(Bukan) Sang Pengganti

(Bukan) Sang Pengganti
Eps 85 - Saling Memaafkan


__ADS_3

Elnaz terbangun saat mendengar sesuatu yg meledak dari bawah, hal itu membuat Elnaz panik dan ia langsung berlari ke bawah.


Namun saat hendak menuruni tangga, Elnaz tercengang karena tangga nya di hias dengan balon warna warna.


Elnaz pun menuruni anak tangga satu persatu dan di sana Elnaz melihat Arfan dan ayah nya yg sedang meniup balon lagi.


"Elnaz pasti bangun gara gara suara balon yg meledak tadi, kamu sih, Fan... Sudah papa bilangan hati hati" gerutu Pak Malik kesal, ia berbicara dengan setengah berbisik.


"Ya namanya balon meledak sendiri, Pa. Mana bisa di cegah" jawab Arfan sambil mengikat balon yg sudah di tiup nya.


Elnaz mendengarkan pembicaraan mereka dalam diam.


"Lagian kalau kamu mau membuat kejutan untuk Elnaz, seharusnya jauh jauh hari, Fan. Kalau cuma pas Elnaz lagi tidur begini mana sempat" gerutu Pak Malik lagi.


"Ya kan aku fikir ulang tahun Elnaz masih lama, Pa. Masih beberapa hari lagi, aku tidak tahu kalau Elnaz mau merayakan nya malam ini" jawab Arfan yg tak mau di salahkan.


"Ya sudah, jangan bicara lagi. Nanti Elnaz bangun, gagal kita memberi kejutan untuk nya" Pak Malik masih menggerutu dan Arfan hanya tersenyum sambil mengangguk.


Elnaz pun juga tak bisa menyembunyikan senyum nya, karena mereka sibuk dan tidak menyadari kehadiran Elnaz, Elnaz pun berniat kembali ke kamar nya dan berpura pura tidak tahu apapun.


Namun langkah nya terhenti saat ia mendengar ayah nya menanyakan hadiah Arfan untuk Elnaz.


"Kamu selalu memberi Elnaz hadiah yg banyak setiap kali dia ulang tahun, Fan. Kali ini hadiah mu apa?" tanya Pak Malik.


"Laptop, Elnaz tidak punya laptop padahal dia sudah kuliah. Kalau punya laptop pasti lebih mudah lagi dalam belajar dan mengerjakan tugas" jawab Arfan yg hampir saja membuat Elnaz memekik girang, namun ia coba tahan karena ia tak ingin kedua pria itu menyadari kehadiran nya.


"Yah, hadiah Papa juga laptop, Fan" serum Pak Malik yg membuat Arfan menganga, begitu juga dengan Elnaz yg masih mencuri dengar obrolan mereka.


"Lah, Papa juga belikan Elnaz laptop?" pekik Arfan.


"Sshhtt, jangan nyaring nyaring bicara nya" tegur Pak Malik, sementara Elnaz yg sudah mendengar semua nya masih tercengang dan kira kira siapa yg akan mengalah? "


"Papa bahkan sudah membungkus nya dengan cantik, laptop terbaru, Fan" ujar nya. Sekali lagi Elnaz hampir memekik girang.


"Yey, dapat laptop terbaru" batin nya bersorak riang.


"Ya sama lah, Pa. Laptop yg aku beli juga laptop terbaru, tapi belum di bungkus" jawab Arfan.

__ADS_1


Sekarang jiwa rakus Elnaz menggelitik, ingin sekali ia mengatakan pada dua pria itu bahwa dia akan menerima hadiah mereka itu.


"Memang nya kamu punya duit, Fan? Laptop kan mahal, kamu juga baru saja membelikan Elnaz sepeda motor" tukas Ayah mertua nya yg membuat Arfan terkekeh.


"Alhamdulillah, kalau soal duit, aku selalu punya tabungan, Pa. Apa lagi Elnaz itu pintar menghemat uang belanja"


Pujian ringan dari suami nya itu tentu membuat Elnaz senang, ia pun kembali menaiki tangga dengan sangat pelan dan tanpa menimbulkan suara sedikitpun.


Elnaz masuk ke kamar nya dan samar samar ia mendengar suami dan ayah nya itu masih mengobrol.


Elnaz memilih bergegas mandi karena hari sudah sore.


Setelah mandi, Elnaz keluar dan ia melihat Arfan yg sudah di kamar nya. Elnaz tetap bersikap cuek dan berpura pura tidak tahu apapun, Elnaz melirik suami nya itu sekilas dan Arfan tampak sangat lelah.


"El, kakak mau mandi. Rasa nya pengen berendam, lelah sekali badan kakak" ucap Arfan sambil melepaskan kemeja nya.


Elnaz mengambil handak dan menyampirkan nya di pundak Arfan kemudian Elnaz duduk di meja rias nya dan mengeringkan rambut nya menggunakan hair dryer. Tanpa sedikitpun berbicara pada Arfan, membuat Arfan melongo. Karena maksud hati memberi tahu Elnaz karena ingin di layani oleh seperti biasa, di siapkan air hangat, handuk dan pakaian ganti.


Arfan pun hanya bisa menghela nafas panjang dengan ekspresi memelas, ia bergegas ke kamar mandi dan mandi tanpa berendam.


Dan tak lebih dari 10 menit kemudian, Arfan sudah keluar dari kamar mandi. Arfan melihat Elnaz yg sedang rebahan di ranjang sambil memainkan ponsel nya.


Arfan membuka lemari dan mencari pakaian nya sendiri.


Bahkan tetap sibuk dengan ponsel nya ketika Arfan sudah selesai memakai baju nya, Arfan mengenakan celana panjang dan kaos oblong putih.


"El..." rengek Arfan sambil meletakkan kepala nya di punggung sang istri.


"Hm..." jawab Elnaz.


"Maaf ya..." lirih Arfan lagi namun Elnaz tak menanggapi nya.


"Maaf karena aku belum bisa menjadi pasangan yg baik buat kamu" tukas Arfan lagi yg langsung membuat Elnaz menghentikan aktifitas nya memainkan ponsel namun Elnaz masih enggan menanggapi suami nya.


Arfan pun mengambil ponsel Elnaz, membuat Elnaz terkejut.


Arfan mencari kontak ibu nya dan menghubungi nya. Elnaz menatap Arfan bingung dan ia penasaran dengan siapa yg Arfan telpon dari ponsel nya.

__ADS_1


"Jangan jangan Robin? Apa sebegitu cemburu nya sama Robin?"


"Assalamualaikum, Ma..." seru Arfan yg membuat Elnaz semakin bingung namun Elnaz masih tak ingin bertanya.


"Mama? Mama siapa? Mama yg mana? Mama ku atau Mama nya?"


"Ini aku, Ma..." ucap Arfan lagi.


"Kenapa, Fan? Kok tumben telpon dari nomor nya Elnaz?" terdengar suara ibu nya yg seperti nya juga heran itu.


"Ma, sebenarnya ada yg mau aku beri tahu sama Mama" kata Arfan sambil menatap istri nya itu dengan sendu.


"Soal ulang tahun Elnaz?" tanya ibu mertua nya.


"Bukan, ini soal anak" jawab Arfan yg membuat pupil mata Elnaz langsung melebar dan ia mulai menatap kesal suami nya itu namun itu tidak berlangsung lama ketika Arfan kembali melanjutkan ucapan nya.


"Ma, aku berencana akan menunda punya anak" Elnaz melotot kaget mendengar apa yg di ucapkan Arfan itu, begitu juga dengan mertua nya yg sudah di pastikan pasti sangat terkejut di sana.


"Kamu kenapa begitu, Fan? Usia mu bahkan sudah memasuki 29, Fan. Sebentar lagi juga 30. Kamu mau menunda sampai kapan? Kamu juga sudah mapan, pekerjaan, rumah, mobil, semua nya kamu sudah punya" tukas ibu nya dengan kesal. Arfan sebenarnya merasa kasihan pada ibu nya yg sangat menginginkan cucu, apa lagi Arfan gaumemang putra satu satu nya mereka.


"Iya, Ma. Aku tahu, tapi masalah nya aku dan Elnaz masih ingin fokus pada kegiatan kami masing masing. Aku masih ingin fokus karir ku sebagai Dokter dan Elnaz masih ingin fokus pada kuliah nya, aku harap Mama mengerti kami. Dan kami juga tidak berusaha mencegah kehamilan Elnaz, Ma. Jadi tolong Mama jangan terus menekan Elnaz soal kehamilan ya, karena kalau nanti Elnaz stres, yg ada itu yg akan menyulitkan dia hamil" kata Arfan panjang lebar, berharap Mama nya mengerti.


"Jadi, kalau mama ingin cepat punya cucu, ya Mama tidak boleh menekan Elnaz, biar Elnaz sehat jasmani dan rohani"


Elnaz tersenyum tertahan mendengar apa yg di ucapkan suami nya, ini yg sangat Elnaz harapkan dari dulu.


"Iya, Mama faham" terdengar ucapan kesal Mama nya itu.


"Terima kasih" ucap Elnaz tulus setelah Arfan selesai berbicara dengan ibu nya.


"Terima kasih karena sudah menjelaskan sama Mama" lanjut nya


"Maafkan aku, Sayang. Maaf karena aku tidak bisa melindungi mu dari tekanan mama ku" ucap Arfan juga dengan begitu tulus.


"Aku juga minta maaf karena melakukan sesuatu yg tidak seharusnya aku lakukan tanpa izin suami, maaf ya, Kak" Elnaz juga meminta dengan sangat tulus.


"Iya, jadi kita saling memaafkan?" tanya Arfan dan Elnaz mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2