
Arfan mengecek kembali persiapan untuk pesta pernikahan nya dan Elnaz dengan di bantu oleh Dokter Liam dan Suster Jessy, mereka llmemastikan semua nya berjalan dengan lancar. Sementara Elnaz, semenjak pertemuan nya dengan Dokter Nadine itu membuat mood nya benar benar buruk. Ia tidak lagi perduli dengan persiapan pesta pernikahan nya.
"El..." Elnaz yg saat ini sedang di kamar nya lebih memilih bermain game di laptop Arfan, bahkan untuk makan pun, ibu mertua nya harus memanggil nya ke kamar, seperti saat ini.
"Kenapa, Ma?" tanya Elnaz mendongak.
"Tidak makan, El? Atau mau makan apa gitu, El" tawar ibu mertua nya. Elnaz terdiam sesaat, memikirkan apa yg kira kira ia ingin makan saat ini.
"El belum lapar, Ma" jawab Elnaz kemudian setelah ia tak merasa ingin memakan apapun.
"Loh, kenapa begitu? Seharusnya kamu makan yg banyak, El. Buat bayi kamu" tukas ibu mertua nya lagi.
"Nanti saja, kalau Kak Arfan sudah pulang" ujar Elnaz kembali.
"Ya sudah kalau begitu" ujar ibu mertua nya kemudian ia meninggalkan Elnaz.
Elnaz menghembuskan nafas kasar, teringat kembali dengan apa yg di katakan wanita bernama Nadine itu.
Sementara Bu Yuni kini menghubungi Arfan dan meminta Arfan pulang, karena Elnaz tidak mau makan.
Arfan baru pulang jam 10 malam karena masih banyak yg harus ia lakukan.
Dan sesampainya di rumah, ia mendapati Elnaz yg sudah tertidur dengan bersandar pada kepala ranjang dengan sebuah buku di tangan nya.
"Sayang..."
"El..."
Arfan menepuk pipi Elnaz, membuat Elnaz menggeliat malas dan perlahan ia membuka mata.
__ADS_1
"Sayang, kamu sudah makan malam?" tanya Arfan, Elnaz mengucek mata nya sembari menggeleng.
"Mau makan sama Kak Arfan" ucap nya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Tapi tadi kakak sudah makan, Sayang" ujar Arfan yg membuat Elnaz mengernyit.
"Sama siapa? Dimana?" tanya nya.
"Tadi sama Liam dan Nadine" jawab Arfan yg membuat Elnaz melotot kesal.
"Oh, jadi AR sama Dokter Nadine makan malam bersama" tukas Elnaz penuh penekanan, yg membuat Arfan malah terkekeh.
"Kenapa sih, hm? Cemburu?" goda nya yg membuat Elnaz mendelik. Ia merangkak turun dari ranjang dan mengambil satu bantal.
"Mau kemana, Sayang?" tanya Arfan bingung sembari mengikuti Elnaz yg bergegas keluar dari kamar nya.
"Mau tidur di rumah Mama, AR" ujar nya yg lagi lagi membuat Arfan bingung.
"Kenapa? Tidak boleh? Apa itu panggilan spesial dari Dokter Nadine yg cantik untuk Dokter Arfan yg tampan?" tanya Elnaz ketus tanpa berhenti melangkah.
"Tunggu..." Arfan menarik tangan Elnaz namun Elnaz menyentak nya "Sayang, jangan bilang kamu cemburu sama dia. Dia itu cuma teman, El. Teman lama, tadi kebetulan kami ketemu, ada Liam juga kan"
"Oh ya, tentu saja. Dokter Arfan, Dokter Liam dan Dokter Nadine yg seksi. Kalian memang sangat cocok" ketus Elnaz lagi. Ia kembali melangkah hingga kini ia sampai di depan rumah orang tua nya dan Elnaz pun mengetuk pintu nya.
"El, kamu serius mau tidur di rumah sini?" tanya Arfan tak habis fikir dengan istri nya itu.
"Iya, Ar. Kenapa? Tidak boleh?" tanya Elnaz lagi yg membuat Arfan merasa gemas pada istri nya itu, karena seperti nya sekarang ia benar benar sedang cemburu.
"Oh, my precious..." seru Arfan dan kemudian tanpa aba aba, ia langsung membungkuk, menyelipkan tangan nya di belakang lutut Elnaz dan di punggung nya dan kemudian Arfan pun langsung mengangkat Elnaz ke dalam gendongan nya, membuat Elnaz memekik terkejut.
__ADS_1
"Turun aku aku, Arrrrr...." teriak nya kesal, yg malah membuat Arfan semakin gemas dan terkekeh.
Bersamaan dengan itu, pintu terbuka dan Pak Malik keluar dari balik pintu.
"Ada apa? Kenapa kalian di sini?" tanya nya heran, apa lagi melihat Arfan yg menggendong Elnaz sementara Elnaz memberontak dalam gendongan suami nya itu.
"Tidak apa apa, Pa. Elnaz ingin di manja saja" jawab Arfan "Maaf ganggu ya, Pa..." lanjut nya.
"Kalian mau tidur di sini?" tanya Pak Malik karena melihat Elnaz memegang bantal.
"El yg mau tidur di sini, Pa. Sementara Arrrrrr ini sibuk makan malam sama teman lama nya" ujar Elnaz yg membuat Arfan langsung Tertawa, sementara Pak Malik malah tampak bingung.
"Maksud nya?" tanya Pak Malik.
"Maksudnya..."
"El cemburu sama teman ku, Pa" sela Arfan dengan cepat "Papa, permisi... Aku mau masuk, berat ini, ugh..." ucap Arfan sembari masuk ke rumah melewati Pak Malik yg masih melongo heran dengan kelakuan absurd putri dan menantu nya itu.
"Lepaskan, Aarrrr yg tampan, yg tampan nya masih sama...." gerutu Elnaz lagi karena ia benar benar merasa kesal pada suami nya ini. Lagi lagi itu membuat Arfan terkekeh.
"Oh, Sayang. Kamu Sangat cantik dan seksi kalau lagi marah seperti ini, rasa nya kakak ingin memakan ku" goda Arfan sembari menurunkan Elnaz di ranjang nya.
"Memang nya belum kenyang saat makan malam bersama teman lama mu itu, Arrrr?" tanya nya cemberut.
"Belum" jawab Arfan kemudian mencium pipi Elnaz bahkan menggigit nya dengan gemas "Cuma kamu yg bisa buat kakak kenyang" bisik nya yg membuat Elnaz memberengut.
"Tunggu di sini, kakak akan cari makan di dapur" ujar nya, Elnaz tak menjawab sementara Arfan pergi ke dapur.
Mencari makanan dan ia menemukan tim ayam di kulkas dan juga telur asin, Arfan memanaskan nya. Kemudian ia juga mengupaskan buah apel dan jeruk untuk istri nya itu.
__ADS_1
Setelah itu, ia membawa semua nya ke kamar dan menyajikan nya untuk istri nya itu.
Elnaz yg memang merasa lapar, memakan saja apa yg ada, apalagi karena Arfan menyuapi nya dengan telaten.