
Andy yg baru saja sampai di rumah nya langsung di sambut oleh Mama nya yg sudah men janda semenjak ayah Andy meninggal beberapa tahun yg lalu.
"Andy, dari mana saja kamu?" tanya Mama nya yg bernama Bu Kinar itu.
"Jalan jalan tadi, Ma. Terus ketemu Elnaz di jalan"
"Oh ya, sudah di tanyain belum?" tanya Bu Kinar dengan antusias membuat Andy geleng geleng kepala. Apa lagi ekspresi dan tatapan mata nya seperti seorang yg sedang menunggu fenomena alam yg hanya terjadi puluhan tahun sekali, sangat penasaran.
"Benar ya Elnaz itu selingkuhan Arfan? Malah ada yg bilang Elnaz itu hamil, maka nya langsung di nikahi"
"Astagfirullah, Mamaa...." geram Andy gemas kepada emak nya itu "Mending Mama ikut Andy ke Jakarta, dari pada di sini, Mama selalu ikutan gosip emak emak kompleks" gerutu nya.
"Ih, Mama itu bukan nya ikut nge gosip. Cuma penasaran saja pas teman arisan Mama bicara in Elnaz sama Elsa. Malah ada yg tanya langsung lho sama Bu Isna dan Bu Yuni. Tapi mereka berdua no comment katanya "
"Ya sama saja kali, Ma. Dan Elnaz itu tidak se buruk yg Mama fikirkan, Mama tahu sendiri Elnaz itu seperti apa"
"Iya sih, dia itu gadis yg baik, pendiam, tidak banyak tingkah seperti teman gadis mu yg lain itu. Maka nya Mama itu pengen jodohin kamu sama Elnaz, Ndy. Eh, dia sudah bersuami sekarang" Bu Kinar berkata dengan cemberut dan ia seperti orang yg sedang patah hati
"Terus terus... Jadi kenapa Arfan malah menikah sama Elnaz? Apa Arfan sudah sadar kalau Elnaz jauh lebih baik dari Elsa? Dari penampilan saja, Elnaz sudah lebih menjanjikan dari pada Elsa"
"Menjanjikan apa sih, Ma? Sudah kayak apa saja menjanjikan" gerutu Andy yg kini berjalan masuk ke dapur. Ia memagang perut nya yg terasa lapar.
"Ya Elnaz itu berpakaian rapi, sopan, tertutup. Kalau Elsa kan lebih terbuka, ya meskipun kita tidak bisa menilai orang dari penampilan luar nya saja. Tapi kalau dia bisa menjaga diri dan martabat nya sebagai wanita muslimah, maka dia juga pasti akan menjaga martabat suami nya nanti, menjaga kehormatan keluarga nya. Iya kan? "
"Ma, ayam goreng nya cuma satu?" tanya Andy yg mengabaikan ucapan panjang lebar ibunya.
"Iya, tadi Mama lapar terus Mama makan satu nya" Andy hanya mengangguk mengerti, ia mengambil piring dan hendak mengambil nasi namun Bu Kinar malah mencegahnya.
__ADS_1
"Ceritain dulu apa kata Elnaz, Ndy. Mama penasaran setengah mati ini..." seru Bu Kinar yg membuat Andy membuang nafas kasar. Ia pun duduk di kursi dan Mama nya dengan antusias ikut duduk di samping nya. Ia menatap Andy dengan serius seolah ia adalah wartawan yg akan mendapatkan berita sensasional dari sumber nya " Gimana gimanaa...."
Andy pun menceritakan bahwa malam itu Elsa di panggil untuk pemotretan ke Jakarta, dan meminta Elnaz menjadi mempelai pengganti bagi Arfan namun Arfan tetap akan mengucapkan ijab kabul atas nama Elsa. Dan mungkin karena Arfan marah atau kecewa atau apalah, Arfan malah mengucapkan ijab kabul atas nama Elnaz dan semua orang men sah kan pernikahan itu.
Mendengar berita itu, Bu Kinar langsung melotot sempurna dan menganga lebar, ia menutup mulut nya dengan kedua telapak tangan nya.
"Tega sekali Elsa dan pintar juga Arfan malah menikahi Elnaz" komentar sang ibu kemudian "Elnaz itu juga lebih cantik dari pada Elsa sebenarnya, cuma sayang nya Elnaz tidak bisa dandan dan berpakaian modis seperti kakak nya. Kulit Elnaz juga lebih putih dari pada kulit Elsa, cuma sayang nya dia selalu memakai pakaian tertutup jadi tidak kelihatan kulit cantik nya. Padahal, kalau mereka sama sama berpakaian modis, dandan, ugh... Kalah si Elsa. Sudah gitu, wajah Elnaz lebih kalem lagi" tutur nya panjang lebar sembari membayangkan Elnaz dan Elsa.
"Sudah dapat informasi nya, kan? Sekarang aku mau makan dulu, Ma. Sudah ayam tinggal satu lagi. Gorengin lagi bisa, Ma?"
"Masak mie instan aja, Ndy... Mama mau keluar sebentar"
"Mau gosip?" tukas Andy kesal.
"Bukan, cuma mau ngasih tahu ibu ibu kompleks apa yg menjadi pertanyaan mereka selama ini"
.........
Sesampainya nya di kamar, Arfan langsung membawa Elnaz duduk di tepi ranjang yg masih tidak beres itu.
"El..."
"Apa lagi?" ketus Elnaz "Belum puas melampiaskan semu nya sama aku? Mau tambah lagi?"
"Kakak sama sekali tidak menjadikan mu pelampiasan, El. Percaya sama kakak?"
"Lalu tadi itu apa namanya? Kamu semakin memeluk ku saat Kak Elsa datang" seru nya marah "Kamu mau membuat dia cemburu, kan? Dia cemburu, sangat cemburu sampai sampai dia menampar ku dengan sangat keras. Sudah puas? Senang?" ia masih setengah berteriak. Tak perduli lagi dengan keadaan ataupun jika ada yg mendengar teriakan nya.
__ADS_1
Sementara Arfan hanya bisa menghela nafas panjang, ia menatap begitu sendu adik kecilnya yg berteriak pada nya untuk pertama kalinya.
"Kakak memeluk mu, supaya Elsa tahu kalau sekarang kakak itu milik mu dan kamu milik kakak, Elnaz" tegas Arfan yg entah mengapa langsung membuat hati Elnaz terkesiap dan ia pun hanya terdiam. Seolah kembali pada kebingungan nya akan kondisi dan situasi hidup nya.
Saling memiliki?
Jadi, sekarang ia dan Arfan saling memiliki. Bukan lagi sebagai kakak adik melainkan sebagai sepasang suami istri.
"Please, El. Berikan kesempatan buat hubungan kita, ya..." bujuk Arfan dengan suara lirih. Elnaz hanya membuang muka tanpa berniat menjawab pertanyaan Arfan "Kakak mohon, El. Sekarang kamu istri kakak, kebahagiaan mu adalah kewajiban kakak"
Mendengar itu Elnaz langsung menatap Arfan, itu bukan kata yg asing bagi nya. Sejak kecil, Arfan memang selalu ada untuk nya, mengutamakan nya, dan menjadikan ia prioritas utama nya. Sejak kecil, Arfan memang selalu menjadi pelindung nya. Jika anak yg lain menjadikan ayah mereka sebagai tokoh super hero mereka, maka Elnaz akan menjadi satu satunya anak yg akan membanggakan kakak sepupu nya sebagai super hero nya.
"Kebahagiaan seperti apa yg akan kamu berikan? Papa, Mama, Kak Elsa. Mereka semua membenciku sekarang, bahkan Om dan Tante juga membenci ku. Para tetangga terus menggosipkan ku, membicarakan ku dan bahkan mereka mengatakan aku selingkuhan mu. Kebahagiaan yg mana yg bisa kamu tawarkan, hm?" tanya Elnaz dengan nada yg datar namun tatapan yg sangat tajam.
"Kita pergi dari sini..." ucap Arfan dan ia menggenggam tangan Elnaz dengan erat, Elnaz membiarkan nya dan ia masih menatap Arfan yg saat ini juga menatap nya.
"Kita pergi untuk memulai hidup yg baru, hanya ada kita dan masa depan kita"
Elnaz masih terdiam dan masih mempertahankan tatapan nya tepat di manik mata Arfan.
"Kakak mohon, Dek. Kamu mau ya?"
"Memangnya kita punya masa depan?" ucap Elnaz tajam dan Arfan mengangguk tegas.
"Aku rasa tidak..." Elnaz menarik paksa tangan nya hingga terlepas dari tangan Arfan. Dan hal itu membuat hati Arfan sakit.
"Kita punya, asalkan kita mau menerima takdir ini. Kalau kamu tidak mau melakukan ini untuk mu sendiri, setidak nya lakukan ini demi nenek, ya? Ini yg nenek harapkan..."
__ADS_1
Elnaz terdiam, jika sudah menyangkut nenek nya maka ia bisa apa?
"Kebahagiaan nenek adalah kebahagiaan kita, aku yakin kita akan menemukan kebahagiaan kita nanti asalkan kita mau menerima status kita sekarang. Mungkin ini memang takdir kita, Elnaz"