(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 72 - Soal Bayi


__ADS_3

"Beb, mulai sekarang kamu tinggal sama aku saja ya" ujar Jimmy dengan enteng nya pada Elsa yg tentu membuat Elsa menganga.


"Kita kan belum menikah, Jim. Masak iya tinggal satu rumah" bantah Elsa tak menyetujui ajakan kekasih nya itu.


"Oh, Elsa sayang ku. Memang apa salah nya kalau kita belum menikah? Lagian memang nya kamu tidak malu menumpang terus sama Olga?"


"Dia itu kan teman aku, Jim. Lagi pula aku sama dia patungan bayar apartemen nya"


"Dia teman mu, aku pacar mu..." tukas Jimmy lagi sambil tersenyum lebar "Kamu sama dia patungan bayar apartemen, kalau sama aku kamu tidak perlu membayar apapun. Aku cuma mau dekat saja sama kamu, Sa. Perlahan popularitas kamu semakin naik, pasti akan ada banyak laki laki yg ngejar kamu juga, aku cuma tidak mau kehilangan kamu "tutur Jimmy panjang lebar namun Elsa tentu tetap tidak bisa menyetujui ajakan Jimmy itu.


"Jim, aku akan setia sama kamu. Aku janji, aku akan tetap tinggal sama Olga sampai aku bisa menyewa tempat tinggal sendiri" tegas Elsa yg membuat Jimmy menarik nafas panjang namun kemudian ia tetap tersenyum dan mengalah.


"Okey, asal kamu nyaman dan setia sama aku" ujar Jimmy.


.........


Elnaz yg kembali kuliah langsung di sambut dua teman terdekat nya, siapa lagi kalau bukan Andy dan Robin.


Kedua teman nya itu mengucapkan bela Singkawa atas kematian nenek Elnaz.


Elnaz menjalani kuliah nya seperti biasa dan ia menikmati itu.


Saat kelas berlangsung, ponsel Elnaz berdering dan ia langsung mendapatkan teguran dari dosen nya. Elnaz pun langsung mengalihkan ponsel nya ke mode silent dan ia kembali menyimak materi yg di berikan dosen nya.


Setelah kelas selesai, Elnaz memeriksa ponsel nya dan ternyata yg menghubungi nya itu ibu mertua nya. Elnaz menelpon balik dan hanya dalam hitungan detik, panggilan nya langsung di jawab.


"Assalamualaikum, Ma" sapa Elnaz lemas, karena ia tahu apa yg akan di bahas ini mertua nya itu. Soal bayi lagi, tentu saja.


"Kamu lagi di kampus, El?" tanya sang ibu mertua yg bahkan tak membalas ucapan salam Elnaz.


"Iya, ada apa?" tanya Elnaz datar.

__ADS_1


"Itu, El... Kamarin Mama ketemu teman arisan Mama, dia cerita kalau dulu anak nya itu sulit hamil. Terus dia itu pergi ke dukun..."


" Astagfirullah, Mama..." pekik Elnaz memotong pembicaraan ibu mertua nya, ia merasa kesal dan benar benar tak habis fikir dengan pola fikir sang ibu mertua yg bahkan sudah membawa bawa dukun.


"Dengarkan dulu ucapan Mama, El..." kesal ibu mertua nya. Elnaz seketika ingatan dengan ucapan Arfan, bahwa ia juga masih muda, bahkan belum 20 tahun, Arfan saja sangat mengerti hal itu dan tidak pernah menekan Elnaz soal bayi.


"Ma, Elnaz itu bisa hamil, El sehat dan tidak punya masalah apapun. Allah belum ngasih saja, Mama..." tukas Elnaz penuh penekanan


"Dan lagi pula, Elnaz itu masih muda, El bahkan belum genap 20 tahun" ucap Elnaz kemudian dengan lirih. Dan Elnaz bisa mendengar helaan nafas ibu mertua nya.


"Mama tahu, El. Mama bukan nya berniat memaksa kamu, hanya saja kalau Mama tidak dapat keturunan dari Arfan, dari siapa lagi? Kalau Mama mu masih beruntung ada Elsa" tukas sang ibu mertua yg membuat Elnaz menghela nafas berat.


"El tahu, El juga bukan nya tidak mau punya bayi, El dan Kak Arfan sudah berusaha. Mama doakan saja kami, dan jangan dengarkan teman Mama yg bawa dukun itu. Dosa, Mama"


"Iya iya..."


.........


Arfan berusaha keras menjalankan pekerjaan nya sebaik mungkin karena ia tahu ini memang tanggung jawab nya.


Setelah menyelesaikan semua pekerjaan nya, Arfan pun bergegas pulang.


Hari sudah gelap, lampu lampu di jalan sudah menyala dan angin terasa begitu dingin membelai wajah Arfan karena kaca mobil yg tetap ia buka.


Sesampainya dirumah, Arfan di sambut dengan wajah cemberut Elnaz.


"Ada apa lagi, Sayang?" tanya Arfan berusaha tetap bersikap lembut.


"Tadi Mama telpon" jawab Elnaz sambil membawakan tas kerja Arfan.


"Mama mu atau Mama ku?" tanya Arfan sambil menarik tengkuk Elnaz dan mengecup kening nya, sebagaimana rutinitas mereka yg tak pernah terlewatkan apapun yg terjadi.

__ADS_1


"Mama mertua" jawab Elnaz lirih.


"Ada apa lagi? Tanya bayi lagi?" tanya Arfan jengah dan Elnaz mengangguk.


"Sudah lah, El. Jangan dengarkan Mama ya" pinta Arfan lesu.


"Tapi Mama sudah keterlaluan, Kak. Masak dia sampai bawa bawa dukun..." ujar Elnaz yg membuat Arfan melongo.


"Dukun? Maksudnya?" tanya Arfan dan Elnaz pun menceritakan apa saja yg di bicarakan Mama mertua nya itu.


Arfan tidak tahu harus kah ia tertawa geli mendengar cerita Elnaz atau haruskah ia kesal karena lama kelamaan ia muak juga dengan permintaan bayi itu.


"Sayang, sekarang aku lelah sekali. Kita bicarakan itu nanti saja ya" ucap Arfan akhir nya dan kemudian ia bergegas ke kamar nya untuk membersihkan diri, meninggalkan Elnaz yg diam termangu di tempat nya.


Elnaz merasa seperti nya Arfan sudah sangat lelah dengan topik bayi itu dan hal itu berhasil membuat Elnaz murung.


Setelah Arfan mandi, kedua nya melaksanakan sholat berjemaah seperti biasa dan melakukan aktifitas yg lain nya. Namun beda nya, Arfan tidak banyak bicara, ia hanya bicara sekedar nya saja membuat Elnaz merasa ada sesuatu yg berbeda.


Apa lagi setelah itu, Arfan malah langsung tidur duluan. Padahal biasa nya Elnaz dan Arfan masih mengobrol sebelum tidur, membicarakan hari hari mereka dan aktifitas mereka yg berbeda.


Biasanya mereka masih saling memanjakan satu sama sama lain.


Elnaz pun hanya sibuk bermain ponsel karena ia tidak mengantuk sementara Arfan sudah tertidur sangat lelap di samping nya.


Keesokan harinya, Arfan berangkat ke rumah sakit pagi pagi sekali dan ia meminta Elnaz untuk naik taksi ke kampus. Arfan juga mengatakan ia tidak mungkin bisa menjemput Elnaz nanti dan seperti nya ia juga akan lembur.


Hal itu membuat semangat Elnaz seperti layu padahal itu bukan pertama kali nya Arfan sangat sibuk dan lembur.


"Apa karena Kak Arfan tidak mau membicarakan bayi lagi? Maka nya dia menghindar" batin Elnaz berseru lesu.


Ia pun kembali menjalani kuliah nya dan ia sedikit terhibur dengan Andy yg terus berceloteh tentang banyak hal. Beruntung nya ia punya teman bawel seperti Andy.

__ADS_1


__ADS_2