
Arfan yg saat ini kembali bertugas tampak lebih ceria dan juga bersemangat, senyum tak berhenti mengembang di bibir nya. Apa lagi setiap kali teringat bagaimana bibir nya bersentuhan dengan bibir Elnaz, entah bagaimana sentuhan tak sengaja itu seperti menimbulkan sengatan listrik tersendiri dalam diri nya. Bahkan sampai detik ini, ia seolah masih merasakan sentuhan itu, membuat darah nya berdesir hangat.
Setelah selesai bertugas, Arfan kembali keruangan nya. Ia duduk di meja nya sembari membayangkan wajah Elnaz setelah ciuman tanpa sengaja itu, pipi nya yg merona, mata nya yg melebar karena terkejut, sangat indah. Arfan memegang bibir nya, mengusap nya sembari tersenyum. Bahkan saking melayang nya fikiran nya saat ini, ia sampai tidak sadar dengan kehadiran suster Jessy.
"Fan..." seru Suster Jessy yg langsung menyadarkan lamunan Arfan "Kamu kenapa pegang bibir terus dari tadi? Sariawan?" tanya suster Jessy heran dan Arfan malah tersenyum sembari menggeleng.
"Ternayata begini ya rasa nya ciuman pertama" ujar Arfan yg membuat Suster Jessy semakin bingung.
"Ciuman pertama? Maksud nya?" tanya Suster Jessy sembari menarik kursi dan duduk di depan Arfan.
"Ciuman pertama ku dan Elnaz" jawab Arfan lirih yg membuat suster Jessy tercengang.
"Kamu dan Elnaz ciuman? Di bibir?" tanya nya lagi dan Arfan mengangguk pelan masih dengan senyum di bibir nya, suster Jessy langsung tertawa geli "Kamu itu ya, udah seperti ABG yg baru merasakan ciuman bibir"
"Ini memang ciuman pertama ku, Jes" seru Arfan serius yg langsung membuat tawa Suster Jessy terhenti.
"Ciuman pertama mu? Tidak mungkin, jangan sok suci" seru suster Jessy.
"Aku bersumpah demi istri ku Elnaz, dia adalah wanita pertama yg berciuman bibir dengan ku" tukas Arfan sangat serius yg membuat suster Jessy menganga lebar.
"Lalu Elsa?" tanya Suster Jessy.
"Hanya di pipi dan kening, ya beberapa kali hampir ke bibir tapi aku selalu bersusaha mengontrol diri. Karena biasa nya kalau sudah ke bibir, maka hasrat akan memuncak" jelas Arfan dan Suster Jessy mengangguk mengerti.
"Dan kamu sudah berciuman bibir dengan Elnaz, itu arti nya hasrat mu sudah memuncak?" cibir Suster Jessy yg langsung di lempar pena oleh Arfan.
"Ciuman kami tidak sengaja, itu mungkin hanya sepersekian detik. Jadi yg aku rasakan cuma gugup"
__ADS_1
"Haha haha..." suster Jessy tak bisa menahan tawa nya mendengar pengakuan seorang dr Arfan yg gugup hanya karena tanpa sengaja mencium bibir istrinya sendiri "Elnaz membuat mu seperti orang bodoh ya, kamu bahkan sudah pacaran sejak usai mu 20 tahun, tapi kenapa baru di usia 28 tahun kamu bertingkah seperti ABG kasmaran" tukas Suster Jessy masih tertawa, Arfan menanggapi hal itu dengan senyum geli nya. Ia sendiri baru sadar bahwa apa yg di katakan suster Jessy memang ada benar nya juga. Elnaz membuat nya seperti orang bodoh.
"Oh ya, aku kesini cuma mau bilang kalau dua hari lagi aku mau ke Surabaya" ucap suster Jessy kemudian "Kata Liam, kamu dan Elnaz juga akan ke Surabaya?"
"Iya,karea Elnaz wisuda. Aku sudah berjanji akan membawa nya saat wisuda"
"Berapa lama kalian di sana?"
"Hanya sehari, karena...karena kampung kami bukan tempat yg baik untuk Elnaz saat ini" Arfan menjawab sembari tersenyum masam. Bahkan sampai detik ini, tidak ada tanda keluarga mereka menerima pernikahan mereka. Terutama Tante Isna nya, ia tampak nya masih sangat marah pada Elnaz dan diri nya.
"Ya, aku mengerti. Memang ada baik nya Elnaz di jauhkan dari tempat yg bisa mengguncang mental nya, karena dia masih remaja dan sedang dalam proses pembentukan karakter" tukas Suster Jessy yg tentu saja langsung di benar kan Arfan.
"Jadi, nanti kita ke Surabaya bareng?" tanya Arfan
"Ya, dan tolong beri tahu istri mu aku bukan penggoda. Karena setiap kali dia menatap ku, dia seperti akan memakan ku hidup hidup karena mengira aku penggoda dan menggoda mu" kata suster Jessy sembari mencebikan bibir nya yg membuat Arfan tertawa.
.........
"Kenapa rasa nya aneh ya?" gumam nya sembari mesem mesem. Namun senyum nya seketika hilang saat membayangkan mungkin seperti ini juga yg di rasakan Elsa saat Arfan mencium bibir nya.
Hati Elnaz terbakar cemburu, mengingat fakta bahwa sebelum menjadi milik nya, Arfan adalah milik kakak nya, Elsa.
Elnaz melempar buku itu ke meja, ia bergegas ke dapur dan menyibukkan diri di sana guna mengalihkan perasaan dan fikiran nya yg berkelana kemana mana.
Elnaz membuat kue dan hasil nya sangat enak, hal itu berhasil mengembalikan mood nya dan ia kembali tersenyum ceria dan bersemangat.
Dan setelah selesai membereskan dapur dan menata kue di ruang di tengah, Arfan pun pulang. Elnaz bergegas menyambut suami nya itu.
__ADS_1
"Bikin kue cokelat, Dek?" tanya Arfan yg mencium aroma cokelat dari tubuh Elnaz.
"Iya, sudah masak. Enak rasa nya" jawab Elnaz, Arfan mengecup pelipis Elnaz dan kedua nya bergandengan tangan memasuki rumah.
Arfan pergi mencuci tangan kemudian ia bergabung dengan Elnaz menikmati kue buatan Elnaz.
"Hm, rasa nya lezat" puji Arfan tulus yg membuat Elnaz tersenyum senang.
"Iya dong, apa saja yg di masak El pasti enak" ucap Elnaz penuh percaya diri, membuat Arfan merasa gemas. Ia menarik tangan Elnaz.
"Tangan Princess nya dr. Arfan memag ajaib, sini biar dr. Arfan cium sebagai apresiasi" seru nya yg membuat Elnaz tertawa geli dan membiarkan Arfan melakukan nya, kemudian Arfan mencium tangan Elnaz yg masih belepotan dengan bekas kue cokelat nya. Bahkan ia menjilati jari Elnaz yg ada sisa cokelat nya, hal itu tentu langsung membuat darah Elnaz berdesir hangat, ia merasa gugup dan pipi nya terasa panas dan kini pasti sudah merah seperti tomat.
Arfan melirik Elnaz semantara ia masih menjilati jari Elnaz, Arfan menikmati ekspresi Elnaz yg membuat pandangan nya kini berubah, menjadi gelap. Dada nya berdebar kencang.
Arfan mendekatkan diri nya pada Elnaz yg juga menatap nya, tatapan kedua nya terkunci. Arfan membelai pipi Elnaz dengan begitu lembut dan nafas kedua nya sama sama memberat. Tatapan Arfan turun pada bibir Elnaz yg sedikit terbuka dan ada sebutir kue cokelat di sudut bibir nya.
Arfan mendekatkan wajah nya pada wajah Elnaz, membuat Elnaz bisa merasakan hembusan nafas hangat suami nya itu. Kini jarak bibir Elnaz dan bibir Arfan hanya satu senti, Arfan kembali menatap Elnaz, meminta persetujuan untuk langkah selanjutnya. Elnaz hanya bisa memejamkan mata sebagai jawaban nya, yg tentu saja membuat jiwa Arfan bersorak serang.
Mendapatkan lampu hijau dari Elnaz, perlahan Arfan menyentuh kan bibir nya dengan bibir Elnaz, menyapukan nya dengan begitu lembut, menjilat sisa kue cokelat itu, membuat Elnaz menahan nafas. Perasaan nya bergejolak, jantung nya berdebar seolah akan melompat dari tempat nya.
"Bernafaslah, Sayang" bisik Arfan tepat di bibir Elnaz dan seketika Elnaz menghembuskan nafas hangat nya yg justru menerpa wajah Arfan dan membuat suaminya itu semakin menggila dan tak bisa lagi menahan diri.
Arfan langsung mengecup lembut bibir Elnaz, dimana kecupan itu perlahan berubah menjadi ciuman. Ciuman yg juga lembut namun perlahan itu juga berubah menjadi ciuman yg menuntut. Reflek Elnaz mengangkat tangan nya dan meremas lengan Arfan, guna melampiaskan perasaan menggebu akibat ciuman Arfan yg membuat kepala nya pening ini. Namun tak bisa ia pungkiri, ia juga merasakan sesuatu yg berbeda di hati nya, dan perutnya pun bergejolak seperti ada ribuan kupu kupu yg menari bebas di sana.
Arfan menyelipkan tangan nya ke tengkuk Elnaz dan menekan kepala Elnaz guna memperdalam ciuman nya. Arfan bergerak ke kanan dan ke kiri, mencecap setiap inci bibir penuh istri nya itu yg terasa begitu manis dan lezat.
Hingga Arfan dengan sangat terpaksa mengakhiri ciuman itu saat ia merasa bahwa ia dan istri nya membutuhkan oksigen.
__ADS_1
Setelah ciuman terlepas, Elnaz menunduk malu, Arfan mengangakat dagu Elnaz dengan jemari nya. Memaksa Elnaz menatap mata nya. Tatapan kedua nya bertemu dan terlihat ada yg berbeda di sana, nafas kedua nya memburu dengan dada yg naik turun. Arfan menempelkan kening nya dengan kening Elnaz, ia mengusap bibir Elnaz yg kini basah dan bengkak akibat ulah nya.
Keduanya saling melempar senyum penuh arti namun masih tak ada yg bersuara.