(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 80 - Kedatangan Papa


__ADS_3

"El kecewa sama kakak, Papa Mama akan kecewa sama kak Elsa. Sebebas ini hidup Kak Elsa, huh?"


Elnaz bertanya dengan nada marah, mungkin seumur hidup ini pertama kali nya Elnaz benar benar marah sama Elsa.


"Hey princess, Elnaz. Kenapa kamu harus marah marah sama Elsa?" tanya Jimmy karena Elsa yg hanya diam saja.


"Memang nya ada yg salah kalau aku tinggal bersama kekasih ku?" tanya nya kemudian dan ia kembali menggerling nakal pada Elnaz membuat Elnaz merasa sangat jijik pada pria di depan nya ini.


"Tentu saja salah, kalian belum menikah" tegas Elnaz dengan berani "Kak Elsa, kenapa kakak bisa begini? kak Elsa tidak memikirkan perasaan Papa dan Mama?" tanya Elnaz menatap sendu kakak nya itu, namun jawaban Elsa malah membuat emosi Elnaz memuncak.


"Aku sudah dewasa, El. Aku bisa melakukan apapun yg aku mau" Elnaz menganga mendengar jawaban kakak nya itu.


"Tidak bisa begitu, Kak. Kakak itu masih tanggung jawab Papa, Kak Elsa tidak bisa selalu mengambil keputusan seperti ini"


"El, please..." geram Elsa "Lagi pula aku sama Jimmy akan menikah" tukas Elsa yg lagi lagi membuat Elnaz menganga.


"Kak Elsa jangan gila, Jimmy itu sudah punya istri dan anak. Kak Elsa mau jadi perusak rumah tangga orang?"


"Lalu apa beda nya dengan kamu yg merusak hubungan ku dan Arfan?" tukas Elsa yg lagi lagi membuat Elnaz melongo dan hanya bisa geleng geleng kepala. Ia sungguh tidak mengerti dengan jalan fikiran kakak nya ini.


"Kak Elsa lupa siapa yg meninggalkan Kak Arfan? Kak Elsa lupa siapa yg melempar ku ke pelaminan?" Elnaz mendesis tajam, sementara Elsa tentu hanya bisa menutup mulut nya rapat rapat.

__ADS_1


"Kak Elsa tidak berhak menyalahkan ku ataupun Kak Arfan!" tegas Elnaz kemudian "Karena semua itu terjadi karena sifat keras kapala kakak, karena keegoisan kakak. Lihat sekarang, kakak kehilangan Kak Arfan untuk selama nya. Dan jika Kak Elsa masih terus melakukan hal bodoh seperti ini..." Elnaz berkata sambil menatap tajam Jimmy yg malah tampak tenang bahkan ia masih menyunggingkan senyum menjijikan pada Elnaz.


"tinggal bersama pria yg bukan suami Kak Elsa, melainkan suami orang. Hidup Kak Elsa pasti akan jauh lebih hancur, aku masih adik mu, Kak. Dan aku tidak mau kakak ku di sakiti ataupun menyakiti, jadi fikirkan ini baik baik" tegas Elnaz kemudian ia bergegas pergi dari sana tak peduli Elsa yg terus memanggil nya.


"Sudah lah, Beb. Adik mu itu masih kecil, maklumi saja" tukas Jimmy kemudian dan ia malah merangkul Elsa kembali masuk.


"Tapi Elnaz benar, Jim. Aku butuh kejelasan dalam hubungan kita, aku ingin kamu segera menemui orang tua ku"


"Iya iya, jangan khawatir"


"Tapi papa mama ku akan marah kalau aku tinggal sama kamu, Elnaz pasti mengadukan ku" ujar Elsa kemudian.


"Kalau begitu kamu jelaskan sama Mama mu sekarang sebelum mereka tahu dari Elnaz dan salah faham. Lagi pula kita memang tinggal dalam satu apartemen tapi kan tidak satu kamar. Katakan saja pada mereka kita tidak pernah ngapa ngapain" tukas Jimmy dengan santai nya yg tentu saja membuat Elsa hanya mendengus karena mereka bahkan sudah dua kali melakukan hubungan suami istri. Yg pertama kali memang karena mabuk, tapi yg kedua dalam keadaan sangat sadar.


Elnaz pulang dengan perasaan yg gundah gulana, di satu sisi ia merasa kasihan pada kakak perempuan nya yg semakin jauh dari apa yg di ajarkan oleh orang tua mereka. Tapi di sisi lain, Elnaz tidak bisa berbuat apa apa, apa lagi Elsa masih terus tidak mau mengakui kesalahan nya yg menyebabkan ia kehilangan Arfan.


Sesampai nya di rumah, Elnaz terkejut karena ada mobil Arfan yg terparkir di depan rumah. Elnaz segera turun dari motor nya dan masuk ke dalam rumah yg pintu nya sedikit terbuka. Dan ia langsung tercengang saat melihat siapa yg saat ini sedang ada di sana dan sedang tersenyum pada nya.


"Papa..." seru Elnaz bahagia dan tentu ia langsung berlari ke pelukan sang ayah yg sangat ia rindukan. Pak Malik pun juga tampak sangat senang karena melihat putri nya itu. Elnaz bahkan menangis saking senang nya dan ia memeluk ayah nya dengan begitu erat.


" Papa, kenapa Papa tidak kasih tahu El kalau Papa mau kesini? Terus siapa yg jemput Papa?" tanya Elnaz.

__ADS_1


"Suami mu, El. Papa memang sengaja mau ngasih kamu kejutan, kamu senang, Nak?" tanya Pak Malik dan tentu saja Elnaz langsung mengangguk cepat.


"Kamu dari mana saja, El? kamu bilang hari ini cuma punya dua mata kuliah" tanya Arfan


"Eh itu...." Elnaz garuk garuk kepala dan ia tidak tahu harus menjawab apa.


Di satu sisi Elnaz ingin memberi tahu ayah nya tentang Elsa, tapi di sisi lain ia takut ayah nya akan sedih dan marah.


"Tapi apapun itu, bukankah akan lebih jika aku beri tahu Papa? Dengan begitu Papa bisa menasihati Kak Elsa supaya kak Elsa tidak salah memilih pasangan apa lagi sampai terjerumus ke hal hal yg tidak bail"


"di tanya kok malah diam..." kata Arfan


"Tadi.. Tadi El habis ketemu Kak Elsa sama pacar nya" ujar Elnaz.


"si Jimmy itu?" tanya Arfan dan Elnaz mengangguk.


"Jadi Elsa sudah punya pacar?" tanya Pak Malik dan elnaz mengangguk.


"bagus dong, dengan begitu dia bisa melupakan Arfan dan menjalani kehidupan nya yg lebih terarah"


"Tapi, Pa. Pacar Kak Elsa bukan pria yg baik..." kata Elnaz dan ia pun menceritakan tentang Jimmy, apa yg di katakan Robin tentang Jimmy, Jimmy yg sering menggerling nakal pada nya dan terakhir tentang Elsa yg tinggal satu apartment dengan jimmy.

__ADS_1


Kabar itu tentu membuat Arfan dan Pak Malik terkejut, namun Pak Malik jauh lebih terkejut bahkan ia serasa seperti di sambar petir.


"Pa..." Elnaz menggengam tangan ayah nya yg tiba tiba terasa dingin dan gemetar "Maaf karena el harus bicara begini, tapi El sayang sama Kak Elsa. El perduli, karena itulah El kasih tahu Papa. Dia tidak mau mendengarkan El, siapa tahu Kak Elsa mau mendengarkan Papa"


__ADS_2