
Setelah acara 7 bulanan Elnaz selesai, Arfan dan Elnaz semakin mesra saja. Mereka terus mengkhayalkan kehadiran Baby mereka dan membayangkan bagaimana mereka akan kaus Mama dan Papa. Elnaz bahkan sudah memberi wejangan sejak dini pada Arfan, kalau menjadi ibu itu tidak akan mudah dan Elnaz akan butuh Arfan untuk selalu ada di sisi nya dan mendukung nya.
"Nanti jangan bosan dan jangan kesal ya kalau El itu bawel, cerewet, karena El lihat jadi Ibu itu tidak mudah, butuh kesabaran ekstra. Suami nya jangan jengkel sama istri, harus semangatin, dukung, di sayang. Jangan keluyuran, kalau pekerjaan nya selesai harus langsung pulang, ngurus anak itu susah" tukas nya panjang lebar yg membuat Arfan terkekeh.
Saat ini kedua nya sedang menata kamar mereka yg benar benar pindah ke kamar bawah, mereka juga sudah membeli box bayi dan meletakkan nya di sisi ranjang.
"Kita sewa baby sitter nanti sayang..." ujar Arfan.
"Ya endak akan cukup to, Kak. Yg di butuhkan istri itu suami nya, yg di butuhkan anak itu bapak nya" tukas Elnaz lagi yg membuat Arfan tertawa geli. Ia memeluk Elnaz dari belakang dengan gemas.
"Iya iya, suami istri nya akan selalu ada, begitu juga dengan bapak anak nya" ucap Arfan kemudian mengecup pipi Elnaz berkali kali, membuat Elnaz yg tadi sedikit memberengut kini tertawa.
Kini kedua nya memang seperti orang yg baru pacaran, terkadang berdebat namun berakhir dengan hal romantis seperti ini.
Arfan yg selalu memanjakan Elnaz dan Elnaz yg selalu bersikap manja. Sehingga membuat kedua nya selalu melakukan hal yg romantis nan mesra.
Arfan dan Elnaz juga sudah memulai aktifitas mereka seperti biasa setelah mereka kembali ke Jakarta. Apa lagi karena saat memasuki usia kandungan nya yg ke 9 bulan, Arfan meminta Elnaz cuti dari kampus nya dan Elnaz tentu tidak masalah dengan hal itu.
Elnaz memang berencana akan cuti setidak nya sampai usia anak nya satu tahun. Karena Elnaz ingin mengurus anak nya dengan baik, Elnaz fikir pasti akan sulit jika harus membagi waktu antara mengurus anak dan kuliah. Namun Elnaz juga ingin menyelesaikan pendidikan nya, karena nenek nya selalu bilang, pendidikan memang tidak menjamin kesuksesan dalam hidup, tapi dengan pendidikan orang biasa nya akan lebih beradab dalam segala hal.
...... ...
"Sayang..." Arfan memanggil Elnaz yg berjalan menjauh, Arfan saat ini masih berada dalam mobil nya setelah mengantar untuk kuliah. Elnaz yg di panggil suami nya pun menoleh.
__ADS_1
Elnaz mengenakan sebuah dress berwarna hijau muda dan langkah nya berbeda dengan langkah Elnaz yg sebelum hamil, sedikit menngangkang. Dan Arfan merasa tubuh buncit Elnaz itu membuat Elnaz semakin cantik dan seksi. Terkadang ia heran dengan beberapa wanita yang insecure saat hamil karena berat badan nya, atau lebih tepat nya, istri nya sendiri yg begitu.
"Ya?" tanya Elnaz menaikan menaikan alis nya.
"I love you my sexy wife..." pipi Elnaz langsung merona mendengar apa yg di katakan Arfan, ia tersipu malu apa lagi saat teman teman kampus nya memperhatikan Arfan dan Elnaz. Mereka semua tersenyum, bahkan ada yg bersiul nakal.
"Ish, Kak Arfan apaan sih..." gerutu Elnaz, sementara Arfan hanya terkekeh melihat istri nya itu yg pasti sekarang pipi nya sedang merona.
"Nanti jangan lupa jemput El..." ujar Elnaz kemudian kembali berbalik badan dan melanjutkan langkah nya, lagi lagi Arfan hanya terkekeh.
Arfan memang tidak memiliki jadwal yg padat hari ini, sehingga ia memilih mengantar jemput Elnaz seperti perjanjian mereka saat Elnaz di belikan sepeda motor.
Elnaz berjalan di koridor kampus dengan santai, tangan kanan nya ia letakkan di pinggang nya sementara tangan kiri nya memegang beberapa buku nya.
Mereka bilang, beauty without heart and brain is nothing. Sementara Elnaz memiliki perpaduan dalam ketiga nya.
Dosen Elnaz yg tahu bahwa sebulan lagi Elnaz akan cuti hingga tahun depan sangat menyayangkan hal itu, namun dosen nya itu mendukung Elnaz karena Elnaz melakukan nya demi bayi nya.
.........
Sesampainya Arfan di rumah sakit, ia langsung melakukan pekerjaan nya, semenjak Elnaz hamil, Arfan selalu terlihat bahagia dengan wajah yg berseri seri. Tentu saja, memang nya siapa yg tak bahagia saat akan menjadi seorang ayah?
"Ar..." Arfan menoleh saat mendengar suara lantang Nadine yg memanggil nya.
__ADS_1
"Ya?" tanya nya.
Nadine berlari kecil menghampiri Arfan yg saat ini berjalan pelan di lorong rumah sakit, senyum sumringah tercetak di bibir nya saat tatapan nya bertemu dengan tatapan Arfan.
"Aku fikir hari ini kamu tidak kerja..." ujar Nadine sembari men sejajar kan langkah nya dengan langkah Arfan.
"Tadi aku mengantar Elnaz ke kampus nya..." jawab Arfan sembari tersenyum.
"Bukan nya dia punya sepeda motor sendiri?" tanya Nadine mengerutkan kening nya.
"Iya, tapi bukan berarti dia akan selalu mengendarai sepeda motor. Aku sudah bilang pada Elnaz, dia hanya akan mengendarai sepeda motor nya saat aku sangat sibuk dan tidak bisa mengantar jemput dia" tutur Arfan sembari membuka pintu ruangan nya dan melangkah masuk, dengan santai nya Nadine tetap mengekori Arfan masuk ke dalam ruangan nya.
"Tapi menurut aku biarkan saja istri mu menyendarai sepeda motor nya, Ar. Biar dia mandiri dan tidak manja..." ucap nya "Kamu kan sibuk kerja, pasti sangat lelah kan. Apa lagi kalau masih harus mengantar jemput istri mu" lanjut nya yg membuat Arfan terkekeh.
"Dia sama lelah nya seperti aku, Nad..." ujar Arfan sembari memeriksa beberapa file milik pasien nya, setelah mendapatkan nya, ia mengambil nya dan kembali melangkah keluar dari ruangan
"Dia itu bangun lebih pagi dari aku supaya bisa menyiapkan sarapan, habis itu dia harus pergi kuliah, dan saat sampai di rumah, ada segudang pekerjaan rumah yg menunggu nya, saat malam dia harus belajar. Dan semua itu tidak ada libur nya lho, kalau kita sebagai Dokter meskipun kadang harus bekerja sampai tengah malam, tapi kan masih ada libur nya, bisa mengajukan cuti, kalau pekerjaan Elnaz tidak bisa"
Nadine hanya bisa cengengesan sambil garuk garuk tengkuk nya mendengar ucapan panjang lebar Arfan, padahal tadi ia fikir hanya ingin membuat Arfan terkesan dengan membela Arfan, eh malah di ceramahi.
Arfan melangkahkan kaki nya menuju salah satu ruangan pasien nya di rawat, sementara Nadine masih terus mengikuti nya dan itu membuat Arfan mengernyit bingung.
"Kamu kenapa ngikutin aku terus, Nad? Memang nya kamu tidak punya pekerjaan lain?"
__ADS_1
"Huh????"