(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 47 - Rumah Tangga Kami


__ADS_3

Elsa kembali ke hotel dengan perasaan yg sangat jengkel, apa lagi mengingat kata kata Arfan yg seolah tidak pernah mencintai Elsa sedikitpun. Begitu kasar dan kata kata nya sangat menyayat hati.


Elsa mengambil ponsel nya dan kembali menghubungi ibunya.


"Assalamualaikum, Ma..." seru Elsa malas.


"Waalaikum salam, kenapa seperti kesal begitu, Sa?" tanya sang Mama.


"Tidak apa apa, cuma bosan hari ini tidak ada pekerjaan. Besok baru pemotretan lagi"


"Loh, kata nya mau kerumah adik mu. Memang nya tidak kesana? Lagian adik mu juga pasti tidak melakukan apapun kan?"


"Tadi sudah kesana, tapi Elnaz sama Arfan seperti nya tidak suka aku disana"


"Kenapa begitu? Memang nya kamu mengganggu mereka?"


"Ya tidak mungkin aku begitu, Ma. Tadi aku liat Elnaz itu sakit, kaki sama tangan nya di perban, terus aku menawarkan diri untuk bantu dia. Kasian juga Arfan tadi itu masak, dia masih harus kerja"


"Terus?"


"Ya Elnaz nya tidak mau, kata nya bisa mengurus semuanya sendiri. Padahal aku kan cuma kasihan, Mama. Apa lagi semua nya pasti Arfan yg mengurus, beresin rumah, masak, kerja"


"Anak itu kenapa bicara seperti itu? Ya sudah, Sa. Biarkan saja, nanti kalau butuh sesuatu pasti panggil kamu"


"He'em, tidak apa apa kok, Ma..."


"Ya sudah, kamu kan bisa jalan jalan atau belanja, Sa. Jangan ambil hati apa yg di katakan Elnaz, dia masih kekanak kanakan"


"Iya, Ma. Aku faham kok..."


.........


Arfan sudah menyelesaikan masak nya tentu saja dengan Elnaz yg membantu nya.


"Hem, wangi..." Elnaz menghirup aroma masakan yg sudah di sajikan kakak nya itu "Perut El langsung keroncongan, Kak" kekeh nya.


"Ya pasti keroncongan, dari siang kamu pasti belum makan" seru Arfan menyajikan piring kosong di depan istrinya itu.

__ADS_1


"Memang tidak makan, kan kata Arfan tidak boleh gerak" Elnaz menjawab nya dengan santai yg membuat Arfan gemas dan langsung mencubit pipi tembem sang istri.


"Kan sudah kakak sediakan roti, untuk mengganjal perut mu sampai kakak pulang"


"Tapi El malas..." Elnaz kembali menjawabnya sambil cengengesan.


"Lain kali tidak boleh seperti itu"


"Siap, Pak Dokter..."


.........


Setelah sholat Isya, Arfan dan Elnaz hanya rebahan di ranjang sembari menonton film.


Elnaz duduk berselonjor dan menyenderkan punggung nya di kepala ranjang, sementara Arfan setengah berbaring dengan meletakkan kepala nya di dada sang istri sementara tangannya melingkari perut nya.


Bahkan tangan nakal Arfan itu sudah menyusup ke balik kaos yg Elnaz kenakan, membuat Elnaz terkesiap saat merasakan hangat nya tangan suaminya di kulit perutnya.


"Sayang..." panggil Arfan lirih sembari mengusap perut Elnaz yg juga terasa hangat itu


"Hmmm" jawab Elnaz masih fokus pada layar televisi.


"Kenapa?" tanya Elnaz dengan suara rendah.


"Cuma tanya, kakak tahu kamu tidak akan siap punya anak sekarang. Kakak juga tidak setuju kita punya anak sekarang, kakak mau nya kamu kuliah dan mengejar mimpi kamu" tutur Arfan panjang lebar yg membuat Elnaz tersenyum. Ia menunduk dan mengecup kening sang suami yg begitu pengertian pada nya.


"El mau punya anak, dan mau di kasih sekarang atau nanti, tidak apa apa, Kak. Insya Allah El siap..." ucap Elnaz yg membuat Arfan tersenyum senang.


"Kira kira kita mau punya anak berapa, sayang?" tanya Arfan lagi sembari mengecup perut Elnaz dari balik kaos nya, membuat Elnaz menggelinjang geli.


"Satu saja, Kak..." jawab nya sambil tertawa kecil karena ulah Arfan.


"Kenapa cuma satu?" tanya Arfan masih terus mengecup perut sang istri.


"El takut kalau misalnya punya anak lebih dari satu, nanti El tidak bisa sayang semua nya. Kan kasian yg lain, Kak. Nanti sedih..." jawab Elnaz dengan suara yg langsung tercekat di tenggorokan nya. Mengingat ia tak pernah mendapatkan kasih sayang yang sama dengan Elsa selama ini karena memiliki orang tua yg pilih kasih.


Arfan yg mendengar ucapan istrinya itu membuat hati nya terkesiap, ia langsung mengulurkan tangan nya dan mengelus pipi Elnaz dengan lembut. Sementara tangannya yg lain menggenggam tangan Elnaz dan mengecup nya, menghibur Elnaz dari rasa sedih yg ia rasakan.

__ADS_1


"Kamu tidak akan seperti itu, Sayang..." seru Arfan meyakinkan "Kamu akan menjadi ibu yg terbaik di dunia, yg akan menyayangi dan mencintai anak anak kita dengan sama besar nya"


"Mama juga ibu yg baik, Kak. Tapi kenapa dia tidak mencintai El sebesar dia mencintai Kak Elsa? Bahkan Mama menyalahkan El karena Kak Arfan tidak mau menjemput Kak Elsa di bandara, Mama bilang kasihan Kak Elsa, tapi Mama tidak pernah kasihan sama El..." Elnaz berkata sembari menunduk sedih. Sementara Arfan sedikit terkejut mendengar penuturan Elnaz yg baru tahu ia di marahi Mama nya gara gara Elsa.


"Kapan Tante Isna marahi kamu, Sayang?" tanya Arfan.


"Tadi pagi, tapi Kak Arfan tidak usah marahi Kak Elsa. El sudah biasa kok selalu di salahkan sama Mama..." ucap Elnaz sembari tertawa hambar.


"Kamu yg sabar ya, kakak yakin suatu hari nanti Tante Isna pasti akan sayang kamu, Sayang..." seru Arfan menghibur yg membuat Elnaz tersenyum dan hati nya mengaminkan itu.


Ponsel Elnaz yg sedang si cas tiba tiba berdering.


"Kak, bangun dulu..." pinta Elnaz berusaha menyingkirkan Arfan dari atas tubuhnya namun Arfan malah semakin mengeratkan lingkaran tangan nya di perut Elnaz.


"Tidak mau..." seru Arfan manja "Angkat saja, speaker. Paling juga nenek..." seru nya. Elnaz pun menjawab panggilan itu dan ternyata Mama nya yg kembali menelpon.


"Assalamualaikum, Ma..." sapa Elnaz sembari me load speaker ponsel nya.


"Waalaikum salam, El. Kamu dimana? Kata Elsa kamu sakit?" tanya sang Mama yg membuat Elnaz merasa senang karena di perhatikan. Sementara Arfan hanya mendengarkan dan ia masih memeluk manja sang istri.


"Iya, cuma luka ringan, Ma..." jawab Elnaz.


"Terus kenapa kamu larang Elsa membantu mu?" tanya sang Mama lagi yg langsung membuat rasa senang Elnaz musnah seketika sementara Arfan yg mendengar itu langsung mengangkat kepalanya dari dada Elnaz.


"Bukan nya di larang, Ma. El cuma tidak mau merepotkan" jawab Elnaz mulai kesal, karena sekali lagi ia akan salah di mata sang mama hanya karena aduan Elsa.


"Elsa sendiri yg menawarkan diri, kan? Ya artinya tidak akan merepotkan, kamu saja yg tidak mau di bantu. Kata nya Arfan juga yg masak, memang nya kamu tidak kasihan sama semua suami mu? Kakak mu berniat baik, El... "


Ucapan mama nya itu membuat Elnaz sedikit geram namun ia menahan nya. Elnaz berusaha membela diri dan baru saja ia membuka mulut nya untuk berbicara tapi Arfan langsung mendahului nya.


"Ini rumah tangga kami, Tante... " seru Arfan dengan tegas yg membuat Elnaz langsung menatap suaminya itu.


"Dan kami tidak membutuhkan orang lain dalam rumah tangga kami, jika Elnaz tidak bisa mengurus rumah maka suaminya yg akan melakukan nya. Itu bukan masalah, kehidupan rumah tangga memang seperti ini kan? Berbagi tugas..."


"Elsa itu bukan orang lain, Fan. Dia kan masih kakak nya Elnaz dan adik sepupu mu juga" suara Bu Isna yg terdengar kesal, mungkin karena apa yg sudah Arfan katakan yg terbilang cukup berani.


"Dalam rumah tangga, orang tua apa lagi hanya ipar adalah orang lain" jawab Arfan yg pasti membuat Bu Isna marah.

__ADS_1


Sementara Elnaz hanya bisa tercengang mendengar jawaban Arfan yg tak pernah ia sangka sangka itu.


__ADS_2