
Tiga hari setelah acara resepsi, Arfan Elnaz memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Elnaz harus kembali pada kuliah nya sementara Arfan harus kembali pada pekerjaan nya.
Dan di sinilah Arfan sekarang, di rumah sakit dan menjalani pekerjaan nya seperti bias, namun ada yg tak biasa, ketika Dokter baru yg bernama Nadine itu selalu menempel pada Arfan setiap kali ada kesempatan. Arfan tak keberatan karena ia berfikir mereka baru bertemu kembali setelah sekian lama.
"Oh ya, Ar..." Nadine duduk di kursi yg ada di depan Arfan, sementara Arfan duduk di kursi nya sendiri sembari sesekali melirik arloji nya. Ini sudah waktu nya jam makan siang, tapi seperti nya Elnaz akan terlambat membawakan makanan nya sekarang "Kamu bahagia sama istri kamu?" Arfan terhenyak mendengar pertanyaan Nadine itu, kening Arfan mengkerut.
"tentu saja, kami saling mencintai" jawab Arfan.
"Tapi Elsa? bukan kah kalian pacaran sangat lama?" tanya Nadine penasaran.
"Kami..." ucapan Arfan terhenti saat pintu ruangan nya terbuka dan menampilkan Elnaz yg datang dengan sedikit memberengut.
"Ada apa, El? kenapa cemberut?" tanya Arfan sembari duduk dari kursi nya dan menyambut kedatangan Elnaz.
"Ban motor El bocor tadi, maka nya lama, sudah gitu panas lagi..." gerutu Elnaz yg membuat Arfan langsung menatap sendu istri nya itu.
"Kasian nya kamu, Sayang. Terus kenapa tidak telfon?"
"El takut Kak Arfan sibuk..." jawab Elnaz, ia melirik Nadine yg masih duduk di tempat nya semula dan saat ini sedang memperhatikan interaksi Arfan dan Elnaz.
"Maaf ya.." ucap Arfan tulus, ia mengelap keringat di wajah istri nya itu.
"Tidak apa apa, sekarang El mau pulang..." ujar Elnaz masih melirik Nadine seolah mengawasi nya.
__ADS_1
"Jadi nasib motor mu bagaimana? Sudah di perbaiki? " tanya Arfan sembari membawa Elnaz ke ruangan nya supaya Elnaz terkena AC dan tidak merasa panas lagi.
"Belum, ada di bengkel. El naik taksi"
"Kalau begitu tunggu kakak saja" ujar Arfan, "nanti kita pulang bersama, jam 4 kaka sudah pulang" bujuk Arfan.
"Kelamaan, El belum menyetrika, sudah numpuk setrika an" rengek nya yg membuat Arfan menghela nafas lesu.
"Baiklah, kakak antar kamu pulang" ujar Arfan yg membuat Elnaz tersenyum
"benaran? Memang nya tidak sibuk?"
"Saat ini tidak, habis makan, kakak antar kamu, ya" Elnaz mengangguk dengan senyum sumringah, sementara Nadine masih setia sebagai penonton dan memperhatikan Elnaz yg bersikap sangat manja dan kekanak kanakan pada Arfan.
"Tidak, terima kasih" jawab Nadine dengan senyum samar, kemudian ia beranjak dari kursi nya dan pamit keluar pada Arfan. Setelah Nadine keluar, Arfan menatap Elnaz yg tampak nya tak marah padahal tadi Elnaz memergoki kedua nya sedang berduaan di ruangan Arfan.
"Kenapa menatap El begitu, Kak?" tanya Elnaz sembari membuka rantang nya yg berisi nasi lengkap dengan lauk pauk nya.
"Kamu tidak marah, Sayang?" tanya Arfan dengan suara rendah.
"Cemburu saja sedikit" jawab Elnaz yg mengerti apa maksud pertanyaan Arfan.
"Terus kenapa tidak marah marah? Biasa nya kalau kamu cemburu itu mengerikan lho" kata Arfan sambil terkekeh yg membuat Elnaz tersenyum simpul.
__ADS_1
"Karena Kak Arfan tahu kalau El itu cemburuan dan kalau cemburu mengerikan, jadi El tidak perlu tunjukin lagi kan?" Elnaz berbicara masih dengan mengulum senyum.
Sementara Arfan hanya terdiam, ia merasa seperti ada yg salah dengan sikap Elnaz namun Arfan mengabaikan nya, Arfan merasa mungkin Elnaz sedang berusaha mengendalikan sifat pecemburu nya itu.
Atau mungkin karena Arfan sudah menegaskan kalau Elnaz tak tergantikan? Arfan tersenyum memikirkan itu namun senyum nya hilang saat Elnaz berkata
"Sebenar nya El juga tidak percaya 100% sama Kak Arfan..."
"Eh? maksud nya?" tanya Arfan serius karena tak menyangka Elnaz akan berkata demikian.
"Maksud El..." Elnaz menoleh pada pintu yg tertutup "Nad Nad itu tertarik sama Kak Arfan, El bisa pastikan itu benar. Dan biasa nya wanita kalau sudah tertarik pada pria akan mengejar nya, ya meskipun pria itu sudah beristri, yaaa wanita yg tidak benar saja sih yg melakukan itu" Elnaz berkata dingin, namun Arfan masih belum menangkap apa maksud Elnaz.
"Dan pria itu..." Elnaz menatap Arfan dengan lembut "Sangat mudah tergoda sebenar nya, tidak peduli apakah dia sudah beristri atau tidak, apakah dia pria baik atau bajingan dan tidak peduli apakah istri nya cantik, baik dan mampu memuaskan nya di ranjang. Jika ada yg lebih menarik dan menantang, biasa nya akan di lakukan oleh pria. Kecuali... " Elnaz menggantungkan kata kata nya namun masih mengunci tatapan nya pada Arfan.
"Kecuali jika pria itu adalah pria yg mampu melawan nafsu nya, karena godaan wanita selain istri itu adalah nafsu dan nafsu itu di tunggangi setan"
Arfan malah terkekeh mendengar apa yg di ucapkan Elnaz panjang lebar, ia mengusap kepala istri nya itu dengan gemas.
'Kakak tidak akan tergoda dengan wanita lain...' tegas nya lagi.
"godaan itu bukan hanya tentang tubuh lho, Kak. Tapi bisa juga dengan perasaan seperti perasaan nyaman dan nyambung saat mengobrol..."
"Iya iya... Kakak faham, kamu sedang memperingati kakak rupa nya" ujar Arfan lagi.
__ADS_1
"sebaik nya temani kakak makan, habis ini kakak antar kamu pulang" imbuh nya dan Elnaz mengangguk.