
Jimmy membawa Elsa untuk dinner Romantis, hal itu tentu membuat Elsa senang apa lagi Jimmy memperlakukan nya dengan begitu mesra. Dan semenjak bersama Jimmy, perlahan Elsa mulai tidak memikirkan Arfan lagi meskipun terkadang masih terbersit dalam benar nya sebuah andai andai yg begitu indah. Seandai nya ia tidak pergi, Seandai nya menjadi istri Arfan, Seandai nya ia hamil dan Arfan. Namun semua itu hanya sebuah harapan yg tak kan pernah sampai. Apa lagi Elsa melihat Arfan dan Elnaz tampak nya sangat bahagia dan benar benar saling menyayangi. Meskipun sulit Elsa percaya Arfan bisa dengan begitu mudah nya melupakan nya.
"Hei, Beb... Kenapa diam saja?" tanya Jimmy sambil meraba raba raba tangan Elsa, membuat Elsa terkesiap dan tersadar dari lamunan nya.
"Maaf" ucap Elsa dengan senyum yg di paksakan.
"it's okey, aku punya hadiah buat kamu. Tutup mata nya ya...." ujar Jimmy dan Elsa pun menutup mata nya dengan patuh.
Jimmy mengeluarkan sebuah kotak cincin dari saku nya, ia mengambil cincin itu dan memakaikan nya di jari manis Elsa. Elsa pun langsung membuka mata dan ia menatap takjub pada cincin berlian yg melingkar dengan begitu sempurna di jari manis nya.
"Will you marry me?" Elsa Tentu langsung menganga karena ia sama sekali tidak menyangka akan di lamar secepat itu oleh Jimmy, Elsa tidak tahu harus menjawab apa. Ia bingung dan ini benar benar terlalu cepat bagi nya.
"Jim, aku....." Elsa menjilati bibir nya yg tiba tiba saja terasa kering.
"Tidak apa apa kalau kamu belum bisa menjawab nya sekarang" ujar Jimmy kemudian "Aku akan menunggu sampai kamu siap'
" Terima kasih, Jim. Aku hanya butuh sedikit waktu, bagi ku ini benar benar terlalu cepat "jawab elsa
" Aku tahu, tapi mau bagaimana lagi? aku sungguh tidak sabar untuk melamar mu, gadis tercantik yg pernah aku temui" puji Jimmy yg tentu saja membuat pipi Elsa langsung merona merah.
...
Arfan dan Elnaz memenuhi undangan suster Jessy dan datang ke apartment nya. Di sana ada beberapa teman Suster Jessy dan bahkan ada Liam juga.
"Halo, Princess..." sapa Liam saat melihat kedatangan Elnaz.
"Kak Liam, apa kabar?" tanya Elnaz sambil melemparkan senyum ramah nya.
"Ah, aku sangat baik, Princess. Oh ya, aku dengar kamu memecahkan vas, merusak sofa dan membuang jaket mahal Arfan ke tong sampah..." Elnaz langsung melirik tajam suami nya itu Karena ia mengira Arfan lah yg memberi tahu Liam soal masalah itu. Namun Arfan langsung angkat tangan sambil menggeleng, pertanda ia tidak kenapa Liam bisa tahu itu.
Liam yg melihat sahabat dan istri nya itu malah tertawa geli.
"Bukan Arfan yg memberi tahu ku, El. Tapi my honey" ujar Liam Kemudian dan lagi lagi Elnaz melirik Arfan tajam, karena ia mengira pasti Arfan yg memberi tahu suster Jessy dan lagi lagi Arfan menggeleng tidak tahu. Tapi seperti nya kali ini Elnaz tidak mempercayai nya.
__ADS_1
"Sumpah, Sayang" ujar Arfan.
"Terus dari mana suster Jessy tahu?" tanya Elnaz ketus.
"dari kalian berdua" sambung suster Jessy yg datang dengan tiga gelas minuman segar dan menyerahkan nya pada tiga manusia itu.
"Dari kami?" tanya Elnaz bingung sembari mengambil satu gelas minuman untuk nya dan satu gelas untuk Arfan.
"Iya, kalian lupa kalian bertengkar di lorong rumah sakit? semua orang sudah tahu kalau kalian berdua sangat mengerikan hanya karena cemburu" tutur suster Jessy yg membuat Elnaz meringis sambil menepuk jidat nya sendiri.
"Bahkan salah satu suster ada yg bilang begini, Eh, engga nyangka ya ternyata istri nya pak Dokter sangat sadis kalau cemburu karena sampai merusak barang barang" tukas Suster Jessy lagi yg membuat wajah Elnaz merah padam, ia merasa sangat malu karena kebodohan nya. Sementara Arfan malah tertawa geli apa lagi saat melihat raut wajah Elnaz.
"Kok malah ketawa?" tanya Elnaz memberengut.
"Maka nya kalau cemburu ya jangan mengamuk seperti singa lapar, Sayang" goda Arfan.
"Kak Arfan juga sama saja, kalau cemburu malah marah marah tidak jelas seperti orang PMS. Pakai acara nuduh nuduh El segala" gerutu Elnaz namun Arfan malah kembali mengedikan bahu tak acuh.
"This is my birthday. Jadi kalian tidak boleh bertengkar di sini ya, nikmati saja pesta nya" tukas suster Jessy kemudian.
"Sudah waktu nya kita menikah, Honey..." tukas Liam yg membuat suster Jessy begitu terharu dan tentu saja ia menerima lamaran itu dengan senang hati.
"Iya, kata Arfan kita sudah berumur dan sudah waktu nya menikah" Jawab nya yg membuat semua orang terkekeh begitu juga dengan Arfan dan Elnaz. Kedua nya tentu turut bahagia dengan acara lamaran itu.
Liam pun memakaikan cincin permata itu di jari manis Suster Jessy dan kemudian ia berdiri dan mengecup kening suster Jessy dan terdengar tepuk tangan dari teman teman mereka.
"Jadi ingin tahu rasa nya di lamar...." gumam Elnaz saat melihat kedua pasangan itu yg tampak sangat bahagia dengan lamaran itu.
Arfan sempat mendengar apa yg di gumamkan istri nya itu, ia pun merangkul pundak istri nya dan mengecup pelipis nya. Arfan mengerti jika Elnaz menginginkan hal hal indah seperti itu, karena jangankan di lamar, pernikahan mereka saja sungguh fenomena yg menggemparkan seluruh warga kompleks mereka.
...
Keesokan hari nya, Elnaz dan Arfan menjalani hari hari seperti biasa. Elnaz berusaha tetap fokus pada kuliah nya dan menikmati peran nya sebagai istri agar ia tidak terlalu tertekan. Meskipun untuk sungguh sulit karena ibu mertua nya yg masih sangat sering menanyakan bayi dan bayi.
__ADS_1
Bu Yuni bahkan meminta Elnaz pergi ke Dokter dan melakukan promil, meminta nya mengkonsumsi madu, pil, susu dan sebagai nya yg kata nya bisa membuat Elnaz subur dan cepat hamil.
Elnaz tidak bohong, semakin hari ia semakin jengah dengan tuntutan itu, ia sudah sangat muak namun Elnaz berusaha menyimpan semua nya sendirian. Karena Elnaz takut Arfan juga akan jengah jika ia terus mengeluh pada Arfan perihal mama nya yg masih mempersoalkan bayi. Elnaz takut Arfan kesal dan jengah pada nya seperti ia kesal dan jengah pada ibu mertua nya.
Bel pintu berbunyi, Arfan meminta Elnaz membuka pintu dan Elnaz pun membuka nya. Terlihat seorang pria yg berpenampilan rapi sedang berdiri di depan rumah nya.
"Cari siapa ya?" tanya Elnaz.
"Dengan ibu Elnaz Mikayla?" tanya pria itu ramah.
"Iya, dengan saya sendiri" jawab Elnaz.
"Saya mau mengantarkan motor ibu, dan ada beberapa dokumen penjualan yg harus ibu tanda tangani" ujar nya yg membuat Elnaz menganga.
"motor? aku tidak membeli motor" Jawab Elnaz.
"Itu hadiah dari ku, Sayang" seru Arfan yg datang menghampiri Elnaz.
"hadiah? Benaran?" pekik Elnaz girang.
"Iya, beneran. Mulai sekarang kamu kalau mau ke kampus naik motor sendiri kalau aku tidak bisa antar jemput. Jangan nebeng cowok lain, ya..." pinta Arfan yg membuat Elnaz tertawa.
Pria itu pun menurunkan motor Elnaz dari mobil nya dan Elnaz langsung berlari menghampiri nya. Motor matic berwarna putih itu berhasil membuat Elnaz sangat girang sekarang.
Setelah ia menandatangi dokumen penjualan, ia langsung memeluk Arfan erat dan mencium pipi nya berkali kali. Membuat Arfan juga tertawa senang.
"Terima kasih hadiah nya, Sayang..." ujar Elnaz.
"Sama sama, tapi maaf ya, baru motor. Inysa Allah nanti aku akan belikan mobil"
"Motor sudah lebih dari cukup, Kak Arfan. Kan sudah ada mobil, itu sudah cukup kok" ujar Elnaz yg tentu saja membuat Arfan tersenyum bangga. Apa lagi setelah menikah, Elnaz tidak pernah meminta sesuatu yg berlebihan, Elnaz hanya meminta apa yg dia butuhkan dan ia juga sangat pandai mengatur keungan rumah tangga mereka.
"Malam ini kita akan makan malam di luar, jadi jangan masak ya. Terus dandan juga, ada baju baru di kotak yg ada di atas meja" ujar Arfan kemudian yg membuat hati Elnaz berbunga bunga.
__ADS_1
"kencan?" tanya Elnaz.
"Anggap saja begitu"