
Setelah seharian menghabiskan waktu bersama, Elnaz dan Arfan kini memutuskan untuk pulang. Dan raut wajah keduanya pun jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Besok ikut kakak lagi ya, lagian di rumah kamu juga tidak melakukan apapun. Ya..." bujuk Arfan dan Elnaz mengangguk sembari mengulum senyum, membuat hati Arfan menghangat.
Sesampainya di rumah, Elnaz berjalan masuk duluan dan segera di ikuti Arfan.
"Assalam..."
"Dari mana saja istri mu itu, Fan? Bilangin sama dia, jadi istri itu jangan keluyuran terus" sambutan seperti itu yg Elnaz dapatkan saat ia hendak mengucapkan salam "Lagian memang nya dia tidak malu berpapasan dengan tetangga? Dia jadi bahan omongan orang lho" lanjut nya yg kembali membuat hati Elnaz terasa perih.
"Elnaz bukan nya keluyuran, Ma. Tadi kami pergi bersama. Dan biarkan saja mereka mau bicara apa, Mama tahu dengan pasti apa yg terjadi dan Elnaz tidak salah apa apa" jawab Arfan yg membuat ibunya mendelik.
Arfan membawa Elnaz masuk ke kamar nya, mood nya sendiri menjadi rusak mendengar ucapan ibunya.
"Jangan fikirkan apa yg di katakan Mama ya, El" lirih Arfan dan Elnaz hanya mengangguk "Sekarang kamu mandi ya, habis ini kita sholat maghrib bersama" Elnaz kembali mengangguk.
Saat Elnaz ke kamar mandi, Arfan duduk menunggu di sofa sembari memainkan ponsel nya. Dan saat itu ada pesan masuk, Arfan memeriksa nya dan itu dari Elsa.
Elsa
"Aku merindukanmu, masih sangat merindukan mu. Hati ku sakit seperti seseorang menyayat nya dengan perlahan setiap kali mengingat kenyataan kau bukan milikku lagi. Apakah kamu bahagia bersama yg lain? Setelah sekian lama hanya bersama ku. Aku masih sangat mencintai mu, Arfan. Aku berharap semua yg terjadi hanya mimpi buruk yg akan sirna saat aku terbangun. Namun, setiap kali aku terbangun, kenyataan menampar ku, mencekikku, menindih ku, membuat ku merasa ingin mati saja"
Arfan menghela nafas panjang membaca pesan itu, bukan hanya hati Elsa yg sakit, hati Arfan juga sangat sakit. Dalam hubungan nya dengan Elsa, Arfan lah yg tersakiti, terkhianati, bahkan harga diri nya di injak dengan sedemikian rupa di malam pernikahan itu.
Hati Arfan juga sakit, di tinggalkan kekasih yg selalu menemani nya selama 8 tahun ini. Hati nya juga sakit, kekasih yg sangat di cintai nya meninggalkan nya di malam pernikahan mereka hanya demi sebuah pemotretan.
Dan karena rasa sakit itu, tanpa sadar Arfan juga menyakiti orang lain, yaitu Elnaz.
Dan sekarang Arfan harus bertanggung jawab atas tindakan nya, ia harus melupakan rasa sakit nya dan menyembuhkan rasa sakit Elnaz. Elnaz yg sangat ia sayangi sejak Elnaz di lahirkan ke dunia ini.
Arfan langsung meletakkan ponsel nya saat Elnaz keluar dari kamar mandi, istri nya itu sudah terlihat jauh lebih segar.
Kini gantian Arfan yg mandi, dan Elnaz menunggu di atas sejadah nya setelah ia juga menghamparkan sejadah untuk suami nya.
__ADS_1
Setelah Arfan mandi dan berganti pakaian, ia pun melaksanakan sholat berjemaah dengan Elnaz.
Setelah sholat, mereka berdizkir, berdoa dan di lanjutkan dengan membaca Al Qur'an.
Setelah itu, Elnaz hendak merapikan sejadah dan mukena nya namun tiba tiba Arfan menarik tangan Elnaz sehingga Elnaz kembali terduduk di atas sejadah nya.
Dan tanpa di sangka, Arfan langsung mendaratkan kecupan di kening Elnaz yg membuat Elnaz terbelalak kaget. Bahkan tanpa sadar ia menahan nafas dan meremas mukena yg ia pegang.
Arfan mengecup kening Elnaz dan ia memejamkan mata. Dapat Arfan rasakan tubuh Elnaz yg menegang karena shock, dan Arfan tetap mendiamkan bibir nya di kening Elnaz cukup lama. Seolah ia sendiri menyukai sentuhan itu.
Arfan melepaskan diri dan seketika tatapan nya bertemu dengan tatapan Elnaz yg tampak sangat terkejut.
Arfan mengelus pipi Elnaz dengan lembut dan mesra sembari berkata "Aku suami mu, Elnaz".
Elnaz, sangat jarang Arfan mengucapkan nama itu yg terdengar ia berbicara dengan sangat serius. Biasa nya ia hanya memanggil nya El, Dek, Princess.
Elnaz hanya terdiam, ia masih begitu shock atas sentuhan ringan yg seringan kapas itu. Sentuhan seringan kapas namun mampu membuat jantung nya berdebar hebat dan nafas nya terasa berat.
..........
Di sisi lain, Elsa masih tak bisa mengendalikan rasa sakit nya setelah kehilangan Arfan. Kemarin ia fikir ia bisa menerima kenyataan bahwa sekarang Arfan malah menjadi adik ipar nya.
Namun saat tadi ia melihat Elnaz dan Arfan berada dalam mobil, pergi bersama dan pulang bersama. Hati Elsa kembali sakit, semakin dan semakin sakit.
"Kenapa harus Elnaz, Fan? Kenapa kamu tidak mencari wanita lain saja untuk di jadikan pengganti ku?" lirih Elsa dalam tangis nya.
Ia memandangi ponsel nya, berharap Arfan mau membalas pesan nya, mau memberi nya kesempatan. Namun Arfan mengabaikan nya, membuat hati Elsa lebih sakit lagi.
Elsa menangis sembari memeluk ponsel nya hingga ia tertidur.
.........
Di pagi hari nya, Elsa bangun lebih cepat. Ia segera mandi, berpakaian rapi dan memoleskan sedikit make up di wajahnya agar ia terlihat lebih segar.
__ADS_1
Setelah itu, ia pergi ke rumah Arfan dengan membawa beberapa kue yg di beli ibu nya kemarin.
Elsa masuk begitu saja dan itu sudah menjadi hal yg biasa bagi nya.
"Assalamualaikum, Tante..." sapa Elsa pada Yuni yg saat ini sedang menyapu rumah.
"Waalaikum salam, eh Elsa..." seru Yuni antusias, ia segera meletakkan sapu nya dan menghampiri Elsa.
"Aku bawa kue, kamarin Mama beli banyak sekali. Siapa tahu Arfan atau Elnaz mau" ucap Elsa sembari menyunggingkan senyum paksaan nya.
"Hem, kamu baik sekali, Sa. Masih memikirkan adik mu" lirih Yuni dan Elsa hanya menanggapi nya dengan senyum "Kalau kamu mau kasih langsung ke mereka, tidak apa apa. Mereka di kamar nya" ucap Yuni dan Elsa mengangguk.
"Kalau begitu aku datangi mereka dulu" ujar Elsa yg langsung di persilahkan oleh Yuni.
Di kamarnya, Elnaz sedang membersihkan ranjang. Sementara Arfan yg baru saja mandi dan hanya mengenakan kaos oblong tanpa lengan dan handuk yg menutupi tubuh bagian bawah nya malah langsung duduk di tepi ranjang. Membuat Elnaz mendengus namun ia tak memprotes. Ia hanya menarik narik bad cover yg di duduki Arfan.
Arfan tahu apa yg Elnaz mau, tapi entah mengapa ia ingin mengerjai adik kecilnya itu.
"Setidak nya sampai ia bersuara" batin Arfan berkata.
Karena Arfan tak kunjung berpindah, Elnaz menarik bad cover nya lebih kuat namun Arfan malah semakin mencari posisi nyaman dalam duduk nya.
"Bisa pindah sebentar?" akhir nya Elnaz bersuara. Arfan hanya mengedikan bahu sembari tetap fokus pada ponsel nya. Karena kesal, Elnaz menarik tangan Arfan hendak mengusir nya dari tepi ranjang namun Arfan malah menarik balik tangan Elnaz hingga kedua nya terjatuh ke ranjang dengan Elnaz menindih Arfan.
"ELNAZ!!!"
Elnaz dan Arfan terkejut mendengar teriakan Elsa yg sudah berdiri di ambang pintu. Dengan cepat Elnaz berusaha berdiri namun Arfan malah melingkarkan lengan nya di punggung Elnaz, membuat hati Elsa di bakar cemburu dan ia begitu marah.
Ia melangkah lebar kemudian menarik Elnaz hingga terlepas dari Arfan dan.....
PLAKK.....
Tamparan yg menggambarkan kemarahan dan kecemburuan itu mendarat sangat sempurna di pipi kiri Elnaz, membuat Elnaz seketika meneteskan air mata. Arfan pun tak kalah terkejut nya dan ia langsung menarik kembali tubuh Elnaz dan memeluk nya. Ia menatap tajam Elsa, tatapan begitu tajam menggambarkan kemarahan, kekecewaan dan kebencian.
__ADS_1