
Butuh waktu yg cukup lama bagi Arfan untuk melakukan operasi kedua terhadap pasien nya itu, namun setelah perjuangan panjang dan sulit akhirnya ia berhasil menyelamatkan pasien nya itu dengan bantuan suster dan Dokter lain yg mendampingi nya.
Setelah memeriksa jadwal nya, Arfan tersenyum senang karena ternyata hari ini hari libur nya. Dengan semangat ia pun bersiap siap untuk pulang karena Arfan sudah sangat tidak sabar untuk bertemu istrinya itu. Memberi nya hadiah dan menyatakan perasaan nya, perasan cinta seorang suami kepada istrinya.
Saat di parkiran, Arfan bertemu dengan Suster Jessy yg seperti nya baru sampai.
"Suit suit... Ada yg sedang berbunga bunga kelihatan nya" goda Suster Jessy yg membuat Arfan langsung terkekeh.
"Tentu saja, aku mau pulang sebelum bunga ku layu" jawab Arfan.
"Hem, seperti nya terjadi sesuatu yg hangat karena senyum dan semangat mu tampak begitu hangat, Dr. Arfan. Apakah yg terjadi?" suster Jessy kembali menggoda.
"Sesuatu yg sangat indah, membuat ku merasa berada di surga" jawab Arfan yg membuat Suster Jessy langsung memicingkan mata nya, menatap Arfan penuh selidik.
"Sepertinya telah terjadi sesuatu yg.... Hm..." ujar Suster Jessy sembari mengetuk ngetukan jemari nya di dagu.
"See you, Jes!" seru Arfan sambil terkekeh dan seketika Suster Jessy tertawa geli, seperti nya ia sudah tahu ada apa dengan Arfan dan apa yg membuat nya tampak sangat senang dan bersemangat.
Arfan langsung masuk ke dalam mobil, menyalakan mobil nya sembari bersenandung ria.
Sebelum pulang, Arfan mampir ke toko perhiasan untuk membelikan hadiah untuk istri tercinta nya itu.
Arfan membeli sebuah cincin cantik yg bermata mutiara yg bercahaya indah.
"Semoga kamu suka, Sayang" gumam Arfan setelah ia membayar cincin itu.
Setelah itu Arfan melanjutkan perjalanan nya ke rumah, ia tak sabar ingin melihat istri nya, ingin memeluk nya dan mencium nya. Arfan membayangkan saat ini pasti istri nya sedang memasak, membuat makanan yg sangat enak untuk Arfan. Makanan terenak di dunia.
"Sampai rumah harus langsung mandi, kalau Elnaz tahu aku belum mandi wajib karena buru buru ke rumah sakit, dia pasti akan menertawakan ku" gumam Arfan sambil tertawa geli "Tapi tidak apa apa, Elnaz sangat cantik saat tertawa" Arfan kembali menggumam dan terus tersenyum sumringah seperti orang gila.
Sesampainya di rumah, Arfan langsung turun dari mobil nya dan ia sangat terkejut saat melihat ada bercak darah di depan rumah nya, tak hanya itu, pintu rumah nya juga terbuka lebar. Seketika Arfan langsung merasakan kekhawatiran yg sangat mendalam akan keadaan istri nya itu.
__ADS_1
Tanpa fikir panjang Arfan langsung berlari masuk, dan ia terbelalak kaget saat melihat keadaan rumah nya yg sangat berantakan.
"Elnaz..." teriak Arfan sembari berjalan dengan hati hati melewati pecahan vas bunga dan bunga yg berantakan.
"Sayang..."
"Elnaz, kamu dimana?"
"Sayang..." Arfan terus berteriak sembari berlari naik ke kamar nya, terbersit dalam benak Arfan kemungkinan rumah nya di rampok. Namun yg membuat Arfan sangat ketakutan adalah keadaan istrinya apa lagi dia melihat jejak darah di ruang tengah dan di depan rumah.
Arfan mengernyit bingung karena melihat kamar nya masih sangat rapi dan bersih. Arfan mencari Elnaz di kamar mandi namun tak ada, Arfan semakin panik dan ketakutan.
"Elnaz...."
"Sayang...."
Arfan kembali berteriak sekencang mungkin, ia mencari Elnaz ke setiap sudut rumah dengan perasaan yg bekecamuk.
Hingga terdengar dering ponsel nya yg berasal dari ruang tengah, Arfan berlari ke sana dan mencari asal suara dering ponsel itu yg ternyata milik nya.
Arfan menjawab panggilan itu dan seketika terdengar suara panik suster Jessy dari seberang telpon.
"Arfan, Elnaz ada di rumah sakit. Cepat kesini sekarang juga..."
Jantung Arfan seperti berhenti berdetak saat mendengar kabar itu, tanpa fikir panjang ia kembali berlari keluar dan langsung memasuki mobil nya.
Arfan melajukan mobil nya dengan kecepatan penuh, rasa takut, panik, khawatir, semua nya sudah bercampur aduk menjadi satu. Membuat dada Arfan berdebar hebat, ia hanya bisa berdoa semoga istrinya itu baik baik saja.
"Apa yg terjadi dengan mu, Sayang..."
.........
__ADS_1
Di rumah sakit, Elnaz di tangani oleh Dokter Celine dan suster Jessy.
Seorang pria yg mengaku bernama Robin menemukan Elnaz pingsan di tengah jalan dengan telapak tangan yg terluka dan terdapat pecahan beling di kedua telapak kakinya.
"Bagaiamana keadaan nya?" tanya Robin dan ia tampak khawatir.
"Dia baik baik saja, aku juga sudah menghubungi suaminya" jawab Suster Jessy dan bersamaan dengan itu Arfan muncul dengan nafas yg tersengal dan ia beringat.
Karena Arfan langsung berlari kencang dari parkiran untuk mencari ruangan istrinya.
"Dimana Elnaz? Apa dia baik baik saja? Apa yg terjadi pada nya?" tanya Arfan panik.
"Telapak tangan nya terluka, seperti nya terkena pecahan kaca. Kaki nya yg lebih parah, ada banyak pecahan kaca di kedua telapak kaki nya, Arfan. Tapi selebih nya dia baik baik saja" tukas Suster Jessy dan seketika kening Arfan mengernyit dalam, ia teringat dengan lantai rumahnya yg di penuhi pecahan kaca.
"Lalu siapa yg membawa nya ke sini?" tanya Arfan kemudian.
"Dia..." Suster Jessy menunjuk Robin.
"Aku menemukan nya di pinggir jalan dan dia sudah pingsan, aku mengingat wajah nya karena kita pernah bertemu di super market, karena itulah aku langsung membawa nya kerumah sakit" jawab Robin.
"Terimakasih" jawab Arfan dan ia pun langsung memasuki ruang rawat Elnaz.
Sementara Robin pun meninggalkan rumah sakit karena ia harus kembali bekerja, walaupun sebenarnya Robin merasa ikut mengkhawatirkan keadaan Elnaz.
Di dalam, Arfan langsung duduk di kursi yg ada di dekat bangsal Elnaz. Arfan melihat telapak tangan Elnaz yg di perban dan kedua telapak kaki nya juga. Wajah Elnaz juga sangat pucat, itu pasti karena Elnaz melihat darah nya sendiri.
Seketika Arfan mengingat ponsel nya yg ia temukan di lantai. Merasa ada yg aneh, Arfan pun memeriksa ponsel nya namun ia tak menemukan apapun, namun kemudian Arfan membuka pesan nya dan ia terkejut melihat pesan Elsa yg bahkan melampirkan foto mereka dua tahun yg lalu. Isi pesan Elsa juga sangat menjijikan sebagai kakak ipar sekaligus mantan, Arfan menggeram tertahan dan ia tampak menahan amarah.
Sekarang ia mengerti apa yg terjadi, Elnaz pasti marah setelah membaca pesan Elsa yg mengajak nya ketemuan apa lagi tadi pagi Arfan memang sudah membuka pesan itu dan Elnaz pasti berfikir bahwa Arfan pergi untuk memenuhi panggilan Elsa, padahal Arfan tidak sempat membaca pesan itu karena perhatian nya teralihkan saat Elnaz bergerak gelisah dalam tidur nya.
Elnaz pasti sangat marah dan merasa di bohongi, apa lagi setelah apa yg mereka lalui semalam. Rasa sakit hati Elnaz pasti berkali kali lipat lebih sakit dari pada seandainya mereka belum melewati malam yg panjang itu.
__ADS_1
"Kamu salah faham, Sayang..." bisik Arfan sembari mengusap pipi Elnaz yg tampak masih pucat "Aku mencintaimu, Elnaz. Istriku, belahan jiwa ku, dan aku tidak akan pernah kembali pada masa lalu yg abu abu di saat aku sudah memutuskan masa depan ku yg terang dan jelas, yaitu kamu, Sayang. You are the one and only, forever"
Arfan mengecup kening Elnaz dengan lembut, kemudian menyelipkan cincin yg ia beli tadi. Arfan mengecup punggung tangan Elnaz dengan lembut "Aku milik mu seutuhnya, Sayang"