
"Tidak perlu repot repot Elsa, karena aku bukan suami mu, aku suami Elnaz. Tidak perlu terburu buru juga, karena aku tidak menunggu mu, sudah ada Elnaz di sisi ku, sekarang dia istri ku, istri sah ku, secara agama maupun negara. Kau hanya adik sepupu ku sekarang, tidak lebih"
Seperti di sambar petir, Elsa mematung mendengar penuturan Arfan. Bahkan jantung nya seperti berhenti berdetak dan nafas nya terasa berat.
"Ku bicara apa, Sayang?" tanya Elsa lirih "Kamu pasti kesal ya sama aku, maka nya mau kerjain aku?"
"Aku tidak kesal, Sa. Dan aku tidak bercanda, semua yg terjadi di antara kita sudah berakhir. Lanjutkan hidup mu di jalan mu, aku di jalan ku"
Tepat setelah mengatakan hal itu, Arfan langsung memutuskan sambungan telpon nya.
"Halo, Fan... Arfan" teriak Elsa dan seketika air mata mengalir bebas di pipi nya. Elsa terus berfikir dan menghibur diri bahwa semua ini tidak benar, Arfan pasti hanya bercanda dan mengerjai nya. Mungkin Arfan sangat kesal dan Elsa mengerti akan hal itu. Elsa akan segera pulang, membujuk Arfan dan membuat nya memaafkan Elsa. Elsa bahkan sudah mempersiapkan diri dengan membeli beberapa lingerie untuk ia kenakan di malam pernikahan nya. Tadi pagi juga sebenarnya ia sibuk ke salon guna mempercantik diri demi Arfan.
Elsa menghapus air mata nya dan menghembuskan nafas perlahan "Aku tahu kamu pasti bercanda, Sayang. Bagaimana mungkin kamu bisa berpaling setelah 8 ahun kita bersama"
..........
Arfan pulang kerumah saat hari sudah sore, sama seperti Elnaz yg mendengar bisik bisik tetangga, ia pun tak tuli dan mendengar nya. Hati Arfan juga sakit mendengar semua tuduhan itu namun ia tak tahu bagaimana cara menjelaskan nya. Bahkan teman teman nya pun bertanya apa yg sebenar nya terjadin namun Arfan masih belum siap membuka cerita pilu nya.
Sesampai nya di rumah, Arfan melihat ibu nya yg baru saja mengangkat jemuran.
"Fan, kamu bawa Enaz tinggal sama kita?" tanya Yuni Dan Arfan mengangguk "Kenapa kamu tega sekali, Fan? kamu engga mikir bagaimana perasaan Elsa nanti pas dia datang?"
"Engga salah, Ma? bukan nya Elsa yg engga mikir bagaimana perasaan ku dan Elnaz? kalian juga sama saja, mendukung keputusan Elsa dan sekarang menyalahkan ku. Coba Mama fikir, perempuan macam apa yg meninggalkan hari pernikahan nya cuma demi sebuah karir yg bisa di kejar kapan pun? Apa lagi menjadikan adik nya sebagai boneka pengganti di pelaminan" tukas Arfan emosi yg langsung membuat ibu nya membisu.
Arfan pun segera bergegas ke kamar nya dan ia mendapati Elnaz yg masih di lantai namun kepala nya bersandar di tepi ranjang. Arfan berjalan mendekat dan ternyata Elnaz sekarang tertidur dan ia masih dalam balutan seragam sekolah nya.
Dengan sangat pelan dan hati hati Arfan menggendong tubuh Elnaz dan menidurkan nya di ranjang. Ia melepaskan sepatu Elnaz beserta kaos kaki nya. Kemudian Arfan menarik selimut dan menyelimuti setengah tubuh Elnaz.
Setelah itu, Arfan menutup horden karena hari sudah sore, ia menyalakan AC dan menyalakan lampu agar saat terbangun nanti Elnaz tidak berada di kamar nya yg gelap. Kemudian Arfan bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri yg di lanjutkan melaksakan sholat ashar.
__ADS_1
Setelah sholat, dengan begitu lirih ia berdoa, memohon petunjuk kepada Rabb nya.
"Ya Allah, maafkan aku atas semua keegoisan ku. Aku telah membuat kesalahan yg besar dengan menyeret Elnaz pada pernikahan ini, tapi semua sudah terjadi dan tidak ada jalan untuk melangkah mundur. Berikan petunjuk Mu, ya Allah. Karena aku tidak ingin menyakiti Elnaz, aku tidak ingin menghancurkan masa depan nya. Aku memohon dengan segenap jiwa ku, berikan aku petunjuk Mu"
Setelah menyelesaikan doa nya, Arfan segera berganti pakaian dan ia berniat pergi kerumah sakit. Walaupun sebenarnya ia sudah mengajukan cuti karena pernikahan nya tapi ia masih belum siap berhadapan dengan Elnaz. Arfan terlalu pengecut untuk itu.
.........
Elsa sudah sampai di rumah nya sesaat setelah arfan pergi kerumah sakit. Para tetangga yg melihat kedatangan Elsa pun kaget dan kembali bergosip, apa lagi melihat Elsa dengan rambut nya berwarna pirang sekarang.
Elsa memang mengubah warna rambut nya untuk keperluan pemotretan namun warna itu tidak permanen.
"Elsa, kenapa kamu engga telpon? Papa bisa jemput" ujar Malik yg melihat anak nya datang dengan naik taksi.
"Aku mau ketemu Arfan" ujar Elsa namun Malik mencegah nya saat Elsa hendak pergi kerumah Arfan yg ada di samping rumah nya.
"Kemana?"
"Entahlah" jawab Malik dan saat Elsa hendak bertanya lagi, ia melihat mobil Arfan yg kembali datang.
Dengan cepat Elsa menghampiri Arfan yg memarkirkan mobil nya di depan rumah Arfan.
"Arfan..." seru Elsa saat Arfan sudah turun dari mobil.
"Apa?" tanya Arfan dengan nada datar.
"Maaf karena tadi malam aku pergi..." lirih Elsa dan ia hendak memeluk Arfan namun dengan cepat Arfan melangkah mundur.
"Aku maafkan" ucap Arfan dan ia berjalan masuk ke rumah nya. Arfan kembali karena dompet nya yg tertinggal.
__ADS_1
Elsa mengikuti Arfan ke rumahnya "Fan, kamu engga serius kan, Sayang? Kamu cuma marah aja kan sama aku? Kamu engga benar-benar menikahi Elnaz, kan? Yg tunangan kamu itu aku, yg kamu cintai juga aku"
"Itu dulu..." jawab Arfan menghentikan langkah nya saat ia menemukan dompet nya di sofa. Ia mengambil nya dan memasukan nya kedalam saku celana nya.
Kemudian ia menatap Elsa dengan tajam "Saat kamu melepaskan pakaian pengantin mu, saat itulah kamu sudah mengakhiri hubungan kita. Dan saat aku membiarkan Elnaz duduk di pelaminan bersama ku, saat itulah aku memilih Elnaz menjadi pendamping ku" ucap Arfan tajam. Ia begitu marah pada Elsa, juga begitu kecewa.
"Aku minta maaf, Sayang..." rayu Elsa memelas, ia berusaha menggapai tangan Arfan namun Arfan menghempaskan tangan nya.
"Engga ada lagi yg di perlu di maafkan, Sa. Cerita kita sudah berakhir" desis Arfan lagi dan Elsa menggeleng dengan berderai air mata.
"Jangan begini, Fan. Aku mohon, aku minta maaf, kamu boleh marah sama aku, aku tahu aku salah" lirih nya masih dengan menangis.
Sementara Elnaz yg mendengar keributan di luar membuat ia terbangun dari tidur nya, Elnaz melihat sekaliling nya dan ia tahu dimana ia berada di sekarang. Di kamar mantan tunangan kakak nya yg sekarang menjadi suaminya. Elnaz merangkak turun dari ranjang dan berjalan pelan keluar kamar.
"Kita sudah saling mencintai selama 8 tahun, Fan. Cinta kita tidak akan berakhir begitu saja, kan?" seru Elsa lagi.
Elnaz yg mendengar itu hanya terdiam, ia bisa merasakan sakit hati kakak nya tapi hati nya jauh lebih sakit karena ulah kakak nya.
"Tapi fakta nya sudah berakhir, dan kamu yg memilih mengakhiri nya" desis Arfan.
"Aku tidak pernah mau mengakhiri nya, Fan. Aku cuma pergi sebentar karena ada keperluan yg sangat penting" balas Elsa yg tak mau di salahkan.
"Lebih penting dari pernikahan kita, Huh?" teriak Arfan marah "Kamu egois, Sa. Egois menjadi pasangan, dan egois menjadi seorang kakak"
"Fan, kamu tahu karir ini impian aku sejak dulu. Jadi saat ada kesempatan, bagaimana bisa aku melepaskan nya" balas Elsa lagi yg membuat Arfan tertawa sinis.
"Kesempatan kamu bilang? Apa kemungkinan 100 % kamu akan di terima, hm? Sementara pernikahan kita? Dari berbulan bulan yg lalu kita mempersiapkan pernikahan kita, dari bertahun tahun yg lalu kita merencanakan pernikahan kita. Dan kamu?" Arfan menunjuk tepat di depan wajah Elsa "Kamu egois" desis Arfan kemudian ia bergegas pergi dari rumah nya dan Elsa segera mengejar nya.
Sementara Elnaz kembali masuk ke kamar Arfan dengan perasaan yg semakin kacau.
__ADS_1