(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 24 - Harus Bagaiamana?


__ADS_3

Elnaz ikut Arfan ke rumah sakit tempat Arfan akan bekerja, Arfan mengenalkan Elnaz dengan beberapa kenalan nya di sana dan juga seorang suster cantik yg terus mencuri pandang pada Arfan. Setidaknya seperti itu lah yg Elnaz fikirkan, suster yg bernama Suster Jessy itu terus melirik Arfan yg memang tampak sangat tampan dalam setelan jas Dokter nya.


"Aku banyak mendengar tentang mu, Dr. Arfan. Di kalangan para Dokter, kamu terkenal dengan ketampanan dan rasa tanggung jawab mu yg begitu besar" puji Suster Jessy.


Elnaz memperhatikan penampilan Suster Jessy dari atas hingga bawah, yg membuat nya mendelik adalah rok nya yg di atas lutut dan ia berpose seolah memang ingin memamerkan paha mulus nya itu, membuat rok nya semakin terangkat.


Elnaz langsung menggandeng posesif lengan Arfan.


"Kak Arfan memang sangat tampan dan tipe pria yg sangat bertanggung jawab" jawab Elnaz ketus.


"Iya, Dek. Karena itulah kami semua sangat senang karena Dr. Arfan bergabung di rumah sakit ini" ujar Suster Jessy yg membuat Elnaz semakin kesal.


"Ruangan Kak Arfan dimana? Kesana yuk..." ajak Elnaz bahkan ia langsung menarik Arfan dengan paksa.


"Tunggu tunggu..." seru Suster Jessy dan mengejar mereka "Dr. Arfan, bagaimana kalau nanti kita makan siang bersama? Di dekat sini ada restaurant yg baru buka, masakan khas padang. Bukankah Dr. Arfan sangat menyukai makanan padang?" tanya Suster Jessy dengan memamerkan gigi putih nya yg sangat rapi.


"Itu ide..."


"Kak Arfan mau makan di rumah" sela Elnaz tak membiarkan Arfan bicara, Arfan melirik Elnaz, menaikan sebelah alis nya dan ia seperti mencium aroma cemburu.


"Tapi masakan padang kan enak, Dek. Bukan nya kamu suka? Nanti kita makan disana saja ya" ujar Arfan yg membuat Elnaz memberengut.


"Ya sudah, nanti kita kesana bareng. Siang ini tugas ku juga sudah selesai" jawab Suster Jessy dengan senang.


Setelah suster Jessy pergi, Elnaz langsung memelototi Arfan.


"Kak Arfan kenapa sih mau saja di ajak dia? Kak Arfan suka ya sama suster seksi itu?" tuduh Elnaz namun Arfan malah merespon nya dengan senyum tipis kemudian ia bergegas ke ruangan nya.


"Kak Arfan..." seru Elnaz sembari berlari mengejar Arfan.


" Apa sih, Dek? Mending kamu duduk manis di sini, kakak masih ada perlu sama manager rumah sakit. Mungkin besok atau besok lusa kakak akan mulai aktif bertugas" ujar Arfan sembari mendorong Elnaz hingga terduduk di kursi nya, sementara Arfan sendiri pergi untuk menemui manager rumah sakit nya.


.........

__ADS_1


Siang hari nya, Arfan, Jessie dan Elnaz benar benar mengunjungi restaurant khas padang itu.


Elnaz terus menggandeng tangan Arfan seolah takut Arfan menghilang, sementara Arfan malah sibuk terus mengobrol dengan suster Jessy yg kata Elnaz suster seksi itu. Mereka membicarakan banyak hal padahal Arfan bilang ia hanya sebatas kenal dengan suster Jessy yg teman dari teman nya itu.


Mereka duduk di meja dekat jendela, dan Suster Jessy duduk tepat di depan Arfan sementara Elnaz di samping Arfan.


"Kak Arfan, Tante Jessy..." seru Elnaz yg membuat Jessy melotot karena ia malah di panggil Tante "Sudah dulu ngobrol nya, tidak baik bicara saat makan" ujar Elnaz jengkel.


Arfan hanya mengulum senyum dan ia pun mengangguk.


Saat pesanan mereka datang, mereka benar benar makan dalam diam, Karena saat Suster Jessy hendak memulai obrolan. Elnaz selalu menyela nya, seperti saat ini, saat Suster Jessy menanyakan alamat Arfan.


"Siapa tahu nanti aku bisa berkunjung ke rumah mu, Dok"


"Sshhttt, kata nenek kalau bicara sambil makan nanti kuawalat" seru Elnaz yg membuat Arfan tersenyum geli.


"Kak, El ke belakang dulu" ujar Elnaz saat tiba tiba ia merasa kebelet pipis. Arfan hanya mengangguk dan tetap menikmati makanan nya.


"Istri mu benar benar lucu, Fan. Di lihat dari jauh, kalian memang seperti saudara. Tapi saat dari dekat seperti ini, kelihatan sekali dia cemburu dan posesif. Apa dia memang seperti itu sejak dulu atau hanya saat status nya berubah menjadi istri mu?" ujar Suster Jessy yg membuat Arfan tertawa.


"Konseling itu bukan paksaan, Fan. Itu hanya sebuah dorongan, seperti kamu, aku yakin kamu sudah tahu apa yg harus kamu lakukan tapi belum yakin untuk mengambil langkah itu. Dan seorang Konselor memberikan mu kesadaran dan dorongan, mendukung mu bahwa langkah itu harus di ambil. Dan soal Elsa, dia sendiri yg memberikan mu pada Elnaz dan kamu sendiri memilih Elnaz. Dia tidak perlu merasa bersalah pada siapa pun, justru kalian lah yg seharusnya merasa bersalah pada gadis kecil itu"


"Aku tahu, tapi Elnaz masih remaja. Fikiran nya belum kesana, dia masih naif dan labil. Aku tidak bisa memaksa nya dan aku akan mengikuti jalan fikiran nya, aku yakin, suatu hari nanti ia tahu apa yg harus di la lakukan. Dan ya, aku memang sangat merasa bersalah pada nya, karena itu lah aku tidak akan mamaksakan apapun pada nya"


Suster Jessy yg sebenarnya adalah pacar Liam pun hanya mengangguk mengerti.


Sementara Elnaz yg ada di kamar mandi tanpa sengaja mendengarkan percakapan dua orang wanita yg salah satu nya sedang menangis sesegukan.


"Aku fikir aku tidak mencintai nya, kami bisa jadi sahabat saja. Apa lagi pernikahan kami karena perjodohan, jadi kami sepakat untuk tidak memaksakan perasaan kami. Tapi hal itu malah membuat dia jatuh cinta pada wanita lain, dan ternyata itu sangat menyakiti ku" lirih wanita itu yg membuat Elnaz meringis, apa lagi wanita itu seperti nya benar benar merasa patah hati.


"Sudah lah, mungkin dia memang bukan jodoh mu. Kamu lupakan saja dia, dan fokus pada hidup mu sendiri setelah perceraian mu selesei" ujar wanita yg satu nya lagi.


"Bagaiamana bisa aku menjalani hidup ku? Selama 6 bulan kami selalu bersama, bahkan tinggal di kamar yg sama meskipun kami tidak pernah berhubungan suami istri. Aku sudah sangat nyaman dengan nya dan aku ingin memiliki nya selama nya"

__ADS_1


"Memang selalu seperti itu, kita akan tahu betapa berharga nya seseorang saat dia pergi"


"Tapi kenapa dia tidak mencintai ku juga? Kenapa dia malah mencintai wanita lain?"


"Mau bagaimana lagi? Kamu selalu mengatakan bahwa kalian bisa menjadi sahabat dan menunggu perasaan cinta datang dengan sendirinya"


"Hiks... Hikss... Sakit sekali hati ku"


Elnaz bergidik ngeri mendengar curahan hati wanita yg sedang patah hati itu.


Elnaz segera keluar dari bilik toilet, ia mencuci tangan di wastafel sembari melirik wanita yg masih menangis itu.


Elnaz merasa kasihan dan tiba tiba ia teringat dengan diri nya sendiri. Bukankah ia dan Arfan juga hanya menganggap satu sama lain sebagai kakak adik?


Bagaiamana jika suatu hari nanti Arfan malah jatuh cinta pada wanita lain dan di saat itulah Elnaz menyadari bahwa ia mencintai Arfan sebagai pasangan?


Jangan fikirkan suatu hari nanti, lihatlah sekarang Suster seksi itu yg tampak sangat akrab dengan Arfan?


Dan kakak nya sendiri, Elsa. Dia masih cinta mati pada Arfan dan mereka sebelum nya sudah menjalin kasih selama 8 tahun. Pasti Arfan masih menyimpan cinta untuk Elsa kan? Dan pasti mudah saja bagi Elsa untuk merebut Arfan kembali.


Elnaz terus berjalan sembari melamun, bahkan sampai ia kembali ke meja nya. Bagaimana jika nanti ia patah hati seperti wanita itu?


"Dek..."


"El..."


"Princess..."


Arfan melambaikan tangan nya di depan wajah Elnaz yg masih melamun.


"Eh, ya, kenapa, Kak?" tanya Elnaz gelagapan.


"Ayo selesaikan makan mu, setelah ini kita pulang" ujar Arfan dan Elnaz menggeleng, selera makan nya sudah hilang karena memikirkan bagaimana jika ia patah hati.

__ADS_1


"Bungkus saja ya, sayang kan?" tanya Arfan dan Elnaz hanya mengangguk.


"Nenek, El harus bagaimana? Menunggu perasaan cinta itu datang sendiri atau menciptakan perasaan cinta itu agar segera datang? Sebelum terlambat?"


__ADS_2