ingin mengenal keluarga Elsa, dia itu... "


PYAARRRRRRRRRRRR


Ucapan Pak Andrew terpotong saat tiba tiba terdengar suara gelas yg pecah, semua mata pun langsung tertuju pada asal suara itu begitu juga dengan Elnaz dan Arfan.


"Robin..." gumam Elnaz yg melihat Robin sedang berdiri dan di hadapan nya ada satu nampan gelas yg pecah dan berserakan.


"Oh, maaf. Pesta sedikit terganggu..." ujar Robin dingin dan ia menatap dingin Pak Andrew, namun Robin seketika tampak terkejut saat tatapan nya menangkap sosok Elnaz.


"Robin..." desis Pak Andrew kesal, ia pun melangkah hendak menghampiri Robin namun Robin lebih dulu melangkah menghampiri nya.


"Robin, kamu di sini?" tanya Elnaz bingung.


"Kalian saling kenal?" tanya Pak Andrew.


"Mereka teman kampus" jawab Arfan.


"Oh, Robin ini putra ku" ujar Pak Andrew, yg membuat Elnaz dan Arfan sedikit terkejut sementara Robin malah mendelik kesal dan bahkan menatap benci Pak Andrew yg mengaku sebagai ayahnya itu.


"Kalian sedang apa di sini? Menghadiri pesta yg membuang waktu?" Robin bertanya pada Elnaz namun mata nya melirik Pak Andrew, seolah menyindir nya.


"Kami memang berniat pulang" ucap Elnaz lagi.


"Baguslah, aku juga mau pergi..." ujar Robin lagi.


"Rob, kamu itu baru pulang. Masak sudah mau pergi lagi?" tanya Pak Andrew namun Robin mengabaikan nya.


Robin malah mempersilahkan Arfan dan Elnaz untuk pulang bahkan mengajak nya untuk sama sama keluar dari rumah itu, Elnaz pun berpamitan pada Elsa meskipun Elsa tampak kesal karena Elnaz benar benar sudah mau pulang.


Namun ia tak bisa apa apa dan hanya bisa menatap kepergian mereka.

__ADS_1


__ADS_2