
Arfan memberi tahu Elnaz soal rumah sewaan yg di tawarkan oleh Nadine, mendengar nama Nadine membuat Elnaz menghela nafas panjang dan tersenyum tipis.
Ia yg saat ini sedang merapikan ranjang nya pun menoleh, menatap suami nya yg sedang memakai boxer nya. Hari ini Arfan libur, tentu hari paling menyenangkan dalam hidup Elnaz adalah ketika suami nya libur.
"El tidak mau pindah..." ujar Elnaz.
"Tapi, Sayang. Rumah ini masih terlalu besar untuk kita berdua, selain itu sebentar lagi akan ada anak anak. Kamu pasti capek naik turun tangga, bersihkan rumah sendirian, bahaya juga buat anak kita kan... " tukas Arfan dengan begitu lembut...
Elnaz masih mempertahankan senyum nya, ia menarik tangan Arfan dan membawa nya duduk di tepi ranjang.
"Begini saja, kita pundak ke kamar bawah lagi. Terus nanti kita siapkan kamar untuk anak kita di bawah juga" ucap Elnaz lagi namun Arfan sepertinya masih enggan menerima saran Elnaz. Seperti Elnaz menolak mentah mentah pindah rumah kontrakan karena banyak alasan, salah satu nya karena rumah ini adalah rumah Arfan yg Arfan beli dengan uang nya sendiri setelah menabung cukup lama. Arfan bahkan pernah bercerita, sewaktu sekolah dulu ia juga menabung dan tabungan itu masuk ke rumah ini. Dan alasan yg lain, Elnaz tidak mau mendapatkan bantuan atau saran apapun dari wanita yg bernama Nadine.
"Sayang..." Elnaz merayu suami nya dengan lembut, ia duduk menyamping di pangkuan Arfan dan secara otomatis tangan Arfan terangkat dan memegang pinggul sang istri "Kak Arfan tidak mudah mendapatkan rumah ini, kan? Ini perjuangan Kak Arfan sendirian lho, Kak. Memang nya tidak sayang kalau mau di jual cuma karena takut El jatuh dari tangga lagi?" tanya Elnaz berusaha membuat Arfan mengerti.
"Selain itu, kita punya banyak kenangan di rumah ini. El suka rumah ini, Kak" ujar Elnaz lagi yg membuat Arfan tersenyum.
Ia mencubit gemas pipi istri nya yg benar benar tembem itu.
"Baiklah, Kita tetap akan di sini, hm? Sampai kakek nenek" ujar nya sambil terkekeh, Elnaz tertawa kecil dan mengangguk.
"Kakak harus ngabarin Nadine kalau gitu..." ucap nya dan Elnaz mengangguk. Ia pun beranjak dari pangkuan suami nya setelah memberikan kecupan kecil nan ringan di pipi Arfan dan mengucapkan kata cinta.
"I love you..." ucap nya, Arfan terkekeh dan membalas kecupan di pipi istri nya.
"Love you more..."
..........
Nadine yg saat ini sedang berada di rumah sakit menjawab telpon dari Arfan, Nadine sempat merasa senang karena ini pertama kali nya Arfan menghubungi nya.
"Mungkin dia mau bertanya soal rumah" gumam Nadine.
"Hai, Nad. Sibuk?" terdengar suara Arfan dari seberang telpon yg membuat Nadine tersenyum senang.
Nadine memang menyukai Arfan sejak masa kuliah dulu namun sayang nya saat itu Nadine harus pindah ke luar negeri. Nadine juga tuan masalah dengan status Arfan yg sudah memiliki istri, mengingat Arfan bisa menikahi adik dari pacar nya dulu, lalu apa salah nya jika Arfan memiliki wanita lain selain istri nya? Membayangkan itu membuat Nadine tersenyum sendiri.
__ADS_1
"Tidak sama sekali, ada apa, Ar?" tanya Nadine "Kamu mau cek rumah nya? Siang ini bisa, aku tinggal telfon teman ku" tukas Nadine dengan girang.
"Aku tidak jadi menyewa rumah itu, Nad. Aku dan istri ku sepakat akan tetap di rumah ini. Maaf ya..."
Nadine tentu kecewa mendengar apa yg di katakan Arfan, namun ia tentu tak bisa memaksa juga.
"Kenapa? Elnaz tidak mau ya?" tanya Nadine basa basi.
"Iya, dia bersikeras tidak mau menjual rumah ini"
"Baiklah, tidak apa apa, Ar. Tapi kalau misal nya nanti kalian mau pindah rumah atau butuh sesuatu, bilang saja sama aku" ucap Nadine pada akhirnya.
"Okey, terima kasih ya, Nad"
"Kita teman, Ar. Tidak perlu terima kasih untuk hal kecil begitu..." Nadine berkata sembari terkekeh, dan terdengar suatu Arfan yg juga tertawa.
..........
Beberapa hari setelah pembatalan sewa rumah, Arfan dan Elnaz kembali terbang ke Surabaya untuk menghadiri pernikahan Liam dan sekalian untuk acara 7 bulanan Elnaz yg akan di laksanakan di kampung halaman nya.
Dokter Liam sangat tampan dengan tuksedo hitam nya sementara Suster Jessy juga sangat cantik dengan gaun pengantin nya yg berwarna putih.
"Kak Liam tampan ya, Kak..." ujar Elnaz yg menyaksikan Liam dan Suster Jessy sedang berdansa sekarang.
"Masak?" tanya Arfan cemberut, membuat Elnaz terkekeh.
"Iya" jawab Elnaz dengan santai nya "Ya ampun, kalau nanti anak mereka laki laki, pasti mirip Kak Liam, ganteng nya itu lho, jadi pengen miliki" tentu Elnaz hanya menggoda Arfan dengan kata kata nya itu, dan itu sangat berhasil.
Arfan langsung menatap tajam Elnaz membuat Elnaz terkekeh geli.
"Suami nya El yg paling tampan..." bisik Elnaz kemudian ia beranjak dari kursi nya, Arfan masih cemberut.
"Mau berdansa dengan ku?" Elnaz sedikit mengungkuk sembari mengulurkan tangan nya pada Arfan, membuat senyum sumringah langsung terbit di bibir nya.
"Of course, my Queen..." jawab Arfan.
__ADS_1
Oh, jangan lupakan Nadine yg saat ini juga sedang berdansa dengan seorang pria. Tentu Liam harus mengundang Nadine karena Liam mengundang semua teman nya termasuk teman di masa SMA nya.
"Apa sih, Sayang?" tanya Dokter Liam saat Suster Jessy menatap tajam pada nya "Orang kalau dansa itu tersenyum, bukan memberengut" tegur nya.
"Aku kesal sekali dengan Nad Nad itu..." ujar Suster Jessy yg membuat Dokter Liam terkekeh.
"Kami tidak pernah makan malam lagi, lagi pula dia sekarang tinggal di Jakarta kan? Aku juga tidak punya nomor dia..."
"Terus kenapa dia bisa di undang?"
"Aku kirimkan undangan ke rumah nya... Auh..." Dokter Liam meringis saat istri nya itu menginjak kaki nya dengan high heels nya.
"Dia perempuan tidak benar, dia sering menatap Arfan seperti orang lapar yg menatap makanan lezat" ujar nya lagi.
"Mungkin hanya perasaan mu..." tukas Dokter Liam.
Sementara itu, Nadine menghentikan adegan dansa nya dengan teman nya saat ia melihat Arfan dan Elnaz kembali duduk di kursi mereka.
Nadine bergabung di meja mereka dan tentu Elnaz sangat tidak menyukai hal itu namun ia membiarkan nya saja.
"Kenapa kalian cuma dansa sebentar?" tanya Nadine.
"Elnaz sudah sedikit lelah kata nya..." ujar Arfan.
"Hem, orang hamil memang mudah sekali lelah, ya kan El?" Elnaz mendelik dan tak menanggapi nya, namun Nadine masih tersenyum baik baik saja.
"Biasanya orang hamil juga sensitif dan makan nya rakus, hehe...." imbuh Nadine saat Elnaz kembali menikmati makanan nya.
Elnaz kesal sebenarnya namun ia justru tersenyum.
"Bukan rakus, Dokter Nadine..." seru Elnaz tajam "Anda Dokter bukan? Dan anda tahu, saat wanita hamil, ada kehidupan lain yg tumbuh di perut nya dan kehidupan itu juga butuh makan. Dan jika bukan ibu nya yg memberi nya makan, siapa lagi? Aku rasa kata rakus tidak pantas di ucapkan oleh seorang Dokter yg punya pengetahuan lebih baik dari orang yg bukan Dokter " tukas Elnaz yg membuat Nadine sedikit tersinggung namun ia malah menatap Arfan dan tertawa kecil.
"Tuh kan, aku juga bilang apa? Ibu hamil itu sensitif, hati hati lhoo, Ar..." ujar nya yg membuat Arfan tertawa geli. Ia merangkul pundak Elnaz dan mengecup pipi nya dengan gemas.
"Dia memang sangat sensitif, dan aku suka itu"
__ADS_1